NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

Suara gebrakan benda keras terdengar mengejutkan. Membelah keheningan dan kenyamanan yang sempat tercipta.

Mohan melepaskan pelukannya. Wajahnya berubah dingin dan mengeras, mengutuk siapapun yang mengusik kesenangan nya. Sikap waspada terpasang sempurna, siap melangkah maju, namun tiba‑tiba lengannya dicekal erat oleh Naysilla.

"Momon..." ucapannya manja, ia mencekal lengannya erat sekali.

"Nanti kita lanjutin" bisiknya lirih, yang seketika membuat gadis itu melotot sempurna. Bisa-bisanya ia bercanda dalam situasi yang seperti ini.

"Ih... Apaan sih"

Gadis itu mencubit pelan pinggang Mohan, menumpahkan kekesalan disana tanpa ampun. Namun cowok itu hanya membalasnya dengan senyum menyebalkan, justru membuat emosi Naysilla makin memuncak.

"Na, tenang dulu....! ini ruangan udah lama kosong, kayaknya sih agak-agak" bisik Mohan lirih, mencoba menakut-nakuti.

"Agak apaan? Nggak usah nakut-nakutin deh..." rengek nya manja, ia menempelkan seluruh tubuhnya di balik punggung lebar cowok itu. Menyembunyikan wajah di sela ketiak. Diam-diam Mohan menahan senyum dengan wajah gemas.

Mohan membuka tuas pintu perlahan, dan seketika daun pintu terbuka lebar. Sosok pemuda berhoodie hitam jatuh tersungkur ke bawah. Wajahnya meringis, menahan ngilu di bagian dahinya.

"Ngapain disini?" tanya Mohan sewot, setelah mengenali sosok tersebut.

"Hehehe... Sorry bos, apa udah selesai" ia bangkit pelan-pelan dengan tubuh sedikit membungkuk hormat.

Mohan enggan menjawab, ia hanya melotot, memasang ekspresi protes tingkat tinggi padanya. Sedangkan Naysilla masih betah bersembunyi di balik ketiaknya.

"Sorry bos, ada info penting" bisiknya lirih, ia melirik gadis yang bersembunyi dibalik tubuh besar atasannya, Mohan mengangguk pertanda semua aman, karena gadisnya bukan ancaman.

"Katakan...!"

"Tepat di malam terakhir persidangan, waktu bos mau cari bukti terakhir, ada yang diam-diam mencampurkan obat tidur kedalam minuman anda, tuan muda" terangnya lantang. Dibalik punggung lebar cowok itu, Naysilla diam-diam ikut mendengarkan dan mengamati semuanya.

"Ada yang sengaja berpenampilan seperti nona ini, untuk mengelabui bos dan merekayasa adegan untuk kepentingan mereka" ia menunjuk Naysilla yang pelan-pelan mulai mengangkat wajahnya.

"Kenapa harus niru gue?" ucap Naysilla penasaran.

"Karena bos Mohan itu sebenarnya..."

"Firmansyah..." ucap Mohan lirih, kalimatnya penuh penekanan.

"Eh... Iya, iya bos"

"Lanjut!"

"Mereka mengirim foto itu ke dalam sebuah forum khusus kejahatan dan berita gosip yang mereka bangun sendiri " ia menjeda ucapannya, mengatur napas yang sempat sesak karena kebanyakan bicara.

"Tapi di hari sebelumnya, entah bagaimana caranya nona ini bisa masuk kedalam forum itu, dan menyaksikan sendiri foto itu" ia menunjukkan bukti sebuah tangkapan layar, yang menjawab pertanyaan Mohan selama ini.

"Jadi awalnya mereka fitnah gue buat jelekin gue?" tanya Naysilla, napasnya memburu menahan gejolak yang hampir membakar logika.

"Awalnya memang benar seperti itu, tujuannya supaya semua orang semakin membenci kalian dan tidak memberi dukungan apapun di persidangan terakhir. Mereka menginginkan kalian pergi dari sini"

"Jadi, sosok misterius yang diam-diam kasih info dan bantuin aku masuk ke grup itu..."

"Itu untuk kepentingan dia sendiri. Gue belum bisa memastikan apa motif sebenarnya dibalik sikapnya yang menentang. Tapi menurut gue, orang itu pasti punya pengaruh besar makanya temannya nggak bisa berkutik dan malah membuat strategi baru yang lebih menyakitkan"

"Maksudnya?" Naysilla maju ke depan Mohan, mulai tertarik dengan isi pembahasan. Tapi sayangnya, Mohan mana rela membiarkannya dekat-dekat dengan cowok lain. Ia menariknya pelan, membawanya ke dalam pelukan.

"Eee... Itu..." ia menunduk canggung melihat sikap terang-terangan tuan mudanya.

