Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 ( Kencan Yang Hampir Gagal )
Sejak pertemuan dengan Alena tadi, Arven tidak bisa tertidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun Arven masih belum juga tertidur.
Arven mengusap pipinya, pipi yang Alena sentuh sebelum ia turun tadi.
Karena merasa bosan, akhirnya Arven mencoba ngirim pesan kepada kedua temannya.
[Arven : Ada yang masih bangun?]
Arven menunggu kedua temannya merespon pesannya
[Reza : Gue baru kelar operasi ]
[Bayu : Baru mau tidur, ngapain lo chat kita jam segini ?]
[Reza : Udah baikan ? ]
[Bayu : Atau masih di tolak ? ]
[Arven : Hampir berhasil, tapi sudah bisa dibilang 90%]
[Reza : Akhirnya]
[Bayu : Terus lo pelukan atau ciuman ga ? ]
[Reza : Pegangan tangan aja ga berani dia ]
[Arven : Dia ngusap pipi gue ]
[Reza : Wih menang banyak]
[Bayu : Ide siapa tuh ngasih makanan, jadi mau Transfer berapa ? ]
[Arven : Gue mau ngajak Alena kencan besok]
[Reza : Hahahaha ]
[Bayu : Kencan ? Ga salah ngetik ? ]
[Arven : Gue serius ]
[Reza : Ngelamar sekalian ga ?]
[Bayu : Sekalian lah, biar cepet nikah ]
[Arven : Ga guna ide kalian berdua ]
Arven meletakkan ponselnya, dan menatap langit-langit kamar.
" Sedikit lagi, sedikit lagi Alena jadi milik gue "
...
Alena terbangun karena ponselnya yang terus mendapatkan pesan masuk.
Dengan setengah sadar, Alena meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
[Arven : Selamat pagi]
[Arven : Udah bangun ? ]
[Arven : Bangun ayoo]
[Arven : Kalah sama burung, burung aja udah bangun]
Alena menghela nafasnya, baru saja mereka baikan pria ini sudah kembali pada setelah pabriknya.
Dengan setengah sadar ia membalas pesan Arven.
[Alena : Burung siapa yang udah bangun ? Burung Lo ? ]
Ucap Alena tanpa sadar
[Arven : ???]
Alena kembali membaca pesannya, namun begitu ia membaca balasannya sendiri ia langsung menarik pesannya.
[Arven : Kenapa ditarik ? Gue udah baca ]
Alena merasa malu sendiri dengan apa yang ia ketik itu.
[Alena : Ga.]
[Arven : Hari ini sibuk ga ?]
[Arven : Engga dong ya pastinya, lo kan nganggur ]
[Arven : Sore gue jemput]
[Arven : Sampai bertemu nanti sore ❤️]
Alena tersenyum membaca pesan dari Arven, ia pun menutup wajahnya dengan bantal miliknya.
" Arven.. gimana ini yang ada gue makin jatuh cinta sama lo "
....
Sudah tiga puluh menit Bayu memperhatikan bosnya itu memilih pakaian.
Padahal bosnya itu hanya bertemu dengan seorang wanita, tapi bosnya itu sangat pusing dengan pakaian saat ini.
" Lo mau ketemu presiden atau perempuan sih ? "
Akhirnya Bayu bersuara
" Alena.. "
" Kenapa soal pilih baju aja sampe pusing banget kayak gini ? Perasaan kalau teken kontrak ga kayak gini "
Arven menoleh dan menatap Bayu
" Beda Bay "
" Kalau kontrak gue cuma kehilangan uang "
" Tapi ini, soal masa depan gue. Hidup dan mati gue "
" Cuma makan malem biasa kan ? Bukan ngajak nikah ? "
Arven diam sejenak dan berpikir
" Mending yang lo pikir sekarang gimana caranya lo dapat maaf dari Alena "
" Pakaian itu nomor 2 bro "
" Bener ide lo"
" Ide gue itu selalu benar bos "
Arven pun membayangkan kencan malam nanti
....
Pukul tujuh malam, Arven sudah tiba di depan rumah Alena.
Setelah mengetuk pintu, Arven menunggu sang pemilik keluar dari dalam rumah.
Perlahan pintu itu terbuka, raut wajah Arven pun langsung berubah seketika
Ia tak bisa berkedip, bahkan ia terus memandangi Alena.
Malam itu dengan dress biru muda dan rambut yang ia Curly ditambah make up yang membuat Alena tampak cantik malam ini.
