Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Perempuan yang Tidak Diinginkan
Udara pagi yang tadi terasa tenang berubah menjadi tegang dalam hitungan detik. Ishani masih berdiri di dekat mobil dengan Iyan dalam pelukannya. Bayi itu tertidur, tidak menyadari apa pun. Namun tangan Ishani sedikit mengerat.
Tatapan wanita di depannya terlalu dingin.
Terlalu menilai. “Jadi ini perempuan itu.”
Suara Bu Lucy terdengar datar. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat suasana terasa tidak nyaman.
Langit berdiri satu langkah di depan Ishani. Tanpa sadar. Seolah refleks. “Bu,” katanya pelan.
Bu Lucy menoleh sedikit ke arah Langit. “Kami mencarimu di apartemen, ternyata kamu di sini… bersama wanita ini.”
Langit tidak langsung menjawab. “Ini rumah saya. Saya bisa bersama dengan siapapun yang saya mau.”
Jawaban itu tenang. Tapi cukup membuat alis Bu Lucy sedikit terangkat.
Pak Rama yang berdiri di sampingnya akhirnya angkat bicara. “Kami datang untuk bicara.”
Langit menatap ayahnya. “Soal perusahaan?”
“Bukan hanya itu.”
Ishani menunduk sedikit. Ia bisa merasakan ini bukan tempatnya.
“Kamu Ishani, bukan?” tanya Bu Lucy dengan suara terhenti.
Ishani mengangkat kepalanya, menoleh perlahan. “Iya.”
Tatapan Bu Lucy kembali turun ke arah bayi di pelukannya. “Anakmu?”
“Iya.”
“Anak dari adiknya Langit.” Bu Lucy berkata tanpa ragu,
Kalimat itu tidak terdengar seperti pertanyaan. Lebih seperti penilaian.
Ishani tidak menjawab.
Langit langsung memotong, “Cukup, Bu.”
Bu Lucy menoleh padanya. “Aku hanya memastikan.”
Langit menatapnya lebih tajam. “Tidak perlu.”
Pak Rama menghela napas pelan. “Langit.” Nada suaranya lebih tenang. “Kami tidak datang untuk bertengkar di depan rumah.”
Langit tidak menjawab. Namun ia akhirnya membuka pintu. “Masuk.”
Keempatnya masuk ke dalam ruang tamu. Bu Maura keluar dari dapur begitu mendengar suara. Langkahnya terhenti saat melihat siapa yang datang. Wajahnya berubah. Namun ia tetap berdiri tegak.
“Sudah lama,” katanya pelan.
Bu Lucy tersenyum tipis. “Iya. Sudah sangat lama.”
Pak Rama terlihat sedikit canggung. “Maura…”
Namun wanita itu tidak menatapnya lama.
Hanya mengangguk kecil. “Silakan duduk.”
Mereka duduk berhadapan.
Ishani memilih berdiri sedikit di belakang.
Tidak ikut dalam lingkaran pembicaraan.
Namun tetap tidak benar-benar pergi.
Langit duduk di kursi utama. Tatapannya bergantian antara ayahnya dan wanita di sampingnya. “Apa yang ingin dibicarakan?” tanyanya langsung.
Pak Rama tidak berputar-putar. “Keputusan kemarin.”
Langit mengangguk kecil. “Tentang Wicaksana Insurance.”
“Ya.”
Pak Rama melanjutkan, “Zaka tidak menerima keputusan itu.”
Langit tersenyum tipis. “Itu bukan hal baru.”
Bu Lucy langsung menyela, “Tapi keluarga ini tidak bisa berjalan dengan konflik terus-menerus.”
Langit menoleh. “Konflik itu muncul karena keputusan yang salah.”
“Menurutmu.”
“Menurut data.”
Suasana kembali menegang. Pak Rama mengangkat tangan sedikit, mencoba menengahi. “Langit, ini bukan hanya soal angka.”
“Justru ini soal angka,” jawab Langit tegas. “Perusahaan hampir jatuh karena keputusan Zaka.”
Bu Lucy menatapnya tajam. “Dan kamu pikir kamu bisa memperbaiki semuanya sendirian?”
Langit tidak menjawab. Namun tatapannya cukup jelas. Dari sudut ruangan, Ishani memperhatikan. Ia tidak mengerti semua soal bisnis itu. Namun satu hal yang ia lihat, Langit tidak mundur.
“Masalahnya bukan hanya itu,” lanjut Bu Lucy.
Langit menoleh. “Lalu?”
Wanita itu menatap Ishani sekilas. Lalu kembali ke Langit. “Keputusan pribadi kamu juga mulai memengaruhi perusahaan.”
Langit langsung tahu arah pembicaraan itu. “Ini tidak ada hubungannya.”
“Semua ada hubungannya. Keputusanmu menikahi istri adikmu mengubah semuanya.”
Langit berdiri dari kursinya. “Tidak.”
Nada suaranya tetap rendah. Tapi tegas. “Jangan bawa dia ke dalam ini.”
Tatapan Bu Lucy tidak berubah. “Kalau kamu serius dengan perempuan itu… maka dia sudah ada di dalam ini.”
Ishani langsung menegang.
Bu Maura yang sedari tadi diam akhirnya berbicara. “Cukup!”
Semua menoleh.
Wanita itu berdiri perlahan. “Ini bukan tempat untuk membicarakan hal seperti itu.”
Bu Lucy tersenyum tipis. “Kenapa? Karena ini rumahmu?”
“Karena ini bukan urusanmu,” sahut Bu Maura menatap tajam ke arah istri dari mantan suaminya.
Kalimat itu membuat suasana semakin panas.
