NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 – Peluang yang Datang Terlalu Cepat

Tiga hari setelah kedatangan Damar ke warung, kehidupan kembali berjalan normal.

Setidaknya terlihat normal dari luar.

Para pekerja proyek masih datang setiap pagi.

Paket hemat masih laris.

Kerja sama dengan minimarket Rudi terus berjalan dengan cukup baik.

Maya semakin terbiasa membantu operasional.

Dan sistem pencatatan sederhana yang diperkenalkan Arga mulai menunjukkan hasil.

Kesalahan stok berkurang.

Pesanan yang tertukar semakin jarang terjadi.

Produksi berjalan lebih rapi.

Semuanya terlihat membaik.

Namun justru itulah yang membuat Arga semakin waspada.

Karena dalam pengalamannya, masa-masa paling berbahaya sering kali terjadi ketika semuanya terlihat baik-baik saja.

Pagi itu, Arga sedang memeriksa catatan penjualan ketika ayahnya datang membawa secarik kertas.

"Ga."

"Hm?"

"Ada pesan."

"Dari siapa?"

Ayahnya menyerahkan kertas tersebut.

Tulisan tangan di atasnya cukup singkat.

Kalau sempat, datang ke minimarket sore ini. – Rudi

Arga membaca pesan itu dua kali.

Kemudian mengangkat alis.

Rudi bukan tipe orang yang mengirim pesan tanpa alasan.

Apalagi hanya untuk mengobrol.

Artinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

Dan kemungkinan besar penting.

Sore harinya, setelah membantu di warung, Arga berjalan menuju minimarket.

Begitu masuk, ia langsung melihat Rudi sedang duduk di belakang kasir.

Namun kali ini ada orang lain bersamanya.

Damar.

Lagi.

Akan tetapi suasananya berbeda dibanding pertemuan sebelumnya.

Di atas meja terdapat beberapa dokumen.

Dan ekspresi keduanya terlihat jauh lebih serius.

"Silakan duduk."

Kata Damar.

Arga langsung merasa bahwa pembicaraan ini tidak akan sederhana.

Ia menarik kursi dan duduk.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

Kemudian Rudi membuka percakapan.

"Kami ingin meminta pendapatmu."

Kalimat itu membuat Arga sedikit terkejut.

Pendapatnya?

Tentang apa?

Damar membuka salah satu dokumen di atas meja.

Kemudian menggesernya ke arah Arga.

Itu adalah gambar yang pernah ia lihat sebelumnya.

Denah kawasan ruko baru.

Namun kali ini lebih lengkap.

Jauh lebih lengkap.

Ada nomor unit.

Ukuran bangunan.

Area parkir.

Jalur akses.

Bahkan perkiraan jadwal pembangunan.

"Proyeknya mulai bergerak lebih cepat."

Kata Damar.

"Lebih cepat?"

Damar mengangguk.

"Kami memperkirakan pembangunan dimulai tahun depan."

Jawaban itu membuat Arga membeku sejenak.

Tahun depan?

Lebih cepat dari perkiraannya.

Jauh lebih cepat.

Rudi menyilangkan tangan di dada.

"Itulah kenapa kami memanggilmu."

Arga masih belum memahami.

"Lalu?"

Damar menunjuk salah satu unit dalam denah.

"Unit ini belum dipesan."

Arga melihat ukuran bangunan tersebut.

Tidak terlalu besar.

Namun jelas jauh lebih besar dibanding warung keluarganya.

Kemudian Damar mengatakan sesuatu yang benar-benar tidak diduga Arga.

"Aku ingin menawarkan prioritas pemesanan."

Ruangan langsung sunyi.

Bahkan suara pendingin udara minimarket terasa jauh.

Arga menatap Damar.

Lalu menatap gambar.

Kemudian kembali menatap Damar.

Untuk beberapa saat, ia tidak yakin mendengar dengan benar.

"Untuk kami?"

Damar mengangguk.

"Untuk keluargamu."

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

Karena Arga benar-benar tidak siap menerima kalimat tersebut.

Prioritas pemesanan ruko.

Itu bukan sekadar peluang.

Itu langkah yang bisa mengubah arah usaha mereka.

Namun sekaligus langkah yang bisa menghancurkan mereka jika salah perhitungan.

"Mengapa?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Damar tersenyum tipis.

"Aku sudah melihat perkembangan usahamu beberapa bulan terakhir."

"Itu belum cukup untuk menawarkan sesuatu sebesar ini."

"Benar."

Damar mengangguk.

"Lalu kenapa?"

Pria itu bersandar di kursinya.

"Karena sebagian besar orang hanya melihat keadaan hari ini."

"Sedangkan kamu mempersiapkan keadaan besok."

Ruangan kembali hening.

Bagi orang lain, kalimat itu mungkin terdengar seperti pujian biasa.