"Lanjut...!" ucap Mohan dingin, penuh penekanan.

"Mungkin ketauan kalo ternyata nona malahan ikut bergabung ke grup mereka. Jadi kembali mengirim foto dengan posisi wajah lebih jelas"

"Tapi sejelas apapun foto itu, orang yang melihatnya tak akan paham, karena tiruan itu benar-benar mirip sekali dengan nona. Dia bahkan memoles wajahnya sangat mirip dengan nona, serta gaya rambut dan pakaiannya"

Diam-diam Mohan menyusun potongan ingatan yang tersisa. Tentang pakaian, gaya rambut dan wangi tubuh gadis peniru itu yang benar-benar meniru semua tentang Naysilla.

"Kenapa waktunya pas banget di malam itu?"

"Pertanyaan cerdas nona, karena mereka tau, jika tuan muda pasti akan bergerak di malam itu untuk kembali mengumpulkan bukti terakhir. Secara langsung mereka ingin menghalanginya lewat obat tidur itu" terangnya.

"Licik juga orang itu yah" Naysilla mencengkeram lengan Mohan yang melingkari perutnya. Menumpahkan kekesalan disana.

"Sangat licik, nona harus berhati-hati dengan semua orang, entah itu orang yang selama ini bersikap baik sekalipun" ia menatap Naysilla penuh arti, mengisyaratkan ada maksud tersembunyi di balik ucapannya.

"Tapi...." gadis itu menatap wajah pemuda berhoodie hitam penuh seksama.

"I-iya, nona. Ada yang mau ditanyakan lagi?" ucap pemuda itu gugup, bukan karena tatapan gadis itu, tapi sosok di belakangnya yang memasang wajah penuh ancaman peringatan.

"Kayak nggak asing wajahnya. Coba buka bajunya!"

"Na...!" Mohan membalikkan tubuh gadis itu untuk menghadapnya, menatapnya intens dengan sorot tanda tanya.

"Bukan gitu, maksudnya Hoodie nya ajah. Soalnya wajahnya kaya nggak asing"

Pemuda itu menurutinya, dan benar saja seketika Naysilla langsung mengenalinya.

"Tuh kan, ini kan kakak OSIS yang waktu itu" ia menuding tepat didepan wajahnya.

"Nona jeli sekali, sampai paham begitu"

"Keluar...!" pinta Mohan mutlak.

"Siap bos...!" ia angkat kaki seketika, kembali menutup pintu rapat-rapat tanpa cela seperti semula.

kesunyian terambil alih, rasa aman kembali mereka dapatkan. Mohan menatap wajah gadis di depannya begitu lembut. Tangannya mencengkeram halus pundak mungilnya, menuntun pelan, mendesak halus ke ujung pintu.

"Kenapa nggak bilang gue?"

"Bilang apa?"

"Grup itu"

"Lo mau liat?"

"Nanti ajah, yang penting semuanya udah jelas" ucapnya lega.

Ia kembali mengukung tubuh ramping gadis itu. Mendekapnya erat, menumpahkan kerinduan yang selama ini tertahan, dan menghancurkan kekecewaan yang selama ini mengganjal di hatinya.

“Momon…” panggil Naysilla dengan nada manja, membenamkan wajah di dada bidang cowok itu.

Namun kedamaian itu tak berlangsung lama.

Tiba‑tiba terdengar suara langkah kaki dan obrolan riuh memecah sunyi dari arah luar. Suaranya makin jelas, makin mendekat.

Mohan segera menoleh, lalu mengintip hati‑hati lewat celah pintu yang sedikit menganga. Naysilla pun ikut mengintip dari balik bahunya, jantungnya berdegup kencang.

Di luar sana terlihat sekelompok siswa berjalan diikuti seorang guru, seolah sedang berkeliling memeriksa sudut‑sudut sekolah. Mereka mengarah tepat ke tempat persembunyian.

Lalu datang sosok Firmansyah, seorang anggota OSIS tiba-tiba menghadangnya. Seolah-olah ia tengah ikut memeriksa area itu, dan mengatakan semua aman, demi melindungi tuannya.

Guru itu mengangguk mengerti, lalu memimpin rombongan berbalik arah menjauh perlahan.

Begitu suara langkah kaki itu makin menjauh, Mohan justru tak melepaskan pelukannya. Malah dipererat lagi, bibirnya tersenyum menggoda mendengar napas lega Naysilla.

“Liat? Ada yang jaga, aman kok,” bisiknya lirih, tepat di telinga gadis itu.

Naysilla mendengus malu, tapi tak berusaha melepaskan diri. Malah membalas pelukan itu, membenamkan wajah makin dalam, seolah tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di luar sana. Biar saja di luar tegang, asalkan di dalam ini tetap hangat dan milik mereka berdua.

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!