NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Sementara atmosfer di pentas tertinggi penthouse milik Aiden dipenuhi dengan romansa manis dan kecanggungan yang mendebarkan, kondisi yang bertolak belakang justru terjadi beberapa lantai di bawahnya.

Di dalam unit apartemen nomor 202, udara terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan, dan ego yang membubung tinggi dari dua manusia yang mengira mereka telah memenangkan segalanya.

Willem Daendels duduk di atas sofa kulit ruang tamunya dengan dasi yang sudah dilonggarkan kasar.

Kemeja kerjanya tampak kusut, sewarna dengan guratan frustrasi yang tercetak jelas di wajah tampannya.

Di atas meja kopi di hadapannya, berserakan beberapa kotak styrofoam kosong bekas wadah makanan cepat saji, beberapa kaleng bir yang sudah kempes, dan sisa-sisa saus yang mulai mengering.

Sudah tiga hari berturut-turut ruangan mewah ini tidak tersentuh oleh jemari telaten yang biasanya menjaga setiap sudutnya tetap wangi dan bersih.

"Aku benar-benar lapar. Bisakah kau memasakkan sesuatu untukku, Lydia?" tanya Willem dengan nada suara yang bergetar menahan kejengkelan.

Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut perih. "Aku benar-benar bosan dan muak jika harus makan makanan cepat saji atau memesan katering luar terus-menerus. Perutku rasanya tidak nyaman."

Di ambang pintu kamar utama, Lydia melangkah keluar dengan anggun.

Wanita itu hanya mengenakan jubah tidur satin tipis berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.

Jemarinya yang ber-manikur merah darah sedang sibuk mengikir kuku-kukunya, sama sekali tidak memedulikan raut lelah pria yang diklaim sebagai kekasih hatinya itu.

Lydia menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Willem dengan sudut mata yang mengerucut manja. Ia melangkah mendekati sofa, lalu mendudukkan dirinya tepat di atas pangkuan Willem, mengalungkan kedua lengan rampingnya di leher pria itu.

"Kenapa kau tidak suruh saja istrimu yang tidak berguna itu untuk memasak, Honey?" ucap Lydia dengan suara yang mendayu-dayu, teramat lembut dan bermanja-manja, mencoba meredam amarah yang mulai tersulut di dada Willem.

"Tugas seorang istri 'kan memang melayanimu di dapur. Lagipula, untuk apa kau memeliharanya di sini jika dia tidak bisa membuatkanmu makan malam setelah kau lelah bekerja di kantor?"

Mendengar kata 'istri', rahang Willem seketika mengatup rapat.

Gurat kemarahan yang pekat langsung menggelapkan tatapan matanya. Ia mengingat kembali bagaimana kosong dan sepinya apartemen ini sejak kemarin sore.

Tidak ada aroma masakan sup hangat, tidak ada sambutan tenang di depan pintu, dan yang paling membuatnya murka adalah fakta bahwa nomor ponsel Suzanne sudah tidak aktif sejak semalam setelah ia mengirimkan ancaman pemutusan biaya ICU.

"Sepertinya dia tidak pulang," kata Willem dengan nada suara yang mendalam dan dingin laksana es.

Ia mengepalkan tangan kanannya dengan sangat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tegang, memukul sandaran sofa dengan sentakan kasar hingga Lydia sedikit terkesiap di atas pangkuannya.

Willem benar-benar merasa egonya sebagai seorang kepala rumah tangga sekaligus eksekutif Daendels Group diinjak-iniak oleh pelarian Suzanne yang tiba-tiba.

"Wanita sialan itu... dia pasti benar-benar sedang menjual dirinya di luar sana!" desis Willem penuh racun fitnah, matanya menyalang merah menatap lurus ke arah dinding kosong.

Di dalam otaknya yang picik, tidak ada spekulasi lain yang bisa menjelaskan dari mana seorang Suzanne Klatten yang miskin bisa bertahan hidup di luar sana selain dengan cara menjajakan tubuhnya pada pria-pria hidung belang di bar kelas rendah.

Willem mendengus kasar, mengingat bagaimana sistem finansial yang ia gunakan untuk mengikat Suzanne selama enam bulan ini.

"Tentu saja dia harus menjual diri. Karena selama pernikahan ini berlangsung, aku memang tidak pernah sudi memberikan nafkah sepeser pun untuk keperluan pribadinya, di luar dari biaya rumah sakit ayahnya yang sialan itu. Jika dia tidak kembali merangkak berlutut di bawah kakiku malam ini untuk meminta uang, maka aku pastikan ayahnya akan diusir dari rumah sakit besok pagi!"

Lydia yang mendengarkan sumpah serapah Willem justru merasa di atas angin. Senyuman kemenangan yang teramat licik terukir di bibirnya yang tebal.

Keberangkatan Suzanne dari apartemen ini adalah skenario terbaik yang selalu ia impikan agar ia bisa menguasai posisi Nyonya Daendels seutuhnya.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada satu ketakutan tersembunyi yang selalu mengusik egonya sebagai seorang wanita simpanan.

