"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Insiden Kamar Mandi
"Mas Prabu berangkat lebih awal lagi, ya?"
Tubuh Kharisma sungguh lesu saat dia bergabung di dapur, mendapati Meara dan tiga pelayan lainnya yang sedang menyiapkan sarapan.
Tadi, saat ia baru saja terbangun dari tidurnya yang sangat tidak nyenyak, Kharisma tidak mendapati kehadiran Prabujangga di sekitarnya. Dugaannya, laki-laki itu pasti menghindar darinya lagi. Tapi hari ini Kharisma mengerti, mungkin Prabujangga memang muak dengan sikapnya.
"Tidak, Non." Meara mengalihkan atensinya dari piring-piring di atas meja, menatap Kharisma yang berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur yang sedikit kusut. "Pak Prabu hari ini tidak kekantor, beliau ada di ruangan kerja pribadinya di lantai atas."
Kharisma mengernyitkan dahi. Setaunya Prabujangga sangat jarang tidak berangkat ke kantor, bahkan nyaris tidak pernah.
"Kenapa Mas Prabu tidak berangkat ke kantor, Meara?" tanya Kharisma sekali lagi, tapi Meara menggelengkan kepala.
"Saya tidak tau, Non," balasnya.
Dengan helaan napas dan anggukan terakhir, Kharisma memutuskan untuk berbalik ke ruang tamu. Ini masih pagi, bahkan sarapan belum dimulai. Tapi pada jam segini kemarin Prabujangga sudang menghilang dari atas ranjang. Kharisma kira hari ini Prabujangga juga pergi ke kantornya, ternyata tidak.
"Mas Prabu kenapa tidak ke kantornya, ya? Apa masih kesal karena yang kemarin?" gumamnya, mendudukkan diri pada permukaan sofa yang empuk.
Kharisma menyandarkan punggungnya, matanya terpejam karena lelah. Entah kenapa energinya jadi habis seperti ini, padahal ia baru saja bangun. Bahkan untuk sekedar mandi dan mengganti pakaian saja ia merasa malas.
"Kenapa, sayang? Masih merasa pusing?"
Saat suara Nada terdengar, Kharisma membuka sebelah matanya dan tersenyum lembut.
"Sudah mendingan, Bunda," jawabnya pelan.
Nada menuruni tangga, wajahnya memasang ekspresi teduh yang penuh kasih sayang mendapati menantunya yang terlihat lemas di sofa. Nada bahkan memperhatikan bagaimana lengan gaun tidur Kharisma yang melorot dari bahu.
"Kamu harusnya istirahat dulu," ucap Nada, duduk di sebelah Kharisma dan membenarkan lengan gaun tidur menantunya. "Kamu dari kemarin keliatan lemas sekali, Bunda khawatir nanti kamu sakit."
"Aku tidak apa-apa, Bunda," Kharisma tersenyum dan menegakkan tubuhnya. "Cuma lelah saja, padahal aku hanya diam di kamar sejak kemarin."
Kharisma memperhatikan saat Meara dan para pelayan yang lain mulai menyiapkan sarapan di meja makan. Piring-piring dijejerkan dan lauk-lauk dihidangkan. Peralatan makan lainnya juga mulai ditata.
"Sarapan sudah mau siap, kamu lebih baik siap-siap dulu ya." Nada membelai rambut Kharisma. "Siapa tau setelah mandi kamu bisa lebih segar."
Kharisma mengangguk, bersandar pada belaian Nada. "Iya bunda, kalau begitu aku mau mandi dulu."
Kharisma perlahan-lahan berdiri dari sofa, kakinya terasa sedikit berat saat meninggalkan Nada yang mulai menghampiri Meara dan membantu menyiapkan meja makan. Nada tak henti-hentinya memandangi punggung Kharisma yang menjauh, memastikan agar menantunya sampai di kamar tanpa terjatuh.
...***...
"Kirimkan semuanya pada saya, akan segera saya periksa."
Suara Prabujangga menjadi satu-satunya yang terdengar di dalam ruangan yang sunyi. Tumpukan kertas di atas mejanya tidak sebanyak biasanya karena hari ini ia tidak berada di kantornya. Tangannya menempelkan benda pipih di telinganya, mendengarkan laporan sekretarisnya yang membantu dari kejauhan.
