NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Kamu Akan Tahu Setelah Mencicipinya

Di belahan tempat lain, hanya berselang dua detik setelah Valeria Francesca mengirimkan pesannya, ia langsung menerima balasan dari Alessandro Dirgantara. Pesan itu sangat singkat, hanya terdiri dari empat kata: 【Saya di rumah sakit.】

Jantung Valeria seketika mencelos. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghubungi nomor ponsel Alessandro. Begitu sambungan telepon terhubung, ia bertanya panik, "Ada apa? Kamu sakit?"

Dari seberang telepon, terdengar suara bariton Alessandro yang berat dan agak serak, "Tidak apa-apa, hanya sakit lambung."

Sakit lambung? Valeria sempat tertegun sejenak. Di dalam cerita novel aslinya, sama sekali tidak pernah disebutkan bahwa seorang Alessandro Dirgantara memiliki riwayat penyakit lambung.

Ia mendesak lebih jauh, "Parah tidak?"

"Tidak apa-apa." Nada bicara Alessandro tetap lempeng tanpa emosi yang berarti.

Valeria mengembuskan napas lega lalu bertanya secara naluriah, "Kamu di rumah sakit mana sekarang?"

Alessandro terdiam selama satu detik sebelum memberikan alamatnya, "Rumah Sakit Pusat Kota."

Setelah menutup telepon, Valeria segera memeriksa ponselnya; untungnya, rumah sakit ini tidak terlalu jauh dari lokasi vila. Tanpa membuang waktu, ia bergegas ke lantai atas untuk berganti pakaian sebelum naik taksi menuju rumah sakit.

Begitu Valeria tiba di rumah sakit, ia mendapati Alessandro sedang duduk di kursi tunggu koridor yang sepi. Pancaran lampu putih rumah sakit memancarkan bayangan panjang di balik tubuh tegapnya.

Ia melangkah cepat menghampirinya. "Bagaimana bisa mendadak sakit lambung padahal tadi siang kamu kelihatan baik-baik saja?"

Mendengar suara yang familier, Alessandro menegakkan pandangannya. Begitu melihat sosok Valeria yang berdiri di hadapannya, ia sempat tertegun sejenak, seberkas kilatan rasa terkejut melintas di sela matanya. "Kenapa kamu ke sini?"

Valeria mengerjapkan matanya polos. "Bukankah tadi kamu bilang sedang sakit lambung? Tentu saja aku datang untuk menjengukmu."

Menangkap binar kekhawatiran yang tulus di wajah cantik sang wanita, ujung jemari tangan Alessandro tampak berkedut samar. Namun, intonasi suaranya tetap dipertahankan tenang, "Tidak apa-apa. Mungkin saya hanya sedikit terlalu banyak minum alkohol saat jamuan bisnis tadi. Ini hanya penyakit lama; setelah beristirahat beberapa hari juga akan membaik."

Valeria tidak bisa menahan diri untuk tidak membatin dalam hati; ternyata stereotipe penyakit lambung yang wajib diderita oleh para CEO kaya di dalam dunia novel roman itu benar-benar nyata adanya.

Tepat saat ia baru saja hendak membuka suara, sebuah intonasi suara yang dibuat-buat mendadak terdengar dari arah belakang tubuhnya, terdengar sangat manis hingga memuakkan. "Pak CEO Alessandro, ini air hangatnya. Minumlah selagi hangat agar lambung Anda bisa terasa lebih nyaman..."

Sekretaris Susan melangkah mendekat sambil membawa secangkir air hangat, namun seulas senyuman manis di wajah cantiknya seketika membeku kaku tepat di detik sepasang manik matanya menangkap eksistensi raga Valeria yang sedang berdiri di sana. Setelah berhasil menguasai kesadarannya kembali, ia menyemburkan pertanyaan dengan intonasi suara yang sarat akan emosi frustrasi, "Kenapa Anda bisa berada di tempat ini?!"

