NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — RUMAH YANG MENYIMPAN MAYAT MASA LALU

Api terlihat bahkan dari kejauhan.

Langit malam memerah.

Asap hitam membumbung tinggi.

Dan saat mobil kami berbelok masuk ke jalan utama menuju rumah keluarga Wijaya—

dadaku langsung terasa sesak.

Rumah itu terbakar hebat.

Petugas pemadam mulai berdatangan.

Orang-orang berkumpul di luar pagar.

Suara sirine bercampur dengan hujan.

Kacau.

Mobil berhenti mendadak.

Belum sempat Leon bicara—

Arkan langsung turun.

“ARKAN!”

Aku ikut keluar.

Hujan langsung mengguyur tubuh kami.

Dia berjalan cepat menuju rumah.

Tatapannya tidak lepas dari kobaran api.

“Berhenti!”

Aku menarik lengannya.

“Itu berbahaya!”

“Ayahku di dalam.”

Aku langsung diam.

Karena cara dia mengatakan itu…

bukan terdengar seperti dugaan lagi.

Tapi keyakinan.

Ibunya turun perlahan dari mobil.

Wajahnya pucat untuk pertama kalinya malam itu.

Benar-benar pucat.

“Tidak…”

Bisiknya pelan.

Tatapannya ke arah rumah itu seperti melihat mimpi buruk yang akhirnya datang.

“Ada jalan bawah tanah.”

Katanya tiba-tiba.

Aku langsung menoleh.

“Apa?”

“Di belakang rumah.”

Arkan langsung bergerak cepat.

Kami memutari rumah menuju taman belakang.

Rumput basah.

Gelap.

Hanya cahaya api yang memantul dari jendela rumah.

Dan di balik semak besar—

ada pintu besi kecil tertutup tanah dan lumut.

Leon langsung membantu membukanya.

“Cepat!”

Pintu itu terbuka dengan bunyi keras.

Tangga gelap terlihat di bawah.

Bau lembap langsung menyergap.

Kami turun cepat.

Lorong bawah tanah itu sempit.

Tua.

Dindingnya dipenuhi retakan.

“Kenapa rumah ini punya tempat beginian?”

Aku bertanya sambil berjalan cepat.

Ibunya Arkan tidak menoleh.

“Karena dulu rumah ini bukan cuma rumah.”

Jawaban yang lagi-lagi membuat tengkukku dingin.

Kami terus berjalan.

Suara api samar terdengar dari atas.

Lalu—

Arkan tiba-tiba berhenti.

“Ada seseorang.”

Aku langsung menegang.

Di ujung lorong—

bayangan seseorang terlihat.

Duduk.

Diam.

“Siapa di sana?!”

teriak Leon.

Tidak ada jawaban.

Kami mendekat perlahan.

Dan saat cahaya senter mengenai wajah pria itu—

napasku langsung tertahan.

Pria tua.

Kurus.

Wajahnya penuh luka lama.

Dan matanya…

sangat mirip Arkan.

“Papa…”

Suara Arkan hampir tidak terdengar.

Sunyi.

Pria itu mengangkat kepala perlahan.

Tatapannya langsung ke Arkan.

Lalu—

senyum kecil muncul di wajahnya.

“Kamu akhirnya datang.”

Dadaku langsung berdetak lebih keras.

Jadi benar.

Ayah Arkan masih hidup.

“Tidak mungkin…”

Bisikku pelan.

Ibunya Arkan berdiri membeku beberapa langkah di belakang kami.

Tatapannya bergetar.

“Kamu bilang mereka membunuhmu…”

Suaranya pecah.

Pria tua itu tertawa kecil.

Lelah.

“Mereka hampir berhasil.”

Arkan masih diam.

Tubuhnya bahkan terlihat sedikit gemetar.

Dan aku baru sadar—

selama ini dia hidup dengan percaya ayahnya sudah mati.

“Kenapa…”

Suara Arkan serak sekarang.

“…kenapa Papa sembunyi?”

Pria itu menatapnya lama.

“Karena kalau mereka tahu aku hidup…”

Tatapannya berubah gelap.

“…kalian semua akan dibunuh.”

Sunyi.

Aku bisa merasakan semuanya mulai terhubung.

The Circle.

Kematian ayahku.

Penghapusan identitasku.

Semua.

“Ayahku…”

Aku melangkah maju.

Pria tua itu langsung menatapku.

Dan ekspresinya berubah.

“Jadi kamu…”

Dia terlihat seperti melihat hantu.

“Kamu benar-benar masih hidup…”

Aku langsung mengernyit.

“Kamu kenal ayahku?”

Pria itu tertawa kecil pahit.

“Dia sahabat terbaikku.”

Kalimat itu langsung menghantamku.

Tidak.

Kalau mereka sahabat—

kenapa semua ini terjadi?

“Kalau begitu kenapa keluargaku hancur?!”

Suaraku mulai naik.

“Kenapa aku dijadikan target?!”

Pria itu memejamkan mata sebentar.

Karena kesalahan kami.”

Aku mengepalkan tangan.

“Kesalahan apa?!”

Dan di situlah—

untuk pertama kalinya—

tatapan pria itu berubah penuh penyesalan.

“Kami mencoba keluar.”

Sunyi.

“Ayahmu menemukan sesuatu tentang The Circle.”

Dadaku langsung berdetak lebih cepat.

“Sesuatu yang tidak seharusnya diketahui siapa pun.”

“Apa?”

Pria itu menatapku.

Lama.

“Daftar nama.”

Aku mengernyit.

“Nama siapa?”

Dia menarik napas pelan.

“Semua orang penting yang ada di dalam organisasi itu.”

Sunyi.

“Politikus.”

“Pebisnis.”

“Polisi.”

“Jaksa.”

Suaranya makin pelan.

“Orang-orang yang mengendalikan negara dari balik layar.”

Tenggorokanku terasa kering.

Tidak.

Ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan.

“Ayahmu ingin membongkar semuanya.”

“Dan kamu?”

tanyaku cepat.

Pria itu tertawa pahit.

“Aku terlalu pengecut.”

Sunyi.

“Aku bilang ke dia untuk diam.”

Dadaku mulai terasa sesak.

“Tapi ayahmu keras kepala.”

Senyum kecil muncul di wajah pria tua itu.

Sedih.

“Dia bilang kalau mereka terus dibiarkan…”

Tatapannya turun.

“…lebih banyak orang akan hancur.”

Aku menggigit bibir keras.

Itu memang ayahku.

Dan justru karena itu—

dia mati.

“Apa daftar itu masih ada?”

Suara Arkan akhirnya kembali terdengar.

Pria tua itu langsung diam.

Tatapannya berubah waspada.

“Ada.”

Jantungku langsung berdetak keras.

“Di mana?”

Sebelum pria itu sempat menjawab—

suara ledakan besar terdengar dari atas.

DUARRR!

Lorong langsung bergetar.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

“Tidak…”

Ibunya Arkan langsung pucat.

“Mereka menemukan tempat ini.”

Dan di detik berikutnya—

suara langkah terdengar dari ujung lorong lain.

Bukan satu orang.

Banyak.

Leon langsung mengangkat pistol.

“Siap-siap.”

Arkan berdiri di depan ayahnya.

Tatapannya berubah dingin.

Mematikan.

Sementara aku…

aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat keras.

Karena akhirnya aku sadar.

Semua pembunuhan.

Semua kebohongan.

Semua penderitaan.

Terjadi hanya karena satu hal.

Daftar nama itu.

Dan sekarang—

semua orang akan membunuh untuk mendapatkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!