Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 27
"APAAAAA? KALIAN GAGAL MENEMUKAN NAKA KECIL SEPERTI DIA?" emosi Bima saat mendapat laporan jika Edwin dan anak buahnya gagal menemukan jejak dari Aruna.
"Dia sebelumnya sudah menghapus semua jejak dirinya termasuk saat berada di sini," ucap Edwin memperlihatkan laptop miliknya kepada Bima.
"Kenapa kamu bisa sebodoh itu Edwin? kenapa kamu malah bisa kecolongan oleh anak kecil seperti itu!" geram Bima.
"Aruna bukan sembarangan anak kecil. Tapi dia adalah anak yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Anda tahu sendiri kemampuannya seperti apa, belum lagi dia terus mengasah kemampuannya di sini selama empat tahun. Bahkan saya juga pernah mengatakan kepada anda, kalau saya saja kalah dalam masalah it oleh Aruna. Tapi anda selalu tidak percaya dengan ucapan saya dan meremehkan Aruna karena selalu menganggap Aruna anak yang bodoh. Padahal Dia gadis yang kuat dan juga sangat pintar,", jelas Edwin membuat Bima meremas kepalanya.
"Kalau Aruna bebas di luaran dan lawan kita tahu jika Lady Aruna sudah tak lagi menjadi orang yang paling mereka takuti di kelompok kita. Aku yakin mereka akan berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan Aruna dan menjadikannya bagian dari mereka," ucap Ramon sengaja memanasi kepala Bima. Dia kesal sekali kepada pimpinan sontoloyonya itu.
"Sial-an! Kalian juga bo-doh tak memperkirakan jika Aruna akan pergi!" teriak Bima frustasi.
"Hanya anda dan Aruna yang tahu akan perjanjian yang kalian buat. Bahkan kami tidak tahu sama sekali akan hal itu. Jika saja kami tahu maka kami akan mengingatkan kepada anda, dan juga melakukan antisipasi," jawab Edwin.
Enak saja mereka yang harus selalu disalahkan, padahal jelas-jelas Bima yang salah. Walau mereka sebenarnya tahu perjanjian itu dari Aruna. Mereka memang sengaja membiarkan agama bebas dari sana dan mencari jalan kehidupannya sendiri. Karena suatu hari nanti dia akan kembali lagi dengan versi terbarunya.
Bram hanya bisa mengamuk frustasi mendengar ucapan kedua orang anak buah kepercayaannya. Dia memang salah tapi dia tak mau di salahkan, dari dulu seperti itu. Dia hanya bisa marah-marah dan setelahnya menggunakan sen-ja-ta api sebagai benda keramatnya. Dari dulu bima tak pernah mau turun dan terjun langsung bertarung dan selalu menurunkan Edwin juga Ramon. Sehingga banyak yang mengira kalau kelompok itu milik mereka berdua.
"Aku tak mau tahu kalian harus mencari dan menemukan anak itu dengan segera. Temukan dia dalam keadaan hidup! Jika kalian tidak menemukannya maka kalian yang akan mendapatkan hukuman dariku!" perintah Bima setelah itu pergi.
"Astaga! Ada apa dengannya? Sepertinya dia baru sadar jika Aruna terlalu hebat kalau untuk dilepaskan. Dia itu terlalu sombong dan menganggap dirinya sangat hebat. Padahal selama ini yang kerja adalah kita, dia hanya memberi perintah saja. Kalau tanpa adanya kita, dia bukanlah apa-apa. Apalagi karena adanya Aruna yang menjadi ahli strategi untuk kita kan? Aku harap Aruna memiliki kelompok sendiri. Aku akan pindah dan ikut bersama dengan adikku itu!" ucap Ramon membuat Edwin menatapnya tajam.
"Apa yang salah bang? Bahkan di sini kita tak lebih hanya sekedar dianggap an-/jing oleh pria itu. Kau dengan sendiri kan ucapannya saat itu kepada Dave. Memangnya kamu tidak sakit hati bang?" tanya Ramon saat melihat ekspresi tak suka dari Edwin.
"Aruna semoga kamu baik-baik saja di luar sana dan bertemu dengan orang-orang yang baik. Walau kamu bisa menjaga diri, tapi tetap saja aku khawatir. Apalagi kamu anak kecil dan pastinya akan di buru banyak kelompok saat mereka tahu kamu tak lagi bersama kami. Sejujurnya dari kemarin saat dia mengatakan akan pergi, aku benar-benar merasa khawatir bang! Selama ini dia berjuang sendirian untuk bertahan hidup," ucap Ramon kembali.
Pria itu sepertinya benar-benar khawatir dengan keadaan Aruna di luar sana. Apalagi selama ini Aruna selalu ada dalam pengawasan mereka. Aruna memang tak banyak macam-macam, bahkan sebenarnya bisa saja dia kabur dari sejak lama. Tapi Dia memegang teguh janji dan prinsipnya, dia tidak akan mengingkari janji walau sebenarnya dia bisa. Dan seperti sekarang dia pergi sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan ayah kandungnya sendiri.
Semalaman Edwin tidak bisa tidur memikirkan keadaan Aruna. Benar seperti yang dikatakan oleh Ramon, selama empat tahun lebih Mereka sudah terbiasa dengan adanya Aruna. Sehingga saat gadis kecil itu tidak ada membuat mereka merasa kehilangan. Bukan hanya Edwin yang tapi saya tidur, ternyata Ramon pun sama.
"Nggak bisa tidur bang?" tanya Ramon yang baru saja menyeduh kopi. Edwin mengangguk.
"Aku sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan dia. Aruna benar-benar menutup akses untuk kita juga!" jawab Edwin.
"Dia memang gadis yang keras kepala, Jika dia sudah mengambil keputusan kita tidak bisa melakukan apapun. Hanya saja aku sangat khawatir keadaan dia di luar sana. Satu yang aku takutkan adalah dia dimanfaatkan oleh orang-orang jahat. Dengan alasan akan membantunya membalaskan dendam kepada tuan Bima. Kita tahu sendiri dunia bawah ini sangatlah kejam, bahkan sesama saudara dan sesama teman bisa saling mem-bu-nuh dalam satu tembakan," jawab Ramon.
"Itulah yang aku takutkan!" jawab Edwin sepemikiran dengan Ramon.
Mereka masuk ke dalam kamar yang dulu di tempati Aruna. Mereka benar-benar kehilangan adik kesayangan mereka di markas. Setiap malam biasanya mereka akan sibuk bercanda sebelum latihan. Atau hanya sekedar saling ejek menghabiskan waktu bersama. Mereka merindukan hal itu. Senyum dan tawa Aruna.
"Wangi Aruna masih ada di sini," ucap Ramon dan menjatuhkan badannya di ranjang kecil itu.
"Loh bang! Ini ada surat untuk kita dari Aruna!" Ramon membawa kertas di bawah bantal. Edwin mendekat dan mereka berdua melihat isinya. ternyata bukan surat biasa. Tak semua orang akan paham, karena surat itu berisi sandi-sandi yang hanya mereka bertiga ketahui. Ramon dan Edwin saling pandang setelahnya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/