Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Homeschooling
"Pak Bara...?"
Laki-laki itu berdiri dengan perawakan tegap dan wajah yang seolah dipahat sempurna. Bersih, cerah dan memancarkan aura wibawa tanpa celah. Bi Surti tidak berlebihan, ketampanan pria di hadapan Bara ini memang berada di standar internasional, meski garis hidungnya masih membawa ketegasan keturunan negeri sendiri.
"Halo."
Bara menyambut jabatan tangan laki-laki yang memiliki telapak tangan begitu halus itu. Dingin dan formal.
"Perkenalkan, nama saya Roy, Pak."
Pemuda itu tampak sedikit gugup. Wajar saja, Bara sama sekali tidak berniat mengumbar keramahan. Keheningan yang sempat tercipta seketika pecah saat rungu mereka menangkap langkah kaki kecil yang memasuki ruang belajar.
Bara merasakan denyutan samar di pelipisnya. Niatnya meminta Kiara berpakaian sopan agar tidak menggoda fokus guru privatnya justru berbuah simalakama. Kiara Masita muncul dengan kemeja putih milik Bara yang sangat kebesaran. Kemeja itu tenggelam di tubuh mungilnya, menyisakan tungkai kaki jenjang yang terekspos jelas karena Kiara hanya mengenakan celana pendek ketat di baliknya. Rambutnya dicepol asal, menyisakan leher jenjang yang berkeringat tipis.
"Kiara, kenapa kamu berpakaian seperti itu?" suara Bara rendah, sarat akan tekanan yang berusaha ia tahan di depan tamu.
"Tadi Om bilang saya harus memakai baju yang tertutup dan kemeja lengan panjang. Saya tidak punya kemeja, jadi saya ambil saja dari lemari Om. Sopan, kan? Semua bagian atas tertutup rapat." jawab Kiara acuh tak acuh sambil menggulung lengan kemeja yang menjuntai melewati jemarinya.
Roy, sang guru baru, hanya bisa mengulum senyum melihat pemandangan yang tak biasa itu. "Halo, Kiara. Saya Roy, guru privat kamu."
Roymengulurkan tangan dengan senyum manis yang menawan, namun sebelum Kiara sempat menyambutnya, sebuah tangan lain lebih dulu menyambar jabatan itu.
"Surti..." sahut Bi Surti tersipu, badannya bergoyang canggung ke depan dan belakang.
"Maksud saya, saya ingin berkenalan dengan…." Roy mencoba mengalihkan pandangan pada Kiara, namun Bi Surti masih mematung di hadapannya bak pagar ayu.
"Suara Mas Roy merdu sekali, seolah sedang mengajak saya ke KUA." goda wanita itu semakin menjadi-jadi, sebelum akhirnya Bara memberikan teguran halus namun tegas.
"Bi Surti, tolong ambilkan kain atau apa pun untuk menutupi kaki Kiara. Dan Kiara... kancingkan kemeja itu sampai paling atas!" perintah Bara dengan mata yang mulai menggelap. Ia pusing membayangkan bagaimana ia harus bekerja di ruangan yang sama dengan pemandangan istrinya yang seperti itu.
"Siap, Bos! Nanti Mbak Kiara saya bungkus pakai gorden kalau perlu." sahut Bi Surti linglung.
"Bi Surti!" Bara memijat pangkal hidungnya. Entah mengapa, orang-orang di kediamannya sering kali bertindak di luar nalar.
**
"Baiklah, Yudha, tolong siapkan anggarannya. Dan Dodi, bersiaplah untuk survei lokasi. Apakah Hanum belum hadir?"
Kiara menatap suaminya dengan sisa-sisa kejengkelan. Bara bersikeras mengadakan rapat di ruang belajar yang sama tempat ia harus menuntut ilmu. Sejak tadi, Bara meminta Kiara dan gurunya untuk tidak bersuara agar pertemuan daringnya tidak terganggu.
"Pak Yudha kabarnya sedang tidak sehat, Pak. Katanya hidungnya tiba-tiba kehilangan fungsi pendengaran," lapor salah satu stafnya dengan wajah polos.
Bara tahu asistennya itu hanya mencari alasan absurd. Dalam hati, ia sudah menyiapkan "surat peringatan" yang cukup tajam untuk asistennya nanti.
"Kenapa kalian belum mulai? Sudah satu jam kalian hanya saling pandang seperti orang yang tersesat di pusat perbelanjaan saat tanggal tua." sindir Bara.
Kiara mengerucutkan bibirnya, emosinya mulai tersulut. "Bagaimana mau mulai, Om? Om sendiri mengadakan rapat di sini dan kami dilarang berisik. Sungguh tidak adil!"
"Belajarlah dengan tenang, tidak perlu suara yang menggelegar, bukan?"
"Tapi suara Om sangat mengganggu fokus kami! Kenapa Om tidak pergi ke kantor saja?" Kiara mulai merasa kantuk menyerang, ia menyelonjorkan kakinya di bawah meja, membuat kemeja putih yang ia kenakan semakin terangkat.
Bara berdehem keras, hampir tersedak air liurnya sendiri. "Itu karena..." Ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia tidak tenang membiarkan istrinya hanya berdua dengan guru semuda dan setampan Roy dalam kondisi pakaian seperti itu. "Baiklah, saya akhiri rapatnya sekarang. Tapi saya akan tetap bekerja di ruangan ini."
