Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Eko
Langit Desa Karang Jati sore itu tampak temaram, tertutup awan mendung yang menggantung rendah seolah ikut menekan suasana desa yang kian mencekam. Sebuah mobil bak terbuka yang disewa Darsono perlahan memasuki jalanan desa. Di bagian belakang, beralaskan kasur kapuk yang tipis, Eko tergeletak tak berdaya. Tubuhnya yang dulu tegap dan gagah kini tampak mengerikan; hanya tersisa satu tangan kanan yang terus mencengkeram sisi bak mobil, sementara bagian bawah tubuhnya tampak rata tertutup kain sarung.
Beberapa warga yang sedang duduk di depan rumah atau sekadar menyapu halaman segera menghentikan aktivitas mereka. Namun, tidak ada sambutan hangat. Tidak ada wajah-wajah prihatin yang biasanya muncul saat tetangga tertimpa musibah. Mereka hanya berdiri mematung, menatap dengan pandangan kosong, lalu dengan cepat memalingkan wajah dan masuk ke dalam rumah masing-masing.
Eko, yang meski raganya hancur namun egonya masih setinggi langit, menangkap gelagat itu. Darahnya mendidih. Ia merasa dihina oleh orang-orang yang dulu menghormatinya sebagai "orang kota" yang sukses merantau.
"HEI! KENAPA KALIAN LIHAT-LIHAT?! MAU MENERTAWAKANKU?!" teriak Eko dari atas bak mobil. Suaranya parau namun menggelegar, memecah kesunyian desa. "SIALAN KALIAN SEMUA! LIHAT SAJA, AKU MASIH PUNYA UANG! AKU BISA MEMBELI MULUT KALIAN!"
Darsono yang duduk di kursi depan samping sopir hanya bisa menunduk dalam-dalam. Wajahnya merah padam menahan malu yang luar biasa. Setiap kali mobil melewati kerumunan kecil warga, Darsono terpaksa menjulurkan kepalanya keluar jendela, mengatupkan kedua tangan di depan dada sambil berbisik, "Maaf... maafkan adik saya... dia sedang tidak sadar... mohon maaf."
Namun Eko tidak berhenti. Sepanjang jalan dari perbatasan desa hingga sampai ke depan halaman rumahnya, mulutnya terus mengeluarkan caci maki. Ia mengutuk siapa saja yang berani menatapnya. Ia merasa seluruh warga desa sedang merayakan kecacatannya.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah Eko. Darsono segera turun dengan terburu-buru. Ia ingin segera mengakhiri tontonan memalukan ini.
"Rumi! Ruminten! Buka pintunya, Nduk! Eko sudah pulang!" teriak Darsono sambil menggedor pintu depan.
Hening. Tidak ada suara langkah kaki yang mendekat. Tidak ada suara bayi yang biasanya terdengar jika ada tamu datang. Darsono mencoba mendorong pintu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sangat dingin dan asing.
"Rumi?" Darsono masuk ke kamar utama, lalu ke dapur, hingga ke kamar mandi belakang. Kosong. Lemari pakaian di kamar utama tampak terbuka sebagian, dan ia menyadari sebagian besar kain milik Ruminten dan perlengkapan bayi sudah tidak ada di tempatnya. Meja makan bersih, tidak ada sisa makanan, hanya ada keheningan yang menyesakkan dada.
Darsono menghela napas panjang. Ia sudah menduga ini akan terjadi setelah mendengar pernyataan Ruminten di rumah sakit, namun ia tidak menyangka wanita itu benar-benar pergi secepat ini tanpa meninggalkan pesan selembar pun.
Dengan sisa tenaga dan kesabaran yang mulai menipis, Darsono merapikan kasur di atas amben di ruang tengah. Ia sengaja tidak menempatkan Eko di kamar agar lebih mudah mengurusnya. Setelah semuanya siap, ia kembali ke depan. Dengan susah payah, ia menggendong tubuh adiknya yang kini terasa ringan namun kaku.
"Mana Rumi? Kenapa dia tidak keluar menyambut suaminya?!" bentak Eko saat tubuhnya diletakkan di atas kasur. Matanya liar menyapu seluruh ruangan. "RUMINTEN! KELUAR KAMU! LIHAT INI, AKU SUDAH PULANG! MANA ANAKKU?!"