Namun bagi Arga, itu jauh lebih berat.

Karena ia tahu betapa banyak usaha yang diperlukan untuk mencapai posisi sekarang.

Rudi ikut berbicara.

"Jangan salah paham."

"Kami bukan memberi hadiah."

"Itu tetap bisnis."

Arga mengangguk.

Ia lebih menyukai penjelasan seperti itu.

Lebih jujur.

Lebih realistis.

Damar kemudian melanjutkan.

"Kalau kamu tertarik, unit itu bisa dipesan lebih dulu sebelum dipasarkan secara luas."

"Tapi tentu ada syarat dan biaya."

Kalimat terakhir itu membawa Arga kembali ke kenyataan.

Ya.

Biaya.

Masalah terbesar mereka.

Mereka memang sudah berkembang.

Namun masih jauh dari mampu membeli ruko.

Bahkan memikirkannya saja terasa terlalu jauh.

Saat keluar dari minimarket, matahari hampir terbenam.

Langkah Arga terasa lebih lambat dari biasanya.

Pikirannya penuh.

Sangat penuh.

Kesempatan yang baru saja ditawarkan terlalu besar untuk diabaikan.

Namun juga terlalu besar untuk diterima begitu saja.

Ketika sampai di warung, Maya langsung menyadari ekspresinya.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

"Bohong."

Arga tertawa kecil.

Maya memang semakin mudah membaca wajahnya.

"Ada pembicaraan penting."

Maya meletakkan kemasan yang sedang disusunnya.

"Lalu?"

Arga sempat ragu.

Namun akhirnya menceritakan semuanya.

Tentang proyek ruko.

Tentang unit kosong.

Dan tentang tawaran prioritas yang diberikan Damar.

Semakin lama mendengar, mata Maya semakin membesar.

"Serius?"

"Iya."

"Itu luar biasa."

"Itu juga berbahaya."

Jawaban Arga membuat Maya terdiam.

Beberapa saat kemudian gadis itu mengangguk.

Karena ia memahami maksudnya.

Peluang besar hampir selalu datang bersama risiko besar.

Malam hari, Arga tidak langsung membicarakan tawaran tersebut kepada keluarganya.

Bukan karena ingin merahasiakannya.

Melainkan karena ia ingin berpikir lebih dulu.

Ia duduk di depan warung yang sudah tutup.

Membuka buku catatan yang selama ini menemaninya.

Kemudian mulai menulis.

Keuntungan:

Lokasi lebih strategis.

Potensi pelanggan lebih besar.

Bisa berkembang lebih cepat.

Lalu ia menulis sisi lainnya.

Risiko:

Modal besar.

Utang baru.

Operasional lebih rumit.

Bisa menghancurkan usaha yang sudah ada.

Semakin lama daftar itu semakin panjang.

Dan semakin panjang daftar tersebut, semakin sulit keputusan yang harus diambil.

Saat sedang berpikir, suara langkah kaki terdengar dari samping.

Maya.

Gadis itu membawa dua gelas teh hangat.

Satu diberikan kepada Arga.

Kemudian ia duduk di kursi sebelah.

"Kamu takut."

Kalimat itu terdengar begitu langsung.

Begitu khas Maya.

Arga tersenyum tipis.

"Mungkin."

"Bagus."

Kali ini Arga benar-benar menoleh.

"Bagus?"

Maya mengangguk.

"Kalau tidak takut, berarti kamu tidak memahami risikonya."

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Hanya suara jangkrik malam yang terdengar dari kejauhan.

Kemudian Maya berkata lagi.

"Tapi jangan sampai ketakutan membuatmu tidak bergerak."

Kalimat itu membuat Arga terdiam.

Karena beberapa hari sebelumnya justru Maya yang paling skeptis terhadap ekspansi.

Kini gadis itu memberikan sudut pandang berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, Arga menyadari sesuatu.

Orang-orang di sekitarnya juga mulai berkembang.

Bukan hanya dirinya.

Malam semakin larut.

Lampu proyek masih terlihat di kejauhan.

Tanda bahwa pembangunan terus berjalan.

Dan dunia terus bergerak maju.

Arga menatap jalan yang sedang berubah itu cukup lama.

Dulu tujuan hidupnya hanya satu.

Mencegah kehancuran yang pernah dialami keluarganya.

Kini tujuan itu perlahan berubah.

Karena untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia tidak hanya berusaha menghindari masa depan yang buruk.

Ia sedang mempertimbangkan masa depan yang lebih besar.

Namun masa depan yang lebih besar selalu menuntut keberanian yang lebih besar pula.

Arga menutup buku catatannya.

Lalu mengembuskan napas panjang.

Karena ia tahu satu hal.

Keputusan tentang ruko itu akan menjadi keputusan terbesar yang pernah diambil keluarganya sejauh ini.

Dan apa pun pilihannya nanti, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!