NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat / Tamat
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Menunggu Kabar dari Ujung Senar

Cahaya matahari pagi belum juga sepenuhnya masuk lewat celah jendela kayu yang catnya sudah mengelupas. Namun, mataku sudah terbuka lebar sejak azan Subuh berkumandang dari surau sebelah rumah. Tubuhku masih terasa berat, sisa-sisa kekakuan pasca-stroke membuat jari-jari tanganku sulit digerakkan pagi ini. Tapi, bukan sakit fisik yang paling menyiksa. Melainkan keroncongan di perut yang tadi malam sempat kubohongi dengan air putih hangat.

Aku menoleh ke samping. Balqis sudah bangun.

Anak kecil itu tidak menangis. Ia hanya duduk diam di atas kasur tipis, memeluk lututnya yang mungil. Matanya yang bulat menatapku kosong. Tidak ada senyum, tidak ada rengekan minta susu. Hanya tatapan itu... tatapan seorang anak berusia dua tahun yang sepertinya sudah terlalu dini memahami arti kelaparan.

“Balqis...” suaraku serak, hampir tak terdengar.

Anak itu menoleh pelan. “Papa... lapa?” tanyanya polos. Satu kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada lumpuh yang membelenggu separuh tubuhku.

Aku mencoba tersenyum, meski bibirku terasa kering. “Iya, Nak. Papa juga lapar. Tapi kita tunggu sebentar ya? Mungkin Mama kirim kabar.”

Kalimat itu lebih untuk menghibur diriku sendiri daripada Balqis. Semalam, sebelum tidur, aku mengirim pesan WhatsApp kepada istriku, ibu dari Balqis. Pesan singkat penuh harap: “Bu, beras habis. Obat juga tinggal sedikit. Balqis rewel semalaman. Kalau ada rezeki, mohon dikirim. Aku sudah coba tulis cerita, semoga bisa jadi jalan lain.”

Hingga detik ini, belum ada balasan.

Jam dinding tua di dinding retak menunjukkan pukul 07.30 pagi. Biasanya, di jam segini, aroma nasi goreng atau setidaknya bau kopi sudah tercium dari dapur tetangga. Tapi hari ini, hidungku hanya menangkap bau lembap tanah dan kayu lapuk. Perutku berbunyi lagi, kali ini lebih nyaring. Balqis mendengarnya. Ia menunduk, memainkan ujung selimut kotor kami.

Aku memaksakan tubuhku untuk bergerak. Dengan tangan kiri yang masih memiliki sedikit tenaga, aku berusaha menggeser badan, bersandar pada kepala tempat tidur agar bisa mencapai HP-ku yang tergeletak di meja kecil sebelah kasur. Gerakannya lambat, menyakitkan. Setiap otot berteriak protes. Tapi aku harus mengecek HP-ku. Mungkin notifikasinya muncul tapi getarnya terlalu halus hingga tak kurasakan?

Dengan gemetar, jariku menyentuh layar. Membuka aplikasi WhatsApp.

Belum ada pesan baru.

Hati ini rasanya seperti ditarik turun ke dasar sumur yang gelap. Kecewa? Tentu saja. Tapi aku tidak boleh menyerah. Istriku mungkin sedang kesulitan juga di perantauan. Mungkin dia sedang bekerja keras membanting tulang demi mengirim uang, tapi terkendala sistem bank, atau mungkin sinyalnya buruk. Aku harus berprasangka baik. Aku harus yakin bahwa doa-doa yang kupanjatkan semalam, di sela-sela tangis Balqis, didengar oleh Allah.

“Sabar ya, Nak,” bisikku pada Balqis sambil mengelus kepala halusnya. “Papa janji, hari ini kita akan makan. Entah dari mana, entah bagaimana, Allah pasti kirim rezeki.”

Balqis mengangguk pelan, seolah mengerti janjiku. Ia merangkak mendekat, lalu memeluk lenganku yang lumpuh. Pelukan hangatnya menjadi satu-satunya obat bagi dinginnya pagi ini.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Tok. Tok. Tok.

Jantungku berdegup kencang. Siapa yang datang sepagi ini? Tetangga? Petugas bantuan? Atau kurir yang membawa paket dari istriku?

Aku menatap pintu kayu itu dengan harapan yang tiba-tiba membara. Apakah ini awal dari kabarku? Apakah ini jawaban dari doa semalam?

