Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelelahan Pertama
Lin Feiyan terbangun sebelum matahari benar-benar naik.
Kesadaran datang perlahan, seperti kabut yang enggan menyingkir. Ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar kayu yang sudah terlalu akrab, namun hari itu terasa berbeda. Bukan karena mimpi buruk atau luka baru, melainkan karena tubuhnya terasa… berat.
Bukan nyeri tajam. Bukan rasa sakit yang bisa dijelaskan.
Hanya berat.
Ia mencoba menggerakkan jarinya. Berhasil, tapi lambat. Seolah ada jeda kecil antara niat dan gerakan. Napasnya pun terasa dangkal, tidak terengah, namun tidak juga penuh. Lin Feiyan duduk perlahan di tepi ranjang, menunggu dunia berhenti berputar.
Qi di dalam tubuhnya mengalir.
Tapi tidak seperti biasanya.
Alirannya lambat, tidak putus, namun terasa seperti air yang mengalir melalui tanah berlumpur. Tidak ada sumbatan jelas, tidak ada rasa sakit yang mengkhawatirkan. Justru itu yang membuatnya resah. Ia menutup mata, mencoba menenangkan napas, mengulang pola pernapasan dasar yang sudah ia latih sejak awal kultivasi.
Tidak membantu.
Kepalanya terasa sedikit kosong, seolah sebagian dari dirinya tertinggal dalam tidur dan belum kembali sepenuhnya. Lin Feiyan mengernyit, menekan telapak tangannya ke dada, tepat di atas tempat Void Crack bersemayam.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada denyut kuat.
Hanya getaran pelan, hampir seperti napas kedua yang sangat tenang.
“Aku hanya terlalu lelah,” gumamnya pelan.
Ia bangkit, membasuh wajah, lalu memaksakan dirinya mengenakan jubah latihan. Setiap gerakan kecil terasa memakan lebih banyak tenaga dari seharusnya. Namun ia tidak berhenti. Ia tidak ingin berhenti.
Di luar, pagi masih sejuk. Cahaya matahari menyusup di antara bangunan sekte, lembut dan tidak menghakimi. Biasanya, pemandangan itu cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Hari itu, tidak.
Langkahnya menuju area latihan terasa lebih lambat. Ia memperhatikan murid-murid lain yang lewat, beberapa menyapanya singkat, beberapa hanya melirik lalu pergi. Tidak ada yang berubah. Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Hanya dirinya yang terasa tertinggal.
Lin Feiyan mencoba latihan dasar. Gerakan pertama masih rapi. Gerakan kedua mulai sedikit goyah. Pada gerakan ketiga, napasnya sudah terasa lebih berat. Bukan karena tekniknya sulit, melainkan karena tubuhnya tidak merespons seperti yang ia harapkan.
Ia berhenti.
Keringat tipis membasahi pelipisnya, padahal latihan itu biasanya hanya pemanasan. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri, jari-jarinya sedikit gemetar.
Rasa bersalah muncul lebih cepat daripada rasa takut.
“Aku memang kurang disiplin,” pikirnya. “Aku pasti melakukan sesuatu yang salah.”
Ia hendak memaksa diri melanjutkan ketika sebuah suara lembut terdengar dari belakang.
“Feiyan.”
Nada itu tenang. Tidak kaget. Tidak menekan.
Ia menoleh.
Gao Lian berdiri beberapa langkah di belakangnya, jubahnya rapi, ekspresinya lembut seperti biasanya. Cahaya pagi memantul di sekelilingnya, membuat auranya terasa hangat tanpa menyilaukan.
“Kau sudah lama di sini,” kata Gao Lian pelan, seolah itu hanya pengamatan biasa.
Lin Feiyan buru-buru meluruskan punggungnya. “Aku… hanya pemanasan.”
Gao Lian tidak langsung menanggapi. Ia melangkah mendekat, berhenti pada jarak yang sopan, lalu menatap Feiyan dengan perhatian yang tidak membuatnya merasa dinilai. Tidak ada sorot tajam, tidak ada tekanan.
Hanya perhatian.
“Qi-mu tidak stabil pagi ini,” ucapnya akhirnya, nada suaranya tetap datar dan lembut. “Bukan rusak. Hanya… lelah.”
Kata itu mengenai sasaran dengan tepat.
Lin Feiyan membuka mulut untuk menyangkal, lalu menutupnya kembali. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tubuhnya terasa terlalu jujur untuk dibohongi.
