Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Adult game pt.1
Semua tamu diminta mengambil undian untuk menentukan giliran. James berdiri di samping meja, menjelaskan aturan dengan nada santai seolah permainan itu hanyalah hiburan biasa. “Jika pemain menolak menjalankan perintah yang ditunjukkan roda board,” katanya, “maka ia dan pasangannya wajib menghabiskan dua gelas alkohol sebagai hukuman.”
Tak ada yang memprotes. Noa merasakan dadanya mengencang ketika James membuka undian milik mereka.
“Nomor empat.”
Beberapa kepala menoleh. Tatapan-tatapan datar itu kembali mengarah pada Noa dan Landerik, membuat Noa merasa seakan berdiri di tengah sorotan. Ia menatap roda board itu lebih seksama dan tubuhnya menegang seketika.
Ada lima perintah tertulis di sana.
1.Ciuman sensual.
2. tirai panas.
3. kissmark di dada.
4. Frenchkiss selama tiga menit penuh.
5. Tarian panas.
Noa benar-benar syok. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia refleks melirik Landerik, seolah ingin memastikan ia tidak salah membaca. Namun ekspresi Landerik tidak begitu terkejut dengan hal itu.
Babak pertama dimulai.
Seorang kolega James maju. Roda diputar, berhenti, dan jarumnya menunjuk perintah terakhir. Tarian erotis. Yang membuat Noa semakin tercengang, pria itu datang sendirian, tanpa pasangan. Namun James hanya tersenyum kecil, lalu memberi isyarat pada pintu samping ruangan.
Seorang penari profesional masuk pakaiannya sangat terbuka sampai Noa malu melihatnya, langkahnya percaya diri, sikapnya terlatih. Tanpa canggung, tanpa rasa bersalah. Ruangan itu seolah sudah terbiasa dengan pemandangan semacam itu. Noa membeku di tempatnya.
Ia tidak tahu harus melihat ke mana.
Di sampingnya, Landerik sedikit mencondongkan tubuh, suaranya rendah, hampir tak terdengar. “Apa kau bisa membayangkan,” bisiknya dingin, “jika aku datang sendirian ke tempat seperti ini?”
Noa menelan ludah.
Ia menggeleng pelan, masih terkejut. “Ini aneh, pesta macam apa ini.” gumamnya jujur. “Aku tidak pernah membayangkan pesta bisnis seperti ini.”
Landerik tidak tersenyum.
“Dunia mereka memang berbeda.”
Noa memandang kembali ruangan itu, wajah-wajah tanpa rasa, permainan yang terlalu intim, dan cara semua orang memperlakukannya seolah sesuatu yang vulgar dianggap wajar.
Dalam hati, Noa hanya bisa menyimpulkan satu hal, Orang-orang kaya ini, hidup dengan batas yang sama sekali berbeda dari dunia yang pernah ia kenal. Dan kini, ia terjebak di tengahnya.
...♡...
Undian nomor satu, dua, dan tiga maju tanpa ragu.
Noa menyaksikan semuanya dengan perasaan yang semakin tidak nyaman. Setiap putaran roda disambut tawa ringan, anggukan puas, dan ekspresi datar yang terasa dingin. Perintah demi perintah dijalankan, seolah tidak ada batas yang perlu dijaga.
Hingga undian nomor dua.
Pasangan itu berdiri, lalu berjalan ke balik tirai tebal yang memang sengaja dipasang di sudut ruangan. Tirai itu tidak sepenuhnya kedap suara. Hanya cukup untuk menutup pandangan, namun bayangan mereka bisa dilihat oleh semua orang dan tidak untuk suara mereka ayang ada di puncak kenikmatan.
Suara-suara samar, desah napas yang tertahan, helaan yang tidak lagi terkendali, mengalir keluar, memenuhi ruangan privat itu tanpa malu. Tidak ada yang memalingkan wajah. Tidak ada yang tampak terganggu. Beberapa tamu bahkan tertawa kecil. Ada yang bertepuk tangan perlahan.
Ada yang saling bercumbu karena terbawa suasana. Bagi mereka, semua itu biasa saja.
