Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31
Pagi ini, seluruh anggota Argantara sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Dahi Mama Hesti tiba-tiba mengkerut saat melihat putranya turun dari lantai atas seorang diri, tanpa ditemani oleh sang istri.
“Pagi semua.” sapa Harlan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Refleks, semua yang ada di sana saling pandang satu sama lain. Menatap tak percaya kepada putra mahkota itu.
Pasalnya, sepanjang mereka mengenal Harlan, ini pertama kalinya pria itu mengawali hari dengan senyuman.
Mama Hesti berdehem pelan, demi mengendalikan dirinya dari rasa keterkejutan melihat tingkah aneh putranya pagi ini.
“Mana istrimu? Kenapa tidak ikut turun?” tanyanya membuat semua orang yang penasaran, ikut menunggu jawaban Harlan.
“Ada, di kamar, Ma. Maaf, sepertinya Alisa tidak ikut sarapan pagi ini. Alisa, sedikit kurang enak badan. Makanya, aku suruh dia untuk tetap di kamar.” jawab Harlan sambil mengambil dua buah piring, lalu mengisinya dengan makanan yang sudah tersedia di atas meja makan.
Sementara yang lain, fokus memperhatikan gerak gerik pria itu. Sampai di titik, Harlan menuju ke arah dapur untuk menemui salah satu art yang bekerja di sana.
“Bi Atun, nanti setelah sarapan. Tolong ganti sprei di kamarku, ya, Bi.” ucapnya santai.
Refleks, semua orang yang ada di sana kembali saling pandang. Terutama Mama Hesti dan juga Tante Hani. Keduanya seolah tengah berbincang lewat tatapan mata.
“Aku kembali ke kamar, ya. Maaf tidak bisa ikut sarapan bersama,” pamit Harlan setelah kembali dari dapur, lalu mengambil sebuah nampan untuk membawa piring yang tadi ia isi dengan makanan.
Belum sempat Harlan benar-benar pergi, suara Darren lebih dulu terdengar memenuhi ruang makan.
“Ganti sprei? Bukannya kamar itu baru diganti, ya?” tanya Tante Hani pelan, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang.
“Hani!” hardik Mama Hesti cepat sambil melotot tajam.
Tante Hani langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah, meski senyum jahil di wajahnya sama sekali tidak hilang.
“Kenapa? Aku kan hanya bertanya.” gumamnya lagi.
Namun, suasana sudah terlanjur berubah canggung.
Nenek Astari bahkan sampai menutup mulutnya sendiri, berusaha menahan tawa yang hampir saja pecah.
Sedangkan Kakek Dewa memilih pura-pura sibuk membaca koran walau sudut bibir pria paruh baya itu tampak bergerak tipis.
Harlan sendiri tampak tidak peduli. Atau mungkin… benar-benar tidak sadar dengan reaksi keluarganya.
“Kalau Alisa butuh dokter, bilang sama Mama, ya,” ujar Mama Hesti berusaha terdengar setenang mungkin.
“Iya, Ma.”jawab Harlan mengangguk singkat.
Setelah itu, pria tersebut melangkah pergi menaiki tangga sambil membawa nampan di tangannya. Dan tepat ketika bayangan Harlan menghilang di balik lorong lantai dua… Suasana ruang makan pun berubah menjadi heboh.
“OH YA AMPUN! Mereka akhirnya benar-benar… melakukan itu?” bisik Tante Hani heboh sambil menepuk lengan Mama Hesti.
“Hani!” Mama Hesti langsung memotong panik.
“Lho, memangnya kenapa? Bukankah, ini yang diharapkan dari hubungan mereka? Saking dingin dan cueknya anak itu. Kita bahkan sempat meragukan kejantanannya. Apa Kakak tidak ingat?” balas Tante Hani tak kalah semangat.
“Aku memang sempat meragukannya. Tapi syukurlah, setidaknya dia sudah membuktikan kalau dia pria yang normal.”
Di tengah keributan kecil itu, Mama Hesti terdiam sesaat. Tatapannya mengarah ke lantai atas dengan sorot mata yang perlahan melembut.
Ia benar-benar merasa lega. Sangat lega. Selama ini ia tahu pernikahan Harlan dan Alisa berjalan sangat lambat.
Terlalu kaku untuk ukuran pasangan suami istri. Bahkan beberapa kali Mama Hesti merasa takut kalau putranya tidak akan pernah membuka hati untuk perempuan yang sudah dinikahinya itu.
Namun pagi ini…
Senyum Harlan, cara pria itu memperhatikan Alisa, bahkan hal sederhana seperti membawakan sarapan, semuanya terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya, Mama Hesti melihat putranya tampak… jauh lebih hidup dari biasanya.
Sementara itu, di lantai atas.
Harlan membuka pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Aroma samar parfum dan lavender langsung menyambut indera penciumannya.
Pria itu berjalan mendekati ranjang. Alisa masih tertidur pulas di balik selimut tebal, dengan wajah yang sebagian tertutup rambut berantakan.
Langkah Harlan otomatis melambat. Tatapannya jatuh pada bekas kemerahan di leher perempuan itu, membuat ingatan tentang apa yang terjadi semalam kembali berputar di kepalanya begitu saja.
Rahang pria itu menegang pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Harlan merasa sulit mengendalikan dirinya sendiri hanya karena seorang perempuan.
Harlan berpaling, mencoba mengalihkan pandanganya dari sosok Alisa. Mencoba mengendalikan dirinya sendiri, ia tidak mau membuat Alisa semakin merasa tidak nyaman.
Harlan berjalan ke samping ranjang. Ia meletakkan nampan sarapan di atas nakas yang ada di samping ranjang secara perlahan, berusaha tidak membangunkan Alisa.
Namun baru saja ia hendak berbalik, suara lirih perempuan itu terdengar dari balik selimut.
“Mas…”
Langkah Harlan langsung terhenti. Alisa menggeliat kecil sambil membuka mata perlahan. Wajahnya langsung meringis saat tubuhnya bergerak sedikit. Membuat Harlan spontan mendekat.
“Sakit?”
Pipi Alisa seketika kembali memerah. Perempuan itu buru-buru menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
“Kenapa tanya itu lagi?” gumamnya malu.
Entah kenapa, reaksi itu justru membuat sudut bibir Harlan terangkat tipis. Tersenyum tipis.
Tetapi, hal itu cukup untuk membuat Alisa menatap pria itu dengan tatapan kesal.
“Kenapa Mas senyum?” tanyanya pelan tak percaya.
Harlan langsung berdehem, lalu mengalihkan pandangan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku bawa sarapan. Ayo bangun. Kita sarapan dulu sebelum kita pulang.” ucapnya mengalihkan perhatian Alisa.
Masa lebih milih anak sambung daripada anak kandung sii.. 😬😬😤😤
Bersyukur Harlan waras n ganti nama mempelai wanitanya.. 😵💫😵💫
Ijab kabul dengan nama wanita lain?
Ngga SAH atuh ijab kabulnya 😱😱
Ini pegimana konsepnya?
Masa seorang ayah kandung tega menjerumuskan anak perempuannya ke lembah zina?? 😱😱😤😤
ayolah Harlan, Alisa saling ngobrol,saling pandang mata siapa tahu udah ada cinta