NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21: Gemuruh di Lantai Tertinggi

Pintu ganda bermaterial kayu jati ukiran Jepara itu terbuka dengan sentakan kasar.

Andreas melangkah masuk ke dalam ruang kerja Direktur Utama PT Santoso Karya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sebuah pelanggaran etika berat yang jarang ia lakukan.

Wajahnya yang biasanya klimis kini tampak tegang, dengan bulir-bulir keringat dingin yang membasahi pelipisnya meskipun pendingin ruangan berhembus kencang.

Devan Santoso, yang sedang memeriksa cetak biru proyek jembatan layang di atas meja kerjanya, mendongak dengan alis bertaut tajam.

Ia meletakkan kacamata bacanya dengan perlahan, menatap calon menantunya itu dengan pandangan penuh selidik yang dingin.

"Sejak kapan kamu lupa caranya mengetuk pintu, Andreas?"

suara Devan berat, parau, dan langsung menekan mental Andreas hingga pemuda itu menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan meja besar sang direktur.

"Maaf, Pak Devan... tapi ini darurat."

"Ini tentang Sektor Utara."

"Tentang Doni Salman,"

kata Andreas setengah terengah-engah, suaranya sedikit bergetar.

Ia segera menggeser map cokelat tebal berisi laporan operasional tiga hari pertama Doni ke atas meja kerja Devan, tepat di atas cetak biru proyek.

Devan menghela napas panjang, mengira Andreas hanya terlalu sensitif terhadap persaingan internal.

"Ada apa dengan anak gudang itu?"

"Apa dia membuat masalah? Apa truk kita tertahan lagi oleh kelompok si Codet hingga betonnya membatu?"

"Kalau iya, panggil Hendra dan siapkan surat pemecatan sekaligus tuntutan ganti rugi sesuai pasal penalti."

"Bukan, Pak... justru kebalikannya,"

Andreas menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Jari tangannya yang gemetar menunjuk ke arah baris total rangkuman anggaran di halaman pertama dokumen.

"Lihat ini sendiri, Pak."

"Doni Salman... dia memotong anggaran distribusi logistik Sektor Utara sebesar dua puluh empat koma delapan persen hanya dalam waktu tiga hari kerja."

"Dan pengiriman material semen serta besi baja berstatus zero-delay."

"Semuanya sampai ke lokasi pengecoran tepat waktu, bahkan lebih cepat dari jadwal biasanya."

Devan Santoso terdiam.

Ruangan luas di lantai tertinggi Menara Thamrin itu mendadak dilingkupi keheningan yang mencekam.

Pria paruh baya itu meraih map dokumen tersebut, membukanya dengan gerakan lambat, lalu membaca lembar demi lembar audit internal yang telah divalidasi oleh tim keuangan pusat.

Sepasang mata sipit Devan yang licik perlahan melebar.

Sebagai seorang arsitek bisnis yang telah puluhan tahun memeras keringat para sub-kontraktor bawahannya, Devan tahu persis bahwa angka dua puluh-empat persen di jalur utara adalah sebuah kemustahilan fisik.

Jalur itu adalah sarang penyamun; tempat di mana anggaran selalu menguap menjadi uang jatah preman, pungutan liar oknum aparat, dan biaya solar akibat kemacetan parah di gerbang pelabuhan.

"Bagaimana... bagaimana cara dia melakukannya?"

bisik Devan, suaranya kehilangan sebagian besar arogansinya.

"Dia menutup total rute utama pelabuhan sejak hari pertama, Pak,"

jelas Andreas dengan nada frustrasi yang tertahan.

"Dari laporan mata-mata lapangan yang saya utus pagi ini, Doni mengalihkan seluruh armada truk fuso kita melewati jalur timur Kampung Bahari."

"Ternyata, jalan setapak rawa di sana sudah selesai dibeton secara rahasia oleh Dinas PU dua hari lalu!"

"Belum ada satu pun pengusaha logistik di Jakarta yang tahu soal pembukaan jalan baru itu, tapi anak ini... dia seolah-olah sudah mengetahuinya sejak berminggu-minggu lalu!"

Devan Santoso bersandaran ke kursi kulitnya yang megah.

Tangan kanannya yang memegang dokumen perlahan meremas pinggiran kertas hingga kusut.

Ingatannya langsung melayang pada momen makan malam di Menteng beberapa hari lalu, saat Doni Salman dengan sangat tenang mendikte syarat kontrak dan meminta dua persen opsi saham kosong sebagai taruhan performa sembilan puluh hari.

"Anak itu... dia tidak sedang bertaruh dengan kita, Andreas,"

desis Devan,

sebuah kilatan ketakutan yang samar muncul di balik manik matanya yang mulai keriput.

