NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pelarian ke Suaka Darah

Hujan badai menghantam atap beton Leonidas Tower tanpa ampun. Angin malam bergemuruh kencang, nyaris meredam suara baling-baling helikopter evakuasi lapis baja yang telah menunggu di landasan helipad darurat.

​Xander melangkah cepat menembus badai, menolak membiarkan pengawalnya mengambil alih beban di lengannya. Di dalam pelukannya, Alana membenamkan wajahnya di dada Xander, berlindung dari angin kencang dan kengerian yang baru saja ia saksikan. Di belakang mereka, Dante dan Elena setengah membopong Sarah yang wajahnya sepucat mayat akibat syok berat.

​"Naik! Pastikan perimeter aman!" teriak Dante melalui komunikator radionya, mengarahkan Elena dan Sarah masuk lebih dulu ke dalam perut helikopter.

​Xander melompat naik, menyelimuti tubuh istrinya dengan jas tebal milik salah satu pengawal yang disodorkan kepadanya. Begitu pintu geser helikopter ditutup, burung besi itu langsung melesat membelah langit malam Jakarta yang kelam, meninggalkan gedung pencakar langit yang lantai teratasnya kini mengepulkan asap sisa baku tembak.

​Dua puluh menit penerbangan yang menegangkan melintasi badai, helikopter itu akhirnya mendarat di landasan pacu pribadi milik Leonidas Group yang tersembunyi di pinggiran kota. Sebuah pesawat jet Gulfstream G650ER berwarna hitam pekat—bernama sandi Aegis One—telah menunggu dengan mesin jet yang menderu halus, siap lepas landas.

​Suasana di dalam Aegis One sangat kontras dengan neraka yang baru saja mereka tinggalkan. Kabin jet itu didesain dengan kemewahan tingkat dewa, dihiasi kayu walnut dan kursi kulit berwarna krem.

​Sarah langsung dibawa ke kabin medis di bagian belakang oleh Elena untuk diberikan obat penenang, sementara Xander membawa Alana ke kamar suite utama di bagian depan pesawat.

​Xander mendudukkan Alana di tepi ranjang berukuran queen. Pria itu kemudian berlutut di atas lantai berkarpet tebal, melepaskan sepatu hak tinggi Alana yang basah dan kotor dengan gerakan yang sangat lembut.

​"Kau berdarah," bisik Alana parau. Tangannya yang masih gemetar terulur, menyentuh luka goresan di rahang suaminya akibat serpihan kaca.

​Xander menangkap tangan kecil itu dan mengecup telapak tangannya dalam-dalam. Mata obsidiannya menatap langsung ke dalam manik mata Alana yang masih memancarkan ketakutan.

​"Ini bukan darahku, Sayang," jawab Xander dengan suara bariton yang serak. Ia menghela napas panjang, meruntuhkan sebagian dinding pertahanannya. "Maafkan aku. Maafkan aku karena kau harus melihat sisi diriku yang ini. Sisi gelap yang selama ini kubangun untuk menguasai dunia."

​Alana menggeleng pelan, air matanya kembali menggenang. "Siapa mereka, Xander? Kenapa mereka ingin membunuh kita? Pria di telepon itu... Ivan Volkov... siapa dia?"

​Xander bangkit berdiri, berjalan ke arah kabinet kecil, dan menuangkan segelas air hangat. Ia menyerahkannya pada Alana sebelum duduk di sisinya.

​"Lima tahun yang lalu di Makau, sebelum aku mengambil alih bisnis legal keluargaku, aku memimpin faksi bawah tanah Leonidas," cerita Xander perlahan, tidak lagi berniat menyembunyikan masa lalunya. "Kartel Volkov adalah penguasa pasar gelap Rusia yang mencoba merampas wilayah kami. Terjadi perang besar. Aku mengeksekusi pemimpin mereka, kakak kandung Ivan. Aku pikir kartel itu telah hancur bersamanya."

​Xander menangkup kedua pipi Alana, menatapnya dengan intensitas yang membakar. "Ivan kembali untuk menuntut balas. Dan dia sadar, membunuhku di medan perang adalah hal yang mustahil. Jadi dia mengincar satu-satunya hal yang bisa membuatku hancur. Dia mengincarmu, Alana."

​Alana menelan ludah. Rasa takut kembali merayap di tengkuknya, namun saat ia melihat penderitaan dan penyesalan di mata suaminya, rasa cinta itu jauh lebih besar. Alana meletakkan gelasnya dan memeluk leher Xander erat.

​"Kita akan pergi ke mana sekarang?" bisik Alana.

​"Pulau Hantu," balas Xander, mengusap punggung istrinya dengan protektif. "Sebuah pulau tak berpenghuni di Samudra Hindia yang telah kuubah menjadi benteng militer tak tertembus. Radar satelit manapun tidak bisa melacaknya. Di sana, kau akan aman. Dan dari sana, aku akan memimpin pembantaian untuk membumihanguskan klan Volkov dari muka bumi."

​Sementara itu, di kabin bagian tengah jet, Dante tengah berdiri di depan monitor navigasi. Pesawat baru saja mencapai ketinggian jelajah di atas awan, menembus cuaca buruk menuju titik koordinat rahasia.

​Salah satu pengawal pribadi berseragam hitam menghampiri Dante, menyodorkan sebuah tablet enkripsi. "Tuan Dante, kita sudah keluar dari jangkauan radar nasional. Protokol siluman diaktifkan."

​Dante mengangguk kaku. "Bagus. Jangan sampai ada satu pun transmisi sinyal yang keluar atau masuk dari pesawat ini."

​Pengawal itu mengangguk, lalu berbalik pergi menuju kompartemen belakang. Namun, begitu ia berbelok di sudut lorong yang terhindar dari kamera CCTV kabin, langkahnya terhenti. Pengawal itu melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada Elena atau kru lain di dekatnya.

​Dengan sangat hati-hati, pria itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah alat pelacak pemancar gelombang mikro berbentuk seperti kepingan koin kecil. Ia menempelkan alat itu di balik panel ventilasi udara pesawat, lalu menekan tombol kecil di tengahnya. Sebuah lampu merah berkedip sangat redup.

​Sinyal rahasia itu menembus langit malam, melesat ribuan kilometer menuju sebuah kastil salju di Moskow.

​Pengawal itu menyeringai tipis. Ivan Volkov tidak hanya memaksa sang Iblis berlari menuju sarangnya, tetapi juga mengirimkan petunjuk arah agar rudal jarak jauh mereka tahu persis ke mana harus dijatuhkan.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!