"Saya sudah memberitahu pada beberapa orang yang berencana untuk datang menemui saya hari ini. Saya menunda pertemuan saya dengan mereka," imbuhnya. "Atur ulang semua jadwal saya untuk besok."
Setelah memastikan segalanya telah berjalan lancar, Prabujangga memutuskan sambungan dan meletakkan ponselnya di atas meja. Punggungnya bersandar pada kursi putarnya yang entah kenapa tidak bisa memberikan kenyamanan.
Untuk kali pertama setelah berbulan-bulan, ia memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Biasanya ia akan selalu pergi ke kantornya itu meskipun dalam keadaan kurang baik, kecuali saat ia benar-benar tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena demam tinggi akibat tidak tidur selama berhari-hari.
Tapi hari ini, jelas sekali tubuhnya sedang tidak bermasalah.
Prabujangga masih memikirkan ucapan Meara kemarin bahwa istrinya itu dalam kondisi yang kurang baik. Sakit kepala dan pegal-pegal. Entah mengapa itu menganggu pikiran Prabujangga hingga ia memutuskan untuk bekerja dari rumah alih-alih kembali ke kantor.
"Permisi, Pak? Bu Nada menyuruh saya untuk membawakan kopi."
Tiba-tiba saja suara Meara terdengar, diikuti oleh suara ketukan pada pintu. Prabujangga kembali menegakkan tubuhnya, menutup kembali kancing teratas kemejanya yang terbuka.
"Masuk."
Pintu terbuka, menampakkan Meara yang menunduk sopan dan melangkah masuk membawa nampan berisi cangkir di atasnya.
"Letakkan saja di sini," titah Prabujangga datar, membiarkan Meara meletakkan cangkir kopi di atas mejanya. Prabujangga berdehem pelan sebelum kembali bersuara. "Bagaimana istri saya? sudah keluar dari kamarnya?"
Meara mengangguk pelan. "Sudah Pak, tadi Non Kharisma juga sempat menanyakan tentang bapak. Tapi sekarang sudah kembali ke kamarnya."
Prabujangga meraih cangkir kopinya, tatapannya terpaku pada uap yang mengepul dari cairan berwarna hitam pekat. "Bagaimana dengan sarapan dan obatnya?"
"Untuk sarapan sudah siap, dan sepertinya Non Kharisma ingin bergabung di meja makan pagi ini. Untuk obatnya, akan segera saya antarkan," jawab Meara, menundukan kepalanya.
Prabujangga mengangguk. "Pastikan dia beristirahat, saya tidak mau jika—"
PRANG!
Hening tiba-tiba menyelimuti tepat setelah suara benda jatuh terdengar dari lantai bawah. Prabujangga terdiam, cangkir yang hampir menyentuh mulutnya berhenti di tengah jalan. Suara itu seperti jatuhan keras dari benda pecah belah, menggema keras pada ruangan kerja Prabujangga yang sepi.
Meara buru-buru mengecek ke luar ruangan, nampannya berayun di setiap langkahnya yang cepat.
"Ada apa?" Prabujangga perlahan-lahan bangun dari kursinya, melupakan cangkir kopi yang ia letakkan kembali di atas meja saat mengikuti langkah Meara ke luar ruangan.
Meara menoleh ke arah Prabujangga, wajahnya sedikit memucat. "Asal suaranya... dari kamar bapak."
...***...
BRAK!
Pintu nyaris ambruk saat Prabujangga menerobos masuk ke dalam kamar. Air mukanya panik, matanya mencari-cari sosok istrinya di dalam kamar. Kamar itu kosong, namun matanya langsung tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup. Meara yang berada di belakangnya tetap diam di luar kamar dengan kekhawatiran yang nyata.
Tanpa berpikir dua kali, Prabujangga menekan kusen pintu dan langsung mendorong pintu kamar mandi hingga ternganga lebar.
Tubuhnya membeku melihat pemandangan di hadapannya.
"M-mas Prabu?"