Valeria mengernyitkan alisnya tipis. Sejak pertemuan terakhir mereka di kantor pusat tempo hari, dirinya memang sudah sanggup merasakan adanya aura permusuhan yang tidak kasat mata dari Sekretaris Susan. Menatap intensitas reaksinya yang terlampau berlebihan malam ini, ia kian yakin bahwa wanita karier di hadapannya ini memang menaruh ketertarikan dan memendam rasa cinta rahasia terhadap Alessandro.

Ia dengan sengaja memajukan posisi berdirinya untuk menempel lebih dekat ke arah tubuh tegap Alessandro, menaikkan sebelah alisnya, lalu menyahut menantang, "Bukankah sangat wajar bagi seorang wanita untuk datang menjenguk pacarnya sendiri?"

Alessandro menurunkan sedikit kelopak matanya, di mana fokus pandangan matanya tanpa sadar mendarat tepat pada area paha Valeria yang saat itu sedang menempel ketat menekan permukaan celana bahan jas hitam formal miliknya. Kontras warna di antara permukaan kulit putih bersih sang wanita yang beradu dengan pekatnya kain gelap celananya terlihat begitu mencolok, membuat sepasang manik mata hitam milik sang CEO besar seketika bertransformasi menjadi kian mendalam tanpa ia sadari sendiri.

Menyaksikan adegan kemesraan fisik yang intim tersebut, Sekretaris Susan begitu geram hingga rasanya hampir menggeretakkan susunan giginya sampai hancur. Dirinya sudah bersusah payah memeras seluruh strategi untuk bisa mendapatkan momentum berdua saja mendampingi raga Alessandro malam ini, bahkan sudah menyusun rencana matang untuk memberikan performa perhatian terbaik di saat sang pria sedang sakit demi mencuri perhatian emosionalnya. Namun siapa yang akan menyangka bahwa seorang Valeria Francesca akan mendadak merangsek masuk menerobos perimeter dan menghancurkan seluruh rencana indahnya berkeping-keping?

Sembari menekan kuat-kuat gejolak amarah yang membakar dadanya, ia meluncurkan untaian kalimat yang sarat akan nada sindiran ketus, "Memangnya seorang Nona Valeria memiliki pengetahuan tentang cara merawat manusia yang sedang sakit?"

Alih-of meledak dilanda frustrasi, Valeria justru dengan gerakan yang sangat lincah langsung merangkai jemarinya untuk menggandeng erat lengan tegap Alessandro, memutar tubuhnya, lalu mengerjapkan sepasang mata bulatnya secara manja tepat di depan wajah sang pria. "Alessandro... menurut analisis kamu sendiri, apakah aku sanggup merawat dirimu dengan baik?"

Menatap lekat ke arah profil wajah cantik Valeria yang saat itu koordinat posisinya berada di dalam radius yang sangat dekat dari wajahnya, Alessandro melepaskan sebaris suara gumaman bariton yang berat dan dalam, "Mm."

Valeria seketika langsung menegakkan sedikit dagunya dengan pembawaan bangga yang kentara. "Anda dengar sendiri kan penuturan barusan? Pacarku sendiri yang menegaskan bahwa aku sanggup merawat tubuhnya dengan aman. Jadi, apakah masih ada hal lainnya yang sedang Anda cemaskan, Sekretaris Susan?"

Mendengar bagaimana Valeria terus-menerus meluncurkan kata "pacarku" berulang kali dari balik bibirnya, Sekretaris Susan rasanya ingin muntah darah detik itu juga akibat menahan muak. Wanita di hadapannya ini pada esensinya hanyalah seorang perempuan matre kelas rendah yang berhasil merangkak naik mengamankan status kasta tinggi hanya karena modal keberuntungan dari sepotong utang budi penyelamat nyawa di masa lalu! Atas dasar hak apa dia berani berakting memasang topeng kepura-puraan seorang kekasih yang setia seperti itu di depan matanya?! Namun karena ia sama sekali tidak memiliki keberanian mental untuk meledakkan amarahnya di hadapan Alessandro, ia hanya bisa melampiaskan sisa dendamnya dengan cara mencengkeram erat permukaan cangkir di sela jarinya hingga memutih kaku.

