Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pertemuan di Antara Kekuasaan dan Kenyataan
Beberapa bulan berlalu, dan perubahan pada diri Grey kini terlihat sangat jelas, bahkan sangat mencolok. Perutnya bukan lagi sekadar membesar, melainkan membulat besar sekali, menjulang tinggi dan terasa sangat berat hingga langkah kakinya kini harus lebih pelan, hati-hati, dan sedikit terhuyung. Ya, Grey mengandung tiga janin sekaligus—kembar tiga. Kabar yang awalnya mengejutkan, kini menjadi kebahagiaan terbesar sekaligus alasan utama mengapa Davian menjadi sangat protektif, tegas, dan tak segan lagi menampakkan sisi kekuasaannya kepada siapa saja yang berani mengganggu ketenangan keluarganya.
Pagi itu, udara kota terasa sejuk namun cerah. Davian mengajak Grey duduk di sebuah kafe mewah dan tertutup di pusat kota, tempat yang sangat privat, hanya dikunjungi kalangan terbatas, dan tentu saja sepenuhnya berada di bawah pengawasan jaringan Davian. Ia membantu istrinya duduk dengan sangat hati-hati, menyandarkan punggung wanita itu dengan bantal tambahan, lalu memastikan posisi kaki Grey tergantung nyaman. Matanya tak lepas dari perut besar istrinya yang terbungkus pakaian longgar, namun tetap tak bisa menyembunyikan ukurannya yang luar biasa itu.
"Sudah nyaman, Sayang? Posisi duduknya enak nggak? Ada yang sakit atau pegal?" tanya Davian lembut, tangannya langsung bergerak mengusap lembut bagian samping perut Grey dengan penuh kasih sayang dan kekaguman. Nada bicaranya sangat halus, jauh berbeda dari sosok ditakuti yang dikenal dunia luar.
Grey tersenyum lelah namun bahagia, mengelus punggung tangan suaminya yang ada di perutnya. "Nyaman kok, Davian. Cuma... ya begini deh, rasanya badan ini kayak mau meledak. Tiga anak sekaligus, kamu ini emang jago sekali kerjanya ya," jawabnya sambil terkekeh pelan, menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta. Gerakan di dalam perutnya sangat aktif, tiga kehidupan kecil itu seolah berlomba-lomba menyapa dunia dari dalam sana.
Davian tertawa renyah, lalu menundukkan wajahnya mendekat ke perut besar itu, berbicara seolah sedang berpidato di hadapan audiens yang sangat penting.
"Kalian dengar itu, Nak? Ibu kalian bilang Ayah hebat. Memang Ayah hebat kan? Sudah kasih kalian bertiga sekaligus, jadi Ibu nggak perlu susah-susah hamil berkali-kali. Tapi ingat ya... jangan nakal di dalam sana. Kalau Ibu sampai mengeluh sakit sedikit saja, siap-siap ya nanti Ayah hukum kalian tidak boleh main sama mainan baru. Dengar itu, Si Kakak, Si Adik, dan Si Bungsu... semuanya harus nurut!" ucap Davian dengan nada tegas tapi lucu, membuat beberapa pengunjung di meja dekat sana tersenyum melihat pemandangan itu.
Grey memukul pelan lengan suaminya. "Kamu ini... baru mau ketemu orang, eh sudah sibuk ngomong sama anak-anak dulu. Nanti dikira orang gila lho, ngomong sama perut orang hamil seolah dijawab balik."
"Biarin saja, biar mereka tahu kalau Davian Arganata ini bukan cuma ditakuti karena kekuasaannya, tapi juga karena jadi ayah paling gila dan paling sayang sama anak-anaknya," jawab Davian santai, lalu sorot matanya berubah seketika. Dingin, tajam, dan penuh kewaspadaan. Ia menatap pintu masuk kafe. "Ngomong-ngomong, tamu yang kita undang sudah datang."
