NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Xin Yi memilih keluar dari ruangan itu. Ia duduk di bangku taman rumah sakit yang teduh, membiarkan angin sore menyapu wajahnya.

Ia tidak memberikan jawaban apa pun pada Xin Fuyang—tidak mengatakan "iya" mau tinggal, juga tidak menolak. Karena ia tahu, jawabannya tidak akan mengubah apa pun. Keluarga sekuat Xin pasti tidak akan melepaskannya begitu saja setelah berhasil menemukannya.

Tapi bagi Xin Yi... ia hanyalah orang asing. Darah keluarga Xin yang mengalir di nadinya terasa dingin dan tak berarti apa-apa. Ia tidak merasa memiliki ikatan, tidak merasa memiliki rumah di sana.

Pandangannya kosong menatap hamparan rumput hijau di depannya. Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa lalu.

Ibunya meninggal saat melahirkannya, jadi ia bahkan tidak pernah sempat merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Ia tumbuh besar di bawah asuhan Nenek Lin dan kebaikan para tetangga desa. Hingga saat ia menginjak usia lima belas tahun, Nenek tersayang pun pergi meninggalkannya karena usia yang sudah renta.

Selama hidup, Nenek Lin tidak pernah sekalipun bercerita tentang ayahnya—tidak pernah menceritakan keburukan, juga tidak pernah menceritakan kebaikan pria itu.

Wanita tua itu selalu tersenyum tipis jika ditanya, lalu berkata, "Ada hal-hal di dunia ini yang memang tak perlu kita ketahui, Nak. Biarkan saja menjadi rahasia hingga abadi. Mengetahui terlalu banyak hanya akan membuat hati sakit."

Dulu Xin Yi tak mengerti. Tapi sekarang... ia mengerti maksud perkataan Nenek.

Angin taman berhembus lembut, membawa aroma samar bunga kamboja yang ditanam di pot. Xin Yi menarik napas panjang. Ia berharap, kedatangan Keluarga Xin ini hanyalah angin lalu. Ia berharap mereka bisa kembali pada kata-kata Neneknya dulu: biarkan rahasia tetap menjadi rahasia, dan biarkan semua orang tidak perlu tahu akan keberadaannya di dunia ini.

Tapi sayangnya, mimpi itu sudah hancur. Pintu yang sudah tertutup rapat selama tujuh belas tahun kini telah terbuka lebar, dan ia terpaksa melangkah masuk ke dalam dunia yang asing dan dingin itu.

Keesokan paginya, Xin Fuyang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Xin Yi ikut bersamanya, tidak punya pilihan lain selain mengikuti arus yang membawanya kemari.

Yang datang menjemput bukanlah Xin Wei, melainkan Wang Te yang sudah standby di depan lobi.

Sepanjang perjalanan, Xin Yi duduk diam mengenakan setelan pakaian yang sama sejak kemarin.

Baju itu terlihat sederhana, sedikit kusut, dan sama sekali tidak cocok dengan kemewahan di dalam mobil. Namun, Xin Fuyang yang begitu antusias menceritakan silsilah keluarganya sama sekali tidak menyadari hal itu.

"Dengar, Xin Yi. Nanti di rumah, kamu akan bertemu Kakek dan Nenek Xin. Mereka sudah hampir menginjak usia tujuh puluh tahun, tapi masih sangat sehat dan tegas," ujar pria itu dengan nada bangga.

"Lalu ada Ibu Huo Feilin... istri Ayah, dan kakakmu, Xin Yuning. Mereka semua tinggal di kediaman utama ini. Sedangkan Bibi Xin Wei, dia sudah menikah dan punya rumah sendiri tidak jauh dari sini."

Xin Fuyang tersenyum. "Anak Bibi Xin Wei berusia lima belas tahun, beda dua tahun sama kamu. Ayah harap kalian bisa akrab nanti."

"Mm..." Xin Yi hanya menjawab dengan gumaman pelan. Matanya menatap lurus ke depan, sementara otaknya bekerja keras mencatat setiap nama yang disebutkan.

Kakek, Nenek, Ibu tiri, Kakak laki-laki, Sepupu...

Banyak nama, banyak orang yang harus ia hadapi dalam waktu singkat. Ia tidak tahu bagaimana wajah mereka, bagaimana sifat mereka, dan bagaimana ia harus bersikap nanti. Tapi ia tahu, sebentar lagi semuanya akan menjadi nyata.