Lydia memajukan wajahnya, menempelkan pipinya pada rahang tegas Willem, membelai dada pria itu dengan gerakan seduktif yang lambat.

"Tapi, Honey... ada satu hal yang sejak lama membuatku penasaran," ucap Lydia tiba-tiba, nadanya mendadak berubah sedikit tajam namun tetap dikemas dalam intonasi yang manis.

"Kau... kau benar-benar tidak pernah menyentuh wanita murahan itu, 'kan? Kau tidak pernah menidurinya selama kalian tinggal bersama di bawah satu atap ini, 'kan, Honey? Katakan padaku dengan jujur."

Mendengar pertanyaan itu, Willem seketika tertawa hambar—sebuah tawa meremehkan yang sarat akan penghinaan mutlak terhadap sosok Suzanne yang selama ini dianggapnya sebagai barang pajangan yang kotor.

Willem mencengkeram pinggang Lydia, menarik wanita itu lebih dekat ke dalam dekapannya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh keangkuhan.

"Menyentuhnya? Meniduri wanita miskin seperti dia?" tanya Willem balik dengan nada sinis yang mematikan.

"Aku tidak akan pernah sudi menyentuh seujung kuku pun dari tubuh wanita yang sudah terbiasa menjual diri sejak lama itu, Lydia. Hanya membayangkan kulitnya bersentuhan dengan kulitku saja sudah membuatku merasa jijik."

Willem menunduk, mengecup bibir Lydia dengan kasar seolah ingin membuktikan kata-katanya.

"Bagiku, Suzanne Klatten tidak lebih dari sekadar alat tukar jaminan hutang keluarganya. Dia wanita yang kotor dan dingin. Hanya kau, Lydia, wanita satu-satunya yang berhak atas tubuh dan seluruh ranjangku. Jadi buang pikiran bodohmu itu, karena wanita jalang itu tidak akan pernah mendapatkan satu malam pun dariku."

Willem benar-benar tidak menyadari, bahwa di saat dirinya sedang mengumandangkan kesombongan dan fitnah keji tentang kesucian istrinya di dalam kamar 202, di lantai teratas gedung yang sama, Suzanne telah resmi berada di bawah perlindungan mutlak raksasa finansial terbesar di kota ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya, setelah ketegangan di kamar tamu mereda, suasana di dalam apartemen mewah Aiden berubah menjadi jauh lebih hangat.

Aroma gurih dari bawang putih yang ditumis dengan mentega mulai memenuhi area dapur terbuka berdesain modern tersebut.

Suzanne, yang telah berganti pakaian dengan salah satu kemeja kebesaran milik Aiden yang sengaja dipinjamkan, berdiri di depan kompor marmer hitam, membalik potongan daging filet dengan telaten.

Namun, sesi memasak makan malam yang harusnya tenang itu mendadak berubah menjadi sangat interaktif karena ulah sang pemilik apartemen.

Aiden, dengan tinggi badannya yang menjulang, tidak bisa diam di satu tempat.

Sejak awal Suzanne menyalakan kompor, pemuda delapan belas tahun itu terus menempel di dekatnya laksana bayangan yang posesif.

"Kau memotong sayurnya terlalu tebal, Sayang," bisik Aiden tiba-tiba, menyusupkan kedua lengan kekarnya dari belakang tubuh Suzanne, mengurung wanita itu di antara konter dapur dan dada bidangnya yang kokoh.

Tangan besarnya ikut menggenggam jemari Suzanne yang memegang pisau, berpura-pura membimbingnya memotong wortel.

Suzanne merasakan hembusan napas hangat Aiden menerpa puncak kepalanya. Jantungnya berdegup kencang, namun ia mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya.

"Aiden, lepaskan. Aku tidak bisa bergerak jika kau terus menempel seperti ini," protesnya lembut.

"Tidak mau. Aku hanya memastikan calon istriku tidak terluka karena pisau," sahut Aiden dengan nada santai yang sarat akan godaan.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman nakal saat matanya sengaja turun menatap leher jenjang Suzanne yang terekspos karena rambutnya dicepol ke atas.

"Lagipula, melihatmu memakai kemejaku di dapurku sendiri... benar-benar pemandangan yang mematikan untuk seorang pria, Suzanne."

Suzanne menggelengkan kepalanya pelan, merasa tidak habis pikir dengan tingkat keberanian pemuda di belakangnya ini.

"Kau ini... baru delapan belas tahun, Aiden. Tapi kenapa otakmu sudah cukup mesum dan bicaramu lancar sekali, hm? Di mana pangeran Stone yang terkenal dingin dan ditakuti di sekolah itu?"

Aiden justru terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada yang menempel pada punggung Suzanne.

"Pangeran Stone yang itu sedang libur. Sekarang yang ada di sini hanya pria yang sedang lapar dan menginginkan wanitanya."