Grey ikut menoleh perlahan. Di pintu, Arkan berdiri ragu-ragu. Penampilannya jauh berbeda dari dulu. Pakaiannya masih rapi tapi tidak lagi berlabel mahal, wajahnya kusam, matanya cekung dan penuh ketakutan, serta postur tubuhnya yang dulu tegap dan sombong kini tampak bungkuk dan tak berdaya. Semua kemewahan, jabatan, dan rasa percaya dirinya telah hancur lebur dalam hitungan minggu—semua atas perintah satu orang: Davian.
Arkan melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada rantai tak kasat mata yang mengikat kakinya. Ia berjalan menuju meja sudut itu, tempat dua orang yang dulu mengubah seluruh hidupnya duduk dengan tenang. Saat melihat Grey, langkahnya terhenti sejenak. Ia tertegun, matanya terbelalak melihat perut Grey yang luar biasa besar itu. Ia tidak menyangka, wanita yang dulu ia tinggalkan dan ingin ia rebut kembali, kini sedang mengandung bukan satu, melainkan tiga anak sekaligus dari pria yang kini duduk tenang di hadapannya.
"Duduk," ucap Davian singkat, datar, namun mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar meja itu terasa menyesakkan. Suaranya rendah, tidak keras, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.
Arkan duduk perlahan di kursi seberang mereka. Tangannya gemetar saat ia meletakkannya di atas meja. Ia menelan ludah susah payah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah Davian yang kini terlihat begitu asing, begitu berwibawa, dan begitu mengerikan.
"Kamu... kamu minta aku datang," ucap Arkan terbata-bata, suaranya parau dan lemah. "Apa lagi yang mau diambil? Perusahaanku sudah habis, uangku ludes, semua teman dan mitra bisnisku sudah lari. Namaku sudah rusak di seluruh negeri ini. Apa lagi yang kurang, Davian? Kamu sudah menang total."
Davian tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya. Ia menyandar di kursi, satu tangannya tetap melindungi sisi perut besar Grey di sebelahnya, seolah menegaskan bahwa apa yang ada di sampingnya adalah milik mutlak yang tak tersentuh.
"Kamu bertanya apa lagi yang kurang?" tanya Davian pelan, namun setiap kata yang keluar terasa seperti paku yang menancap di dada Arkan. "Kamu lupa apa yang kamu lakukan dulu? Kamu datang ke rumahku, mengancam istriku, berani-beraninya bilang dia milikmu, dan berpikir uang hasil kerjamu itu bisa menandingiku. Kamu pikir kekuasaan itu cuma soal punya uang dan kantor bagus, ya Arkan?"
Arkan menunduk, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Aku... aku dulu pergi karena aku merasa tidak pantas. Aku malu, aku miskin, aku tidak punya apa-apa buat Grey. Aku kerja mati-matian, aku bangun semuanya supaya aku bisa balik dan jadi orang yang layak buat dia. Niatku tulus, Davian... aku sayang sama Grey, aku rela apa saja demi dia."
Tiba-tiba Davian menabrakkan telapak tangannya pelan ke meja, suara plak pelan itu cukup membuat Arkan tersentak kaget dan mengangkat wajahnya kembali. Aura dingin dan mematikan kini menyelimuti seluruh tubuh Davian. Bukan lagi sosok suami yang lembut, melainkan Sang Penguasa Sejati yang mengatur segalanya dari balik bayang-bayang.
"Tulus? Kamu sebut itu tulus?!" nada suara Davian meninggi sedikit, penuh penekanan dan amarah yang tertahan. "Kamu pergi karena egomu sendiri! Kamu pergi karena rasa rendah dirimu yang konyol itu, meninggalkan Grey dalam ketidakpastian, membuat dia menunggu bertahun-tahun sendirian. Lalu saat kamu merasa sudah 'cukup' menurut standarmu sendiri, kamu datang lagi dengan sombong, berpikir kamu bisa ambil dia kembali seolah dia barang dagangan! Kamu tidak pernah mengerti Grey sedikit pun, Arkan! Dia tidak butuh uangmu, dia tidak butuh gengsimu, dia cuma butuh orang yang setia ada di sisinya!"