Suara napas Prabujangga yang memburu terasa lebih keras dari debar jantungnya. Matanya mengamati kamar mandi yang terlihat kacau, dan yang membuat amarahnya naik ke ubun-ubun adalah Kharisma—istrinya—yang bersimpuh diantara pecahan kaca.
"Apa yang kamu lakukan?"
Prabujangga mendekat, sepatu kulitnya menginjak serpihan tanpa ragu. Dia mengangkat tubuh Kharisma ke dekapannya, menjauhkan istrinya dari serpihan pot kaca hiasan yang biasanya diletakkan di atas Countertop wastafel.
"Hanya ingin mandi saja..." Kharisma membenamkan wajahnya di leher Prabujangga. "Tapi aku pusing, tidak sengaja mengenggolnya. Mas Prabu jangan marah ya..."
Rahang Prabujangga mengeras, cengkramannya pada Kharisma semakin erat.
"Meara!" Suara Prabujangga terdengar menggelegar, membuat Kharisma terkesiap di dekapannya.
Kepala pelayan itu langsung buru-buru masuk, menghadap Prabujangga dengan kepala tertunduk. "I-iya, Pak?"
"Bersihkan tempat ini, pastikan tidak ada bekas-bekas serpihannya yang bisa melukai istri saya," titahnya, melangkah melewati Meara yang segera menyingkir saat ia lewat. "Singkirkan juga benda-benda seperti itu dari kamar saya."
Prabujangga mendudukkan Kharisma di tepi tempat tidur, tidak menghiraukan istrinya yang terlihat sedikit ketakutan dan merasa bersalah karena ekspresinya yang keras.
Prabujangga berlutut di hadapan Kharisma. Dia meraih kaki perempuan itu, memeriksa dari telapak kaki hingga betis, memastikan serpihan-serpihan tidak meninggalkan luka di sana.
"Mas Prabu sedang apa—"
"Kenapa tidak meminta bantuan jika sedang pusing?"
Kharisma terdiam saat Prabujangga menyela ucapannya. Matanya yang bulat mengerjap sedih.
"Hanya tidak ingin merepotkan," cicitnya, menautkan jari dengan gugup di pangkuan.
Prabujangga bangkit, matanya kembali tertuju pada kamar mandi sebelum kembali pada Kharisma. "Tidak ingin merepotkan? Bukankah apa yang kamu lakukan ini justru merepotkan semua orang sekarang? Merepotkan saya dan Meara?"
Kharisma menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Segala bentakan yang Prabujangga berikan sejak kemarin agaknya sedikit memengaruhinya.
"Maaf..." cicitnya, menghindar dari tatapan Prabujangga. "Maaf sudah merepotkan ya, Mas..."
Prabujangga memejamkan matanya, tangannya bergerak menyisir helaian-helaian rambutnya dengan frustrasi. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bereaksi seperti ini.
Melihat Kharisma yang bersimpuh di antara belahan kaca dengan tangan memegangi kepala membuat Prabujangga seperti orang kesetanan.
"Jika sakit tidak usah bangkit dari tempat tidur. Susah sekali untuk menurut?" Prabujangga sedikit merendahkan suaranya, berusaha meredam emosi yang tiba-tiba. "Bagaimana jika saya tidak mendengar tadi? Apa yang akan terjadi pada kamu jika saya tidak datang?"
Ekspresi bersalah Kharisma membuat amarah Prabujangga mereda sepenuhnya. Bibir kecil istrinya yang cemberut itu menjadi ciri khasnya yang membuat Prabujangga kesal sekaligus gemas.
"Jika terus di tempat tidur saja, bagaimana caranya mandi? Mas mau kamar menjadi bau karena aku?" Kharisma curi-curi pandang, sedikit takut-takut menatap Prabujangga.
Ekspresi Prabujangga kembali datar, sebelah alisnya terangkat. "Tentu saja saya tidak ingin kamar saya bau," ujarnya, sengaja mendekatkan wajahnya pada Kharisma.
Perempuan itu menelan ludah, wajahnya kini sangat dekat dengan Prabujangga hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Udara terasa menipis di sekeliling mereka.
"Oleh karena itu..." Prabujangga berbisik, "saya yang akan membantu kamu untuk mandi."
Bersambung...