Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sore hari menjelang malam, Nara yang baru kembali meninjau salah satu anak perusahaan Dhanubrata Group sengaja meminta sopirnya pulang lebih dulu. Sementara itu, ia memilih menyetir sendiri menuju suatu tempat.
Mobil mewah milik Nara melaju perlahan saat memasuki sebuah gang sempit yang mulai ramai boleh warga. Lampu-lampu rumah sederhana mulai menyala. Beberapa ibu-ibu tampak duduk berkumpul di depan rumah sambil mengobrol, sementara anak-anak kecil masih berlarian di sekitar gang.
Tatapan Nara lurus ke depan, kedua tangannya menggenggam kemudi erat.
Sudah satu bulan ia mencoba melupakan pria bernama Sagara itu. Satu bulan berusaha fokus pada pekerjaan dan mengabaikan rasa penasarannya sendiri. Namun, semakin sering ia mencoba melupakan, semakin sering wajah pria itu muncul di pikirannya. Apalagi ancaman kakek Dhanubrata terus menghantuinya.
Satu minggu. Hanya satu minggu waktu yang diberikan kakeknya. Jika dalam waktu itu Nara gagal membawa Sagara menemuinya, maka pertunangannya dengan Samudra akan benar-benar dilaksanakan. Dan Nara tidak ingin itu terjadi.
Kehadiran mobil mewah Nara langsung menarik perhatian.
"Eh, mobil siapa tuh?"
"Mewah banget. Pasti mahal."
"Masuk sini nyari siapa ya?"
Bisik-bisik mulai terdengar di sepanjang gang. Namun, Nara tetap fokus menyetir perlahan hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan rumah kontrakan sederhana yang disewa Sagara. Dan Beruntungnya, di depan rumah itu sedang cukup ramai.
Bu Sari terlihat duduk bersama beberapa ibu-ibu tetangga sambil mengupas bawang. Tidak jauh dari sana, Andi juga tampak sedang jongkok memperbaiki motornya.
Begitu melihat mobil Nara berhenti, suasana langsung berubah. Semua mata otomatis tertuju pada kendaraan mewah tersebut.
Andi bahkan sampai melotot. "Waduh ...," gumamnya pelan sambil menepuk paha sendiri. "Datang lagi."
Sementara Bu Sari langsung menyikut ibu-ibu di sampingnya. "Itu cewek cantik yang waktu itu datang," ucapnya pelan.
"Yang katanya pacarnya Sagara?" tanya Ibu berdaster pink.
Nara memejamkan mata sesaat begitu mendengar bisikan itu saat turun dari mobil.
Tumit heelsnya menyentuh tanah yang sedikit becek. Penampilannya yang rapi dan elegan langsung terlihat mencolok di lingkungan sederhana itu.
Beberapa detik kemudian, pintu kontrakan Segara terbuka. Pria itu keluar sambil mengenakan kaus hitam sederhana dan celana training. Sepertinya baru selesai mandi karena rambutnya masih sedikit basah.
Namun, begitu melihat siapa yang datang, langkahnya langsung terhenti. Tatapan Sagara berganti datar. "Naraya?"
Nara melangkah mendekat beberapa langkah. "Aku perlu bicara."
Sagara langsung melirik sekeliling.
Tatapan penasaran para tetangga terasa terlalu jelas sampai membuat pelipisnya berdenyut pelan.
Bu Sari bahkan terang-terangan tersenyum lebar ke arahnya. "Sagaraaa ...," panggil wanita itu panjang penuh godaan.
Sagara langsung memejamkan mata frustasi. Sementara Nara yang melihat reaksinya justru menahan senyum tipis. "Apa kita harus bicara di sini?" tanyanya pelan.
Sagara menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya mendekat pada Nara. "Anda sengaja datang ke sini hanya untuk merepotkan saya?"
Nara mengangkat alisnya santai. "Aku tahu, kau itu memang sangat pintar," jawab Nara pelan. "Kau bisa langsung menebaknya."
Rahang Sagara mengeras. Namun, belum sempat ia membalas, suara Bu Sari lebih dulu terdengar nyaring dari belakang.
"Ya ampun, Sagara ... masa cewek cantik gitu kamu ajak ngobrol di luar. Sambil berdiri lagi."
"Iya tuh. Jangan dibiarin berdiri di luar begitu. Kasian ntar kecapean lagi," timpal ibu bertubuh gemuk.
"Kasian banget, masa cantik-cantik kamu suruh berdiri." Ibu berkacamata ikut menimpali.
Sagara memijat pelipisnya pelan. "Bu ... tolong jangan bicara begitu," ucapnya sesopan mungkin.
Namun, teguran bernada sopan itu sama sekali tidak digubris. Andi malah ikut berdiri sambil menyeringai lebar ke arah Sagara.
