Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Chandra
[HARFA HIGH SCHOOL]
[Ruang Musik]
Chandra sudah berada di sekolahnya. Saat ini dirinya bersama teman-temannya sedang berada di ruang musik untuk latihan.
Namun pikirannya sama sekali tidak fokus pada alat musik yang ada di depannya. Wajahnya tampak murung dan penuh beban.
"Chan. Kau kenapa? Sedari tadi aku perhatikan kau tak semangat latihannya?" tanya Bima yang menyadari perubahan drastis pada sahabatnya itu.
"Aku sedang kepikiran adikku," jawab Chandra pelan. Suaranya terdengar sangat berat.
"Judika?" tanya Kevin memastikan.
"Memangnya adikku ada berapa?" tanya Chandra dengan nada kesal karena dianggap bodoh.
"Hehe. Siapa tahu kau memiliki lebih dari satu adik, kak!" jawab Kevin santai sambil nyengir.
"Apa ada masalah?" tanya Lucas ikut penasaran.
"Kalian ribut lagi?" tanya Jofan menebak penyebab murungnya Chandra.
"Aku menamparnya," jawab Chandra singkat.
"Apa?!" teriak mereka semua serempak. Mata mereka melotot kaget.
TAK..
"Aww!"
Chandra refleks mengusap keningnya. Bima dengan sigap melayangkan satu jitakan tepat di tengah kening Chandra.
"Kenapa kau menjitakku?" tanya Chandra semakin kesal.
"Karena kau bodoh dan idiot," jawab Bima ketus tanpa ragu.
"Yak! Kau mengataiku!" teriak Chandra tak terima.
"Aku tidak mengataimu. Tapi kau itu memang benar-benar bodoh dan idiot. Luka di hati adikmu saja belum sembuh sempurna, dan kau malah menambahkan luka baru yang jauh lebih perih," jawab Bima dengan nada yang tak kalah kesal.
"Berhenti!" teriak Lucas. Suaranya mampu mengalahkan decibel suara teriakan Chandra. "Kenapa kalian malah jadi adu mulut begini, sih? Apa perlu aku siapkan arena khusus untuk kalian adu jotos atau adu mulut, hah?!"
Bima maupun Chandra langsung bungkam, memilih diam membisu. Sedangkan Lucas menghembuskan napas kasarnya untuk menenangkan diri.
"Huuuh!"
Suasana hening sejenak...
"Memangnya kenapa kakak sampai bertindak nekat menampar Judika? Ini tamparan kedua loh," ucap dan tanya Zaky memulai kembali pembicaraan dengan nada lebih tenang.
"Aku tak sengaja. Aku kelepasan emosi. Tadi pagi ibu ingin mengajak Judika untuk sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah. Ibu juga berusaha keras untuk bisa lebih dekat dan memperbaiki hubungan dengan Judika. Tapi Judika malah berkata-kata sangat kasar pada ibu. Sampai-sampai Judika mengatakan kalau ibu adalah seorang pembunuh," jawab Chandra menjelaskan kronologinya dengan wajah tertunduk lesu.
Mendengar itu, Lucas maju selangkah dan menatap tajam namun lembut ke arah Chandra.
"Chan. Aku bukannya ingin menyalahkanmu, dan juga bukannya mendukung adikmu. Tapi dengarkan aku baik-baik! Kau dan ibumu sudah pergi meninggalkannya bersama Ayah kalian selama bertahun-tahun lamanya. Selama itu pula, hidupnya menderita sendirian. Ayahmu yang saat itu temperamennya buruk selalu menyiksanya, memukulinya, bahkan adikmu itu hampir kehilangan nyawanya di tangan Ayahmu sendiri."
Lucas menjeda ucapannya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Saat adikmu akhirnya hidup bahagia dan dirawat dengan baik oleh Ayahmu, takdir berkata lain. Ayahmu kembali bertemu dengan Ibumu. Dan itu seharusnya menjadi kesempatan emas bagi Ayahmu untuk meminta maaf pada Ibumu. Justru Ibumu saat itu menolak untuk memaafkan kesalahan Ayahmu, meski Ayahmu sudah memohon."
"Dan tanpa kita minta, tanpa kita menyadarinya, musibah besar datang menghampiri. Lebih tepatnya, Ayahmu rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Ibumu."
Air mata mulai membasahi pipi Lucas. Begitu juga dengan Chandra yang sudah terisak mendengar penuturan sahabatnya.
"Setelah kecelakaan itu, saat Ayahmu terbaring tak berdaya. Barulah kau dan ibumu sadar dan menyesal. Dan detik itu juga, kau dan ibumu bersedia memaafkannya. Tapi Tuhan berkehendak lain. Ayahmu pergi untuk selamanya, membawa serta kebahagiaannya. Setidaknya Ayahmu bahagia di akhir hayatnya karena sudah mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini yaitu maaf dari Ibumu dan darimu."
