Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijual
"Kalian ribut lagi, aku buang ke rawa-rawa depan ya." peringat Ralia sebelum turun dari mobil.
Bukan tanpa alasan Ralia meminta keduanya untuk tidak ribut. Ini rumah orang dan Ralia ingin mencari informasi yang serius juga cepat. Jangan sampai karena ulah keduanya malah membuat rencananya gagal. Mobil yang membawa Chiara, Ralia, Callie, dan Mika sudah sampai di sebuah rumah mewah. Ini adalah rumah dari orang yang dikenal oleh Chiara sesuai dengan permintaan Ralia.
Mika pun langsung menganggukkan kepalanya mendengar peringatan dari Ralia. Memang rencananya dia ke rumah Chiara untuk minta diantar menemui orang yang ada di rekaman video CCTV. Namun malah sudah keduluan Ralia yang mengajak Chiara pergi. Sedangkan Callie menatap Ralia dan Mika yang wajahnya begitu serius.
"Mau ketemu pengawas ujian ya? Kok mukanya pada selius amat," gumam Callie sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti. Padahal rumah itu terlihat mewah dan sejuk, tapi wajah Mika juga Ralia sangat tegang.
"Mana Callie belum belajal lagi? Apa Callie ikut ujian juga? Ntal kalau ndak bisa jawab kan gawat," lanjutnya. Chiara yang mendengar gumaman dari Callie pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ada aja ini bocah pikirannya. Usia udah tua begini, harus menghadapi Achel kecil lagi." gumam Chiara yang kemudian menggendong Callie agar tak banyak tingkah.
"Di dalam nggak ada ujian. Callie nggak perlu belajar lagi,"
Hihihi...
Callie terkekeh geli saat perut bulatnya dicium oleh Chiara berulangkali. Bahkan Callie langsung lupa dengan pikirannya tadi tentang pengawas dan ujian. Mika dan Ralia pun mengikuti keduanya dari belakang. Tawa Callie membuat suasana tegang itu seketika mencair. Ada rasa gugup dan khawatir dalam diri Mika saat sudah sampai di sana.
Pelmisi...
Ada tamu nih. Siapin makanan dan minumannya dong. Masa tamu dianggulin,
Heh...
"Dasar tamu nggak tahu diri ini mah," sindir Mika sambil menggelengkan kepalanya.
Happ...
"Bibirnya bisa dijahit sama pemilik rumahnya nanti kalau teriak-teriak,"
Chiara langsung membekap bibir Callie dengan sebelah tangannya. Mika dan Ralia juga sudah kesal dengan Callie yang sangat berisik di rumah orang. Apalagi sampai minta disediakan minuman dan makanan. Padahal mereka datang ke sana untuk meminta tolong agar diberikan informasi. Callie yang melihat semua orang tak berpihak padanya pun segera menyandarkan kepalanya pada bahu Chiara. Dia menyembunyikan wajahnya pada bahu Chiara.
"Kasihannya... Tamu ndak dikasih minum," gumam Callie dengan pelan.
"Nah... Anteng gini kan cantik," Chiara melepaskan bekapannya pada mulut Callie ketika melihat gadis itu sudah diam.
Chiara...
Vio...
"Astaga... Aku kira tadi siapa? Kok kaya ada orang yang teriak," ucap Vio yang ternyata mendengar teriakan Callie kemudian memilih keluar rumah. Ternyata ada teman lamanya yang datang bersama para cucunya.
Violeta Rasyiqin adalah sahabat dari Chiara saat masih SMA. Bahkan mereka tergabung dari kelompok arisan yang sama karena diajak oleh Mama Martha. Anaknya saat ini masih SMA kelas 2 karena tidak langsung dikaruniai keturunan. Berbeda dengan Chiara yang waktu itu langsung diberi keturunan. Namun Vio tak masalah karena sekarang hidupnya juga sudah bahagia walaupun hanya mempunyai satu anak.
"Maaf, Vio." ucap Chiara tak enak hati karena teriakan Callie membuat
"Tidak apa-apa, Chiara. Justru seru ini rumah, ramai." ucap Vio dengan antusiasnya. Apalagi saat ia melihat ada Mika di sana.