Darsono menyeka keringat di dahinya. Ia duduk di kursi kayu di samping amben dengan napas tersengal. "Rumah ini kosong, Eko. Tidak ada siapa-siapa. Sepertinya Rumi benar-benar pergi."
"APA?! PERGI?! DASAR WANITA JALANG! DIA SENGAJA MENINGGALKANKU SAAT AKU BEGINI?!" Eko memukul-mukul kasur dengan tangan kanannya yang tersisa. "Cari dia, Mas Dar! Seret dia pulang! Dia harus mengurusku! Dia harus bertanggung jawab atas sial yang kubawa ini!"
Darsono hanya bisa menatap adiknya dengan pandangan lelah. "Eko, cukup. Aku sudah mengantarmu sampai sini. Sekarang diamlah dulu. Aku mau keluar mencari makan sebentar ke warung depan, aku belum makan sejak pagi."
Darsono bangkit tanpa menunggu jawaban adiknya. Ia merasa muak melihat tingkah laku Eko yang sama sekali tidak menunjukkan rasa sesal. Setiap kata yang keluar dari mulut Eko hanya berisi kebencian dan tuduhan, padahal dirinya sendiri yang telah mengundang petaka itu datang. Darsono melangkah keluar, menutup pintu depan dengan kasar, meninggalkan Eko sendirian dalam kesunyian yang mencekam.
Begitu suara motor Darsono menghilang di kejauhan, Eko kembali meledak. Keheningan rumah itu justru membuatnya semakin gila. Ia menatap ke arah samping, di mana seharusnya kaki kirinya berada, lalu menatap ke sisi kiri bahunya yang kosong tanpa lengan.
"SETAN! RATRI... SEMUA INI KARENA KAMU!" raung Eko.
Ia mencoba menggulingkan tubuhnya, namun karena kehilangan kedua kaki dan satu lengan, ia justru terjatuh dari amben. Tubuhnya terjerembap ke lantai tanah yang keras. Rasa sakit di bekas luka operasinya berdenyut hebat, namun amarahnya jauh lebih besar.
"IBLIIIIIISSSS!!! KEMBALIKAN BADANKU!" Eko berteriak sekuat tenaga. Suaranya menggema, menembus dinding-dinding bambu rumahnya dan terdengar jelas hingga ke rumah tetangga sebelah.
Tetangga sekitar, termasuk Bu Asih yang rumahnya paling dekat, hanya bisa mengelus dada dengan perasaan dongkol. Suara teriakan Eko yang penuh kata-kata kotor sangat mengganggu ketenangan desa, terutama di waktu maghrib yang seharusnya suci. Beberapa warga yang tadinya ingin sekadar menjenguk karena rasa kemanusiaan, langsung mengurungkan niat begitu mendengar makian Eko yang tidak kunjung berhenti.
"Ya Allah... apa tidak bisa diam orang itu," keluh seorang warga yang lewat di jalan depan. "Sudah cacat bukannya bertobat, malah semakin menjadi-jadi marahnya."
Hari semakin surup.Di dalam rumah yang mulai menggelap itu, Eko terus meronta di lantai. Ia tidak menyadari bahwa di pojok ruangan, di dekat lemari yang kosong, bayangan hitam Suanggi kembali muncul. Makhluk itu menempel di langit-langit, menatap Eko yang sedang merayap dengan satu tangan seperti seekor ulat yang terluka.
Suanggi itu mengeluarkan suara geraman halus, mirip dengan suara bayi yang lahir di rumah sakit tempo hari. Eko terhenti sejenak, telinganya menangkap suara itu.
"Siapa itu?! Rumi? Kamu di sana?!" tanya Eko dengan suara bergetar.
Hening. Namun aroma melati yang sangat tajam tiba-tiba menyeruak, memenuhi seluruh ruangan, mengalahkan bau obat-obatan yang melekat di tubuh Eko. Di balik keremangan cahaya senja, Eko melihat sesosok wanita berdiri di ambang pintu kamar yang gelap.
Eko terdiam, napasnya memburu. Ia ingin berteriak lagi, namun lidahnya tiba-tiba terasa kelu. Kesadarannya mulai menangkap bahwa kepergian Ruminten dan kembalinya dia ke rumah ini bukanlah sebuah kepulangan, melainkan penyerahan diri ke dalam kandang pemangsa yang sesungguhnya.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno