Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
***
Lima hari berlalu sejak konfrontasi berdarah di Balairung Utama. Keajaiban fisik Arthur sebagai seorang panglima perang memang bukan isapan jempol semata luka-lukanya telah menutup, menyisakan garis merah yang masih sensitif namun cukup kuat untuk dibalut seragam militer. Pagi itu, Istana Timur kembali sibuk. Bukan kesibukan perawatan, melainkan kesibukan keberangkatan.
Arthur berdiri tegak di depan cermin, mengenakan seragam kebesaran berwarna putih perak. Ini adalah warna keramat Valerieth, warna yang dulu selalu melekat pada tubuh Arthemus yang sempurna. Bagi Arthur, mengenakan warna ini adalah bentuk penyiksaan mental, namun ia harus melakukannya demi citra kekaisaran.
"Kita akan pergi ke Aethelgard sore ini," ujar Arthur dingin sambil mengancingkan sarung tangan kulit hitamnya. Ia menoleh ke arah Lilianne melalui pantulan cermin. Matanya melirik tajam ke arah balkon yang jeruji besinya masih berdiri kokoh. "Jeruji itu akan tetap di sana sampai kita kembali. Tapi di luar sana, di hadapan Raja Aethelgard, kau adalah Putri Mahkota Valerieth yang paling bahagia. Mengerti?"
Lilianne, yang duduk di tepi ranjang dengan perut yang kian membuncit di balik gaun longgar berbahan sutra Eisenhardt, menatap suaminya dengan pandangan letih. Ia bangkit perlahan, tangannya menumpu pada pinggang bawah yang kian sering berdenyut.
"Tapi saya sedang hamil besar, Yang Mulia," bisik Lilianne. "Usia kandungan saya sudah masuk bulan ketujuh. Perjalanan ke Aethelgard melewati pegunungan berbatu. Itu tidak akan mudah bagi janin ini."
Arthur berbalik, langkah sepatunya terdengar tegas di atas marmer. Ia mendekati Lilianne, tangan yang sudah terbungkus sarung tangan itu merapikan kerah gaun Lilianne dengan gerakan yang sedikit terlalu posesif.
"Itu tidak usah kau hiraukan," potong Arthur tanpa kompromi. "Aku sudah memerintahkan tabib istana untuk menyiapkan ramuan penguat kandungan dan pencegah kontraksi dini. Kau akan meminumnya setiap enam jam selama perjalanan."
"Yang Mulia, ramuan-ramuan itu... mereka bisa menutupi tanda-tanda bahaya jika sesuatu terjadi pada bayi ini," protes Lilianne, suaranya sedikit bergetar.
"Tidak ada penolakan, Lili!" suara Arthur meninggi, memenuhi ruangan yang sunyi itu. "Ini sudah tugasmu sebagai Putri Mahkota. Delegasi kali ini sangat penting. Raja Aethelgard adalah sekutu lama yang mulai meragukan stabilitas takhta kita. Kehadiranmu dengan perut buncit itu adalah bukti bahwa garis keturunan Valerius tetap berlanjut. Semua kebutuhanmu sudah kusiapkan. Sore ini kita berangkat."
Lilianne ingin membalas, ingin berteriak bahwa ia bukan sekadar pion politik yang bisa diseret melintasi badai salju. Namun, melihat sorot mata Arthur yang kaku dan penuh tekanan, ia menyadari bahwa tenaganya lebih baik disimpan untuk bertahan hidup. Ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan kilat kebencian di balik bulu matanya yang lentik.
**
Sore itu, kereta kencana hitam dengan lambang naga perak meninggalkan gerbang istana. Di luar, badai salju mulai menerjang, menutupi pemandangan pegunungan dengan selimut putih yang mematikan. Di dalam kereta, suasana tidak jauh berbeda—dingin dan penuh ketegangan.
Lilianne terduduk di kursi berlapis beludru yang empuk, namun setiap guncangan kereta terasa seperti hantaman pada rahimnya. Efek ramuan penguat yang diminumnya tadi mulai terasa perutnya terasa kencang dan berat, menciptakan sensasi tidak nyaman yang membuatnya sulit bernapas.
Di depannya, Arthur duduk dengan tenang, tenggelam dalam tumpukan dokumen militer dan laporan intelijen. Ia seolah tidak terpengaruh oleh guncangan kereta atau suara angin yang melolong di luar.
Lilianne merapatkan jubah bulu serigala utaranya. Rambut panjang peraknya yang dibiarkan tergerai menutupi bahunya, namun rasa dingin tetap menembus hingga ke tulang. Ia menggigil kecil, jemarinya yang pucat mencengkeram pegangan kursi.
Arthur mendongak dari dokumennya. Ia adalah pria yang terlatih menangkap perubahan sekecil apa pun di medan perang, dan ia menyadari ada yang salah dengan istrinya.
"Apakah kamu merasa tidak nyaman?" tanya Arthur. Nadanya datar, namun matanya mengamati wajah Lilianne yang pucat pasi.
Lilianne mencoba mengatur napasnya. "Guncangannya... terlalu kuat, Yang Mulia. Dan ramuan itu membuat perut saya terasa sangat kencang. Rasanya seolah-olah bayi ini tidak bisa bergerak."
Arthur meletakkan dokumennya ke samping. Ia bergerak pindah, duduk di samping Lilianne. Ruang sempit di dalam kereta membuat tubuh besar Arthur menekan Lilianne, membawa aroma kulit dan maskulin yang kini terasa begitu menyesakkan bagi Lilianne.
"Kemari," perintah Arthur pendek.
"Yang Mulia?"
Tanpa menunggu jawaban, Arthur menarik tubuh Lilianne agar bersandar pada bahunya. Ia melingkarkan lengannya yang kuat ke bahu Lilianne, mencoba memberikan sedikit kehangatan. "Jika kau pingsan sebelum kita sampai di perbatasan, itu akan merepotkan semua orang."
Lilianne terdiam, tidak mampu menolak. Ia bisa merasakan detak jantung Arthur yang stabil di balik seragam peraknya. "Anda memaksakan perjalanan ini hanya untuk membuktikan pada dunia bahwa Anda adalah penguasa yang stabil, bukan?"
Arthur tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela kereta yang tertutup embun es. "Dunia ini hanya menghargai kekuatan, Lili. Begitu mereka melihat sedikit saja celah atau kelemahan, mereka akan menerkammu seperti serigala lapar. Ayahku menunggu aku gagal. Aethelgard menunggu alasan untuk memutus perjanjian perdagangan. Aku tidak punya pilihan."
"Pilihan Anda selalu mengorbankan saya," bisik Lilianne getir.
Arthur mengeratkan pelukannya, tangannya secara tidak sadar mengusap perut besar Lilianne melalui kain gaunnya. "Aku melindungimu dengan satu-satunya cara yang aku tahu. Di sisiku, kau adalah wanita terkuat di kekaisaran. Di luar sana, kau hanya akan menjadi mangsa."
Kereta tiba-tiba tergoncang hebat saat rodanya menghantam lubang yang tertutup salju. Lilianne mengerang kesakitan, tangannya mencengkeram lengan Arthur dengan kuat.
"Ugh... sakit..."
"Bernapaslah, Lili. Tarik napas panjang," ujar Arthur, kali ini ada nada kecemasan yang nyata dalam suaranya. Ia mengetuk dinding kereta dengan keras. "Lambatkan jalannya! Kalian ingin membunuh istriku?!" teriaknya pada pengemudi di luar.
Kereta melambat. Arthur menatap Lilianne yang berkeringat dingin meski suhu di dalam kereta sangat rendah. Ia mengambil botol air dari sudut meja kecil dan meminumkannya pada Lilianne.
"Apakah ramuannya bekerja terlalu keras?" tanya Arthur, jarinya mengusap pelipis Lilianne yang basah.
"Saya tidak tahu... rasanya sangat sesak," rintih Lilianne. Ia menatap mata biru gelap Arthur. "Jika terjadi sesuatu pada bayi ini... Anda tidak akan pernah mendapatkan pangeran yang Anda impikan itu."
Arthur terdiam. Ia menatap perut Lilianne, lalu kembali ke wajah istrinya yang tampak sangat rapuh di bawah cahaya lampu minyak kereta. Ada pergulatan emosi di wajahnya antara ambisi politiknya dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang menyerupai rasa takut kehilangan.
"Anak ini akan hidup," tegas Arthur, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan kau juga akan hidup. Aku akan memastikan Aethelgard menyediakan tabib terbaik begitu kita sampai."
"Anda hanya peduli pada bayi ini karena dia adalah legitimasi Anda," sahut Lilianne sambil menutup mata, mencoba menahan mual.
"Mungkin awalnya begitu," gumam Arthur pelan, hampir tertelan suara badai. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Lilianne. "Tapi setelah malam itu... setelah kau merawat luka-lukaku... aku menyadari bahwa aku lebih takut kembali ke kamar yang kosong daripada kehilangan gelar Putra Mahkota."
Lilianne tertegun. Ia membuka matanya, menatap Arthur yang kini tampak begitu jujur dalam kegelapannya. Apakah ini trik lain? Ataukah sang bayangan benar-benar mulai bergantung pada tawanan yang ia kurung sendiri?
"Jika Anda benar-benar takut kehilangan saya, maka berhentilah memperlakukan saya seperti barang berharga yang harus dipamerkan," bisik Lilianne.
Arthur tidak menjawab. Ia hanya menarik jubah bulunya sendiri dan menyelimutkannya di atas tubuh Lilianne, memeluk istrinya lebih erat saat kereta kencana itu terus membelah badai salju menuju kerajaan tetangga. Di dalam kereta yang gelap itu, dua jiwa yang hancur saling bersandar, masing-masing mengenakan topeng yang berbeda, bersiap menghadapi panggung politik yang jauh lebih dingin daripada badai di luar sana.
***
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang