Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Farhan
Malam ini, Farhan tidur dengan gelisah. Banyak teka-teki di pikirannya yang belum terpecahkan. Sebenarnya, Farhan sudah terbiasa tanpa Amira pergi ke luar kota, tidur sendirian, dan hal itu tidak mengganggu perasaannya. Tapi kenapa malam ini ketiadaan Amira membuatnya sedikit kacau? Bukankah ini yang ia inginkan selama ini?
Farhan merasakan ketakutan entah apa penyebabnya tetapi ia benar-benar gelisah. Setelah diingat-ingat, sudah sangat lama Amira tidak mengirim pesan. Hanya balasan singkat yang Farhan terima ketika ia mengirim pesan selebihnya, tidak ada pesan menanyakan kabar, apakah ia sudah makan, atau hal lain apa pun. Dulu, hal-hal seperti itu justru membuat Farhan risih, sehingga ia sering terlambat membalas pesan Amira dengan alasan sibuk.
Pagi hari
Farhan memandang layar ponselnya yang redup di atas meja samping tempat tidur. Ia mengingat betapa dulu ia sering menghela napas panjang setiap kali notifikasi dari Amira muncul. Ia merasa dikejar-kejar, merasa kebebasannya terenggut, hingga sengaja membiarkan pesan itu tergeletak berjam-jam, bahkan berhari-hari, sebelum akhirnya membalas singkat "Maaf aku lagi sibuk."
Namun kini, saat ponsel itu tak lagi berdering atau berkedip menandakan pesan masuk, hatinya justru terasa kosong. Ia merindukan hal-hal yang dulunya dianggapnya mengganggu. Ia merindukan perhatian itu, meski tak mau ia akui. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya rasa takut kehilangan, kesepian, dan sedikit penyesalan yang mulai merayap masuk.
Dengan tangan gemetar, Farhan meraih ponsel itu. Jari-jarinya berhenti sejenak di atas kolom pesan. Ia ingin mengirim pesan, ingin tahu kapan Amira kembali, tapi kata-kata seakan tersangkut di tenggorokannya. Bagaimana jika balasannya tetap singkat? Bagaimana jika Amira mengabaikannya?
Di tengah keraguannya, sebuah pesan masuk. Bukan dari Amira, melainkan dari rekannya. Farhan mematikan layar ponselnya kembali, membaringkan kepala di bantal, dan menatap langit-langit kamar yang pagi itu terasa mendung. Pagi ini, ia sadar satu hal ia tak pernah benar-benar menginginkan kepergian Amira. Ia hanya menyangkal keberadaan Amira tanpa sadar, ia telah membuat Amira perlahan berhenti mencoba.
Pukul 9 pagi, Amira kembali ke rumah Farhan. Pikirnya, suaminya sudah berangkat kerja, karena selama ini Farhan selalu pergi pagi-pagi. Awalnya ia pikir kesibukan kantor, ternyata sibuk menghindari dirinya.
Amira terkejut saat masuk ke ruang dapur. Farhan sedang duduk di meja makan meminum kopi dengan pakaian biasa, bukan pakaian kerja miliknya.
"Kamu udah pulang?" tanya Farhan setelah mendengar langkah Amira.
"Astagfirullah, Mas Farhan ngagetin saja," sahut Amira sambil mengelus dadanya.
"Maaf," ucapnya singkat, dan Amira hanya mengangguk cuek.
"Oh, iya. Itu oleh-oleh dari Mamah. Katanya dia nunggu kamu, tapi kamu nggak datang. Jadi dia menelepon buat ambil ini ke rumah," ucap Farhan berbohong.
Amira benar-benar muak menanggapi kebohongan Farhan. Namun, Amira harus tetap tenang sampai adiknya lulus sekolah beberapa bulan lagi.
"Iya, Mas. Sampaikan terima kasih sama Mamah kamu," hanya itu kata-kata yang Amira ucapkan. Ia tidak tertarik melihat hadiah apa yang diberikan. Amira pun lanjut mengambil sapu untuk membersihkan rumah Farhan seperti biasanya.
"Ada apa dengannya?" Farhan mengikuti Amira yang menyapu sekeliling rumah, lalu mengepelnya. Setelah itu, Amira menyapu taman di rumah Farhan.
"Ke mana bunga-bunga yang kamu tanam?" tanya Farhan, mengejutkan Amira untuk kedua kalinya.
"Oh, bunga itu. Aku kasih ke Pak RT, Mas, untuk ditanam di taman kompleks," sahutnya singkat.
"Kenapa?" tanya Farhan penasaran.
"Aku mau kerja, Mas. Nanti bunga-bunganya nggak ada yang merawat."