Davian menunjuk ke arah Grey, ke arah perut besar yang menonjol itu dengan bangga sekaligus penuh peringatan.
"Lihat dia! Lihat apa yang kamu lewatkan dan apa yang tidak akan pernah bisa kamu miliki seumur hidupmu! Istriku ini sedang mengandung tiga anakku! Tiga, Arkan! Bukti bahwa cintaku, kesetiaanku, dan hidup kami begitu lengkap, begitu bahagia, dan begitu jauh di atas jangkauanmu. Kamu pikir kamu apa? Kamu pikir kamu bisa menandingiku? Kamu yang baru punya sedikit uang saja sudah sok jadi raja? Kamu belum melihat apa itu kekuasaan yang sebenarnya."
Arkan menatap Grey dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat wajah wanita itu bersinar, terawat, dan begitu damai. Perut besar itu adalah bukti nyata kebahagiaan yang tidak pernah bisa ia berikan. Ia sadar sekarang, perbedaan mereka bukan hanya soal harta, tapi dunia yang berbeda kelasnya.
"Aku... aku benar-benar tidak tahu," ucap Arkan lirih, suaranya hampir tak terdengar. "Aku dengar nama Davian Arganata itu cuma mitos, legenda orang-orang kaya. Aku tidak pernah berpikir... suami Grey adalah orang itu. Orang yang punya kendali atas ekonomi, hukum, segalanya. Kalau aku tahu... kalau aku tahu dia milik Sang Penguasa... aku tidak akan pernah berani meliriknya sedikit pun. Namamu saja sudah cukup bikin orang sepertiku mati ketakutan."
Grey yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Ia menatap Arkan dengan pandangan tenang, tanpa kebencian, namun sangat tegas dan jelas. Ia mengelus perutnya yang berat itu pelan, merasakan gerakan ketiga bayinya.
"Arkan, dengarkan aku baik-baik," ucap Grey lembut namun mantap. "Dulu aku memang pernah suka sama kamu. Aku pernah menunggu kamu. Tapi saat kamu pergi diam-diam, saat kamu memilih meninggalkanku demi ambisimu sendiri... saat itu juga, semuanya selesai. Kesempatanmu habis di hari itu. Aku bahagia sama Davian. Dia tidak pernah pergi saat aku susah, dia selalu ada, dia mencintaiku apa adanya, dan dia adalah ayah terbaik buat ketiga anak kami ini."
Grey menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Kehancuran yang kamu alami sekarang bukan ulah Davian semata, tapi ulah kamu sendiri. Kamu yang datang mengganggu, kamu yang berani mengancam nyawa keluargaku. Davian itu lembut sama orang yang dia sayang, tapi dia adalah neraka buat siapa saja yang berani menyakiti keluarganya. Dan kamu sudah masuk ke dalam daftar itu."
Davian kembali mengambil alih pembicaraan, tatapannya kini begitu dingin dan mengintimidasi, membuat Arkan gemetar hebat di kursinya.
"Kamu bertanya apa kekuasaanku, Arkan? Kamu sedang merasakannya sekarang. Semua pintu yang tertutup buatmu, semua orang yang menjauhimu, semua peluang yang hilang... itu semua karena aku menghendakinya begitu. Aku bisa membuatmu jadi orang paling dihormati, tapi aku juga bisa membuatmu jadi sampah yang tak ada harganya dalam semalam. Dan ingat ini baik-baik: apa yang kamu rasakan sekarang masih terlalu ringan. Aku belum menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya cuma karena aku menghargai masa lalu Grey yang pernah mengenalmu."
Davian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Arkan, suaranya berubah berat dan mengancam.
