NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 26 Cemburu Putra Mahkota

Ruang kerja raja pagi itu terasa tenang dengan aroma kayu gaharu yang samar memenuhi udara. Raja sedang membaca laporan kerajaan ketika penjaga membuka pintu perlahan.

“Yang Mulia… Pangeran Aruna datang.”

Raja sedikit terdiam.

Jarang sekali Aruna datang sendiri menemuinya secara resmi seperti ini.

“Biarkan masuk.”

Tak lama kemudian, Ravin masuk dengan pakaian hitam sederhana khas pangeran kerajaan. Wajahnya tenang, namun sorot matanya terlihat jauh lebih serius dari biasanya.

Raja memandang putranya beberapa saat.

Meski selama ini hubungan mereka terlihat dingin di mata istana…

sebenarnya raja selalu diam-diam memperhatikan dan melindungi Aruna lebih dari siapa pun.

Hanya saja…

ia tidak pernah pandai menunjukkannya sebagai seorang ayah.

“Ada apa?” tanya raja tetap berwibawa.

Ravin berdiri tegak lalu menatap ayahnya langsung.

“Aku datang untuk meminta izin.”

Raja sedikit mengernyit.

“Izin?”

Ravin menarik napas pelan.

“Aku ingin menikahi seseorang.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresi raja benar-benar berubah.

“Menikah?”

Nada suaranya bahkan terdengar seperti seorang ayah biasa yang terkejut sekaligus penasaran.

Raja perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandang Aruna lebih dalam.

“Siapa wanita itu?”

Tatapan Ravin langsung melembut sedikit.

“Arum.”

Ruangan mendadak sunyi.

Raja membeku beberapa detik.

“Putri pertama Raden Wijaya?”

Ravin mengangguk tanpa ragu.

Entah apa yang sebenarnya terjadi dalam hati Ravin akhir-akhir ini.

Namun sejak bersama Arum…

ia mulai menginginkan kehidupan yang jauh dari istana.

Jauh dari perebutan kekuasaan.

Jauh dari tahta.

Dan untuk pertama kalinya…

ia menginginkan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.

“Aku tidak peduli soal tahta.”

Suara Ravin terdengar tenang namun tegas.

“Aku juga tidak akan menghalangi pernikahan putra mahkota.”

Tatapannya lurus pada raja.

“Aku hanya menginginkan Arum.”

Raja perlahan terdiam.

Hatinya justru semakin berat mendengar itu.

Karena sekarang…

kedua putranya menginginkan wanita yang sama.

Dan Arum perlahan menjadi pusat dari masalah besar kerajaan.

“Aku membutuhkan waktu untuk memikirkannya,” jawab raja akhirnya.

Namun Ravin tidak terlihat kecewa.

Setidaknya…

ia sudah menyatakan keinginannya secara langsung.

“Aku akan menunggu jawaban ayah.”

Untuk sesaat raja sedikit membeku mendengar kata itu.

Ayah.

Sudah lama Aruna tidak memanggilnya seperti itu.

Dan sebelum raja sempat mengatakan apa pun lagi, Ravin sudah membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan.

Sementara raja tetap diam di kursinya dengan wajah penuh tekanan.

Karena ia mulai merasa…

takdir kerajaan bergerak terlalu cepat menuju kehancuran.

Di sisi lain istana, Putra Mahkota Yudra baru saja kembali diam-diam dari luar istana setelah bertemu Arum.

Ia berhasil masuk ke kamar tanpa diketahui penjaga.

Namun begitu membuka pintu—

langkahnya langsung berhenti.

Seseorang sudah duduk santai di kursinya dalam ruangan gelap itu.

Yudra langsung menegang.

“Aruna.”

Cahaya lilin memperlihatkan Ravin yang tersenyum tipis sambil menyilangkan kaki.

“Akhirnya kembali juga.”

Yudra langsung menutup pintu cepat.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?”

Ravin berdiri perlahan.

Tatapannya terlihat santai namun menusuk.

“Aku cuma ingin mengatakan sesuatu.”

Yudra memandangnya dingin.

“Apa?”

Ravin melangkah mendekat sedikit.

“Berhentilah menemui calon istriku.”

Kalimat itu membuat Yudra langsung membeku.

“Apa?”

Ravin tersenyum kecil penuh kemenangan.

“Arum.”

Nama itu terasa seperti menekan dada Yudra semakin dalam.

“Aku sudah meminta izin raja untuk menikahinya.”

Tatapan Yudra langsung berubah gelap.

Meski wajahnya tetap tenang…

amarah dan kecewa mulai memenuhi pikirannya.

Ravin memperhatikan perubahan kecil itu dengan puas.

“Lagipula,” lanjutnya santai, “kau harus menjaga perasaan calon putri mahkota.”

Yudra mengepalkan tangannya pelan di sisi tubuhnya.

“Kau serius?”

“Tentu.”

Ravin menatapnya lurus.

“Aku tidak suka melihatmu terus mendekati Arum.”

Untuk pertama kalinya Yudra merasakan rasa kalah yang begitu jelas.

Dan lebih menyakitkan lagi…

Aruna terlihat benar-benar serius terhadap Arum.

Ravin akhirnya tersenyum tipis puas melihat tatapan penuh emosi Yudra.

Ia sengaja datang.

Sengaja mengucapkan semuanya.

Dan sengaja membuat Yudra cemburu.

“Aku harap kau mengerti posisi masing-masing sekarang.”

