NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Mayat-mayat manusia

Ia tahu betul, dengan kecepatan yang ditunjukkan Gu Tian saat menyelamatkan Qian'er tadi, anak itu sebenarnya bisa menghancurkan boneka roh ini sendirian hanya dalam satu kedipan mata.

Mereka melanjutkan perjalanan bergerak lebih dalam ke arah area hutan mati yang dipenuhi pohon-pohon hitam tanpa daun. Namun, baru berjalan beberapa menit, bau anyir darah yang teramat pekat menusuk hidung mereka.

​Di sebuah area terbuka di tengah hutan, mereka menemukan pemandangan yang mengerikan. Empat orang murid dari tim lain tergeletak di atas tanah—semuanya telah menjadi mayat yang mendingin.

​Xiao Chen melangkah mendekat untuk memeriksa kondisi mayat-mayat tersebut, dan seketika itu juga matanya menyipit tajam.

​Tidak ada tanda-tanda kerusakan besar di sekitar lokasi, yang berarti tidak ada pertarungan sengit yang terjadi. Namun, di leher setiap korban, terdapat satu garis luka sayatan yang teramat tipis dan rapi. Mereka semua dibunuh dengan satu tebasan instan yang sangat presisi dari arah belakang. Dan seperti yang diduga, seluruh token di kantong penyimpanan mereka telah raib.

​Uwek...

​Bao Hu tidak sanggup menahan mual melihat darah yang menggenang dan langsung muntah di balik pohon. Wajah Qian'er juga berubah pucat pasi, tubuhnya gemetar melihat betapa efisiennya nyawa sesama murid dihabisi di tempat ini.

​Xiao Chen langsung berdiri, menggenggam erat hulu pedangnya sambil mengedarkan pandangan waspada ke atas pepohonan hitam.

​"Ini sama sekali bukan ulah dari binatang buas ataupun boneka roh lembah, Xiao Chen," suara Roh Pedang bergema di dalam kepalanya dengan nada yang sangat serius. "Melihat kerapian luka dan cara mereka menyembunyikan hawa keberadaan... ini adalah pekerjaan dari seorang pembunuh profesional."

​Malam pertama pun tiba di Lembah Seribu Roh. Kabut tebal mulai turun, membatasi jarak pandang hanya menjadi beberapa meter saja. Tim Xiao Chen memutuskan untuk mendirikan tenda darurat di bawah perlindungan akar pohon raksasa.

​Xiao Chen mengajukan diri untuk mengambil giliran jaga pertama sendirian. Ia duduk di atas sebatang kayu mati dengan mata yang terus menyapu kegelapan hutan.

​Sret...

​Sebuah gesekan ranting yang teramat halus terdengar dari arah atas pohon di sebelah kirinya. Insting Xiao Chen menjerit ekstrem. Saat ia mendongak tajam, di balik rimbunnya dedaunan hitam, sepasang mata berwarna merah dingin tampak sedang menatap lurus ke arahnya dari kegelapan. Aura membunuh yang sangat tipis namun teramat pekat sempat menguar di udara.

​Namun, sebelum Xiao Chen sempat melompat untuk mengejar, sepasang mata merah itu langsung lenyap tanpa jejak, seolah-olah menyatu kembali dengan kegelapan malam.

​"Kita sedang diburu."

​Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Xiao Chen menoleh dan mendapati Gu Tian sudah berdiri di sana sejak kapan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajah malas dan mengantuk yang biasa ditunjukkan Gu Tian kini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi yang sangat serius dan dingin.

​Keesokan paginya, kekhawatiran mereka terbukti. Saat mereka hendak melintasi sebuah dataran tinggi berbatu, jalan mereka langsung dicegat oleh empat orang murid luar. Itu adalah Tim 1—kelompok murid dari keluarga kaya yang sempat mengancam Xiao Chen sebelum ujian dimulai(Mereka mengikuti ujian jalur umum karena alasan tertentu seperti tidak bayar)

​"Menyerahkan seluruh token kalian sekarang juga, atau kami akan mematahkan kaki kalian dan membiarkan kalian membusuk di lembah ini!" Seru sang pemimpin tim dengan senyum arogan.