Mobil perlahan memasuki kawasan perumahan elit. Jarak antar rumah sangat jauh, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan rindang—semuanya didesain untuk menjaga privasi para penghuninya yang pasti adalah orang-orang penting.

Akhirnya, kendaraan itu berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang sangat lebar dan megah. Begitu penjaga gerbang melihat plat nomor mobil dan wajah Xin Fuyang, mereka segera membukakan jalan dengan hormat.

Mobil melaju pelan memasuki halaman yang luas, melewati taman yang ditata rapi, hingga berhenti tepat di depan tangga utama sebuah rumah bergaya klasik modern yang sangat besar dan megah.

Ini adalah kediaman keluarga Xin.

Dan ini... adalah tempat di mana Xin Yi harus mulai menjalani hidup barunya.

Suara mesin mobil yang berhenti terdengar jelas dari ruang tamu yang luas dan mewah itu. Seluruh penghuni rumah sudah berkumpul, duduk menanti dengan suasana yang bercampur antara penasaran dan tegang.

Di kursi utama, Nenek Xin tampak paling gelisah. Matanya tak lepas dari pintu utama, jemarinya terus meremas sapu tangan di pangkuannya.

"Kenapa lama sekali? Mereka sudah sampai kok tidak masuk-masuk?" gerutunya pelan, tidak sabar ingin segera melihat cucu perempuan yang selama ini hilang.

Kakek Xin yang duduk di sebelahnya menepuk bahu istrinya pelan, mencoba menenangkannya. "Sudah, jangan cemas. Mereka pasti sedang menata diri. Fuyang bilang kan, gadis itu sudah bersamanya sekarang."

Di sofa lain yang agak terpisah, duduk Huo Feilin. Wanita itu mengenakan gaun sutra yang elegan, memegang cangkir teh dengan postur tubuh yang tegap sempurna.

Wajahnya tenang dan datar, seolah kedatangan anak haram suaminya sama sekali tidak mengganggunya. Ia menyeruput tehnya dengan anggun, seakan sedang berada di pesta teh biasa, bukan di tengah situasi yang canggung ini.

Di sebelahnya, duduk seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluhan—Xin Yuning.

Ia mengenakan setelan jas rapi meski hanya di rumah, menandakan didikan keluarga yang sangat disiplin. Matanya yang tajam terpaku lurus ke arah pintu masuk, penuh selidik.

Langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pelayan masuk lebih dulu, dengan hati-hati membawa sebuah koper kecil berwarna biru pudar yang terlihat sudah sangat tua dan usang, bahkan ada beberapa bagian yang terlihat diperbaiki dengan jahitan kasar.

Baru setelah itu, Xin Fuyang muncul di ambang pintu. Dan di sampingnya, tangannya menggenggam erat tangan seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang terlihat kecil dan rapuh di tengah ruangan sebesar ini.

Xin Yuning menyipitkan matanya.

Pandangannya menyapu bersih penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga ke atas kepala: pakaian sederhana yang terlihat biasa saja, wajah yang polos tanpa riasan, dan tatapan yang... dingin serta waspada.

Ini adalah adik tirinya. Anak dari wanita yang berbagi perhatian ayahnya dulu.

Suasana ruangan seketika hening total. Semua mata tertuju pada Lin Xin Yi, sang putri yang baru pulang ke rumah asalnya.

"Xin Yi, kemarilah Nak, biarkan Nenek melihat jelas," seru Nenek Xin tak sabar, tangannya melambai-lambai dengan antusias.

Xin Fuyang menyenggol pelan punggung putrinya. "Ayo, Xin Yi. Sapa Nenek."

Di bawah tatapan seluruh anggota keluarga yang menyimak, Xin Yi melangkah maju. Langkahnya tenang namun penuh jarak. Saat sampai di hadapan wanita tua itu, tanpa disuruh pun ia secara alami menekuk satu lututnya, berjongkok rendah dengan sikap sopan yang diajarkan Nenek Lin sejak kecil.

Nenek Xin menahan napas. Tangan keriputnya gemetar hebat saat perlahan terulur, menyentuh pipi gadis itu.

"Sungguh cantiknya cucu Nenek," gumam wanita tua itu takjub, matanya mulai berkaca-kaca. "Matanya bulat yang indah."