"Lihat perut istriku ini. Di dalam sana ada tiga nyawa kecil, anak-anakku. Kalau kamu, atau siapa saja yang berhubungan denganmu, berani melangkah sejengkal pun, berani menyebut nama Grey, atau berani sekadar memikirkan hal buruk pada mereka... aku pastikan kamu tidak akan hanya miskin. Aku akan pastikan kamu tidak punya tempat berpijak di bumi ini. Aku punya kekuasaan untuk membuatmu hilang begitu saja, seolah tidak pernah ada. Ingat itu, Arkan. Kamu hanyalah debu kecil di duniaku."
Arkan mengangguk cepat berulang kali, wajahnya pucat pasi. Ia sadar sepenuhnya sekarang. Ia bukan hanya kalah, tapi ia bahkan tidak pernah sama sekali berada di lapangan yang sama dengan Davian. Ia hanyalah semut yang berani menggigit kaki raksasa.
"Aku mengerti... aku paham sepenuhnya," jawab Arkan dengan suara parau dan putus asa. "Aku akan pergi. Aku akan meninggalkan kota ini, aku akan menghilang. Kalian tidak akan pernah melihat wajahku lagi. Maafkan aku, Grey... dan terima kasih, Davian, karena masih membiarkanku bernapas sampai hari ini."
Arkan perlahan bangkit berdiri, menundukkan kepalanya sangat dalam sebagai tanda penyerahan mutlak, lalu berjalan keluar dari kafe itu dengan langkah kecil dan hancur. Ia tahu, hari ini adalah akhir dari segalanya—akhir dari ambisinya, akhir dari harapannya, dan akhir dari segala keterkaitannya dengan Grey dan dunia yang jauh lebih besar darinya.
Begitu sosok Arkan menghilang di balik pintu, aura mengerikan itu lenyap seketika dari diri Davian. Dalam sekejap, ia kembali menjadi suami yang lembut, cemas, dan penuh kasih sayang. Ia langsung beralih ke arah Grey, tangannya mengusap wajah dan perut istrinya dengan khawatir.
"Sayang... kamu nggak apa-apa kan? Kamu kaget ya? Ada yang sakit? Atau anak-anak bergerak heboh karena dengar suara Ayah yang galak tadi?" tanyanya bertubi-tubi, matanya menatap Grey penuh kekhawatiran. Ia kembali menjadi pria yang sama yang beberapa menit lalu bercanda riang dengan bayi-bayinya.
Grey tertawa pelan, merasa lega sekaligus bahagia luar biasa. Ia meraih tangan suaminya, mencium punggung tangan itu.
"Aku nggak apa-apa, Davian. Malah aku makin merasa aman. Kamu hebat sekali, tahu? Beneran... di satu detik kamu jadi penguasa paling seram sedunia, detik berikutnya kamu jadi suami paling manja dan khawatir setengah mati sama aku. Kamu ini beneran aja," ucap Grey sambil menggeleng-gelengkan kepala gemas namun bahagia.
Davian tersenyum lega, lalu kembali menundukkan wajahnya ke perut besar Grey yang menjulang itu. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di sana, merasakan gerakan aktif dari ketiga anaknya.
"Kalian dengar itu Nak? Penjahatnya sudah pergi selamanya! Aman sudah Ibu kalian, aman sudah kalian bertiga. Ayah sudah kalahkan semua musuh. Jadi sekarang tugas kalian cuma satu: tumbuh sehat, kuat, dan cepat lahir biar Ayah bisa gendong kalian sekaligus. Ingat ya... Ayah ini ditakuti semua orang di luar sana, tapi buat kalian dan Ibu, Ayah itu cuma pelayan pribadi yang siap disuruh-suruh kapan saja. Paham?!" serunya bersemangat, membuat Grey tertawa lepas di tengah kafe itu, tak peduli lagi pada pandangan orang lain.
Di luar sana, nama Davian Arganata tetaplah nama yang membuat siapa pun bergidik ngeri. Tapi di sini, di hadapan istri tercinta dan ketiga anak kembar tiganya yang sedang tumbuh kuat di dalam sana, kekuasaan itu hanyalah alat. Alat untuk melindungi satu-satunya hal yang benar-benar berharga dan nyata baginya: kebahagiaan keluarganya.
Bersambung...