"Dia sudah memegang kartu as sebelum dia melangkah masuk ke ruangan ini."

"Dia menjebak kita menggunakan keserakahan kita sendiri."

"Pak, kalau performa ini bertahan sampai hari ke-sembilan puluh, secara hukum dua persen opsi saham kosong itu akan aktif secara otomatis,"

Andreas memajukan tubuhnya, suaranya mendesak penuh kepanikan.

"Kita tidak bisa membiarkan seorang mantan kuli angkut rendahan memiliki hak suara di dalam rapat umum pemegang saham PT Santoso Karya!"

"Posisi kita, reputasi keluarga kita di bursa saham, bisa terancam jika ada orang luar yang secerdas dan selicik dia memegang kendali internal!"

Devan Santoso mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Andreas diam.

Pria tua itu memejamkan matanya selama beberapa saat, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak batinnya.

Otaknya yang penuh dengan kelicikan korporat mulai menyusun rencana tandingan.

Di dunia bisnis, Devan tidak pernah mengenal kata kalah.

Jika ada bidak yang terlalu kuat dan mengancam takhtanya, maka bidak itu harus dihancurkan dari dalam sebelum sempat menyentuh sang raja.

"Tenang, Andreas."

"Panik hanya akan membuatmu terlihat bodoh di depannya,"

kata Devan sambil membuka matanya, sorot matanya kembali berubah menjadi sepasang mata ular yang dingin dan berbisa.

"Kontrak itu memang mengikat di atas kertas segel."

"Tapi ingat... kontrak itu didasarkan pada performa zero-delay dan pemotongan anggaran minimal dua puluh persen hingga hari ke-sembilan puluh."

Devan menarik sebatang cerutu dari kotaknya, menyulutnya dengan pemantik emas hingga asap putih berbau pekat memenuhi ruangan.

"Jika dalam sisa waktu delapan puluh tujuh hari ke depan terjadi satu saja bencana operasional yang masif di Sektor Utara."

"misalnya, seluruh armada truk mengalami sabotase, material semen terkontaminasi air hingga rusak total, atau terjadi konflik berdarah antar-supir di lapangan yang menghentikan pasokan selama lebih dari empat puluh delapan jam..."

"maka secara hukum, seluruh hak opsi sahamnya akan hangus demi hukum."

"Dan kita bisa menjebloskannya ke penjara menggunakan klausul denda ganti rugi lima puluh juta per hari."

Andreas mendengar rencana itu dengan mata yang perlahan berbinar. Seringai licik yang sempat hilang kini kembali terukir di wajah klimisnya.

"Maksud Pak Devan... kita buat dia gagal dari dalam?"

"Gunakan jaringan orang-orang lamamu di pelabuhan, Andreas."

"Cari tahu siapa saja yang merasa dirugikan oleh hilangnya pungutan liar akibat ulah Doni,"

bisik Devan Santoso, mengembuskan asap cerutunya ke arah peta proyek.

"Beri mereka modal"

"Katakan pada mereka bahwa kepala Doni Salman adalah harga yang harus dibayar untuk mengembalikan lapak basah mereka di pelabuhan."

"Buat Sektor Utara menjadi neraka bagi anak muda itu."

"Baik, Pak."

"Saya mengerti. Saya akan segera mengatur semuanya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun ke kantor pusat,"

jawab Andreas dengan penuh semangat, ambisi kotornya kini telah menemukan kembali jalurnya.

Sementara para ular di lantai tertinggi Menara Thamrin sedang sibuk menyusun rencana sabotase berdarah, di pinggiran kota Tangerang, langit sore mulai berubah menjadi jingga keemasan.

Doni Salman berdiri di depan gerbang PT Garmen Busana Indah, bersandar pada sebuah motor bebek tua yang sengaja ia sewa.

Di tangannya, seikat bunga melati kecil yang harum menjadi kontras dari seluruh dunia korporatnya yang penuh intrik.

Ketika bel pabrik berbunyi dan sosok Zahra muncul dengan senyuman tulusnya yang manis, Doni merasakan seluruh jiwanya kembali utuh.

Ia tahu, perang yang sesungguhnya di Sektor Utara akan segera pecah karena Andreas dan Devan tidak akan tinggal diam melihat kesuksesannya.

Namun, sembari menatap wajah wanita yang paling dicintainya itu berjalan mendekat, Doni Salman berbisik di dalam batinnya dengan ketetapan hati yang sedingin baja.

Silakan gerakkan pasukan bayanganmu, Andreas.

Aku sudah tahu kapan, di mana, dan bagaimana kalian akan menyerang jalanku.

Dan setiap tetes darah atau kekacauan yang kalian rencanakan untukku... akan kupastikan berbalik menjadi badai yang akan meratakan Menara Thamrin kalian menjadi debu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!