​Keempat musuh mereka langsung mengaktifkan artefak pelindung tingkat satu dan dua yang tergantung di pinggang mereka, menciptakan lapisan pelindung cahaya yang berkilauan. Tidak hanya itu, mereka juga mulai mengalirkan Qi untuk mengaktifkan teknik-teknik bela diri mahal yang mereka beli dari luar sekte.

​"Jangan harap!" Raung Bao Hu. Dengan brutal, ia maju menerjang, mengayunkan kapak kayunya dengan hantaman berat yang mengincar pelindung lawan. BOOM! Pertarungan besar pertama pun pecah.

​Qian'er bergerak lincah di barisan belakang, menjentikkan jarum-jarumnya yang membawa racun area, menciptakan kabut ungu tipis yang membatasi pergerakan musuh dan melemahkan pelindung cahaya mereka. Sementara itu, Xiao Chen langsung melesat maju, mengunci gerakan sang pemimpin tim dalam duel pedang yang sengit.

​Bagaimana dengan Gu Tian? Ia hanya melompat-lompat mundur dengan malas, menghindari setiap tebasan pedang dari dua anggota musuh lainnya tanpa berniat membalas serangan.

​"Kenapa semua orang di tempat ini selalu saja suka mencari masalah yang merepotkan..." keluh Gu Tian sambil terus menguap di tengah desingan senjata.

​Di sisi lain arena berbatu, pemimpin Tim 1 yang mulai terdesak oleh ketenangan teknik Xiao Chen menjadi murka. Sambil menangkis tebasan Xiao Chen, ia berteriak mengejek, "Bocah sialan dari desa kumuh! Sampah sepertimu tidak pantas menjadi murid dalam Sekte Pedang Langit! Kau dan seluruh orang di desamu hanyalah sekumpulan tikus tanah yang menjijikkan!"

​Mendengar desanya dihina dengan begitu kejam, memori masa lalu yang kelam seketika terlintas di kepala Xiao Chen. Emosinya meledak seketika. Darahnya mendidih, dan tanpa ia sadari, simbol pedang di pergelangan tangannya kembali berdenyut panas.

​Wuuusss—

​Aura hitam samar yang teramat dingin dan pekat mulai merembes keluar dari balik jubah Xiao Chen. Matanya mulai memancarkan kilatan warna merah gelap yang mengerikan.

​"Tenang, Xiao Chen! Kendalikan dirimu! Jangan biarkan kebencian itu melepaskan segel Pedang Iblis!" Suara Roh Pedang berteriak lantang di dalam benaknya, melepaskan gelombang kejutan spiritual yang langsung menyadarkan Xiao Chen.

​Xiao Chen menggertakkan giginya sekuat tenaga, menarik napas dalam, dan berhasil menekan kembali aura hitam tersebut sebelum menguasai tubuhnya sepenuhnya. Namun, meskipun aura itu hanya muncul selama seperseratus detik, sang pemimpin tim yang berada paling dekat dengannya sempat merasakannya. Wajah pemuda bangsawan itu seketika memucat pasi, tangannya gemetar hebat karena rasa horor yang tak dapat dijelaskan oleh akal sehat barusan.

​Melihat pemimpin mereka mendadak membeku ketakutan, salah satu anggota Tim 1 mencoba mengambil kesempatan dengan melesat diam-diam ke arah belakang untuk menyerang Qian'er yang sedang fokus mempertahankan kabut racunnya.

​"Mati kau, Gadis Sialan!"

​Melihat Qian'er dalam bahaya, pandangan Gu Tian mendadak mengencang.

​Sret—

​Gerakan Gu Tian terjadi dalam fraksi detik yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Tangan kanannya bergerak menyentuh hulu pedang tua lusuhnya, lalu menariknya keluar sedikit hanya sepanjang tiga inci sebelum memasukkannya kembali ke dalam sarungnya dengan suara klik yang halus.

​KRAAAAAK!!!