Valeria enggan membuang sisa energi bahasanya untuk meladeni drama emosional sang sekretaris; ia dengan gerakan yang sangat tangkas langsung meraih dan mengambil alih cangkir air hangat tersebut dari genggaman tangan Sekretaris Susan. "Mulai dari detik ini, seluruh urusan perawatan fisik seorang Alessandro Dirgantara akan sepenuhnya diambil alih oleh diriku. Jadi, Sekretaris Susan dipersilakan untuk segera bertolak pulang ke rumah terlebih dahulu."

"Anda!" Rona kulit wajah Sekretaris Susan seketika bertransformasi menjadi kian pucat pasi akibat dirundung gelombang amarah yang memuncak, di mana sepasang manik matanya secara naluriah langsung melirik ke arah Alessandro dengan sisa harapan agar sang pria berkuasa bersedia meluncurkan sebaris kalimat untuk membela posisinya.

Namun sayang seribu sayang, Alessandro bahkan tidak melayangkan sepeser pun lirikkan mata untuk meladeni eksistensi raganya; sepasang manik mata hitam milik sang CEO besar sejak tadi hanya terus konsisten mengunci fokusnya lurus menatap ke arah sosok Valeria dengan seberkas aliran pemikiran yang sangat dalam laksana misteri.

Valeria mengukir seulas senyuman manis kemenangan. "Apakah Sekretaris Susan masih memiliki sisa pertanyaan?"

Menyaksikan bagaimana dinginnya pembawaan sikap yang ditunjukkan oleh Alessandro, Sekretaris Susan tahu betul detik ini sudah tidak ada lagi gunanya untuk terus nekat bertahan berdiri di tempat itu. Ia hanya bisa memeras sisa energinya untuk mengeluarkan dua patah kata dari balik sela giginya yang mengatup rapat, "Tidak ada."

Ia memajukan postur tubuhnya satu langkah di hadapan Alessandro, meluncurkan kalimat pamit dengan keterpaksaan batin yang sangat kental, "Pak CEO Alessandro... kalau begitu saya izin pamit bertolak pulang terlebih dahulu."

Alessandro hanya melepaskan sebaris suara gumaman bariton tipis datar tanpa emosi, "Mm."

Sekretaris Susan menggigit bibir bawahnya erat-erat, menyambar tas mewahnya dari atas permukaan kursi tunggu, lalu segera mengayunkan langkah kakinya untuk pergi meninggalkan radius koridor rumah sakit. Tepat sebelum raganya benar-benar menghilang melintasi sudut selasar, ia sempat melayangkan sebuah lirikkan mata yang sarat akan percikan kebencian dan kedengkian tingkat tinggi ke arah Valeria, melangkah pergi dengan derap langkah kaki yang terdengar sangat berat dibakar oleh gejolak rasa dongkol yang mendalam.

Valeria tidak memasukkan drama emosional picik tersebut ke dalam sistem pikirannya; ia dengan gerakan santai langsung mendudukkan raga fisiknya di atas kursi tunggu tepat di samping posisi Alessandro, lalu menyerahkan kembali cangkir air hangat ke sela jemari sang pria. "Lalu, bagaimana detail penuturan dari dokter spesialis tadi?"

"Dokter hanya menginstruksikan saya untuk merawat lambung dengan baik selama beberapa hari ke depan, setelah itu kondisi tubuh saya dipastikan bakal kembali normal." Alessandro menerima cangkir air hangat tersebut, di mana ujung jemari tangannya tampak bergerak mengusap-usap permukaan luar cangkir beberapa kali untuk menetralisir kekakuan batin. "Realitasnya, kamu sebenarnya tidak perlu repot-repot meluangkan sisa energi fisik untuk menempuh perjalanan darurat menjenguk saya ke tempat ini. Tubuh saya saat ini beneran tidak ada masalah yang serius."