Namun bagi Noa, dadanya terasa sesak. Tubuhnya menegang, dan tanpa sadar tangannya terangkat, memegangi lengan Landerik dengan jemari yang gemetaran. Ia tidak menoleh, namun sentuhan itu jelas permintaan tolong yang tak terucap.
Landerik langsung merasakannya. Rahangnya mengeras, bahunya menegang. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, cukup untuk menutupi Noa dari pandangan sebagian orang. Tangannya menutup lembut pergelangan Noa.
“Jangan lihat,” bisiknya singkat, tegas namun tenang.
Noa mengangguk kecil, menunduk, mencoba mengatur napasnya. Dunia yang ia masuki malam ini terasa semakin asing, semakin menjauh dari apa pun yang pernah ia pahami di dunia ini. Tirai akhirnya terbuka.
Pasangan itu kembali ke tempat duduk mereka, disambut senyum dan tepukan ringan, seolah baru saja menyelesaikan sebuah presentasi bisnis, bukan sesuatu yang melampaui batas privasi.
Noa menelan ludah.
Ia tahu, giliran mereka semakin dekat. Dan untuk pertama kalinya sejak berada di ruangan itu, Noa benar-benar takur, bukan pada perintah di roda board, melainkan pada kenyataan bahwa ia dan Landerik harus berpura-pura menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka sepakati untuk diperlihatkan.
...♡...
Kini giliran mereka. Noa dan Landerik melangkah maju bersama. Noa masih menggenggam lengan Landerik, jemarinya dingin dan gemetar, seolah satu-satunya penopang agar ia tidak roboh di hadapan semua tatapan itu.
Landerik berdiri di sampingnya, tegak, namun otot rahangnya menegang. Tanpa berkata apa pun, Landerik mengulurkan tangan dan memutar roda board itu.
Bunyi klik-klik kecil terdengar memekakkan di telinga Noa.
Roda melambat. Berhenti. Jarum menunjuk satu perintah.
Tirai panas.
Noa membeku.
Darahnya seakan mengalir mundur. Pandangannya berkunang, lututnya melemah. Ia hampir kehilangan keseimbangan, namun sebelum tubuhnya benar-benar goyah, Landerik bergerak cepat, menahan bahunya, menopangnya dengan kokoh. Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Landerik meraih gelas alkohol dari meja.
Ia meneguknya dalam satu tarikan. Beberapa orang terdiam, lalu tersenyum kecil. Tidak ada protes. Aturan adalah aturan. Karena hukuman diambil, roda harus diputar kembali.
Kali ini Landerik memutarnya tanpa bertanya. Roda kembali berputar. Berhenti.
Tarian panas.
Landerik tidak bereaksi apa pun. Ia hanya meraih gelas berikutnya. Noa berniat membantu Landerik, ia mengambil gelas alkohol. “Aku bisa—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Landerik sudah mengambil gelas itu dari tangannya dan meminumnya lagi.
Cairan itu turun kasar di tenggorokannya. Wajahnya mulai memerah, napasnya sedikit lebih berat, namun matanya tetap tajam, berdiri di antara Noa dan dunia yang menekan mereka. Roda kembali diputar.
Klik.
Klik.
Berhenti. Frenchkiss (Ciuman panas).
Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada mereka. Landerik menoleh ke arah Noa. Wajahnya sedikit memerah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena sesuatu yang lain. Tatapannya gelap, dalam, dan kendali yang mulai goyah.
Ia menunduk sedikit, mendekat ke Noa, cukup dekat agar hanya mereka yang mendengar. “Apa kau mau,” bisiknya rendah, napasnya hangat di telinga Noa, “aku meminumnya lagi?”
Noa terpaku.
Ia melihat sekeliling, orang-orang menunggu, memperhatikan, mengharapkan tontonan. Ia menatap kembali Landerik, lelaki yang berdiri di hadapannya bukan dengan keinginan, melainkan dengan kesiapan untuk mengorbankan dirinya demi menjaganya.
Dadanya terasa sesak. Ia tahu, apa pun yang ia pilih, tidak ada yang terasa benar. Dan di detik itu, Noa menyadari sesuatu yang mengguncang hatinya, Landerik tidak melindunginya karena kewajiban semata. Ia melakukannya karena ia tidak sanggup melihat Noa diperlakukan sebagai hiburan.
To Be Countinue…