"Adikmu saja mau memaafkan kesalahan Ayahnya. Padahal dialah orang yang paling tersakiti. Kenapa kau dan Ibumu justru lambat sekali untuk memaafkan kesalahan Ayahmu?" tanya Bima yang juga ikut menangis. Ada nada kekecewaan yang mendalam di sana.
"Awalnya Judika itu memang sangat membenci kalian. Tapi melihat kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah Ayahnya, kebencian itu perlahan hilang seketika. Dia pun bertekad untuk mencari keberadaan kakak dan Bibi. Apalagi Judika, dia yang paling bersemangat. Dan kebetulan sekali, keberuntungan memihak mereka saat Bibi menelpon Paman. Kebahagiaan dua kali lipat terpampang jelas di wajah mereka, terutama Paman."
"Tapi detik kemudian, senyuman kebahagiaan itu luntur seketika. Saat Paman menanyakan alamat tempat tinggal kakak dan Bibi. Justru Bibi mematikan panggilan tersebut. Dari situlah kebencian Judika kembali lagi. Bahkan rasanya jauh lebih besar dari sebelumnya," ujar Sahil menyambung pembicaraan. Dia mengingat kembali obrolannya dengan Judika tempo hari.
Semua pasang mata langsung menatap Sahil dengan tatapan bertanya-tanya. Tatapan mereka seakan berkata: 'Dari mana kau mengetahui semua detail ini?'
Sahil yang menyadari dan mengerti arti tatapan sahabat-sahabatnya, terutama Chandra, pun akhirnya angkat bicara.
"Aku bertemu dengan Judika saat dia sedang duduk sendirian di taman yang tak jauh dari sekolah Harfa. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan duduk di sampingnya. Saat itu Judika sedang menangis hebat. Aku berusaha menghiburnya, dan akhirnya dia pun menceritakan semua apa yang dialaminya selama ini," jelas Sahil jujur.
"Kenapa kau tidak cerita padaku kalau kau bertemu dengan adikku?" tanya Chandra dengan nada tak percaya.
"Apa itu penting? Lagian hubungan kalian itu seperti anjing dan kucing. Tidak akan pernah bisa akur. Setiap bertemu pasti pasti berakhir dengan perang. Ya! Walau yang ngajak perang duluan itu selalu Judika," ejek Sahil santai.
"Sialan kau," kesal Chandra namun tak bisa menyangkal fakta itu.
Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum tipis melihat interaksi keduanya.
"Kalau aku menyamakan hubungan kalian berdua dengan api dan air. Yang apinya sudah pasti jelas Judika. Apikan sifatnya selalu kalah dengan air. Nah! Otomatis kakak pasti akan berhasil meluluhkan hati dan sifat keras kepala Judika itu. Tapi jujur saja... aku tidak mau itu terjadi," ucap Sahil tiba-tiba dengan nada serius.
"Jadi maksudmu, kau lebih senang melihat kami berperang terus menerus?" tanya Chandra menaikkan satu alisnya.
"Bagaimana ya? Boleh jujur tidak?" tanya Sahil balik sambil tersenyum misterius.
"Boleh. Jujur saja apa adanya!" seru Kevin, Jofan, Lucas, Zaky, dan Bima dan Surya bersamaan. Mereka penasaran dengan jawaban Sahil.
"Eemm!"
Sahil berpikir sejenak sembari perlahan melangkah mundur menuju pintu keluar ruangan. Kini dia sudah berdiri tepat di depan pintu, dan tangannya sudah memegang gagang pintu dengan siap.
"Aku lebih suka si keras kepala Judika Pratama itu membenci seorang Chandra Wiguna. Dikarenakan seorang Chandra Wiguna itu tidak layak dan tidak pantas untuk dimaafkan. Kesalahannya terlalu banyaaakk dan terlalu besar. Hahahaha."
Sahil langsung tertawa keras seolah baru saja melontarkan lelucon terbaik sedunia.
Chandra yang mendengar ucapan sindiran itu langsung melotot marah.
BLAM..
BUGH..
Sahil dan Chandra bereaksi secara bersamaan.
Sahil segera menutup pintu rapat-rapat agar terhindar dari lemparan benda.
Sementara Chandra dengan cepat melempari Sehun dengan sepatunya.
BRAK..
Sepatu itu mengenai pintu kayu yang sudah tertutup rapat.
Sementara itu, keenam sahabat lainnya hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan konyol namun akrab dari dua sahabat mereka itu.