NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan samar

Seno kembali ke kantor dengan wajah sumringah, membawa kantong kertas berisi sisa pesanan dan cerita yang rasanya tak sabar ia tumpahkan. Begitu masuk ke ruangan Hamka, ia langsung menarik kursi dan duduk tanpa permisi, seolah lupa bahwa laki-laki di depannya adalah atasannya.

“Ham,” katanya membuka suara, nada suaranya dibuat santai namun matanya berbinar, “lo tahu nggak, kafe yang gue bilang tadi emang bukan kafe kaleng-kaleng.”

Hamka hanya mengangguk tipis, matanya masih terpaku pada layar.

“Waiters-nya?” tanya Hamka singkat, seolah tak terlalu peduli.

“Nah, itu dia poin pentingnya,” Seno menyeringai. “Ada satu. Namanya Naura.”

Deg.

Untuk sesaat, Hamka tersentak. Jarinya yang semula mantap di atas keyboard berhenti, dadanya terasa mengencang tanpa aba-aba. Nama itu...nama yang sudah lama tersimpan rapat di sudut ingatannya, nama yang pernah ia kubur dalam-dalam namun diam-diam masih ia rindukan..kini disebut begitu saja, ringan, seolah tak pernah memiliki arti apa-apa.

Namun Hamka segera menarik napas dan menguasai dirinya. Ia tersadar, Naura bukanlah nama yang hanya dimiliki satu orang. Ada banyak Naura di luar sana, dan kecil kemungkinan takdir sedang mempermainkannya sejauh itu. Ia kembali menatap layar, memaksa pikirannya fokus pada angka dan huruf, meski denyut di dadanya belum sepenuhnya reda.

Hamka berhenti mengetik sejenak, lalu melirik sekilas.

“Terus?”

“Cantik, Ham. Bukan yang lebay. Kalem, senyumnya sopan. Tipikal yang bikin orang betah lihat lama-lama,” ujar Seno berapi-api. “Gue sampe titipin salam ke dia, bilang dari ‘temen gue’.”

Hamka menghela napas kecil. “Ngapain, sih?”

“Lah, justru itu. Gue niat baik,” Seno tertawa pelan. “Masa manajer kita yang keren, mapan, tapi jomlo abadi. Gue cuma pengen lo inget, dunia luar tuh nggak cuma deadline sama laporan.”

Hamka kembali menatap layar, ekspresinya datar seperti biasa. “Urusan gue.”

“Siap, bos,” jawab Seno sambil berdiri. Namun sebelum pergi, ia menambahkan pelan, “Tapi entah kenapa, Ham… kayaknya yang satu itu beda.”

Hamka tak menanggapi. Namun sesaat setelah Seno keluar, jarinya terhenti lagi di atas keyboard dan untuk pertama kalinya hari itu, pikirannya melayang, meski ia sendiri enggan mengakuinya..

Naura

Nama itu kembali bergema di hatinya, memantul di ruang-ruang kenangan yang selama ini ia kunci rapat. Sudah lama sekali—sejak tetangganya itu menghilang tanpa jejak, seolah lenyap ditelan waktu. Ada rasa marah yang tak pernah benar-benar padam, bercampur kecewa yang masih sama perihnya. Perempuan itu pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan, meninggalkan satu pesan singkat yang hingga kini masih tersimpan rapi. Pesan yang pernah ia balas berulang kali, namun tak satu pun pernah benar-benar terkirim, menggantung di antara masa lalu yang belum usai dan perasaan yang tak pernah ia akui sepenuhnya.

Kini Hamka berada di balik kemudi mobilnya. Syukurlah jalanan malam itu tak terlalu macet, hanya deretan kendaraan yang bergerak perlahan di bawah lampu kota. Namun saat mobilnya berhenti di lampu merah, matanya menangkap sebuah siluet di seberang jalan, seorang perempuan yang berdiri di depan sebuah kafe.

Jantung Hamka berdegup tak wajar.

Ia menajamkan pandangan, berusaha menembus jarak dan cahaya temaram. Dari seragam yang dikenakan, perempuan itu jelas seorang karyawan kafe. Caranya berdiri, garis bahunya terlalu mirip dengan sosok yang selama ini hanya hidup di kepalanya. Meski rambut perempuan yang ia lihat lebih panjang dari rambut Naura.

Namun lampu merah berubah hijau, klakson di belakangnya mulai bersahutan. Hamka terpaksa melajukan mobil, meninggalkan rasa penasaran yang mendadak menyesakkan. Beberapa meter kemudian, ia tak bisa lagi mengabaikan perasaan itu. Hamka menepi, menghentikan mobilnya dengan gerakan tergesa.