"Lagipula aku juga sedang didera rasa jenuh yang sangat bosan jika terus-menerus berdiam diri di dalam rumah." Valeria mengedikkan kedua belah bahu rampingnya dengan gestur acuh tak acuh. "Ditambah lagi, fakta nyatanya kan saat ini kamu sedang sakit. Hati kecilku dipastikan tidak akan pernah tega jika harus bersikap acuh tak acuh mengabaikan kondisi keselamatan tubuh kamu, Ales."

Mendengar untaian kalimat perhatian yang tulus tersebut, Alessandro kembali memfokuskan sepasang manik mata hitamnya untuk menatap lekat-lekat ke dalam netra mata bulat Valeria dengan seberkas ekspresi emosional yang sangat rumit dan misterius. Bukannya di sepanjang lembaran sejarah masa lalu dirinya tidak sanggup membaca kenyataan bahwa seluruh totalitas taktik agresi pendekatan serta kalimat rayuan manis yang diluncurkan oleh Valeria Francesca... esensinya murni hanya dialokasikan untuk memburu pasokan aliran dana finansial kekayaan miliknya semata.

Namun untuk momentum malam ini, segala sesuatunya bertransformasi menjadi seratus persen berbeda. Wanita di hadapannya ini nekat menerobos kegelapan malam untuk meluncurkan raga fisiknya menuju ke rumah sakit... hanya didorong oleh adanya rasa kekhawatiran yang tulus atas keselamatan dirinya, steril dari adanya motivasi keuntungan materi ataupun agenda tersembunyi apa pun. Tampaknya pasca-terlewatinya insiden salah vonis penyakit tumor tempo hari, sistem batin dari seorang Valeria Francesca memang terbukti benar-benar sudah mengalami lompatan perubahan karakter yang luar biasa dahsyat.

Setelah meluangkan waktu beberapa puluh menit untuk menemani Alessandro beristirahat di koridor rumah sakit hingga gejolak rasa nyeri di lambung sang pria dirasa sudah mereda dengan aman, sepasang kekasih ini akhirnya memutuskan untuk berkendara bersama kembali menuju ke vila utama. Waktu saat itu terpantau sudah bergerak menanjak mendekati fase tengah malam yang sunyi.

Pasca-menyelesaikan pelepasan sepatu di depan koridor lobi masuk rumah, Valeria memutar tubuh rampingnya menghadap ke arah Alessandro, meluncurkan untaian kalimat lembut, "Duduklah terlebih dahulu di atas sofa ruang tamu untuk beberapa saat, Ales. Aku akan masuk untuk meracikkan segelas air madu hangat untuk lambungmu." Usai memaparkan kalimat tersebut, ia segera membalikkan poros tubuhnya untuk melangkah anggun menembus ambang pintu dapur utama.

Alessandro memosisikan raga fisiknya untuk duduk bersandar dengan tenang di atas sofa empuk sesuai instruksi sang kekasih, namun sepasang manik mata hitamnya secara naluriah justru kembali jatuh terkunci rapat menembus permukaan kaca transparan pintu dapur; mengamati bagaimana sibuknya pergerakan siluet tubuh ramping Valeria di dalam sana.

Sinar pencahayaan lampu dapur tampak menyiram manis ke arah profil tubuh Valeria yang saat itu sedang terpaksa harus sedikit berdiri berjinjit untuk menggeledah keberadaan botol madu dari dalam lemari kabinet atas, sebelum akhirnya dengan tingkat keterampilan tangan yang mumpuni ia mulai mengisi cangkir menggunakan kucuran air hangat, menyesuaikan derajat suhu air secara presisi, lalu mengaduk rata seluruh isi cairan madu tersebut menggunakan sendok kecil di sela jemarinya.

