“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Cara Terkejam untuk Mencintai
Kaisyaf berdiri di depan wastafel. Kedua tangannya bertumpu di sana, kepalanya tertunduk. Napasnya berat.
Beberapa detik… ia hanya diam. Lalu ia tertawa pelan. Hambar.
“Aku sudah terlalu lama mengenalmu, Ayza…” gumamnya lirih.
Ia mengangkat wajahnya, menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata itu terlihat lelah.
“Aku tahu bagaimana sifatmu.”
Rahangnya mengeras.
“Kalau aku bilang yang sebenarnya… kau gak akan pergi.”
Tangannya mengepal.
“Dan aku…” suaranya tertahan, hampir hilang, “aku gak ingin melihat kamu hancur… sedikit demi sedikit, setiap hari.”
Ia memejamkan mata. Sekilas, bayangan Ayza tadi muncul. Tatapan percaya itu… justru menusuk.
“Jadi lebih baik kau membenciku.”
Setetes air jatuh dari ujung dagunya. Entah air keran, entah bukan.
“Ayza…” suaranya nyaris tak terdengar, “jangan paksa aku jadi orang yang lebih kejam dari ini.”
Beberapa menit kemudian Kaisyaf keluar dari kamar mandi.
Air masih menetes dari rambutnya. Kemejanya sudah rapi. Terlalu rapi… untuk seseorang yang baru saja menghancurkan semuanya.
Ia mengambil jasnya.
Ayza langsung berdiri. “Abi mau ke mana?”
“Kerjaan mendadak," jawabnya singkat. Tanpa penjelasan.
“Sekarang?” suara Ayza tertahan. “Setelah semua ini?”
Kaisyaf tidak menjawab. Ia melangkah.
Ayza ikut bergerak. Lebih cepat. Tangannya meraih lengan pria itu.
“Abi.”
Langkah Kaisyaf terhenti, namun ia tidak menoleh.
“Abi lagi menghindar, 'kan?” suara Ayza lebih pelan sekarang. Tapi justru lebih menekan. “Atau… memang sudah tidak mau bicara sama aku?”
Tidak ada jawaban. Hanya bahu yang sedikit menegang.
Jari-jari Ayza mengencang. Seolah kalau ia melepas… pria itu benar-benar akan pergi.
“Lihat aku, Bi.”
Permintaan itu hampir seperti bisikan..Namun Kaisyaf tetap tidak berbalik. Perlahan… tangannya melepaskan genggaman Ayza.
Satu per satu.
Tanpa kasar. Tapi juga tanpa ragu. Seolah sentuhan itu… tidak lagi berarti apa-apa. Dan itu jauh lebih menyakitkan.
Ayza menahan napas.
“Jadi ini cara Abi?” suaranya pecah tipis. “Pergi… tanpa menyelesaikan masalah?”
Kaisyaf akhirnya melangkah lagi. Melewatinya.
Pintu terbuka.
“Abi—”
Kalimat itu terpotong.
Pintu tertutup.
Ayza berdiri di sana. Tangannya masih terangkat sedikit… di udara.
Kosong.
Perlahan, ia menurunkan tangannya. Ini bukan sekadar menjauh. Ini seperti… mendorongnya pergi.
Dadanya terasa sesak.
Suaminya tidak seperti ini tanpa alasan. Jika dia memilih menjauh sejauh ini… berarti ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.
***
Mobil melaju di jalanan yang mulai lengang. Cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja berdebat hebat.
Tangan Kaisyaf di setir mengencang. Napasnya berubah. Pendek. Tidak teratur. Pandangan di depannya mulai kabur. Ia menginjak rem mendadak.
Mobil berhenti di pinggir jalan.
Tubuhnya langsung bersandar ke kursi. Kepalanya jatuh ke belakang. Satu tangan menekan dada. Kuat.
Sakit itu datang lagi. Lebih tajam dari sebelumnya. Lebih dalam.
Ia memejamkan mata. Rahangnya mengeras menahan. Tangannya meraih ponsel dengan susah payah. Menekan panggilan cepat.
“Cepat ke sini.”
Ia mengirim lokasi. Lalu ponsel itu jatuh ke samping. Napasnya berat.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti. Ridho turun cepat. Langsung membuka pintu kemudi.
“Pak—”
Kata-katanya terpotong saat melihat kondisi Kaisyaf.
“Bantu aku pindah,” suara Kaisyaf rendah, hampir tidak terdengar.
Ridho tidak bertanya. Ia langsung menahan tubuh pria itu, memindahkannya ke kursi penumpang. Tangannya cekatan. Tapi wajahnya tegang.
Mobil kembali melaju. Kali ini, lebih cepat.
Rumah sakit.
Seorang dokter wanita sudah menunggu di depan.
Nara.
“Kenapa jadi seperti ini?” tanyanya cepat.