Ia keluar dan berjalan cepat kembali ke tempat di mana perempuan itu tadi berdiri. Tapi saat ia sampai, trotoar itu kosong. Tak ada siapa pun.

Hamka terdiam.

Apa mungkin ia salah lihat?

Namun ingatannya masih terlalu tajam untuk sekadar keliru. Meski lima tahun telah berlalu, ia tahu..ia masih mampu mengenali perempuan itu, bahkan hanya dari sebuah siluet di bawah lampu malam.

Hamka melangkah mundur satu langkah, lalu tanpa sadar menoleh ke papan nama kafe itu. Sekilas ia membaca huruf-huruf yang menyala temaram di atas pintu masuk. Dadanya kembali terasa sesak ketika ingatannya melompat pada ucapan Seno siang tadi.

Waiters kafe… cantik… bernama Naura.

Langkahnya terhenti.

Apa mungkin?

Pertanyaan itu bergema di batinnya, berulang-ulang, membawa serta rasa tak percaya, rindu, juga luka lama yang belum benar-benar sembuh. Terlalu banyak kebetulan untuk disebut kebetulan, namun terlalu berani untuk ia yakini begitu saja. Hamka berdiri terpaku di depan kafe itu, menatap pintu kaca yang memantulkan bayangannya sendiri..dingin, ragu, dan dipenuhi tanya yang perlahan menuntut jawaban.

Hamka tiba di apartemennya menjelang malam semakin larut. Gedung tinggi itu berdiri sunyi, hanya beberapa jendela yang masih menyala. Ia memarkir mobil, lalu berjalan menuju lift dengan langkah tenang, meski pikirannya jauh dari kata tenang.

Begitu pintu apartemennya terbuka, aroma ruang yang bersih dan rapi menyambutnya. Hamka menyalakan lampu, meletakkan kunci di atas meja, lalu menjatuhkan ransel dan jaketnya ke sofa. Apartemen itu terlalu senyap,sunyi yang biasa ia nikmati, namun malam ini terasa berbeda, lebih berat.

Ia berdiri sejenak di dekat jendela besar, menatap lampu-lampu kota Jogja yang berkelip di kejauhan. Nama itu kembali berputar di kepalanya, menyelinap di antara kelelahan dan kantuk yang tak kunjung datang. Naura.

Hamka menghela napas panjang. Ia tahu, malam ini tak akan semudah biasanya untuk ia lewati. Ada sesuatu yang bangkit dari masa lalu, dan meski ia berusaha bersikap tenang, hatinya mulai gelisah..seolah bersiap menghadapi kemungkinan yang selama ini tak pernah ia rencanakan.

Hamka baru saja merebahkan tubuhnya di sofa ketika ponselnya berdering, memecah keheningan apartemen. Ia meraih ponsel itu dengan malas, lalu seketika duduk tegak saat melihat satu nama yang lama tak muncul di layar.

Edo.

“Lo ke mana aja sih?” suara Edo terdengar begitu sambungan terhubung. Nada bercanda, namun jelas menyimpan sesuatu.

“Baru nyampe rumah. Kenapa?” jawab Hamka singkat.

Edo terdiam sejenak, seolah menimbang kata-kata. “Ham… gue punya info. Dan kayaknya ini penting.”

Hamka mengernyit, dadanya menegang. “Tentang apa?”

“Naura.”

Satu kata itu cukup membuat Hamka menahan napas. Edo pun mulai bercerita panjang lebar. Malam itu ia sedang makan malam dengan kekasihnya di sebuah restoran, ketika tanpa sengaja matanya menangkap dua wajah yang tak asing..

Sisi dan Lala, sahabat Naura semasa SMA. Mereka duduk di meja tak jauh dari tempatnya.

“Gue nggak sengaja denger obrolan mereka,” lanjut Edo. “Nggak jelas semua, tapi nama Naura keucap beberapa kali. Dan dari konteksnya… gue yakin banget, Ham. Naura sekarang ada di Jogja.”

Hamka terdiam. Genggaman tangannya pada ponsel mengencang.

“Gue langsung keinget lo,” kata Edo pelan. “Gue tahu selama ini lo hampir gila nyari kabar dia. Jadi gue pikir… lo harus tahu.”

Ruangan kembali sunyi setelah Edo selesai bicara. Hamka menatap kosong ke langit-langit apartemen, dadanya bergemuruh oleh perasaan yang saling bertabrakan harap, marah, rindu, dan ketakutan akan jawaban yang mungkin segera ia temui.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!