"Ga, serius deh ... lu sebenernya pake pelet apa gimana sih?" celetuknya tanpa dosa. "Sampe disamperin langsung ke rumah gini."
Celetukan Andi langsung disambut tawa ibu-ibu di sekitar mereka.
Sagara memejamkan mata sesaat. Denyut di pelipisnya terasa semakin kuat.
"Eh, Mbak. Sini ikut ngobrol sama kita-kita," ujar Bu Sari ramah sambil melambaikan tangan ke arah Nara.
Nara yang sejak tadi diam justru terlihat tenang menghadapi semua perhatian itu. Ia malah melempar senyum kecil dan anggukan sopan pada ibu-ibu di sana.
"Sagara tuh dari dulu susah deket sama perempuan," lanjut salah satu ibu sambil tertawa kecil. "Anaknya Bu Mira yang cantik aja nggak pernah dilirik."
"Ya gimana mau lirik Si Dina," sahut Andi cepat. "Yang di depan mata aja cantiknya beda level begini."
"Andi!" tegur Sagara mulai kehilangan kesabaran. Namun, Andi malah semakin semangat menggoda.
"Ngamuk mulu calon mantu orang kaya," lanjut Andi semakin menjadi. "Gue sumpahin lu beneran sampe nikah dah. Biar elu beneran jadi orang kaya."
Tawa pecah lagi di sekitar rumah kontrakan itu.
Beberapa bapak-bapak yang tadinya hanya lewat bahkan ikut menonton. Anak-anak kecil mulai berkerumun di dekat mobil Nara sambil terkagum-kagum melihat kendaraan mewah itu. Sementara Sagara mulai merasa ingin menghilang saja dari tempat itu.
Dan yang lebih menyebalkan, Nara justru terlihat menikmati situasi tersebut. Sudut bibir wanita itu beberapa kali tampak terangkat menahan senyum saat melihat Sagara terus menjadi sasaran ledekan.
Untuk menghentikan kerumitan yang terlanjur terjadi, Sagara langsung melangkah mendekati motornya yang terparkir di depan kontrakan. Lalu ia menoleh pada Nara.
"Ayo."
Nara mengangkat sebelah alis santai. "Ke mana?"
"Ke mana saja," jawab Sagara cepat. "Bukankah Anda ingin bicara dengan saya?"
Sudut bibir Nara kembali terangkat tipis. Akhirnya, tanpa perlu bersusah payah mencari alasan untuk mengajak bicara Sagara, pria itu justru memilih membawanya pergi lebih dulu.
Dalam hati, Nara bahkan nyaris ingin tertawa puas. Tatapannya sekilas melirik ibu-ibu dan Andi yang masih memperhatikan mereka dengan wajah penuh rasa penasaran.
Untuk pertama kalinya, Nara merasa para tetangga kepo itu sangat membantu. Jika kali ini ia berhasil membujuk Sagara, mungkin ia benar-benar akan mengirimkan sesuatu untuk mereka nanti.
Sementara itu, Sagara sudah lebih dulu mengenakan helmnya dengan gerakan cepat, seolah ingin segera kabur dari tempat tersebut sebelum ledekan baru kembali muncul.
"Ayo cepat naik," ucapnya datar. Namun, nada suaranya justru terdengar ketus.
Nara yang menyadari itu justru semakin ingin menggodanya. "Kenapa buru-buru?" tanyanya santai sambil berdiri di samping motor. "Aku bahkan belum sempat memperkenalkan diri pada mereka."
Sagara langsung menatapnya tajam. "Sebaiknya kali ini Nona menuruti ucapan saya. Karena mereka tidak akan berhenti sampai tengah malam kalau kita masih di sini."
"Benarkah?" ucapnya lalu tertawa kecil sebelum akhirnya naik ke motor Sagara dengan santai.
Dan tidak seperti sebelumnya. Kali ini wanita itu sama sekali tidak menjaga jarak. Tangannya otomatis memegang sisi kaos Sagara agar seimbang. Hal sederhana yang justru membuat tubuh pria itu sedikit menegang. Belum lagi suara godaan dari belakang kembali terdengar.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa bawa martabak, pajak jadian," teriak Andi keras.
Sagara menarik napas panjang untuk meredakan perasaannya yang semakin campur aduk. Antara kesal, malu dan beragam perasaan lainnya.
Sementara tawa langsung pecah lagi, dan Nara justru sampai harus menahan senyumnya sendiri melihat telinga pria di depannya mulai memerah karena malu.
Beberapa detik kemudian, motor itu akhirnya melaju meninggalkan gang sempit tersebut. Dan sepanjang perjalanan keluar gang, Nara masih mendengar samar-samar suara ibu-ibu yang terus menggoda dari belakang. Dan entah kenapa, setelah satu bulan penuh tekanan dari kakek Dhanubrata, Nara merasa kepalanya sedikit lebih ringan.
**** bersambung.