"Kerja? Untuk apa? Memang uang yang aku kasih nggak cukup?"
Amira menggeleng. "Lebih dari cukup, Mas. Tapi aku jenuh di rumah. Aku ingin mencari kegiatan yang menghasilkan, salah satunya bekerja," ucap Amira memberi alasan, dan Farhan pun menerimanya.
"Kamu fokus aja di rumah, mengurusku dan adik-adikmu. Nggak perlu bekerja. Biarkan urusan mencari nafkah menjadi tanggung jawabku." Ucapan Farhan yang terdengar bijak itu seperti ucapan seorang lelaki yang mencintai istrinya. Seandainya Amira tidak mengetahui kenyataan sebenarnya, mungkin hatinya akan berbunga-bunga dan merasa dicintai.
Amira menggeleng. "Aku ingin mandiri. Aku terlalu lama bergantung sama kamu. Adik-adikku bukan tanggung jawabmu mereka adalah urusanku. Lagipula, kita tidak akan pernah tau bagaimana masa depan nanti. Aku dan kamu sebenarnya berbeda. Bukankah jodoh itu cerminan diri? Aku merasa kita tidak memiliki kesamaan apa pun untuk dikatakan berjodoh.
Amira tersenyum miris. Kenapa dia tidak menyadari hal ini sejak lama? Mungkin sadar, tapi dia menolak menerima kenyataan berharap Upik Abu dicintai sang raja.
“Kamu ngawur banget. Sejak awal aku nikahin kamu ya buat nafkahin kamu sama adik-adikmu. Kita menikah berarti kita berjodoh,” ucap Farhan tegas. Namun, Amira ingin terus membantahnya sampai Farhan sadar kalau bersedekah tidak harus menikahi duafanya.
“Mas, apa kamu cinta sama aku?”
Pertanyaan mendadak itu membuat Farhan gugup dan diam cukup lama. Amira sudah tahu jawabannya, hanya saja dia menguji, apakah Farhan sudah berlatih untuk memberikan jawaban ini? Bukankah wanita sering bertanya hal seperti ini “Kamu sayang nggak sama aku?” “Kamu cinta nggak sama aku?” Pasangan normal akan cukup muak mendengarnya, tapi Farhan adalah pengecualian. Baru kali ini Amira bertanya langsung, dan ekspresi itu adalah jawabannya.
“Nggak usah tegang, Mas. Aku cuma iseng. Nggak semua pernikahan terjadi karena perasaan spesial. Bisa jadi karena perasaan lain simpati atau ka… kagum, misalnya.” Amira ingin mengatakan “kasihan”, namun itu terlalu jela. Akhirnya, dia mengalihkan ke kata lain agar Farhan tidak curiga.
“Kamu nggak kerja?” tanya Amira, mengalihkan pembicaraan. Farhan yang sedikit bengong pun terkejut.
“Aku izin cuti,” sahutnya singkat.
“Tumben. Biasanya kamu hari libur aja masih sibuk kerja,” ucap Amira sarkas.
Farhan terdiam mendengar ucapan spontan Amira itu. Amira kemudian menyelesaikan pekerjaan rumah dan memasak. Setelah itu, dia duduk di ruang keluarga menunggu balasan dari tetangga yang menawarkan pekerjaan pada Amira. Tak lama kemudian, Farhan duduk di sebelah Amira.
“Awal bulan nanti ada family gathering di kantor. Nanti kamu ikut ya?”
Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Farhan. Ada angin apa suaminya mengajak Amira ke acara kantor, ? Amira hari ini terkejut berkali-kali.
Amira menatap Farhan dengan penuh tanya. “Mas, kamu ngajak aku?” tanya Amira memastikan.
“Iya, ngajak kamu. Kamu kan istri aku,” sahutnya tanpa beban. Sedangkan Amira tersenyum miris.
“Mas, sebagai siapa aku menemani kamu ke acara kantor itu? Mereka tidak tau kita suami istri. Dulu mereka tahu hubungan kita sebagai atasan dan bawahan. Orang-orang akan kaget kalau tiba-tiba kamu bawa aku? Aku menolak, Mas. Aku udah nggak berminat kalau pernikahan kita diketahui banyak orang. Aku juga belum siap menerima cemoohan dari mereka. Aku udah terbiasa berada di belakang layar, jadi rasanya nggak cocok jadi pendampingan kamu.”
Farhan terdiam mendengar penolakan tegas Amira. Tatapannya kosong menatap meja di hadapannya, seolah baru tersadar bahwa selama ini pernikahan mereka hanya dibangun di atas dasar tanggung jawab semata, bukan keterbukaan. Farhan tidak lagi memaksa karena sejak awal dia yang menyembunyikan pernikahan ini.