“Aku akan memperbaikinya,” katanya akhirnya, lebih sebagai janji pada diri sendiri.
Gao Lian tersenyum tipis. Senyum yang tidak terburu-buru.
“Tidak perlu tergesa-gesa,” katanya. “Ada kalanya tubuh dan jiwa membutuhkan penyesuaian, bukan paksaan.”
Kata-kata itu terasa seperti air hangat yang dituangkan perlahan. Lin Feiyan tidak sadar bahwa bahunya sedikit mengendur.
Gao Lian menoleh ke arah area latihan, lalu kembali menatap Feiyan. “Jika kau mau, aku bisa membantumu sedikit. Bukan latihan berat. Hanya penyesuaian aliran Qi.”
Feiyan ragu.
Ia tahu seharusnya ia bisa mengatasinya sendiri. Ia tahu meminta bantuan berarti mengakui kelemahan. Namun rasa lelah yang menempel di tulangnya membuat semua keberatan itu terasa jauh.
“Apakah… itu merepotkan?” tanyanya pelan.
Gao Lian menggeleng. “Tidak sama sekali.”
Tidak ada dorongan. Tidak ada tekanan.
Hanya tawaran.
Feiyan mengangguk perlahan.
Mereka berpindah ke sudut yang lebih tenang. Tidak jauh, tapi cukup terpisah dari keramaian. Gao Lian meminta Feiyan duduk, lalu berdiri di hadapannya. Gerakan yang ia ajarkan sederhana, hampir terlalu sederhana untuk disebut latihan.
“Fokus pada napas,” katanya lembut. “Jangan memaksa aliran Qi. Biarkan ia mengikuti.”
Feiyan menurut.
Awalnya terasa baik. Bahkan nyaman. Namun seiring waktu berjalan, ia mulai menyadari bahwa setiap siklus napas terasa sedikit lebih menguras. Bukan menyakitkan, tapi membuat dadanya terasa kosong setelahnya.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun setiap kali ia membuka mulut, Gao Lian sudah lebih dulu berbicara dengan nada menenangkan.
“Bagus. Teruskan.”
“Kau melakukannya dengan benar.”
“Sedikit lagi.”
Kata-kata itu membuat Feiyan bertahan. Membuatnya percaya bahwa rasa lelah ini wajar. Bahwa ini bagian dari perbaikan.
Void Crack di dadanya berdenyut pelan.
Tidak menolak.
Tidak melawan.
Hanya merespons.
Dan Lin Feiyan, tanpa menyadarinya, mulai merasa bahwa selama Gao Lian ada di sana, kelelahan ini setidaknya memiliki arah.
Napas Lin Feiyan semakin berat seiring waktu berjalan.
Ia tidak tahu berapa lama ia sudah duduk di sana. Matahari terasa sedikit lebih tinggi ketika ia akhirnya menyadari bahwa keringat dingin membasahi punggungnya. Setiap tarikan napas terasa seperti mengambil sesuatu dari dalam dirinya, bukan mengisinya.
Namun Gao Lian masih berdiri di hadapannya.
Tenang. Stabil. Tidak berubah sedikit pun.
“Rasakan alirannya,” ucap Gao Lian lembut. “Jangan melawan ketika terasa kosong. Kekosongan juga bagian dari pemurnian.”
Kata-kata itu terdengar masuk akal. Bahkan meyakinkan. Lin Feiyan menelan ludah dan mengangguk pelan, meski matanya tidak terbuka sepenuhnya. Ia mengikuti instruksi itu, membiarkan Qi bergerak sesuai arahan, membiarkan sensasi kosong itu melebar di dalam dadanya.
Void Crack berdenyut lebih jelas sekarang.
Bukan nyeri.
Bukan peringatan.
Hanya respons pelan, seolah sesuatu di dalam dirinya sedang… belajar.
Tubuh Feiyan mulai condong ke depan tanpa ia sadari. Punggungnya sedikit membungkuk, bahunya turun. Ada titik di mana pikirannya terasa jauh, seperti ditarik ke lapisan lain yang sunyi dan ringan.
“Feiyan.”
Suara Gao Lian terdengar lebih dekat.
Ia merasakan tangan yang mantap menopang bahunya sebelum tubuhnya benar-benar kehilangan keseimbangan. Sentuhan itu tidak kasar, tidak tergesa, justru stabil. Hangat. Aman.