“Assalamualaikum...” terdengar suara wanita dari balik pintu. Suara yang cukup akrab, tapi dalam keadaan lapar dan cemas, otakku sulit mengenali siapa pemiliknya.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaga untuk menjawab, sambil berharap di balik pintu itu ada solusi untuk perut Balqis yang kempis dan masa depan kami yang masih kabur.

1
Mr. Han
Ayahku juga pernah bilang gini...
ELNARA: 🥺 "Terima kasih banyak ya Kak... Rasanya makin lega dan terharu banget denger kata-kata ini. Ternyata nggak cuma saya aja, banyak ayah di luar sana yang sama-sama berjuang, sama-sama punya rasa sayang sebesar ini ke anaknya. Makasih udah ngerti dan rasain apa yang saya tulis... 🤍🙏"
total 1 replies
T28J
Kamu tidak sendirian. /Rose/
ELNARA: Kalimat Mas ini bikin mata saya berkaca-kaca... 🥹🥀 Terima kasih banyak ya Mas... kata-kata ini sejuk banget masuk ke hati, rasanya beban di pundak jadi terasa lebih ringan.

Betul sekali... selama ada orang-orang baik seperti Mas yang peduli, mengerti, dan mendukung, saya dan Ayah Balqis memang tidak pernah sendirian. ❤️🙏 Kalimat ini bakal jadi penyemangat terbesar saya terus berkarya dan menceritakan perjuangan mereka sampai tamat nanti.

Terima kasih sudah jadi bagian dari perjalanan ini ya Mas. Kehadiran dan dukungan Mas berarti banget buat kami. 🥀✨ Semoga Mas selalu sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta ya. Ditunggu terus kehadirannya di bab-bab selanjutnya ya... 🫂
total 1 replies
T28J
Saya paham, karena saya juga memiliki anak umur 2 tahun, masih lucu-lucunya ya kan.
Terima kasih sudah menyayangi Balqis. 👍
ELNARA: Terima kasih banyak ya komentarnya Mas! 🥰 Wah, berarti kita senasib sepenanggungan ya, sama-sama merasakan kebahagiaan punya anak kecil di umur segitu, masa-masa paling lucu dan berharga banget ya. 🥹❤️

Senang banget banget Mas bisa merasakan dan mengerti perasaan Ayah di cerita ini. Memang Balqis itu harta paling berharga, alasan terbesar buat berjuang dan bertahan. Terima kasih sudah ikut menyayangi Balqis dan perjuangan ayahnya ya! 🙏✨

Masih banyak perjalanan, ujian, dan kisah haru yang belum terungkap lho ke depannya. Semoga Mas tetap setia terus ikutin ceritanya sampai tamat ya. Dukungan, like, dan komentar dari Mas itu semangat paling besar buat aku terus berkarya dan bikin cerita yang makin bagus lagi. 🚀💪 Ditunggu terus kelanjutannya ya! 😊🙌
total 1 replies
ELNARA
Makasih banyak ya Kak Wawan 😄
Mawar merahnya sudah sampai untuk Balqis 🌹😊
Senang banget lihat Kakak menikmati cerita ini. Jangan bosan nemenin perjuangan Ayah dan Balqis ya 🙏
Wawan
Setangkai mawar merah untuk Balqis 😄
Alana kalista
lanjutkan 🥰
ELNARA: Halo Kak Alana! 🥰 Terima kasih sudah menunggu dari pagi buta ya! Doa dan semangat Kakak adalah bahan bakar utama kami. Tenang saja, 'Sekolah Mimpi Balqis' segera dimulai! Bab 111 akan rilis dalam hitungan menit ini. Siapkan tisu karena ada kejutan yang bikin haru! ✨🎒 #TimSekolahMimpi
total 1 replies
ELNARA
Halo Manusia Ikan 😊
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca "Ayah Balqis" dari bab pertama! Aku senang banget ada orang seperti kamu yang mau menyelami kisah Rudini & Balqis sampai ke akar-akarnya.

Kalau ada bagian yang bikin nangis, ketawa, atau bahkan marah… jangan ragu buat komen ya! Ceritanya bakal terus hidup kalau ada teman sepertimu yang ikut merasakan.

Semoga harimu sehangat pelukan Balqis untuk ayahnya ❤️
— Ray Penyu (penulis yang juga sedang belajar jadi ayah terbaik)
Wawan
Semangat ✍️
ELNARA: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
ELNARA
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
ELNARA
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
ELNARA: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!