"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Lift bergerak naik dalam keheningan yang menyesakkan. Setiap denting lantai terasa seperti lonceng kematian bagi ketenanganku. Darrel masih mencengkeram pergelangan tanganku, seolah takut aku akan lari dan membocorkan rahasia ini kepada dunia. Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga, aroma antiseptik yang tajam langsung menusuk hidungku, jauh lebih kuat daripada di hotel kemarin.
Dokter Giovani sudah menunggu di sana, wajahnya tampak tegang di balik masker medisnya. Ia terkejut saat melihat Darrel menyeret kaku tubuhku masuk ke dalam ruangan sterilisasi.
"Darrel, apa yang kau lakukan? Sterilisasi ruangan ini sangat ketat, kau tidak bisa membawa Lily masuk begitu saja!" tegur Giovani dengan nada rendah namun tegas.
"Dia sudah tahu, Giovani. Dia mencuri map medis itu dari kamarku," jawab Darrel dingin. Ia menatapku tajam. "Jika dia ingin tahu kebenarannya, maka biarkan dia melihat hasil perbuatan darah keluarganya sendiri."
Darrel memaksaku mengenakan jubah medis dan masker. Setelah melewati protokol kebersihan, pintu geser otomatis terbuka. Di tengah ruangan yang dipenuhi peralatan medis tercanggih yang pernah kulihat, terbaring sosok yang menghancurkan seluruh pertahananku.
Pria itu. Damian.
Wajahnya yang dulu ceria, yang selalu tersenyum saat menungguku di depan toko bunga dengan sebuket mawar, kini pucat pasi dan kaku. Berbagai selang menusuk tubuhnya, dan suara mesin monitor jantung yang berbunyi teratur menjadi satu-satunya tanda bahwa dia masih bernapas.
Aku hampir saja menumpahkan air mataku saat itu juga. Dadaku sesak luar biasa. Ingatanku terbang ke satu tahun lalu, malam terakhir sebelum dia menghilang. Dia memegang tanganku dan berkata bahwa dia mencintaiku, tidak peduli siapa pun aku. Dia berjanji akan menikahiku setelah aku lulus, mendukung impianku menjadi guru, dan menjadi sandaranku saat aku merindukan orang tuaku.
"Damian..." bisikku dalam hati, bibirku gemetar di balik masker. Aku ingin menjerit, ingin memeluknya, tapi aku sadar Darrel berdiri tepat di sampingku, mengamati setiap inci reaksiku.
Darrel mendekati ranjang itu, menyentuh tangan kakaknya dengan kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain. "Lihat dia, Lily. Ini Dante. Pemimpin klan Grisham yang sesungguhnya. Dia tegas, dia kuat, dan dia adalah alasan kenapa aku tidak pernah ingin mengambil posisi pemimpin itu. Karena tempat ini miliknya. Dia belum mati."
Darrel menoleh padaku, matanya memerah. "Tutup mulutmu, Lily. Jika Erlan atau siapa pun tahu Dante masih hidup, kekacauan besar akan terjadi. Erlan akan menganggapnya sebagai kelemahan, dan musuh akan menyerbu untuk menghabisinya."
Aku menelan ludah, mencoba menstabilkan suaraku. "Lalu... apa hubungan Dante dengan kakakku, Evelyn? Kenapa kau begitu yakin Evelyn yang melakukannya?"
Darrel diam sejenak, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu. "Keluarga Grisham dan Livingston dulu adalah sahabat. Ayah kita merintis segalanya bersama dari nol. Dante dan Evelyn tumbuh bersama, mereka hanya terpaut usia satu tahun. Mereka belajar menggunakan senjata dan bertarung di bawah guru yang sama, paman Ken. Aku sering mendengar Dante memuja Evelyn. mengatakan bahwa dia akan menikahinya setelah dewasa. Dan Dante pernah bilang setelah menikah maka kekuasaan Grisham dan Livinston semakin kuat."
Ia menghela napas berat, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Tapi kesalahpahaman antara Jhonatan dan Erlan menghancurkan segalanya. Mereka bermusuhan, dan persahabatan itu berubah menjadi dendam berdarah. saat itu aku belajar di luar negeri hanya mendapat kabar bahwa Dante ditembak, dan saksi mata mengatakan Evelyn ada di sana."
Aku merasa sesak mendengarnya. Ternyata Damian-ku adalah Dante, kekasih masa kecil kakakku sendiri. Aku benci diriku sendiri, kenapa Aku tidak ingat apa-apa tentang masa kecilku, tapi aku tahu satu hal: Ayahku adalah Jhonatan Alexander, bukan Livingston—.
"Darrel," tanyaku dengan hati-hati, "Apakah Dante pernah bertemu kembali dengan Kak Evelyn setelah mereka dewasa? Sebelum kejadian penembakan itu?"
Darrel menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pasti. Tapi tak lama sebelum kejadian itu, aku mendapat kabar bahwa satu anggota keluarga Livingston ditemukan. Kemungkinan besar itu Evelyn. Dan setelah itu... tragedi ini terjadi."
Aku menatap tubuh Dante lagi. ingatanku melayang pada saat awal pertemuan ku dan Damian, di sebuah pameran lukis yang di selenggarakan di kampus ku.