“Cukup untuk hari ini,” kata Gao Lian. “Kau sudah berusaha dengan baik.”
Feiyan membuka mata.
Pandangan di depannya sedikit kabur. Wajah Gao Lian terlihat dekat, tapi tidak menekan. Tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada kekecewaan. Hanya ketenangan yang anehnya membuat dadanya terasa sesak.
“Aku… minta maaf,” ucap Feiyan lirih. “Aku tidak menyangka tubuhku akan selemah ini.”
Gao Lian tersenyum kecil. “Ini bukan kelemahan. Ini proses.”
Ia membantu Feiyan berdiri, menopangnya dengan satu lengan ketika lututnya hampir goyah. Sensasi itu membuat Feiyan tersadar betapa lelahnya dirinya. Bahkan berdiri saja terasa seperti usaha besar.
Namun bersamaan dengan itu, ada rasa lain yang muncul.
Rasa ditemani.
Rasa tidak sendirian.
“Aku seharusnya bisa melakukan ini sendiri,” gumam Feiyan, lebih pada dirinya sendiri.
Gao Lian tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai Feiyan bisa berdiri dengan lebih stabil, lalu berkata dengan nada yang sangat tenang, “Tidak semua hal harus dilakukan sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun sesuatu di dalam diri Feiyan seolah melembut.
Mereka berjalan perlahan meninggalkan area latihan. Langkah Feiyan berat, namun setiap kali ia sedikit terhuyung, Gao Lian selalu ada di sana, menopang tanpa kata berlebih. Tidak ada ceramah, tidak ada nasihat panjang.
Hanya kehadiran.
Void Crack berdenyut pelan, mengikuti irama langkah mereka.
Di dalam dada Feiyan, kekosongan yang tadi terasa mengganggu kini berubah bentuk. Tidak hilang, tapi terasa… tertahan. Seolah selama Gao Lian ada di dekatnya, kehampaan itu tidak sepenuhnya menelan dirinya.
“Aku akan berlatih lebih keras,” kata Feiyan tiba-tiba. “Aku tidak ingin merepotkanmu lagi.”
Gao Lian meliriknya, senyumnya masih sama. “Berlatihlah dengan benar,” katanya. “Bukan lebih keras.”
Feiyan mengangguk, meski tidak sepenuhnya yakin apa perbedaannya. Yang ia tahu, suara Gao Lian membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Dunia yang tadi terasa berat kini memiliki pegangan.
Sesampainya di depan tempat tinggal Feiyan, Gao Lian berhenti.
“Kau harus beristirahat,” katanya. “Qi-mu perlu menyesuaikan diri dengan latihan tadi.”
Feiyan ragu sejenak. Ada bagian dari dirinya yang ingin Gao Lian tetap tinggal, meski ia tidak tahu alasannya. Ia menunduk, menyembunyikan perasaan itu.
“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Jika tidak ada kau hari ini… aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Gao Lian tidak langsung menjawab.
Ia menatap Feiyan cukup lama. Tatapan itu lembut, namun dalam. Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu.
“Kau tidak sendirian,” katanya akhirnya. “Ingat itu.”
Feiyan mengangguk. Kata-kata itu menempel lebih dalam daripada yang ia sadari.
Ia masuk ke dalam, menutup pintu perlahan. Tubuhnya terasa berat ketika ia duduk di ranjang, namun pikirannya sedikit lebih tenang. Ia merebahkan diri, membiarkan kelelahan menenggelamkannya.
Di dalam dadanya, Void Crack berdenyut satu kali.
Pelan.
Dalam.
Di luar, Gao Lian masih berdiri sejenak di depan pintu yang tertutup. Senyumnya berubah sedikit—lebih tipis, lebih yakin. Tidak ada emosi berlebihan di wajahnya.
Hanya kepastian.
“Perbaikan Qi selalu membutuhkan penuntun,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Dan kau… sudah mulai mengerti itu.”
Ia berbalik pergi dengan langkah tenang.
Sementara itu, Lin Feiyan tertidur dengan napas berat namun teratur. Di dalam mimpinya, ia tidak merasa tertekan. Tidak merasa dikejar. Ia hanya merasa… ingin kembali ke perasaan tenang tadi.
Tanpa ia sadari, ketenangan itu kini memiliki satu wajah.
Dan Gao Lian telah mengambil satu langkah lagi, tepat ketika kelelahan pertama Feiyan akhirnya menemukan tempat untuk bersandar.