Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27 At-thiyaratu Syirkun
Happy reading
"Hentikan, Tante. Ucapan Anda sudah keterlaluan." Suara bariton yang dalam dan tenang memecah intimidasi Jihan.
Seorang pemuda asing tiba-tiba muncul, entah dari mana datangnya. Ia melangkah maju, berdiri kokoh di samping Hawa yang masih gemetar.
Dia... Dzaki Ramadan Bagaskara.
Rama menatap Jihan lekat-lekat, memberi tekanan batin melalui sorot mata tajam yang sanggup membuat wanita itu seketika bungkam.
Jihan mengernyit, berusaha menutupi kekagetannya dengan pandangan mencemooh.
"Siapa kamu? Berani sekali mencampuri urusan keluarga kami?" hardiknya tajam.
"Saya bukan siapa-siapa bagi Anda, tapi saya manusia yang tidak tahan melihat ketidakadilan," sahut Rama dengan nada dingin. "Sangat ironis melihat seseorang yang tampak berpendidikan, namun masih memelihara pola pikir kolot dan memercayai mitos tak berdasar untuk menghakimi sesama manusia."
"Kamu tidak tahu apa-apa! Dia itu pembawa sial, tanda di bahunya--"
"Tanda itu secara klinis disebut Congenital Melanocytic Nevus," potong Rama cepat, suaranya naik satu oktaf namun tetap terkendali. "Secara medis, itu hanyalah malformasi sel pigmen saat janin berkembang di rahim. Menghubungkan fenomena biologis dengan rentetan musibah di masa lalu adalah sebuah kesesatan logika--post hoc ergo propter hoc. Kejadian yang berurutan bukan berarti memiliki hubungan sebab-akibat."
Rama menarik napas sejenak, tatapannya kini makin menghujam Jihan yang mulai tampak goyah.
"Bahkan secara syariat pun, meyakini tanda lahir sebagai pembawa sial adalah bentuk thiyarah atau tathayyur--sebuah kesyirikan yang sangat dilarang. Rasulullah dengan tegas bersabda, 'At-thiyaratu syirkun'; bahwa firasat sial itu adalah syirik. Menghakimi Hawa sebagai penyebab bencana bukan hanya menghina ciptaan Tuhan, tapi Tante juga sudah lancang menentang ketetapan takdir Allah atas segala musibah yang terjadi. Bagaimana mungkin Anda tega melimpahkan beban takdir Ilahi ke pundak seorang gadis yang tidak punya kuasa sedikit pun atas kelahirannya sendiri?"
Jihan ternganga. Lidahnya mendadak kelu, tak menyangka akan diserang dengan argumen medis dan teologis sekuat itu oleh pemuda yang tak ia kenal.
"Hawa bukan pembawa sial," pungkas Rama sembari melirik tipis ke arah Hawa yang menatapnya dengan binar tak percaya. "Dia adalah jiwa yang tegar karena sanggup melewati berbagai ujian, dan seharusnya ia disayangi, bukan diasingkan dengan narasi mistis yang tidak masuk akal."
Entah suatu kebetulan yang direncanakan semesta atau cara Ilahi membuka mata para pembenci. Di saat Rama mengutarakan argumennya, Maharani dan Anjani berpijak tak jauh dari sana.
Bahkan, Ijah pun sudah kembali dan berdiri mematung di tengah-tengah mereka. Dua gelas teh hangat di genggamannya sedikit bergetar, seiring detak jantungnya yang berpacu mendengar pembelaan lantang dari Rama untuk sang nona.
Penjelasan yang mengalir tenang namun sarat kebenaran dari bibir Rama bagai tamparan keras yang sanggup meruntuhkan ideologi kolot Maharani, Anjani, dan Jihan dalam sekejap.
Namun, setitik keangkuhan rupanya masih bersemayam kuat di relung hati Maharani. Sebagai seorang ibu yang merasa hampir kehilangan putranya berkali-kali, kejemawaan membuatnya enggan mengakui kekeliruan berpikirnya.
Ia masih terlalu keras kepala untuk merendahkan diri, apalagi meminta maaf pada Hawa--gadis yang selama ini telah ia remukkan hatinya dengan tuduhan pembawa sial.
Tangan Maharani terkepal kuat. Ada letupan amarah yang mendesaknya untuk segera menimpali argumen pemuda asing yang seolah sengaja berperan menjadi 'pahlawan' bagi Hawa. Namun, lidahnya mendadak kelu. Otaknya buntu, tak mampu menemukan sangkalan logis untuk mematahkan serangan pemuda itu.
