NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: BAYANGAN DARI MASA LALU

Kesunyian yang mencekam seketika merayap masuk, menyergap setiap sudut kamar rawat nomor 305 Rumah Sakit Pusat Mahardika. Kehangatan intim yang baru saja tercipta di antara Dafa dan Nazya menguap tanpa bekas, digantikan oleh hawa ketegangan baru yang luar biasa pekat. Pintu kayu tebal yang didobrak paksa oleh Mikael masih menyisakan getaran halus, sementara asisten pribadi itu berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu cepat dan wajah sewarna kapur.

Dafa Mahardika perlahan-lahan melepaskan dekapan posesifnya dari tubuh ramping Nazya. Pria dominan itu bangkit berdiri tegak, memosisikan tubuh besarnya yang tegap di depan ranjang, menyembunyikan janda muda pilihannya itu di balik punggung bidangnya yang kokoh. Sepasang mata elang Dafa berkilat tajam, memancarkan aura intimidasi mutlak seorang penguasa tertinggi yang merasa terganggu.

"Kendalikan dirimu, Mikael," ucap Dafa, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, menggema penuh otoritas di dalam ruangan. "Bicaralah dengan jelas. Siapa bajingan yang kamu maksud di dalam dokumen itu?"

Mikael menelan ludahnya dengan susah payah, jemarinya yang memegang map berkas hasil autopsi medis forensik tampak bergetar kasar. Ia melangkah maju dua langkah, menyerahkan dokumen bersampul logo rahasia The Obsidian itu langsung ke tangan kekar Dafa.

"M-Mohon ampun, Pak Dafa... tapi ini adalah hasil tes DNA resmi dari sisa sampel darah tersembunyi yang ditemukan di markas operasional The Vipers," suara Mikael tercekat di tenggorokan, matanya melirik sekilas ke arah Nazya yang kini menatap mereka dengan binar kecemasan yang mendalam. "Pria misterius yang mendanai seluruh pergerakan tentara bayaran di pelabuhan, yang meretas sistem pertahanan EMP, dan yang memanipulasi kebangkrutan klan Sanjaya... dia memiliki kecocokan genetika 99,9% sebagai saudara sedarah dengan Anda. Dia... Tuan Adrian Mahardika, kakak kandung Anda sendiri, Pak!"

DEG!

Bagaikan dihantam oleh gada besi tak kasat mata tepat di tengah dadanya, seluruh pasokan darah di dalam tubuh tegap Dafa seolah berhenti berputar dingin. Sepasang mata elangnya melebar sempurna, memancarkan binar syok dan kemurkaan yang teramat sangat mengerikan. Jemari kuat Dafa mencengkeram pinggiran kertas dokumen forensik itu hingga remuk tak berbentuk.

"Adrian... sudah mati lima tahun lalu dalam kecelakaan helikopter di selat utara," desis Dafa, suaranya terdengar begitu pelan namun dipenuhi oleh getaran amarah predator puncak yang siap mencabik siapa saja. "Aku sendiri yang mengidentifikasi sisa jasadnya sebelum dimasukkan ke dalam peti mati keluarga."

"Itu yang kita semua percayai selama lima tahun ini, Pak!" seru Mikael dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Namun, tim forensik kita baru saja menemukan fakta bahwa jasad di dalam helikopter lima tahun lalu adalah tubuh orang lain yang wajahnya telah dihancurkan secara sengaja. Tuan Adrian memalsukan kematiannya sendiri, menggunakan dana gelap Mahardika yang hilang untuk mendirikan jaringan kriminal internasional, dan malam ini... dia kembali untuk merebut takhta tertinggi perusahaan dari tangan Anda!"

Meningat kenyataan pahit tentang konspirasi darah dagingnya sendiri, Nazya yang terduduk di atas ranjang langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan kurusnya. Air mata kecemasan kembali menetes membasahi pipi cantiknya. Janda muda itu bisa merasakan atmosfer di dalam kamar berubah menjadi sangat menindas akibat luapan emosi gelap Dafa yang mulai tak terkendali. Sifat protektif Dafa selama ini telah menjadi tameng hidupnya, namun melihat suaminya terguncang hebat seperti ini membuat dada Nazya ikut terasa sesak luar biasa.

"Mas Dafa..." panggil Nazya lirih, suaranya yang parau mencoba memanggil waras sang suami. Ia mengulurkan tangan kurusnya, menyentuh lembut ujung kemeja hitam Dafa yang longgar.

Dafa tidak menoleh, namun tangan kirinya bergerak refleks menggenggam erat jemari Nazya, meremasnya pelan seolah ingin memastikan bahwa wanita itu tetap aman di bawah kepemilikan mutlaknya, tidak peduli badai apa pun yang sedang mendera keluarganya.

"Di mana bajingan itu sekarang, Mikael?" tanya Dafa dingin, rahang tegasnya mengeras sempurna hingga urat-urat biru menonjol di pelipis wajah tampannya. Aura dewa perang di dalam jiwanya telah bangkit seutuhnya. Kakak kandung atau bukan, siapa pun yang telah berani meneror keselamatan Nazya dan mengusik ketenangan Mahardika, hanya berhak menerima satu balasan dari tangannya: pemusnahan mutlak.