" Arven.. "
" Lo baik baik aja kan ? "
ucap Alena sambil menepuk pelan lengan Arven.
Arven masih tak bersuara, tapi kepalanya bergerak menggeleng.
" Gue ga baik-baik aja Alena "
" Kenapa ? Lo sakit ? Lo pusing ? Atau apa ? "
Tanya Alena khawatir
Arven memegang dadanya
" Kenapa ? jantung lo sakit ? " tanya Alena dengan raut wajahnya yang panik
" Degdegan hehe "
Alena pun langsung memukul Arven, namun raut wajahnya menunjukkan jika ia senang
" Apasih ga jelas Ar"
" Lo cantik, tapi sayang "
Ucap Arven memuji
" Sayang kenapa ? " tanya Alena
" Ga apa apa sayang "
Alena tertawa dan memukul Arven
" Arven nyebelin "
" Tapi sayangkan ? "
" Engga "
" Masa ? "
" Iyaah, udah ayo jadi pergi ga ? "
" Jadi jadi "
Segera mereka masuk kedalam mobil, dan pergi menuju tempat tujuan mereka.
...
Arven mengajak Alena untuk makan malam di sebuah cafe yang cukup romantis bagi dirinya.
setelah 17 tempat yang Bayu rekomendasikan, akhirnya pilihan Arven jatuh pada tempat ini.
Didepan mereka terdapat danau buatan yang cukup bagus, dengan hiasan lampu gantung membuat tempat itu semakin romantis.
Alena mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto sekelilingnya, diam-diam juga ia mengambil foto Arven yang tepat ada dihadapannya.
" Tumben lo bisa milih tempat kayak gini ? "
" Ide Bayu "
" Bayu lagi ? "
" Hmm "
" Apa gue pacarin Bayu aja ya ? "
" Alenaaaa "
Alena tertawa melihat wajah Arven.
" Lo mau makan apa Al ? "
Tanya Arven saat membaca buku menu
" Yang paling mahal disini "
" Boleh "
" Tapi lo yang bayar "
" Ya iya dong, lo mau minta gue beli cafe ini juga gue beli "
" Iyah deh Pak CEO "
Arven tersenyum, ia memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka.
Disaat mereka sedang menunggu makanan, Alena dibuat salah fokus dengan sepasang pasangan yang tak jauh dari mereka.
Pria itu memberikan sebuah cincin, bisa Alena tebak jika pria itu sedang melamar kekasihnya.
Arven yang penasaran pun ikut melihat apa yang Alena lihat.
" Alena . . "
" Ya, kenapa ? "
" Jangan jadian sama Raka ya "
" Tiba-tiba ko jadi Raka ? "
" Ya yaudah jangan jadian sama Bayu ya "
" Apasih ga jelas deh "
Alena tersenyum dan begitu juga dengan Arven.
....
Setelah selesai makan, Alena berdiri sambil menatap kearah danau.
Arven menghampiri Alena dan berdiri tepat disampingnya.
" Alena.. "
" Ya, kenapa ? "
Alena menoleh
Arven mengeluarkan sebuah kotak dari dalam jaketnya.
" Tenang bukan cincin "
Ucap Arven sebelum Alena bertanya
Didalamnya ada sepasang gantungan kunci, dengan bentuk pengantin wanita dan pengantin pria.
Alena tersenyum sambil merapihkan rambutnya yang berterbangan karena angin.
" Kenapa gantungan kunci ? "
" Biar gue inget, kalau gue pengen sama lo sampai 50 tahun lagi "
Alena tersenyum dan mengangguk
" Alena.. "
" Yaa.. Kenapa ? "
" Kalau nanti ada kehidupan lagi dimasa depan.. "
" Gue berharap kalau gue sehat, dan gue bisa temuin lo dengan cepat "
" Agar gue bisa nikmatin waktu yang panjang sama lo Al "
Mata Alena mulai panas, hingga air mata tak bisa ia tahan kembali
Arven menghapus air mata Alena di wajahnya.
" Jangan nangis "
" Kelilipan Arven "
Arven tertawa begitu juga dengan Alena..
Bayu dan Reza melihat semuanya, diam-diam tanpa Arven dan Alena tau.
Mereka merekam semua itu..
" Peluk kek, cium kek, kaku banget heran " ucap Bayu geregetan
" Kayak ga tau aja kalau temen lo itu kaku "
" Temen lo Za "
" Temen Lo Bay "
" Temen lo Za "
" Ah bodo ah, udah ayo cabut ga asik " ajak Reza dan Bayu mengangguk