NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Pengakuan Di Depan Mantan

Langit di atas SMA 1 Nusa Bangsa mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan saat bel pulang sekolah berdentang nyaring. Para siswa berhamburan keluar kelas, menciptakan keramaian yang kontras dengan keheningan di dalam hati Cinta. Sejak kejadian di taman tadi siang, fokus Cinta seolah terbagi antara daftar Persami yang harus ia rapikan dan detak jantungnya yang masih tidak keruan tiap kali melirik kursi di sebelahnya.

Rian sudah keluar kelas lebih dulu karena ada urusan dengan Pak Satpam mengenai parkiran motornya yang sempat terhalang. Cinta sengaja melambatkan gerakannya saat merapikan buku ke dalam tas. Ia butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum menghadapi dunia luar, terutama setelah semua pengakuan jujur yang ia dengar dari mulut Rian.

"Cin, aku duluan ya! Sudah dijemput sama kakak," seru Sarah dari ambang pintu sambil melambaikan tangan.

"Iya, Sar. Hati-hati!" sahut Cinta dengan senyum tipis.

Kini kelas XI MIPA 1 hanya menyisakan Cinta sendirian. Ia menyampirkan tas ranselnya ke bahu, lalu melangkah keluar kelas menyusuri koridor yang mulai sepi. Namun, langkahnya terhenti saat ia mencapai ujung koridor dekat tangga menuju area parkir.

Seorang gadis berdiri di sana, menyandar pada tembok dengan gaya yang sangat elegan namun memancarkan aura mengintimidasi. Rambut panjangnya yang tergerai indah berkilau terkena cahaya matahari sore. Dia adalah Clarissa.

Cinta mencoba bersikap tenang. Ia tahu pertemuan ini tidak bisa dihindari selamanya. Ia terus berjalan, berniat melewati Clarissa begitu saja, namun suara lembut namun tajam milik gadis itu menghentikannya.

"Cinta!"

Cinta berhenti, lalu menoleh. "Iya. Ada apa?"

Clarissa melangkah mendekat, matanya menatap Cinta dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menyelidik. Ada senyum tipis di bibirnya, namun tidak mencapai matanya. "Aku ingin bicara sebentar. Tidak lama, kok."

"Bicara soal apa?" tanya Cinta, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap stabil.

"Soal Rian," jawab Clarissa tanpa basa-basi. Ia kini berdiri tepat di depan Cinta, membuat jarak yang cukup dekat sehingga aroma parfum mahalnya yang menyengat tercium oleh Cinta. "Aku perhatikan belakangan ini kalian sering bersama. Bahkan tadi saat upacara, kalian tampak sangat... akrab."

Cinta terdiam sejenak. Ia teringat penjelasan Rian semalam tentang ancaman yang dibawa Clarissa dari Jakarta. Rasa kesal mulai merayap di hati Cinta, namun ia tetap berusaha menjaga sopan santunnya. "Kami teman sekelas. Wajar kalau kami bicara."

Clarissa tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar mengejek. "Teman sekelas? Aku sudah kenal Rian jauh lebih lama daripada siapa pun di sekolah ini. Rian bukan tipe orang yang mudah bergaul, apalagi duduk sebangku dengan sukarela."

Gadis itu menjeda kalimatnya, lalu menatap Cinta dengan tatapan dingin. "Jujur saja padaku, apa kamu sedang mencoba mendekati Rian? Atau mungkin... kalian sudah punya hubungan spesial?"

Pertanyaan itu terasa seperti hantaman telak bagi Cinta. Di satu sisi, ia ingin meneriakkan kebenaran bahwa Rian telah menyatakan perasaan padanya. Namun di sisi lain, ia teringat bahwa ia belum memberikan jawaban resmi pada Rian. Ia juga tidak ingin memancing drama yang lebih besar, terutama dengan seseorang seperti Clarissa yang memegang rahasia keluarga Rian.

Cinta menarik napas panjang. "Aku tidak sedang mendekati siapa pun, Clarissa. Hubunganku dengan Rian tidak seperti yang kamu bayangkan," jawab Cinta akhirnya. "Kami tidak dekat dalam artian yang kamu maksud."

Clarissa mengangkat sebelah alisnya. "Oh, benarkah? Jadi kamu tidak punya perasaan apa-apa padanya? Baguslah kalau begitu. Karena aku hanya ingin mengingatkanmu, Rian itu punya masa lalu yang rumit di Jakarta. Dan aku adalah bagian besar dari masa lalu itu yang tidak akan pernah bisa dia lepaskan."

Cinta merasa dadanya sesak mendengar klaim sepihak itu. Namun, sebelum ia sempat membalas, sebuah suara berat yang sangat ia kenali tiba-tiba menyahut dari arah belakang.

"Siapa bilang tidak bisa melepaskannya?"

Kedua gadis itu menoleh serentak. Rian berdiri di sana, tidak jauh dari mereka. Wajahnya terlihat sangat dingin, lebih dingin dari biasanya. Tangannya terselip di saku celana, dan matanya menatap lurus ke arah Clarissa dengan tatapan penuh permusuhan.

"Rian?" gumam Clarissa, wajahnya sedikit berubah tegang.

Rian melangkah mendekat, melewati Clarissa begitu saja dan berdiri tepat di samping Cinta. Ia meletakkan satu tangannya di bahu Cinta, seolah sedang menegaskan kepemilikan.