Ia tidak ingin semakin dipermalukan di depan umum dengan kata-kata yang mungkin tak lagi masuk akal jika dipaksakan. Terlebih, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memicu perdebatan di tengah tamu yang masih terus berdatangan.
Ironisnya, Maharani sengaja turun dari panggung pelaminan hanya demi menghakimi Hawa. Ia berniat melancarkan rencana busuknya bersama Jihan dan Anjani, mumpung gadis pemilik tanda lahir di bahu kiri itu berada di sudut ruang yang tak terjamah oleh tamu undangan.
Tujuannya satu: menjauhkan Hawa dari kehidupan Damar dan Hanum, agar rumah tangga mereka adem ayem tanpa adanya sosok yang selama ini dinilai sebagai pembawa sial.
Namun, niat keji itu pupus seketika karena kehadiran sosok asing yang justru membalikkan keadaan dan membungkamnya tanpa ampun.
"Ayo, Hawa, kita pergi!" Rama meraih lengan Hawa yang terbalut kain, lantas membawanya menjauh. Ia terpaksa mengabaikan sekat tak kasat mata demi menyelamatkan gadis yang dicintainya dari kehancuran mental yang lebih dalam.
Hawa menurut tanpa protes. Ia menyeret paksa kakinya yang terasa lunglai, berusaha mengimbangi langkah Rama.
Mereka bergegas meninggalkan ruangan mewah yang kini menjelma menjadi neraka bagi Hawa--tempat yang hanya menguarkan hawa panas dan menyesakkan dada.
.
.
Seperti biasa, Rama membawa Hawa ke masjid untuk membasuh lara dan menguatkan jiwanya yang rapuh. Ia membiarkan gadis itu meletakkan seluruh beban batinnya dalam pelukan sujud di atas sajadah.
Rama menawarkan ketenangan yang tulus--bukan melalui sentuhan atau pelukan fisik, melainkan melalui kata-kata penguat yang teduh dan menyejukkan hati.
Hening sejenak bertakhta, mengiringi sujud Hawa yang begitu dalam. Seolah mempersilakan suara benak mengadu pilu pada Tuhannya.
Rama hanya terdiam. Ia setia menunggu sembari duduk bersandar pada dinding masjid. Benaknya tak henti melafazkan zikir dan selawat--melangitkan pinta pada Sang Maha Cinta agar berkenan mendekap Hawa dengan kasih-Nya. Ia memohon agar Hawa dianugerahi kebahagiaan, serta dijauhkan dari segala ujian hidup yang sekiranya tak sanggup lagi dipikul oleh bahu rapuh gadis itu.
"Rama..." bisik Hawa lirih, setelah merasa tuntas mengadu pada Ilahi.
Rama mengulas senyum, menatap sekilas wajah Hawa yang masih tampak sembab. "Ya, aku di sini," sahutnya dengan nada rendah yang menenangkan.
"Apa benar... aku pembawa sial dan nggak seharusnya terlahir ke dunia?"
"Hawa, kamu bukan pembawa sial. Tadi aku sudah menjelaskan panjang lebar, dan aku yakin kamu mendengarnya. Sebagai seorang calon dokter, kamu pasti jauh lebih paham dariku secara logika medis," Rama menjeda sejenak, lalu kembali menerbitkan senyum.
"Jangan biarkan dirimu tumbang oleh ucapan yang tak berdalil. Tetaplah tegak berdiri. Hadapi mereka dengan ketenangan dan kecerdasan yang kamu miliki. Jangan sekali-kali menunjukkan kelemahan, apalagi sampai membenarkan pemikiran kolot mereka."
Hawa mengangguk samar, menyeka sisa air mata dengan jemari tangannya, lalu memaksa bibir untuk mengulas senyum tipis.
"Terima kasih, ya. Kamu selalu hadir di saat aku butuh penguat, penopang, dan teman."
"Aku yang justru berterima kasih, Hawa. Terima kasih karena kamu sudah bertahan sehebat ini selama kita terpisah," sahut Rama lembut. "Maaf, aku datang terlambat."
Hawa mengerutkan dahi, menatap Rama dengan penuh tanda tanya. Kalimat itu terasa begitu akrab, namun asing di saat yang bersamaan.
"Sebenarnya... kamu siapa, Ram?"
Rama hanya mengembangkan senyum, namun dibalik lengkung bibirnya itu tersirat makna yang tak terbaca oleh Hawa. "Nanti, atau mungkin besok, kamu pasti akan mengingat siapa aku. Sekarang, biarkan aku mengantarmu pulang."
🍁🍁🍁
Bersambung
aku vote deh..