"Ini si Kenan rugi banget kalau nggak pulang-pulang. Nggak ketemu sama pujaan hatinya," gumamnya sambil tersenyum ke arah Mika.
Oma jatuh cinta sama plastik Mika ya?
Eh...
Jangan, lepot. Sudah makannya banyak, tukang modus lagi. Lugi....
***
Kecanggungan terjadi di ruang tamu itu setelah Vio terlihat terus menatap Mika dengan tatapan aneh dan ketahuan oleh Callie. Bocah cilik itu emang agak menyebalkan kalau sudah julid. Sebenarnya Mika juga tahu jika ditatap oleh Vio, hanya saja dirinya tidak merasa itu sebuah ancaman. Oleh karena itu dia biasa saja dan tidak menegur Vio.
"Maaf, Mika. Bukannya Tante bermaksud untuk melihat kamu. Habisnya kamu cantik banget setelah sekian lama nggak ketemu," ucap Vio memberikan alasan yang masuk akal.
"Ti..."
"Cantik? Sepeltinya Oma halus cek matanya di doktel jantung deh," ucap Callie menyela ucapan Mika.
Puk...
"Sembarangan ini bocah kalau ngomong. Nggak tahu aja masih asal ceplos," ucap Mika dengan sedikit memukul paha Callie.
"Ya ampun lucu banget. Ini yang katanya cucumu itu ya?" seru Vio yang langsung melihat ke arah Callie.
"Astaga... Dalimana saja ini olangtua? Balu lihat Callie yang seimut ini," gumam Callie sambil menggelengkan kepalanya.
Bahkan Vio langsung duduk di samping Chiara untuk melihat wajah Callie secara jelas. Vio sangat menginginkan anak perempuan, tapi apalah daya kesehatannya tidak memungkinkan. Mendapatkan satu anak laki-laki saja itu sudah merupakan satu keajaiban Tuhan. Chiara yang mengetahui tentang kisah temannya itu pun langsung memberikan Callie pada Vio. Sedangkan Callie mendelikkan matanya ke arah Chiara.
"Plastik Mika, Callie mau dijual Oma Chiala." pekik Callie dengan mata membulat.
"Biar aja. Nanti bagi-bagi uangnya ya, Oma. Lumayan buat beli berlian," seloroh Mika tak peduli jika Callie diberikan kepada Vio. Padahal Vio sendiri tak berniat seperti itu dan hanya bisa tertawa pelan melihat drama ini. Callie bertambah kesal melihat Mika yang sepertinya sangat cuek padanya.
"Kamu lucu banget sih. Tinggal di rumah Oma aja ya. Nanti Oma belikan boneka dan baju yang lucu-lucu," ucap Vio yang kemudian memeluk Callie dengan erat.
"Ndak, Oma. Callie ndak suka boneka dan baju. Callie suka makanan dan belian," ucap Callie menolak penawaran dari Vio.
Vio menganggap ucapan Callie itu hanya candaan semata. Walaupun Vio sendiri tahu bahwa sepertinya Callie ini sangat mirip dengan Mika kecil yang dulu dibawa saat arisan oleh Mama Martha dan Chiara. Sifatnya pasti tak jauh-jauh dari kata centil dan matre.
"Ba..."
"Oma, kami ke sini bukan buat jual Callie. Kami ke sini untuk mencari informasi tentang kematian Oma Martha," sela Ralia langsung saat Vio hendak menanggapi ucapan Callie.
Eh...
Chiara sangat terkejut mendengar pernyataan dari cucunya itu. Walaupun tadi dia sudah dijelaskan sedikit tentang mengapa Ralia mencari keberadaan Vio. Tetap saja Chiara terkejut dengan keberanian Ralia ini. "Maksudnya bagaimana, Nak?"
"Namanya Ralia, Oma." ucap Mika memberitahu dan Vio menganggukkan kepalanya.
"Oma ada di toko perhiasan itu saat Oma Martha dibawa pergi petugas medis. Bahkan Oma juga yang mendampingi Oma Martha keluar dari sana saat pingsan," ucap Ralia dengan to the point.
Deg...
Jangan bohong ya, Oma pinokio.
Nanti hidungnya panjang kalau bohong,
Halus jujul bial penjahatnya teltangkap,
Eh...
lanjuttttt💪😄