"Kenapa kamu harus bertanya pada Cinta kalau aku dekat dengannya atau tidak?" tanya Rian pada Clarissa dengan nada suara yang rendah namun mengancam. "Harusnya kamu tanya langsung padaku."

Clarissa mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya. "Aku cuma bertanya, Rian. Karena tadi dia bilang kalau kalian tidak dekat. Benar kan, Cinta?"

Rian menoleh sebentar ke arah Cinta yang tampak kaget dengan kehadirannya, lalu kembali menatap Clarissa. Ia tersenyum tipis, tipe senyum yang tidak mengandung keramahan sedikit pun.

"Kalau dia bilang begitu, mungkin dia hanya ingin menjaga perasaanmu agar tidak terlalu sakit," ucap Rian telak. "Kenyataannya, aku memang dekat dengan Cinta. Sangat dekat. Melebihi kedekatan yang pernah aku miliki dengan siapa pun di masa lalu."

Cinta terpaku. Ia tidak menyangka Rian akan berkata sejujur itu di depan Clarissa. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini karena rasa haru bercampur takut.

Wajah Clarissa memerah, antara malu dan marah. "Rian! Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu lupa apa yang aku tahu tentangmu? Kamu lupa kenapa kamu bisa pindah di sekolah kecil ini?"

Rian tidak bergeming. Ia justru tertawa hambar. "Ancam saja terus, Clarissa. Sebarkan apa pun yang ingin kamu sebarkan. Aku sudah bercerita semuanya pada Cinta semalam. Dia tahu setiap detail kegilaanku di Jakarta, dan dia tidak pergi meninggalkanku."

Clarissa terbelalak. Ia menatap Cinta dengan tidak percaya. "Kamu... dia menceritakannya padamu?"

Cinta, yang kini merasa memiliki kekuatan karena dukungan Rian di sampingnya, akhirnya angkat bicara. Ia menatap Clarissa dengan tegas. "Iya. Dia sudah menceritakan semuanya. Dan bagiku, apa yang terjadi di masa lalu tidak mengubah fakta bahwa Rian yang sekarang sedang berusaha menjadi lebih baik."

Rian menatap Cinta dengan binar mata yang penuh rasa terima kasih. Ia kemudian kembali fokus pada Clarissa. "Mulai sekarang, berhenti mengganggu Cinta. Kalau kamu punya masalah, hadapi aku. Tapi kalau kamu menyentuhnya sedikit saja dengan ancamanmu, aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang jauh lebih parah daripada apa yang kulakukan pada cowok itu di Jakarta."

Ancaman Rian kali ini terdengar sangat nyata. Clarissa mundur satu langkah. Ia menyadari bahwa ia telah kehilangan kendalinya atas Rian. Kekuatan rahasia yang selama ini ia genggam ternyata sudah tidak berguna lagi karena Rian telah membukanya sendiri pada orang yang dia sayangi.

"Kalian... kalian akan menyesal," desis Clarissa sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor dengan langkah gusar.

Suasana di koridor itu mendadak sunyi. Rian melepaskan tangannya dari bahu Cinta, lalu menghela napas panjang seolah baru saja melepaskan beban yang sangat berat.

"Maaf," ucap Rian pelan. "Maaf kamu harus terlibat dalam drama ini."

Cinta menoleh ke arah Rian. "Kamu tidak perlu minta maaf. Justru aku yang kaget karena kamu tiba-tiba muncul dan bicara seperti itu."

Rian menatap Cinta dengan dalam. "Aku tidak tahan melihatnya menekankan kata 'masa lalu' itu di depanmu. Aku ingin dia tahu bahwa tempatnya sudah digantikan, dan dia tidak punya hak lagi untuk mencampuri hidupku."

Cinta tersenyum kecil, meskipun hatinya masih sedikit gemetar. "Terima kasih sudah membelaku, Rian."

"Itu sudah jadi tugasku sekarang," sahut Rian sambil tersenyum tipis. "Ayo, aku antar pulang. Aku tidak mau Clarissa tiba-tiba berubah pikiran dan menunggumu di gerbang depan."

Cinta mengangguk. Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Sore itu, meskipun bayang-bayang ancaman Clarissa masih ada, Cinta merasa jauh lebih tenang. Pengakuan Rian di depan Clarissa bukan hanya sekadar pembelaan, tapi juga sebuah penegasan bahwa masa depan yang ingin Rian bangun adalah bersamanya.

Saat mereka sampai di motor besar Rian, Rian menyerahkan helm cadangan pada Cinta. "Besok, kalau dia mendekatimu lagi, langsung beritahu aku ya?"

"Iya, cowok posesif," goda Cinta untuk mencairkan suasana.

Rian terkekeh. "Aku serius, Cinta. Aku tidak mau kamu terbebani karena aku."

Cinta memakai helmnya, lalu naik ke boncengan motor Rian. Saat motor itu mulai melaju meninggalkan area sekolah, Cinta menyandarkan kepalanya sedikit pada bahu Rian. Ia menyadari bahwa perjalanan mereka memang tidak akan mudah, apalagi dengan kehadiran Clarissa sebagai duri di tengah-tengah mereka. Namun, melihat bagaimana Rian berdiri teguh di sampingnya hari ini, Cinta yakin bahwa badai apa pun yang datang dari masa lalu tidak akan mampu meruntuhkan apa yang mulai tumbuh di antara mereka sekarang.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!