PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebungkus Nasi Padang
Drama ajaib yang dibuat Mina walaupun terkesan sangat tidak estetik untuk ukuran seorang selebgram papan atas ternyata cukup berhasil mengetuk pintu hati Narendra. Buktinya, pengusaha dingin itu langsung menghubungi asisten pribadinya melalui ponsel lain untuk membelikan makanan. Dan di sinilah Mina sekarang, duduk lesehan di sofa panjang ruang VIP rumah sakit, menghadapi sebungkus nasi Padang dengan lauk rendang, perkedel, dan siraman kuah gulai yang melimpah.
"Nyam... nyam... beuh, mantap banget ini asli!" batin Mina berteriak girang.
Tanpa memedulikan sendok plastik yang disediakan, Mina langsung melahap makanan itu menggunakan tangan kosong. Sifat sembrono dan tidak peduli pada sekitar seolah keluar seratus persen. Dia mencampur nasi, kuah, dan sambal hijau menjadi satu, lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan sangat lahap hingga pipinya menggembung seperti tupai. Persetan dengan diet ketat Alicia, perut keroncongannya jauh lebih penting saat ini.
Di sudut ruangan, Arsenio duduk di kursi tunggal sambil mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu dengan tatapan tidak percaya. Dahinya berkerut sangat dalam. Di mana sosok Alicia yang biasanya selalu menjaga citra, makan anggun dengan sendok-garpu perak, dan sangat memedulikan martabat sebagai istri pengusaha kaya? Mengapa wanita di depannya ini sekarang terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda? Cara makannya bahkan lebih barbar daripada buruh bangunan yang belum makan tiga hari.
Mina yang sedang asyik mengunyah mendadak merasa merinding. Dia merasa punggungnya seperti sedang dicolok-colok dan akan bolong oleh sebuah tatapan tajam. Dengan pelan, Mina menoleh ke belakang sambil mengunyah daging rendang. Benar saja, sepasang mata elang Arsenio sedang menguncinya tanpa berkedip.
Mina berhenti mengunyah sebentar, lalu menyengir kaku dengan sisa kuah gulai yang agak belepotan di sudut bibirnya.
"Kenapa, Mas? Ngeliatin nya gitu banget. Mau juga ya? Bilang dong, jangan kayak mau ngajak tawuran," gurau Mina santai, sama sekali tidak ada formal-formal-nya lagi.
Arsenio tidak merespons, tatapannya justru semakin mengintimidasi.
Melihat reaksi dingin suaminya, jiwa muda Mina mendadak tertantang. Dia bangkit berdiri dari sofa sambil membawa bungkus nasi Padang itu dengan satu tangan, sementara tangan kanannya yang berlumuran bumbu gulai dan nasi bergumpal-gumpal terangkat. Mina berjalan santai mendekati Arsenio, lalu tanpa rasa berdosa, dia menyodorkan kepalan nasi berlauk daging rendang itu tepat di depan wajah tampan sang suami.
"Nih, mumpung aku lagi baik. Mau disuapin gak?" tanya Mina dengan wajah tanpa dosa.
Arsenio langsung memundurkan kepalanya beberapa sentimeter. Alisnya bertaut erat, menatap ngeri pada tangan Mina yang penuh bumbu berminyak tersebut. Tatapannya seolah bertanya, Kamu gila? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?.
"Alicia, jauhkan tangan kotor itu dari wajah saya," perintah Arsenio dengan suara baritonnya yang ketat dan formal.
"Saya tidak makan makanan seperti itu, apalagi dengan cara yang tidak higienis."
"Halah, gengsi banget sih jadi orang kaya! Ini tuh namanya nikmat dunia tahu!" cerocos Mina kesal karena tawarannya ditolak mentah-mentah.
"Lagian dari tadi kamu diem aja kayak patung lilin di Madam Tussauds, pasti laper juga kan baru mendarat dari luar negeri? Cepetan buka mulutnya, pegel nih tangan aku!"
Cukup lama Arsenio terdiam, hanya menatap Mina dengan pandangan sedingin es, menolak untuk membuka mulutnya sedikit pun. Keheningan itu membuat Mina yang dasarnya tidak sabaran menjadi sangat gemas.
"Aduh, kelamaan mikir kayak anggota DPR mau rapat!" omel Mina blak-blakan.
Tanpa kata dan tanpa aba-aba, Mina menggunakan tangan kirinya yang bersih untuk memegang dagu Arsenio, sedikit menekannya agar mulut pria itu terbuka paksa. Sebelum Arsenio sempat melayangkan protes atau menepisnya, dengan gerakan secepat kilat, Mina langsung menyuapkan gumpalan nasi dan potongan daging rendang itu ke dalam mulut suaminya.
"Aaa... pinter! Dah, kunyah jangan banyak protes!" omel Mina lagi sambil menarik tangannya kembali.