"kenapa wajahmu mirip sekali dengan seseorang yang ku rindukan?" kata-kata Damian padaku dulu. membuatku tersadar, bahwa mungkin Damian mengingat kak Evelyn di wajahku.
apakah kau hanya mencintaiku karena aku mirip kak Evelyn. Wanita yang sangat kau cintai, Damian?.
Tapi aku terlanjur jauh mencintaimu Damian, entah Dante. Siapapun kau, kau tetap orang yang sama yang memelukku saat aku terpuruk.
Aku mendekat ke arah ranjang, tanganku terulur ingin menyentuh tangan Dante, namun Darrel tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku, menghentikannya.
"Jangan menyentuhnya dengan tangan pengkhianatmu, Lily," desis Darrel. "Kau di sini hanya untuk melihat, bukan untuk merasa kasihan. Kau berhutang nyawa padanya."
Aku menatap Darrel, melihat luka yang sama dalamnya denganku. Aku menyadari satu hal yang mengerikan: kami berdua mencintai pria yang sama di atas ranjang ini, namun dengan alasan yang sangat berbeda.
"Aku akan membantumu merawatnya, Darrel," ucapku lirih, sebuah janji yang memiliki makna ganda. "Aku akan menjaganya."
Darrel terdiam sejenak mendengar janjiku, namun bukannya melunak, tatapannya justru semakin tajam dan penuh ketidakyakinan. Ia melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tanganku dengan sentakan pelan, seolah-olah menyentuhku adalah sesuatu yang menyakitkan sekaligus membuatnya muak.
"Membantuku merawatnya?" Darrel mendengus sinis, suaranya bergema dingin di antara bunyi ritmis mesin jantung. "Kau pikir ini adalah drama penebusan dosa, Lily? Setelah apa yang kau lakukan—masuk ke kamarku tanpa izin dan mencuri informasi medis—kau pikir aku akan membiarkanmu berada di dekat Dante semau mu?"
"Darrel, aku hanya ingin membantu. Dia..." Kalimatku tertahan. Aku hampir saja menyebut nama Damian, namun aku segera menggigit bibir bawahku.
"Cukup!" potong Darrel tegas. Ia berbalik menatap Leo yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu kaca. "Leo, mulai detik ini, perketat penjagaan di lantai tiga. Pasang sensor biometrik tambahan. Selain aku, kau, dan Giovani, tidak boleh ada satu jiwa pun yang menginjakkan kaki di sini tanpa pengawasanku langsung. Siapa pun yang melanggar, eksekusi di tempat."
"Baik, Tuan Muda," jawab Leo patuh.
Hatiku terasa mencelos. Harapan untuk bisa membisikkan kata-kata cinta atau sekadar menggenggam tangan Dante agar dia bangun, hancur seketika. Darrel benar-benar membangun tembok tinggi di sekeliling pria yang kucintai.
"Ayo keluar," perintah Darrel.
Ia menarikku keluar dari ruangan sterilisasi dengan langkah lebar, tak memedulikan kakiku yang gemetar. Kami kembali masuk ke dalam lift dalam keheningan yang lebih mencekam dari sebelumnya. Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, Darrel tidak membawaku kembali ke ruang tengah, melainkan menyeretku menuju ujung koridor—ke arah kamarku.
"Darrel, lepaskan! Sakit!" rintihku saat ia mendorongku masuk ke dalam kamar.
Darrel berdiri di ambang pintu, sosoknya yang tinggi besar menutupi cahaya dari koridor. Wajahnya tidak menunjukkan ampunan sedikit pun.
"Karena kau tidak bisa menjaga rasa penasaranmu, dan karena kau berani menginjakkan kaki di ruang pribadiku, maka ini adalah konsekuensinya," ucap Darrel dengan suara datar yang mengerikan. "Kau dilarang keluar dari kamar ini sampai waktu yang tidak ditentukan."
"Kau mengurungku lagi? Darrel, kumohon! Aku butuh udara, aku—"
"Kau butuh belajar untuk patuh, Lily!" bentaknya, membuatku tersentak mundur hingga terduduk di tepi ranjang. "Ini kulakukan agar kau tidak seenaknya berkeliaran dan berusaha menyusup ke lantai tiga lagi. Martha akan mengantarkan makananmu ke sini. Jangan pernah coba-coba merayu Leo atau pelayan lain untuk membukakan pintu."
"Darrel, kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriakku dengan air mata yang mulai tumpah.
"Aku bisa, dan aku melakukannya," jawabnya dingin.
Darrel melangkah mundur, matanya menatapku untuk terakhir kali dengan kilat emosi yang sulit kubaca—antara posesif yang gila dan rasa sakit yang mendalam. Tanpa sepatah kata lagi, ia menarik pintu kamar dan menutupnya dengan dentuman keras.
Cklek. Cklek.
Suara kunci yang diputar dua kali dari luar terdengar seperti vonis mati. Aku berlari menuju pintu, menggedor kayu ek yang tebal itu dengan seluruh sisa tenagaku.
"Darrel! Buka! Jangan kurung aku seperti ini! Darrel!"
Namun, tidak ada jawaban. Hanya suara langkah kakinya yang menjauh di koridor sunyi. Aku menyandarkan dahi ke pintu, merosot jatuh ke lantai sambil memeluk lutut. Di dalam kamar yang mewah namun terasa seperti penjara ini, aku hanya bisa terisak.
***
Bersambung...