Roymulai menyiapkan modul dan menyalakan proyektor. Kiara mengikuti pelajaran dengan setengah hati.
"Mr. Roy, tolong jelaskan lebih pelan. Saya benar-benar tidak paham." keluh Kiara, menatap rumit pada angka-angka di layar.
Dengan nada lembut, Roy bergeser mendekat untuk menunjukkan poin di buku Kiara. "Bagian mana yang sulit, Kiara?"
"Bagian mana yang tidak kamu mengerti? Biar saya yang jelaskan."
Secara tiba-tiba, Bara merebut buku pelajaran Kiara dan melangkah mantap menuju papan tulis. Bak seorang profesor yang tengah memberikan kuliah, ia menjabarkan rumus dan penyelesaiannya dengan sangat detail. Kiara dan Roy hanya bisa terpaku, menyaksikan bagaimana pemilik perusahaan starship terkemuka di Jakarta itu justru menguasai materi SMA dengan begitu fasih.
Sementara Bara sibuk menjelaskan, Kiara dan Roy justru asyik menikmati camilan kuaci. "Kenapa jadi saya yang mengajar? Percuma saya membayar mahal untuk jasa Anda." gerutu Bara saat menyadari Roy justru duduk manis menyimak penjelasannya.
Jam pelajaran kedua dimulai dan kejenuhan Kiara telah mencapai puncaknya. Begitupun dengan Bara. Konsentrasinya terbelah antara angka-angka di monitor dan mengawasi kemeja putihnya yang tampak sangat 'berbahaya' dikenakan Kiara. Memikirkan risiko kerugian dan ketenangan batinnya, Bara mulai mempertimbangkan untuk mengembalikan Kiara ke sekolah formal.
**
"Ada apa lagi, Kiara?" tanya Bara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya saat jam dinding nyaris menyentuh tengah malam.
"Saya tidak bisa tidur, Om..."
"Kemarilah." Bara menutup layar gawainya. Kiara beringsut mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Kiara, saya sudah memikirkan hal ini. Mungkin homeschooling memang bukan tempatmu. Saya akan izinkan kamu kembali ke sekolah, tapi dengan syarat."
Mata Kiara berbinar. "Apa syaratnya?"
"Kamu tidak boleh lagi mengendarai motor sendiri. Pak Komar yang akan mengantar jemputmu. Kamu juga harus berjanji tidak akan membuat keributan. Dan yang terakhir... putuskan semua hubunganmu dengan Sean."
Kiara pun mengangguk setuju. "Terima kasih, Om!"
Dengan kegirangan yang meluap, Kiara menerjang tubuh Bara untuk memeluknya. Namun, karena gerakannya terlalu tiba-tiba, mereka berdua jatuh terguling di atas ranjang. Hening sejenak. Bara menatap wajah istrinya yang kini berada tepat di bawah dekapannya.
"Kamu cantik, Kiara..." bisik Bara sambil membelai lembut pipi istrinya.
Hati Kiara berdesir hebat. Namun suasana romantis itu pecah oleh suara benda kaca yang hancur di luar kamar. Prang!
"Hussh! Melon, jangan nakal!" suara Bi Surti memecah kesunyian malam.
"Om, bisa bergeser sedikit? Saya sesak," keluh Kiara pelan.
"Oh, maaf..." Bara bangkit dengan salah tingkah.
"Saya kembali ke kamar saja." ujar Kiara.
"Apa kamu tidak ingin tidur di sini saja? Maksud saya... menemani."
"Jika saya tidur di sini, artinya kita melanggar kesepakatan pernikahan kita, Om. Tapi kalau Om yang tidur di kamar saya, sepertinya tidak apa-apa. Itu tidak tertulis di perjanjian." usul Kiara dengan logika ajaibnya.
Bara tertegun, namun akhirnya menurut. Keduanya berjalan menuju kamar Kiara.
"Om, tolong usap-usapkan punggung saya sampai terlelap. Sambil nyanyikan lagu kebangsaan ya, Om. Biar tidurnya makin semangat."
Meski bingung, Bara tetap menuruti permintaan absurd itu. Ia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara baritonnya hingga ia sendiri tertidur karena kelelahan.
Pagi harinya, setelah momen manis yang singkat di tempat tidur, Kiara kembali ke SMA Pertiwi.
"Kiara!" Melati dan Rima menyambutnya dengan heboh di gerbang sekolah.
"Aku senang sekali bisa kembali. Tapi mulai sekarang aku harus menjaga sikap.” sahut Kiara.
"Tunggu sebentar, aku harus ke toilet." pamit Kiara. Ia berlari menuju sudut bangunan sekolah. Langkahnya terhenti di depan pintu toilet wanita. Ia mendengar suara-suara aneh dari dalam.
Saat menerobos masuk, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di hadapannya, dua orang siswa tengah beradu bibir dengan intens. Mereka berdua terlonjak kaget menyadari kehadiran Kiara yang mematung di ambang pintu.
gak bisa ketebak cegil satu ini😄
mau nyamperin ga.....tapi jangan buat ulah ya.....cukup jadi spy aja......😁