NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Rekan Kerja

Sengatan dingin mendadak menusuk tempurung kepala Sumarni, membuat pandangannya berputar sejenak menahan pening yang datang tiba-tiba.

Suara napasnya memburu di antara aroma malam dan kepulan asap cengkih yang mendadak terasa mencekik udara paviliun.

[Sistem Mengunci Target Baru: Handoyo. Hubungan saat ini: Asing.]

[Informasi Masa Depan Terbuka: Kebakaran gudang Surabaya adalah sabotase dari kompetitor rokok cap Menara.]

Sumarni menekan pelipisnya yang berdenyut kencang. Ia menatap ke luar pintu paviliun, memperhatikan Handoyo yang berdiri dengan napas terengah-engah di bawah temaram lampu petromaks.

Kertas telegraf di cengkeraman Handoyo tampak lecek, bergetar hebat mengikuti ritme tangannya yang gemetar ketakutan. Wajah pria muda itu pucat, keringat dingin membasahi kerah kemeja katunnya yang kusut masai.

Harjono tidak bergerak, namun seluruh tubuhnya menegang kaku bagaikan batu karang. Rahang tegasnya mengeras, menciptakan lipatan dalam di sudut pipinya yang sedingin es.

"Bicara yang jelas, Handoyo," ucap Harjono, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan.

"Gudang nomor tiga, Mas!" Handoyo melangkah maju, hampir tersandung undakan tegel paviliun. "Semua pasokan kretek untuk wilayah timur ludes dalam dua jam. Penjaga malam disekap."

Harjono menyambar kertas telegraf dari tangan adiknya dengan kasar. Matanya menyisir barisan huruf mesin ketik di atas kertas buram itu, membaca deretan kalimat pendek yang membawa kabar kehancuran bisnisnya.

Kerugian ini bukan sekadar masalah uang, melainkan reputasi pabrik kretek milik Harjono yang sedang berada di puncak kejayaan. Tanpa pasokan di Surabaya, para agen besar akan beralih ke pabrik saingan dalam hitungan hari.

Dari ambang pintu, Sumarni memperhatikan interaksi kedua bersaudara itu dengan otak yang bekerja cepat. Sebagai mantan editor konten, ia tahu bahwa krisis adalah panggung terbaik untuk membalikkan kedudukan.

Ia menunduk, menatap Dimas yang masih memeluk pinggangnya dengan erat. "Dimas masuk ke kamar dulu, ya? Ambil buku gambar yang Ibu buatkan kemarin."

Dimas mendongak, menatap mata hangat Sumarni, lalu mengangguk patuh. Bocah itu menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa menimbulkan suara.

Setelah memastikan Dimas aman, Sumarni melangkah keluar ke pelataran paviliun yang dingin. Langkah kakinya seringan kapas, bergesekan halus dengan permukaan lantai semen.

Harjono sedang meremas kertas telegraf itu hingga membentuk gumpalan kecil. "Siapa yang melakukannya? Apakah serikat buruh lokal?"

"Saya belum tahu, Mas," jawab Handoyo dengan suara yang hampir habis. "Polisi Surabaya masih melakukan penyelidikan, tapi mereka bilang ini murni kecelakaan korsleting listrik."

"Bukan korsleting," potong Sumarni tiba-tiba, memecah ketegangan di antara kedua pria itu.

Harjono dan Handoyo serentak menoleh. Handoyo mengerutkan kening, menatap tidak suka pada kehadiran istri kedua kakaknya yang dianggap tidak tahu apa-apa tentang bisnis.

"Marni, masuk ke dalam," perintah Harjono dingin. "Ini urusan pekerjaan pria."

Sumarni tidak mundur satu sentimeter pun. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, mempertahankan posisi berdiri yang anggun di bawah sorot lampu kuning.

"Jika ini korsleting, mengapa gudang nomor tiga yang terbakar duluan?" Sumarni memiringkan kepalanya, menatap Handoyo dengan tajam. "Gudang itu adalah tempat penyimpanan tembakau madura kualitas super yang baru tiba dua hari lalu, bukan?"

Handoyo terbelalak, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. "Bagaimana kamu bisa tahu tentang pasokan tembakau madura?"

Harjono juga menatap Sumarni dengan pandangan menyelidik yang tajam. Kecurigaannya kembali bangkit, namun ada kilat rasa penasaran yang lebih besar di matanya.

Sumarni tersenyum tipis, menyembunyikan fakta bahwa sistem baru saja membisikkan data manifes gudang ke dalam kepalanya.

"Saya sering merapikan nota pengiriman yang tercecer di meja kerja Mas Harjono saat membersihkan ruang tengah," ucap Sumarni berbohong dengan tenang. "Dan setahu saya, gudang nomor tiga memiliki instalasi kabel paling baru karena baru diperbaiki bulan lalu."