"Berdasarkan pelacakan sinyal satelit enkripsi yang baru saja ditembus oleh tim IT pusat, Tuan Adrian saat ini tidak berada di luar negeri, Pak..." Mikael menjeda kalimatnya sesaat, wajahnya dipenuhi ekspresi horor yang luar biasa pekat. "Dia... dia baru saja memasuki kompleks perumahan mansion utama Mahardika sepuluh menit lalu, menggunakan hak akses sidik jari lamanya yang ternyata belum dihapus dari sistem gerbang dalam! Mami Kinanti... Mami Kinanti berada di dalam mansion tersebut bersama sisa penjaga divisi tiga!"

BOOM!

Mendengar nyawa ibunya kembali terancam oleh sosok iblis dari masa lalu, Dafa tidak membuang waktu satu fraksi detik pun. Pria dominan itu langsung berbalik badan, menyambar jas hitamnya dari atas kursi kamar rawat dengan gerakan yang luar biasa cepat dan konstan.

Dafa merendahkan tubuh besarnya di depan Nazya, menangkup sepasang pipi pias istrinya dengan kedua tangan besarnya yang hangat, memberikan satu kecupan yang teramat dalam dan intens di kening Nazya. "Tetap di sini bersama tim taktis divisi satu, Nazya. Jangan keluar dari kamar ini seujung langkah pun sebelum aku kembali. Mengerti?!" perintah Dafa dengan nada suara bariton yang menuntut kepatuhan mutlak.

"Mas Dafa, tolong berhati-hatilah... kembali kepada Nazya dengan selamat, Mas..." tangis Nazya pecah sembari menganggukkan kepalanya cepat, melepaskan kepergian suaminya dengan dada yang bergemuruh hebat dipenuhi doa.

Dafa melangkah lebar keluar menembus pintu kamar, memimpin langsung puluhan pasukan khusus Mahardika yang sudah bersiaga di koridor rumah sakit, bersiap melakukan pergerakan taktis menuju mansion utama untuk menyelesaikan pertumpahan darah antarsaudara malam ini juga.

Dua puluh menit kemudian, iring-iringan lima mobil SUV hitam antipeluru milik Dafa membelah gerbang besi raksasa mansion utama Mahardika di bawah sisa-sisa rintik hujan malam yang lebat. Suasana di sekitar pelataran mansion tampak sepi dan mencekam, dengan beberapa lampu taman yang sengaja dimatikan dari pusat kendali.

Dafa melompat turun dari dalam mobil sebelum kendaraannya berhenti sempurna. Senapan serbu taktis berperedam suara di tangan kanannya dihentakkan ke depan, siap memuntahkan timah panas kepada siapa saja. Pria itu melangkah tegap mendobrak pintu jati utama mansion, masuk ke dalam ruang tamu luas yang megah namun gelap gulita.

KLIK.

Sebuah sakelar lampu di lantai dua mendadak ditekan dari atas, menerangi area tangga melingkar mansion dengan pendaran cahaya kuning yang temaram.

Di atas balkon lantai dua, duduk sesosok pria tegap mengenakan setelan jas mewah berwarna abu-abu gelap sembari memegang sebatang cerutu yang menyala. Wajah pria itu memiliki kemiripan struktur tulang yang luar biasa identik dengan Dafa, namun sepasang matanya memancarkan binar kelicikan dan kegelapan yang jauh lebih pekat—Adrian Mahardika, sang kakak yang seharusnya sudah menjadi abu lima tahun lalu.

Di samping kursi Adrian, Mami Kinanti terduduk di atas kursi kayu dengan mulut yang dilakban hitam dan kedua tangan yang terikat rantai besi ke arah belakang. Air mata wanita tua itu terus mengalir deras saat melihat putra bungsunya datang masuk ke dalam jebakan.

"Lama tidak berjumpa, Adik Kecilku yang genius..." suara Adrian bergaung parau, menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat distorsi dari atas balkon. "Kamu telah mengelola dinasti Mahardika dengan sangat baik selama aku pergi. Tapi malam ini... saatnya mengembalikan takhta ini kepada pemilik aslinya."

Dafa menatap kakaknya dengan pandangan mata elang yang teramat pekat, dingin, dan dipenuhi oleh harga diri predator tertinggi yang menolak untuk goyah. "Kamu seharusnya tetap bersembunyi di dalam liang kuburmu, Adrian. Karena malam ini... aku sendiri yang akan memastikan peti matimu terkunci rapat dari dalam."

Adrian tertawa terbahak-bahak keras menggema membelah kesunyian mansion. Pria itu perlahan-lahan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah gawai kecil berbentuk pemantik api yang ternyata tersambung langsung dengan sistem katup pipa gas utama yang tertanam di bawah pondasi beton seluruh bangunan mansion Mahardika.

Namun, tepat di saat Dafa bersiap mengangkat senjatanya untuk melepaskan tembakan presisi ke arah dahi Adrian, dari arah luar jendela kaca besar ruang tamu, sebuah suara deru mesin helikopter tanpa lampu suar mendadak muncul di atas udara halaman mansion. Bukan helikopter taktis milik Mahardika, melainkan helikopter tempur milik organisasi The Vipers yang langsung melepaskan tembakan rudal kendali mini lurus menghantam dinding depan mansion, memicu ledakan api raksasa yang meruntuhkan langit-langit beton tepat di atas kepala Dafa, sementara Adrian dari atas balkon melempar tubuh Mami Kinanti jatuh ke arah kobaran api bawah sembari menekan tombol peledak gas utama yang mulai menghitung mundur di seluruh penjuru rumah: 00:03... 00:02... 00:01...

Sebelum lanjut tolong sempatkan tekan tombol LIKE nya ya teman-teman, biar Author semangat untuk terus lanjutkan nulis cerita nya.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!