Wajah Xin Yi memang memiliki garis keturunan yang sangat jelas—campuran antara kelembutan ibunya dan ketegasan keluarga Xin. Meskipun kulitnya sedikit kecokelatan karena sering terpapar matahari di pulau, justru itu membuatnya terlihat sangat sehat dan bercahaya.

"Nak, ulurkan tanganmu pada Nenek," pinta Nenek Xin lembut, ingin menggenggam tangan cucunya.

Namun, permintaan itu membuat Xin Yi menegang. Jari-jarinya terkepal sedikit di balik roknya. Ada keraguan yang jelas terpancar dari matanya. Ia perlahan mengangkat tangannya, namun menyembunyikannya sedikit di balik punggung tangan lainnya.

Xin Fuyang yang duduk di sofa menyaksikan adegan itu, dan seketika ingatannya kembali ke kemarin di rumah sakit. Saat ia menggenggam tangan gadis ini...

Tangan itu tidak halus seperti tangan gadis kota pada umumnya. Telapak tangannya kasar, dan di ruas-ruas jari terdapat kapalan tebal bekas memegang alat berkebun, memancing, dan melakukan pekerjaan berat lainnya. Bahkan kulitnya terlihat pecah-pecah di beberapa sisi karena sering terkena air dan angin laut.

Xin Yi sadar betul betapa kasarnya tangannya dibandingkan dengan tangan-tangan halus dan berhias cincin berlian yang ada di ruangan ini. Ia merasa rendah diri, takut tangan kotor dan kasarnya menyinggung perasaan Neneknya yang terbiasa hidup mewah.

Melihat cucunya terdiam dan enggan mengulurkan tangan, Kakek Xin mengerutkan kening. "Ada apa? Kenapa diam saja?"

Nenek Xin segera menyambar tangan kecil itu dan menariknya ke hadapannya. Napasnya tertahan seketika.

"Astaga..." desisnya pelan.

Kakek Xin pun mencondongkan tubuh, matanya menatap tajam ke arah telapak tangan cucunya. Di sana, terlihat jelas kapalan tebal yang mengeras di setiap ruas jari, kulit di pergelangan tangan terlihat kasar dan pecah-pecah, bahkan ada beberapa luka kecil yang baru mengering.

Wajah Kakek Xin yang biasanya tenang seketika berubah gelap dan murka.

Dulu, saat ia masih muda dan suka berpetualang, ia pernah bekerja serabutan bahkan menjadi kuli bangunan demi rasa penasaran. Ia tahu betul rasanya memiliki tangan seperti ini—rasa perih yang menyengat saat terkena air sabun atau angin dingin. Dan melihat tangan halus seorang gadis remaja dalam kondisi seburuk ini... amarahnya meledak.

"Panggilkan Dokter Keluarga sekarang! Suruh dia datang segera!" bentak Kakek Xin pada pelayan yang berdiri di sudut ruangan.

Kemudian ia menoleh tajam ke arah Xin Fuyang, suaranya berat dan penuh penekanan.

"Dan kau! Fuyang! Kau benar-benar tidak punya hati! Bukankah kalian baru saja dari rumah sakit? Kau bahkan menggenggam tangannya—bagaimana bisa kau tidak sadar tangan anakmu terluka seperti ini? Apa matamu buta?!"

Wajah Xin Fuyang memucat seketika, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tertunduk diam, tak mampu membela diri.

Benar. Ia memang menggenggam tangan itu erat-empat kemarin. Tapi entah karena ia terlalu antusias, terlalu bahagia akhirnya bisa membawa putrinya pulang, atau karena tangannya sendiri terlalu terbiasa dengan kemewahan sehingga kehilangan kepekaan... ia benar-benar tidak menyadari betapa parahnya kondisi kulit tangan gadis itu. Ia merasa bersalah yang luar biasa.

Di sofa seberang, Huo Feilin menyaksikan adegan itu dengan wajah datar. Di dalam hatinya, ia hampir ingin tertawa sinis. Pria ini saja tidak pernah peduli padanya selama puluhan tahun pernikahan mereka, apa lagi peduli pada anak hasil perselingkuhan yang baru ditemuinya hari ini?

Sikap acuh tak acuh ini sudah menjadi sifat aslinya.

Suasana menjadi sangat tegang. Xin Yi masih berjongkok di sana, diam mematung, seolah semua kemarahan ini tidak berhubungan dengannya.

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!