Handoyo menepuk dahinya sendiri, seolah baru saja disadarkan dari mimpi buruk. "Benar, Mas! Kabel di gudang tiga baru diganti dengan pipa pelindung besi. Tidak mungkin korsleting secepat itu!"

Harjono terdiam, namun tatapannya tidak lepas dari wajah Sumarni. Ia melihat kecerdasan taktis yang luar biasa di balik mata bening istri mudanya.

"Lalu apa maumu, Marni?" tanya Harjono, suaranya melunak satu tingkat.

"Kompetitor Mas ingin menghentikan distribusi menjelang musim panen bulan depan," jawab Sumarni lantang. "Mereka tahu Mas Harjono tidak punya stok cadangan di Surabaya."

Handoyo melangkah mendekati Sumarni, melupakan rasa tidak sukanya yang tadi. "Mbak Marni benar. Jika kita tidak mengirim barang baru besok pagi, pasar Surabaya akan direbut oleh rokok cap Menara."

"Kita tidak bisa mengirim barang besok," ucap Harjono dengan nada frustrasi yang jarang ia tunjukkan. "Truk ekspedisi kita baru kembali dari Kudus dua hari lagi."

Sumarni menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah dan cengkih yang bercampur di udara. Ini adalah momen yang ia tunggu untuk menanamkan pengaruhnya.

"Gunakan kereta api logistik fajar," ujar Sumarni tenang. "Saya tahu kepala stasiun kota adalah paman dari salah satu pembatik di desa saya. Saya bisa membantu melobi ruang kargo malam ini juga."

Handoyo menatap kakaknya dengan mata berbinar penuh harapan. "Mas, jika kita pakai kereta api, barang akan tiba di Surabaya besok siang! Kita bisa menyelamatkan pasar!"

Harjono menatap Sumarni dengan intensitas yang membuat dada wanita itu berdesir hangat. Pria itu menyadari bahwa Sumarni bukan lagi wanita peliharaan yang bisa diabaikan begitu saja.

Wanita di depannya adalah kunci penyelamat bisnisnya malam ini.

"Handoyo, siapkan buruh pabrik untuk memindahkan stok di gudang utama sekarang juga," perintah Harjono tanpa ragu lagi.

"Baik, Mas!" Handoyo membungkuk hormat, lalu melirik Sumarni dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam sebelum berlari menuju gerbang depan.

[Aliansi Bisnis Berhasil Dimulai: Hubungan dengan Handoyo meningkat menjadi Rekan Kerja.]

[Hadiah: 50 Poin Reputasi ditambahkan.]

Harjono melangkah mendekati Sumarni hingga bayangan tubuh tingginya menutupi sosok wanita itu. Jemari kasar Harjono terulur, menyentuh dagu Sumarni dengan lembut namun penuh penekanan.

"Kamu mengejutkanku, Marni," bisik Harjono, suaranya bergetar di dekat telinga Sumarni. "Siapa sebenarnya yang mengajarimu berpikir seperti ini?"

"Keadaan yang memaksa saya untuk pintar, Mas," jawab Sumarni, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang kelam. "Sebab jika saya tetap bodoh, saya dan Dimas tidak akan selamat di rumah ini."

Harjono melepaskan cengkeramannya, lalu mengembuskan napas panjang. "Ikut aku ke stasiun sekarang. Buktikan ucapanmu tentang kepala stasiun itu."

Sumarni mengangguk anggun. Ia berbalik untuk mengambil selendang batiknya di dalam kamar, merasa puas dengan kemenangan kecilnya malam ini.

Namun, saat ia melangkah melewati koridor menuju halaman samping, sepasang mata penuh dendam memperhatikan mereka dari balik tirai jendela rumah utama.

Sulastri berdiri di kegelapan, meremas pinggiran gorden beludru dengan kuku-kukunya yang dicat merah darah hingga kain mahal itu berderit tegang. Wajah istri pertama itu tampak distorsi oleh kemarahan yang membakar dadanya.

Ia melihat bagaimana Harjono menatap Sumarni dengan pandangan yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun pernikahan mereka.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Marni?" desis Sulastri dengan suara parau yang dipenuhi racun.

Tangan Sulastri meraba kunci paviliun belakang yang sengaja ia simpan di dalam saku kebayanya. Rencana baru yang lebih kejam mulai terbentuk di kepalanya yang penuh kedengkian.

Esok pagi, saat Harjono pergi ke Surabaya mengurus gudang yang terbakar, tidak akan ada satu orang pun yang bisa melindungi selir sialan itu dari kemurkaannya.

Sumarni yang sedang berjalan di halaman mendadak menghentikan langkahnya ketika angin malam bertiup lebih kencang, ada sensasi tidak enak yang menusuk kulit lehernya.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!