Pak Rama langsung berdiri. “Sudah.” Ia menatap Bu Lucy sebentar, lalu kembali ke Langit. “Kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan cara ini.”
Langit tetap diam.
Pak Rama melanjutkan, “Kita semua hanya ingin kamu berpikir ulang.”
“Tidak.”
Jawaban itu keluar tanpa jeda.
Semua orang terdiam.
Langit menatap ayahnya lurus. “Keputusan ini sudah final.”
Pak Rama menghela napas panjang.
“Baik.” Ia berbalik. “Kita pergi.”
Namun sebelum melangkah keluar, Bu Lucy berhenti. Ia menoleh ke arah Ishani.
Tatapannya kembali tajam. “Kamu.”
Ishani sedikit terkejut. “Dunia yang kamu masuki sekarang… bukan dunia yang sederhana.”
Ishani tidak menjawab. Namun kali ini, ia tidak menunduk. Tatapannya tetap tenang.
Bu Lucy tersenyum tipis. “Semoga kamu cukup kuat.”
Setelah itu, ia benar-benar pergi. Suara mobil menjauh.
Ishani masih berdiri di tempatnya. Tangannya perlahan mengusap punggung Iyan. Langit berdiri beberapa langkah di depannya. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
Akhirnya Ishani membuka suara. “Maaf.”
Langit langsung menoleh. “Untuk apa?”
“Karena aku… jadi masalah.”
Langit menghela napas pendek. Ia berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan Ishani. “Kamu bukan masalah.”
“Tapi–”
“Shani.” Nada suaranya lembut. Berbeda dari yang tadi. “Jangan pernah berpikir begitu.”
Ishani menatapnya.
Langit melanjutkan, “Masalahnya sudah ada jauh sebelum kamu datang.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Ishani terdiam.
Bu Maura mendekat pelan. Ia menatap keduanya bergantian. Lalu tersenyum kecil. “Sudah,” katanya. “Kita tidak jadi pulang hari ini.”
Ishani menoleh. “Bu?”
“Kamu lihat sendiri kan tadi?” lanjutnya santai. “Perjalanan kita tidak akan tenang.”
Langit sedikit mengangguk. “Itu lebih baik.”
Ishani menghela napas pelan. Ia juga merasa belum siap kembali.
🥀🥀🥀🥀🥀
Sementara itu, di tempat lain…
Zaka berdiri di depan meja kerja dengan wajah penuh amarah.
“Jadi benar?” suaranya tajam.
Bu Shinta mengangguk. “Om-mu sudah setuju.”
Zaka tertawa pahit. “Hebat sekali.”
Pak Aksa duduk santai di kursi seberang.
Kakinya disilangkan. Seolah semua ini hanya permainan biasa.
“Kenapa Om terlihat begitu tenang?” tanya Zaka tajam.
Pak Aksa tersenyum tipis. “Karena ini belum selesai.”
Zaka menoleh. “Maksud Om?”
Pria itu berdiri perlahan. Melangkah mendekat. “Langit mungkin mendapatkan posisinya sekarang. Tapi mempertahankannya… itu cerita lain.”
Zaka menatapnya lebih fokus sekarang.
“Om punya rencana?”
Pak Aksa tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke meja. Mengambil sebuah map.
Meletakkannya di depan Zaka. “Buka.”
Zaka membuka map itu. Matanya bergerak cepat membaca isi di dalamnya. Lalu ekspresinya berubah. “Kapan ini terjadi?”
Pak Aksa tersenyum kecil. “Cukup lama untuk dijadikan masalah.”
Zaka menatapnya. “Kalau ini keluar…”
“Bukan hanya Wicaksana Insurance yang akan jatuh,” potong Pak Aksa tenang. “Tapi seluruh grup.”
Zaka terdiam. Lalu perlahan senyum muncul di wajahnya. Senyum yang dingin.
“Dan Langit akan ada di tengahnya.”
Pak Aksa mengangguk. “Direktur utama yang baru… langsung dihantam krisis besar.”
Zaka menutup map itu pelan. “Aku suka ini.”
Pak Aksa menatapnya. “Tapi kita tidak boleh terburu-buru.”
Zaka mengangguk. “Biarkan dia duduk di kursinya dulu.”
“Biarkan dia merasa menang.” Pak Aksa tersenyum tipis. “Lalu kita jatuhkan… di saat yang paling tidak dia duga.”
Keduanya saling menatap, tidak ada yang berbicara lagi. Namun, keduanya seolah memahami isi pikiran satu sama lain.
Kembali ke rumah Langit.
Ishani duduk di dekat jendela, menatap ke luar. Namun pikirannya tidak benar-benar di sana.
Langit datang dari arah kamar. Tadi dia menggendong Iyan yang rewel karena mengantuk.
“Iyan sudah tidur,” lapornya.
Ishani menoleh. “Terima kasih, Kak”
Langit berdiri di sampingnya. Mengikuti arah pandangannya.
“Kak Langit.” Ishani berkata pelan,
“Iya?”
“Kalau nanti semuanya jadi lebih sulit…” Ia berhenti sebentar. “…apa Kak Langit akan menyesal?”
Langit tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan. Lalu berkata pelan, “Aku sudah memilih.”
Ishani menunggu.
Langit melanjutkan, “Dan aku tidak pernah menyesal dengan pilihanku.”
Ishani tidak berkata apa-apa lagi.
Namun kali ini hatinya jauh lebih tenang.
Tanpa mereka sadari di luar sana, sesuatu sedang disiapkan. Sesuatu yang tidak hanya akan menguji posisi Langit tapi juga semua yang ia lindungi. Dan ketika itu datang, tidak semua orang akan tetap berdiri di tempat yang sama.
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