NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Menyentuhnya

Air mata mulai kembali mengalir deras di wajah Nowi. "Dan lihat keadaanku sekarang. Aku bahkan nggak sedih atau marah cuma karena dia selingkuh atau hubungan kami berakhir. Aku cuma kecewa banget sama diri aku sendiri."

"Kupu-kupu kecilku..."

Mata Nowi langsung terpejam rapat mendengar panggilan sayang itu, panggilan yang sudah lama tak dia dengar.

"Entah kenapa dia merasa kalau aku yang udah nyakitin dan nolak dia. Dia terus-terusan nelpon dan kirim pesan pakai nomor yang berbeda-beda. Aku udah abaikan semuanya, tapi tetep aja rasanya bikin takut banget karena dia nggak mau lepasin aku. Itu juga jadi salah satu alasan utama aku balik ke sini. Dia jadi posesif banget dan nggak waras. Jadi... ya, akhirnya aku ada di depan kamu sekarang."

Vito menatap Nowi dengan pandangan yang sangat serius dan tajam. "Kamu takut dia bakal nyakitin kamu di sini? Atau dia bakal nyusul dan datang ngejar kamu?"

Dia harus mengetahui fakta itu. Dia wajib memahami seberapa besar ancaman yang sedang dihadapi Nowi saat ini.

"Aku jadi nggak tahu harus gimana. Dia bikin aku ngerasa takut. Dulu aku pikir aku cukup kenal sama dia. Tapi aku sama sekali nggak nyangka dia bakal berubah jadi kayak gini jahatnya."

Nowi memeluk kedua lututnya makin erat ke dalam selimut. "Tapi aku nggak bisa bohong kalau semua kejadian ini bikin aku gugup dan was-was. Terutama setelah kejadian waktu aku ambil barang-barang dulu ... dan satu kejadian lagi yang baru aja terjadi di kafe."

"Apa yang terjadi di kafe? Cerita sekarang juga."

Rasa takut dan cemas langsung mencengkeram hati Vito makin kuat dan kencang.

"Dia datang nyamperin aku pas aku lagi di luar, terus dia ngomong jangan bikin keributan. Dia berusaha maksa aku buat ikut pergi sama dia dengan paksa. Aku sengaja jatuhin diri ke arah pelanggan perempuan yang ada di depanku. Untung banget dia peka dan sadar ada yang nggak beres, terus dia bantu aku kabur dan pergi dari situ." Nowi menelan ludah dengan susah payah.

"Wanita itu sempat nanya sama aku, apa aku punya tempat aman buat berlindung. Dan tempat pertama yang langsung kepikiran banget di kepalaku adalah ... Di sini. Tempat di samping kamu."

"Lain kali kalau dia hubungi kamu lagi, langsung kasih tahu aku, ya? Kamu nggak perlu hadapi semuanya sendirian lagi. Aku nggak bakal biarin siapa pun nyakitin kamu," janji Vito.

Bahunya sedikit menegang. Nowi sudah terbiasa menanggung segala beban seorang diri sejak lama.

Vito bertanya-tanya apakah Nowi masih menjalin hubungan dengan ibunya setelah kepergiannya dulu, atau hubungan keduanya sudah hancur sepenuhnya.

"Makasih, ya. Nanti aku mungkin lapor polisi kalau dia nggak juga berhenti. Aku cuma mau fokus jual rumah itu aja," kata Nowi. "Awalnya aku niat datang diam-diam, tapi kayaknya itu nggak mungkin lagi deh."

"Kamu kira orang-orang nggak bakal tahu kamu ada di sini?" Vito menatapnya tak percaya. "Kamu kan besar di sini. Kota kecil begini gampang banget beritanya nyebar."

"Aku udah berusaha banget supaya rahasiain ini. Aku bahkan hampir minta-minta ke Bass biar dia rahasiain ini," jawab Nowi. "Aku juga kaget banget pas tahu orang pertama yang kutemuin di sini ternyata malah sahabat baik kamu."

"Nowi, cepat atau lambat aku pasti bakal tahu kok."

"Iya." Nowi memejamkan mata, lalu menyandarkan kepalanya sambil mengembuskan napas panjang.

"Terus rencana kamu gimana? Benerin rumah, jual, terus pergi lagi entah ke mana? Aku aja nggak tahu kamu tinggal di mana sekarang," tanya Vito.

"Di Lagoon, Surabaya," jawab Nowi.

Vito seketika diam mematung. Satu kata itu terasa seperti pukulan keras baginya. Ia berdiri, lalu mondar-mandir di depan ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Sungguh tak masuk akal. Selama ini Nowi tinggal sedekat itu, namun ia sama sekali tidak mengetahuinya.

"Lagoon? Sialan, Nowi. Bertahun-tahun kamu cuma berjarak beberapa jam dari aku?"

"Aku nggak sanggup ketemu kamu, Vito. Awalnya sih aku pengin, tapi makin lama aku makin bingung harus ngomong apa," ujar Nowi sambil tertawa kecil tanpa rasa senang. "Masa aku harus bilang 'Hai, inget aku? Cewek yang pergi tiba-tiba tanpa penjelasan?' Itu pasti gak lucu kan."

"Terus sebelum pergi gimana? Nggak pernah kepikiran buat ngomong sama aku?" Suara Vito mulai meninggi. "Misal bilang 'Hei, aku mau sekolah kuliner di Jogjakarta, bukan kuliah di surabaya sama kamu. Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng yuk?' Kamu aja nggak kasih aku kesempatan sama sekali, Nowi!"

Ia sadar emosinya mulai meluap. Segala kenyataan ini terasa terlalu berat untuk diterima. Nowi meninggalkannya dulu. Meski kini ia berniat memperbaiki keadaan, rasa sakit itu masih terasa.

"Jawab aku dong. Kamu beneran mikir aku nggak bakal dukung kamu? Kamu kira aku bakal halangi mimpi kamu?"

"Aku nggak tahu! Waktu itu kita kan masih anak-anak!" seru Nowi.

Jawaban itu keliru. Vito seketika membungkuk ke arah ranjang, memegang wajah Nowi dengan kedua tangannya, dan memaksanya menatap lurus ke mata Vito.

"Kamu pikir semuanya akan hilang gitu aja? Kamu kira waktu bisa hapus semua hubungan kita?"

Napas Nowi menjadi memburu saat Vito makin mendekat.

"Kamu mungkin lagi sakit hati sekarang, tapi jangan lupa," bisik Vito pelan, "Aku orang pertama yang kenal banget sama tubuhmu."

Nowi seketika terdiam seribu bahasa. Vito melihat dengan jelas wajah wanita itu memerah hanya karena jarak keduanya yang makin dekat. Ia juga melihat bulu kuduk Nowi meremang meski hanya disentuh sedikit. Ia sadar bahwa Nowi pun tanpa sadar merapatkan kedua pahanya.

Vito makin mendekat, lalu menyentuhkan bibirnya sekilas di bibir Nowi, sebelum berbisik tepat di telinga wanita itu.

"Coba jawab, Sayang ... kalau aku sentuh kamu sekarang, apa yang bakal aku temuin?" Suaranya terdengar parau dan rendah. "Kamu udah basah karena aku belum?"

"Vito ...." bisik Nowi pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!