Di dalam kedalaman sepasang manik mata hitam milik Alessandro saat ini, hanya tersisa seberkas kegelapan misterius yang sangat dalam. Sepanjang jalannya sejarah kehidupan, dirinya bersumpah belum pernah sekalipun diberikan akses visual untuk melihat sisi pembawaan karakter Valeria yang selembut dan sehangat ini—sebuah profil kepribadian yang steril total dari adanya sekeranjang taktik kelicikan konspirasi ataupun ambisi pamer kematrean palsu, di mana seluruh gurat perhatian yang ditunjukkannya saat ini benar-benar memancarkan binar ketulusan yang pekat dan membara hangat. Sebuah sudut tersembunyi di dalam lubuk hati Alessandro yang selama belasan tahun lamanya telah terkunci rapat dan membeku sedingin es... detik itu juga rasanya laksana baru saja tidak sengaja disenggol halus oleh seberkas kehangatan kosmis, menyulut lahirnya sebuah riak getaran debaran romantis yang sangat padat, halus, namun merongrong dada.

Kurun waktu beberapa menit berselang, Valeria tampak melangkah anggun keluar melintasi ambang dapur dengan kedua belah tangannya yang sedang mendekap erat segelas air madu hangat. "Minumlah air madu ini selagi hangat, Ales; ramuan alami ini dipastikan bakal langsung bekerja taktis untuk membuat lambungmu yang cedera menjadi jauh lebih nyaman. Di masa laluku dulu, di setiap detik tubuhku didera oleh adanya serangan rasa nyeri lambung yang hebat, aku selalu konsisten meracik segelas air madu hangat seperti ini, dan hasil efektivitas medisnya terbukti sangat manjur sekali."

Alessandro menegakkan sedikit pandangan matanya lurus menatap ke arah wajah sang wanita, melayangkan pertanyaan penyelidikan logis, "Kamu... di masa lalu pernah memiliki riwayat menderita penyakit gangguan lambung?"

Valeria menyahut dengan intonasi suara yang sangat santai dan acuh tak acuh tanpa beban, "Tentu saja pernah, Ales. Asalkan kamu tahu, sebelum aku resmi menjalin hubungan asmara di sampingmu seperti sekarang, status posisi diriku kan esensinya hanyalah seorang budak korporat biasa. Di setiap harinya dipaksa pasrah untuk memeras keringat tenaga kerja sepanjang hari ditambah lagi dengan adanya pola sistem waktu makan harian yang sangat berantakan dan tidak teratur, wajar saja jika fungsi kesehatan lambungku sampai berakhir hancur lebur dirusak keadaan."

Alessandro mengulurkan tangan kanannya untuk menerima gelas air madu hangat tersebut dari genggaman tangan Valeria, namun pria berkuasa itu belum menggerakkan bibirnya untuk menelan cairan tersebut sepeser pun. Ia mendadak meluncurkan kalimat pertanyaan dengan nada bariton yang sangat lambat, "Berbicara mengenai lembaran sejarah masa lalu... kamu sampai detik ini terpantau belum pernah sekalipun memaparkan informasi resmi kepadaku mengenai jenis profesi bidang pekerjaan apa yang sebenarnya kamu jalani di masa lalu sebelum kita bertemu."

Rongga dada Valeria seketika langsung naik turun dengan ritme pendek akibat dilanda kepanikan batin yang mendadak meledak dahsyat. Mampus aku! Pergerakan otot lidah dan bibirnya barusan benar-benar terpantau bergerak terlampau cepat melampaui koordinasi fungsi otaknya sendiri, hingga tanpa sengaja ia justru meluncurkan aksi bocor informasi rahasia mengenai status pekerjaan aslinya dari dimensi dunia nyata dulu.