​Secara mendadak, sebuah gelombang tebasan angin tak kasat mata yang teramat tajam melesat memotong udara. Seluruh lapisan artefak pelindung tingkat satu dan dua milik anggota musuh yang hendak menyerang Qian'er—bahkan seluruh artefak milik anggota tim mereka lainnya—seketika hancur berkeping-keping menjadi abu batu.

​Semua orang di area tersebut langsung syok dan membeku di tempat. Benturan energi itu begitu bersih dan cepat, bahkan Xiao Chen yang memiliki pemahaman pedang tinggi pun sama sekali tidak bisa melihat bagaimana lintasan tebasan pedang Gu Tian barusan.

​Gu Tian kembali meletakkan tangannya di belakang kepala, berjalan santai sambil berkata datar:

​“Sudah kubilang sejak awal... jangan pernah melakukan hal-hal yang merepotkanku.”

​Pemimpin Tim 1 yang melihat seluruh artefak mahal mereka hancur hanya dalam satu gerakan tak kasat mata langsung jatuh berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia meraba kantong penyimpanannya dan melemparkan seluruh token yang mereka miliki ke tanah di depan Xiao Chen.

​"K-kami menyerah! Ambil ini! Ambil semua ini!" Teriaknya histeris. Namun, sebelum ia membalikkan tubuh untuk melarikan diri bersama anggota timnya, ia menatap Xiao Chen dan Gu Tian dengan pandangan yang dipenuhi ketakutan mendalam.

​"Kalian... kalian tidak tahu apa-apa... Ada monster sejati yang sedang berkeliaran di dalam lembah ini! Tim-tim lain... mereka semua mulai menghilang satu per satu tanpa sisa!"

​Setelah mengucapkan kalimat mengerikan itu, mereka berempat langsung berlari tunggang-langgang menembus kabut, meninggalkan area berbatu tersebut.

​Malam kedua pun tiba. Kabut di Lembah Seribu Roh terasa dua kali lebih tebal dan dingin dari malam sebelumnya. Tim Xiao Chen memutuskan untuk berlindung di dalam sebuah reruntuhan kuil tua yang setengah runtuh, menyalakan api unggun kecil demi menghangatkan tubuh mereka yang lelah setelah pertempuran siang tadi.

​Sementara itu, jauh dari lokasi reruntuhan tersebut, di faksi terdalam hutan mati yang gelap gulita.

​Di atas dahan tertinggi dari sebuah pohon hitam raksasa, seorang pria berjubah hitam pekat sedang duduk bersandar dengan santai. Pria itu adalah Yan Shou, pembunuh bayaran yang disewa oleh Feng Lin.

​Di tangan kanannya, Yan Shou sedang memainkan belasan token identitas milik peserta ujian yang telah tewas, memutarnya di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat lihai. Suara gemerincing logam token itu terdengar seperti nyanyian kematian di tengah keheningan malam.

​Di bawah pohon raksasa tempatnya berpijak, belasan mayat murid luar dari tim-tim lain tampak bergelimpangan di atas tanah dengan kondisi yang sama: satu sayatan rapi di tenggorokan, tanpa ada tanda-tanda perlawanan berarti.

​Yan Shou menghentikan gerakan tangannya, lalu mengantongi seluruh token tersebut. Pandangan matanya yang dingin dan tajam seperti serigala malam perlahan menatap lurus ke arah bulan purnama yang tertutup awan tipis. Sebuah senyuman licik dan kejam perlahan mengembang di wajahnya yang pucat.

​"Jadi... target utama yang diinginkan oleh Tuan Muda Feng Lin adalah bocah bernama Xiao Chen itu, ya?"

​Ia melompat turun dari dahan pohon tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, mendarat di atas tanah seperti selembar daun yang jatuh. Sebelum tubuhnya menyatu dan menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan kabut tebal malam itu, sebuah bisikan dingin keluar dari mulutnya:

​"Semoga saja kau bisa memberiku sedikit hiburan yang menyenangkan, Bocah Kecil... sebelum aku memotong lehermu dan mengirim kepalamu pada Feng Lin."

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!