Sambil membalik daging di atas wajan, suasana mendadak mencair menjadi lebih intim.

Kehangatan dekapan Aiden entah bagaimana memberikan rasa aman yang membuat benteng pertahanan di dalam hati Suzanne perlahan runtuh.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Suzanne merasa memiliki ruang aman untuk membagikan potongan masa lalunya yang kelam dan melelahkan.

"Aiden..." panggil Suzanne pelan, jemarinya melambat saat memegang spatula. "Kau tahu... aku terkadang merasa tidak pantas bersamamu. Kau terlahir dengan segalanya, berpendidikan, dan memiliki masa depan yang benderang. Sedangkan aku... aku hanya lulusan high school."

Aiden menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk saus di panci kecil sebelah wajan Suzanne. Ia mendengarkan dalam diam, memberikan atensi penuh pada nada suara wanita di pelukannya yang mendadak berubah sendu.

Suzanne mengembuskan napas berat, matanya menatap kosong ke arah kepulan asap masakan.

"Aku sama sekali tidak melanjutkan studiku ke bangku kuliah. Begitu lulus sekolah, duniaku langsung runtuh karena penyakit ayahku. Sejak hari itu, aku sibuk bekerja siang dan malam di dua tempat yang berbeda demi mengumpulkan lembaran dolar untuk biaya cuci darah dan obat-obatan Daddy."

Suzanne tersenyum hambar, ada kepedihan mendalam yang tersirat di sana.

"Karena aku sering pulang larut malam, bahkan menjelang pagi dengan pakaian kerja yang seadanya, lingkungan sekitarku dulu sering mengaitkanku dengan hal-hal buruk. Mereka melabeliku sebagai wanita yang menjual diri, menatapku dengan pandangan menjijikkan seolah aku adalah sampah kota. Stigma itu terus melekat padaku... hingga akhirnya aku bertemu dengan keluarga Daendels yang menawarkan jaminan biaya rumah sakit dengan syarat aku harus menjadi istri Willem."

Mendengar penuturan itu, cengkeraman tangan Aiden di pinggang Suzanne mendadak mengeras.

Ada kilat amarah yang membakar sepasang mata elangnya—marah pada dunia yang telah memperlakukan wanitanya dengan begitu kejam, dan marah pada fakta bahwa Suzanne harus menanggung beban seberat itu sendirian di masa lalunya.

Aiden memutar tubuh Suzanne dengan perlahan agar wanita itu berbalik menghadapnya.

Ia menangkup kedua pipi Suzanne dengan tangannya yang hangat, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata jernih yang tampak berkaca-kaca itu.

"Jangan diterusin lagi kalau kamu nggak siap cerita, Sayang," ucap Aiden dengan nada suara yang teramat lembut namun sarat akan ketegasan yang menenangkan. Ia mengusap sudut mata Suzanne dengan ibu jarinya.

"Masa lalu itu sudah selesai. Mulai hari ini, ada aku, ada Daddy, dan Mommy yang akan menjadi perisaimu. Waktu kita masih sangat banyak untuk menghapus semua kenangan buruk itu."

Suzanne mengangguk pelan, merasa matanya memanas oleh keharuan.

Namun belum sempat ia berterima kasih, Aiden tiba-tiba memajukan wajahnya, menyatukan kening mereka dengan senyuman yang mendadak berubah menjadi sangat intens dan penuh arti.

"Dan soal omongan sampah orang-orang yang menuduhmu menjual diri..." Aiden menjeda kalimatnya, menurunkan tangannya untuk memeluk pinggang Suzanne kembali, merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada jarak tersisa.

"Aku tahu persis itu semua kebohongan besar. Karena akulah yang pertama, Anne. Aku mengingat dengan teramat jelas bagaimana kau menangis di bawahku malam itu, bagaimana tubuhmu bergetar karena ini adalah pengalaman pertamamu, dan bagaimana kau memegang erat bahuku..."

"Aiden! Stop!" potong Suzanne dengan wajah yang seketika memerah padam laksana kepiting rebus. Ia memukul dada bidang Aiden dengan gemas, mencoba menutupi rasa malunya yang sudah meledak hingga ke ubun-ubun akibat diingatkan kembali pada detail malam tersebut.

Aiden tidak memedulikan protes tersebut. Ia justru memanfaatkan posisi Suzanne yang sedang lengah untuk memiringkan kepalanya.

Dengan gerakan yang teramat lembut namun posesif, Aiden mendaratkan ciuman bertubi-tubi di sepanjang tengkuk leher Suzanne yang putih dan sensitif.

Cup. Cup. Cup.

"Aiden... geli... hentikan, masakannya bisa gosong!" pekik Suzanne di sela tawa dan napasnya yang tertahan, mencoba menghindar namun dekapan lengan kekar Aiden di pinggangnya benar-benar mengunci pergerakannya seolah menegaskan bahwa mulai malam ini, Suzanne tidak akan pernah bisa lari lagi dari pesona berondong Stone yang teramat mesum ini.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!