Struktur ingatannya sempat melupakan satu fakta krusial; bahwa sosok pemilik tubuh Valeria yang asli di dalam buku novel orisinal pada esensinya hanyalah seorang wanita pengangguran kelas berat yang di sepanjang harinya hanya tahu cara berdiam diri menghabiskan uang dan bermalas-malasan di dalam rumah. Jika bukan karena faktor statusnya yang miskin harta dan didera oleh ketiadaan pasokan dana segar akibat tidak bekerja, mana mungkin di masa lalu wanita egois itu akan memiliki keberanian mental setingkat itu untuk menerima tawaran konspirasi kotor dari pihak antagonis untuk menyabotase sistem kabel rem kendaraan mobil milik Alessandro hanya demi sekeranjang uang tunai haram?

Ia dengan gerakan taktis segera merendahkan intensitas suaranya untuk memperkecil skala masalah, menyahut kikuk, "A-ah... cuma sebatas pekerja staf administrasi biasa kok, Ales. Memangnya dengan kapasitas otak sepertiku ini, profesi keren apa lagi yang kira-kira bakal sanggup aku jalani di masa lalu, bukan? Hehe."

Takut setengah mati jika ketajaman insting investigasi Alessandro akan kian merangsek maju mengejar pengakuan konfirmasi yang merusak identitas penyamarannya, Valeria dengan gerakan yang agresif langsung menyodorkan kembali permukaan gelas madu tersebut agar semakin dekat menempel di depan dada tegap sang pria. "Sudah ah jangan banyak bertanya lagi, ayo cepat diminum air madunya selagi hangat, nanti jika dibiarkan terlampau lama cairan madunya bisa mengendap ke dasar gelas loh."

Alessandro memfokuskan sepasang manik mata hitamnya untuk menatap dalam-dalam ke arah wajah Valeria selama beberapa detik penuh, sebelum akhirnya memilih untuk mengalah dan mulai mendekatkan bibirnya untuk meminum cairan madu hangat tersebut secara perlahan. Menyaksikan bagaimana sang pria berkuasa tidak lagi meluncurkan agresi pertanyaan lanjutan administratif seputar sejarah profesinya, Valeria diam-dim langsung mengembuskan sebaris desahan napas lega yang sangat panjang di dalam hatinya. Gila, hampir saja! Nyawanya baru saja berada di dalam status kritis karena kedok konspirasi besarnya hampir saja terbongkar lebur dalam satu ucapan sepele tadi.

Menatap bagaimana porsi cairan madu di dalam gelas tersebut kini terpantau sudah sukses ditelan oleh Alessandro hingga menyisakan kurang dari setengah porsi, Valeria melayangkan pertanyaan dengan nada suara yang sangat lembut, "Bagaimana cita rasanya, Ales? Aku sudah lama sekali tidak pernah menyentuh urusan meracik minuman seperti ini, jadi aku agak waswas jika tingkat kemanisannya dirasa kurang pas atau kurang lezat di lidahmu."

Sepasang manik mata hitam milik Alessandro tampak memancarkan seberkas kilatan kegelapan yang sangat pekat laksana permukaan air telaga yang sunyi. Ia secara mendadak mengulurkan lengan tangannya ke depan, memosisikan permukaan bibir gelas kaca tersebut untuk menempel lekat menyentuh permukaan bibir ranum milik Valeria yang lembut manis, sebelum akhirnya meluncurkan untaian kalimat menggunakan intonasi bariton yang terdengar sangat berat, dalam, nan sarat akan adanya seberkas daya pikat magnetis yang mematikan, "Kamu... dipastikan bakal langsung mengetahui jawaban cita rasanya setelah kamu sendiri yang mencicipinya langsung dari gelas ini."

___

Bersambung~~

1
falea sezi
lanjt
Retno Isma
panjang bgt. 🫰🫰
Anne Soraya
lanjut
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!