“Saya juga tidak tahu, Dok,” jawab Ridho.
Kaisyaf langsung dibawa masuk.
Beberapa jam kemudian.
Di ruang rawat, infus terpasang di tahan Kaisyaf. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.
Ridho berdiri di dekat jendela. Nara di sisi tempat tidur.
Mata Kaisyaf terbuka perlahan. Ia tidak langsung melihat siapa pun.
“Batalkan gugatan cerai.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Nara menatapnya.
Ridho menoleh cepat.
“Pak—”
“Dia akan pergi kalau aku lanjutkan.” Suara Kaisyaf lemah, tapi tegas. “Dia akan bawa Al.”
Tatapannya lurus ke atas. Tidak berkedip.
“Al satu-satunya cucu orang tuaku.” Jemarinya sedikit bergerak di atas selimut. “Aku tidak akan biarkan mereka kehilangan dia.”
Ridho diam. Ia tahu… itu bukan sekadar kekhawatiran.
“Itu ancaman yang bisa dia lakukan,” lanjut Kaisyaf pelan. “Dan dia bukan orang yang asal bicara.”
Ruangan terasa berat.
“Baik, Pak,” jawab Ridho akhirnya.
Nara menghembuskan napas panjang.
“Kenapa tidak jujur saja pada Ayza?” Tatapannya tajam. “Tidakkah kau berpikir, akan lebih baik kalau dia tahu yang sebenarnya?”
Kaisyaf tersenyum tipis. Pahit. “Kau tidak kenal dia.”
Nara mengernyit.
Kaisyaf menoleh sedikit.
“Dia tidak akan pergi.” Suara itu rendah. Tapi pasti. “Dia akan tetap di sampingku.”
Nara tidak menyela.
“Dia akan mengurusku,” lanjutnya. “Melupakan dirinya sendiri.” Matanya meredup. “Dia akan melihat aku setiap hari… dalam keadaan seperti ini.”
Tangannya sedikit mengepal.
“Dan saat waktuku habis… dia yang akan hancur.”
Nara terdiam.
“Sekarang saja dia sudah hancur,” ucap Nara pelan. “Kau melihat itu, 'kan?”
Kaisyaf menutup matanya sebentar.
“Aku tahu.” Suaranya nyaris berbisik. “Tapi itu lebih mudah… daripada membuatnya menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali.”
Nara tidak langsung menjawab.
Kaisyaf membuka matanya lagi. Menatap langit-langit.
“Aku pernah melihat dia bertahan pada orang yang tidak mencintainya.”
Suara itu lebih berat sekarang.
“Dia tetap merawat. Tetap tinggal. Tetap bertahan… sampai dia yang terluka sendiri.”
Napasnya tertahan sejenak.
“Sekarang dia mencintaiku.” Tatapannya kosong. “Kalau aku biarkan… dia akan melakukan hal yang sama.”
Ia menggeleng pelan. “Aku tidak mau itu terjadi lagi.”
Nara menggigit bibirnya. “Jadi kau pilih membuatnya membencimu?”
Kaisyaf tersenyum lagi. Lebih tipis.
“Iya.”
Jawaban itu sederhana. Namun jatuh dengan berat yang tidak bisa diabaikan.
“Lebih baik dia membenciku sekarang…” Matanya perlahan terpejam. “…daripada kehilangan aku nanti.”
Tak ada lagi yang bicara. Ridho dan Nara memberi waktu pada Kaisyaf untuk beristirahat.
Beberapa menit kemudian
Nara dan Ridho keluar dari ruang rawat. Pintu tertutup di belakang mereka.
Ridho langsung menoleh. “Dok… sebenarnya kondisi Pak Kaisyaf seperti apa?”
Nara tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
“Harusnya kamu sudah curiga sejak lama,” ucapnya pelan.
Ridho terdiam.
Nara menarik napas.
“Kondisinya bukan sesuatu yang bisa sembuh dengan istirahat atau obat biasa.” Ia menoleh. “Ini serius. Dan… waktunya tidak banyak.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Ridho menunduk. Rahangnya mengeras.
“Drop seperti tadi… itu bukan hal baru, ‘kan?” lanjut Nara.
Nara menatapnya.
“Dan kamu tahu… ini akan semakin sering terjadi.”
...🔸🔸🔸...
..."Kadang, cinta tidak pergi karena habis… tapi karena takut menyisakan luka yang lebih dalam."...
..."Ada yang memilih tinggal dan hancur… ada juga yang memilih pergi agar orang lain tetap utuh."...
..."Tidak semua perpisahan terjadi karena kehilangan cinta, kadang justru karena cinta yang terlalu besar."...
..."Ia tidak pergi karena tidak mencintai…...
...tapi karena terlalu mencintai untuk membiarkan seseorang hancur bersamanya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.