Mata Arsenio membelalak sempurna karena terkejut. Dia, seorang CEO Malik Group yang disegani di dunia bisnis internasional, baru saja dicekoki nasi Padang secara paksa menggunakan tangan kosong oleh istrinya sendiri? Amarah Arsenio hampir saja meledak, dan dia sudah bersiap untuk menyemburkan makian paling formal untuk mendisiplinkan Alicia.
Namun, tepat saat lidahnya mengecap rasa bumbu rendang yang gurih, kaya rempah, dan berpadu sempurna dengan kehangatan nasi, kata-kata protes Arsenio mendadak tersangkut di tenggorokan. Matanya yang tadi berkilat marah perlahan melembut, meskipun ekspresi wajahnya masih tampak sangat kaku. Sial, makanan ini ternyata rasanya sangat enak.
Pada akhirnya, sang Grand Duke dunia nyata itu hanya bisa diam dan mulai mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan gerakan pelan dan jantan.
Mina yang melihat suaminya akhirnya mau mengunyah langsung tersenyum puas. Dia kembali duduk di sofa, melanjutkan makannya sendiri.
"Nah, gitu dong. Enak kan? Gak usah sok-sokan anti-nasi bungkus deh, Mas. Makanan begini nih yang bikin umur panjang karena bahagia."
Suasana di dalam kamar rawat inap VIP itu mendadak berubah menjadi sangat canggung namun anehnya terasa hangat. Arsenio masih duduk di kursinya, sementara Mina asyik makan. Sesekali, setelah menelan makanannya sendiri, Mina akan kembali berjalan mendekat dan menyodorkan suapan baru ke mulut Arsenio.
"Nih, suapan kedua. Pakai perkedel biar makin mantap," kata Mina santai.
Dan yang membuat malam itu semakin tidak masuk akal bagi seorang Arsenio adalah... dia kembali membuka mulutnya dengan patuh untuk menerima suapan dari Mina. Dia mengunyah dalam diam, membiarkan wanita ber-daster tipis itu memperlakukannya seperti anak kecil.
Arsenio sendiri benar-benar tidak habis pikir dan tidak tahu mengapa dia bisa menurut saja saat Alicia menyuapinya? Padahal biasanya, jangankan disuapi, disentuh sedikit saja oleh Alicia di masa lalu akan langsung membuat Arsenio merasa risih dan menjauh. Tapi malam ini, aura yang dipancarkan oleh wanita di depannya ini terasa sangat berbeda. Tidak ada kepalsuan, tidak ada niat terselubung untuk merayunya demi uang, yang ada hanyalah ketulusan yang sembrono, apa adanya, dan... entah mengapa terasa sangat menenangkan di tengah situasi kacau ini.
Arsenio menatap Mina yang kini sedang mengelap tangannya menggunakan tisu dengan wajah puas karena nasi Padangnya sudah habis tak bersisa. Pria itu berdeham pelan, mencoba mengembalikan wibawa formalnya yang sempat runtuh akibat suapan rendang tadi.
"Alicia," panggil Arsenio datar.
"Kenapa, Mas? Masih kurang? Udah habis tuh, nanti beli lagi aja besok," sahut Mina ceria sambil membuang bungkus nasi ke kotak sampah.
"Bukan itu," Arsenio memperbaiki posisi duduknya.
"Mengenai para pelayan di penthouse... besok pagi saya akan menyuruh asisten saya untuk memecat mereka bertiga secara tidak hormat dan memastikan mereka tidak akan pernah bisa bekerja di kediaman mana pun lagi di kota ini. Saya juga akan memproses kasus keracunan Gino ke jalur hukum."
Mina menoleh, matanya berbinar senang mendengar keputusan tegas dari suaminya. Sifat asyiknya kembali keluar. Dia berjalan mendekati Arsenio, lalu menepuk-nepuk bahu tegap pria itu dengan akrab, membuat Arsenio kembali membeku karena tindakan tidak sopan tersebut.
"Wih, mantap! Gini dong baru namanya bapak yang bertanggung jawab! Aku dukung seratus persen, Mas!" seru Mina riang.
"Nanti kalau butuh saksi, aku siap jadi saksi utama di depan polisi!"
Arsenio hanya bisa menghela napas panjang, menatap tangan Mina yang bertengger di bahunya sebelum wanita itu menariknya kembali dengan tawa renyah. Ketegangan di dalam diri Arsenio perlahan mencair. Dia menyadari, meskipun perubahan karakter istrinya ini sangat mendadak dan mencurigakan, perubahan ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dalam rumah tangganya demi masa depan Gino.
Mina kemudian berjalan kembali ke samping ranjang Gino, menatap wajah polos anak tirinya yang sedang mendengkur halus. Dia mengusap kepala Gino dengan penuh kasih sayang. Mina tersenyum manis, merasa bahwa petualangan transmigrasinya di dunia modern ini tampaknya tidak akan seburuk yang dia bayangkan sebelumnya, asalkan ada dedek gemes seperti Gino dan... bonus pemandangan suami tampan yang ternyata bisa dijinakkan hanya dengan sebungkus nasi Padang rendang.
semngat update lagi ya kak