Setelah mengatakan itu, Ravin berjalan melewati Yudra menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Jangan ganggu calon istriku lagi.”

Pintu tertutup pelan.

Meninggalkan Yudra sendirian di kamar dengan tangan mengepal kuat dan hati yang dipenuhi kemarahan, kecemburuan, dan rasa sesak yang tidak bisa ia hentikan lagi.

Lorong taman istana siang itu dipenuhi cahaya matahari keemasan yang menembus sela pepohonan. Ravin berjalan santai dengan senyum yang bahkan sulit disembunyikan dari wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke masa lalu… hatinya terasa begitu ringan. Ia bahkan terkadang tertawa kecil sendiri mengingat ekspresi Putra Mahkota Yudra tadi.

“Menang telak…” gumamnya puas.

Lucu rasanya memikirkan bagaimana di dunia modern dulu dirinya selalu kalah saat berhubungan dengan Dewi. Selalu merasa tertinggal. Namun sekarang berbeda. Di dunia ini…

yang mereka perebutkan adalah Arum.

Dan kali ini…

Ravin merasa dirinya lah pemenangnya. Yang lebih aneh lagi—

nama Dewi perlahan mulai menghilang dari pikirannya.

Tidak ada lagi rasa sesak setiap mengingat gadis itu.

Tidak ada lagi keinginan mengejar seseorang yang tidak pernah benar-benar melihat dirinya.

Karena sekarang…

setiap kali memikirkan seseorang, yang muncul justru Arum.

Senyumnya.

Tatapannya.

Dan cara gadis itu memandangnya dengan tulus.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?”

Suara Arum membuat Ravin langsung menoleh.

Arum berjalan mendekatinya sambil membawa beberapa bunga kecil dari taman dengan wajah curiga.

“Kamu kelihatan menyeramkan.”

Ravin malah terkekeh kecil.

“Aku lagi bahagia.”

Arum langsung mengernyit.

“Habis bikin masalah ya?”

Ravin mendekat sedikit lalu berkata santai—

“Jangan lupa, di sini aku pangeran.”

Arum langsung menatap sinis.

“Terus?”

“Kau harus hormat padaku.”

Arum spontan memutar mata malas.

“Mimpi.”

Ravin tertawa puas melihat reaksi Arum yang selalu apa adanya padanya. Justru itu yang membuatnya nyaman. Tidak seperti orang istana lain yang selalu bicara penuh kepalsuan.

Ravin lalu tiba-tiba menatap Arum lebih serius.

“Malam ini ikut aku.”

Arum berkedip bingung.

“Kemana?”

“Makan malam.”

Ravin tersenyum kecil.

“Bersama ibuku.”

Arum langsung membeku.

“HAH?!”

Ravin malah terlihat santai.

“Aku ingin memperkenalkanmu.”

Wajah Arum langsung memerah panik.

“T-Tunggu dulu!”

Ia hampir tersedak sendiri.

“Aku belum pernah bertemu Selir Ratih!”

Meski sering mendengar nama wanita itu dari orang-orang istana, Arum tahu Selir Ratih adalah sosok yang dihormati sekaligus disegani di kerajaan.

Mantan ratu.

Ibu Pangeran Aruna.

Dan sekarang…

Ravin ingin membawanya makan malam bersama wanita itu?!

“Aku belum siap!” Arum langsung mundur panik.

Ravin malah menikmati reaksinya.

“Kenapa gugup?”

“Tentu saja gugup!”

Arum memegang wajahnya sendiri yang mulai panas.

“Bagaimana kalau ibumu tidak suka padaku?!”

Tatapan Ravin langsung melembut sedikit.

“Itu tidak akan terjadi.”

Nada suaranya terdengar begitu yakin sampai membuat jantung Arum berdetak aneh lagi.

Ravin tersenyum kecil sambil menatap Arum.

“Karena aku serius denganmu.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat Arum diam tidak bisa membalas apa pun.

Sementara itu di dalam istana suasananya jauh berbeda. Pintu ruang latihan dibanting keras oleh Putra Mahkota Yudra hingga para pelayan langsung menunduk ketakutan. Wajah Yudra benar-benar dingin dan gelap. Tidak ada satu pun orang berani menatap langsung ke arahnya.

“Yang Mulia, teh Anda—”

Brak.

Cangkir teh langsung dilempar jatuh ke lantai sebelum pelayan selesai bicara.

“Keluar.”

Suara Yudra rendah namun penuh kemarahan.

Pelayan itu langsung gemetar ketakutan.

“Maafkan hamba!”

Semua orang buru-buru keluar ruangan.

Namun bahkan setelah itu…

amarah Yudra belum mereda sedikit pun.

Bayangan Ravin terus muncul di pikirannya.

Calon istriku.

Kalimat itu terus terngiang membuat dadanya semakin panas.

Arum…

menikah dengan Aruna?

Yudra mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai urat di lehernya terlihat jelas. Ia tidak bisa menerima itu.

Tidak bisa.

Pengawal yang datang membawa laporan kerajaan bahkan ikut terkena amarahnya.

“Hal kecil seperti ini saja tidak becus?!”

Pengawal langsung menunduk ketakutan.

“Maaf, Yang Mulia!”

Seluruh istana mulai menyadari suasana hati putra mahkota sedang sangat buruk hari ini.

Dan semua orang memilih menjauh.

Karena untuk pertama kalinya…

Putra Mahkota Yudra terlihat benar-benar kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!