NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 Racun

Happy reading

Di tengah kemeriahan acara akad nikah Damar dan Hanum, Hawa dan Ijah memilih tetap menepi, menjauh dari kerumunan keluarga yang sedang menikmati hidangan. Mereka duduk di bawah naungan pohon tabebuya bersama Arya dan Almira.

Kehadiran kedua tamu spesial itu seolah menciptakan ruang kedap bagi mereka--tempat di mana nama Dzaki berulang kali disebut.

"Den Dzaki kok tidak ikut, Nyah?" tanya Ijah di sela-sela obrolan.

"Dzaki sedang ada keperluan, Bi. Dia dimintai tolong menggantikan karyawan pamannya yang mendadak izin," sahut Almira dengan suara yang mengalir lembut.

Meski seorang dokter yang berlimpah harta, ia tetap menghormati dan menghargai Ijah tanpa memedulikan hierarki status mereka yang berbeda.

Ijah manggut-manggut, lalu kembali bertanya, "karyawan perusahaan ternama ya, Nyah?"

Almira menggeleng pelan. "Bukan. Cuma karyawan kedai kopi 'Warung Merapi', Bi."

Hawa mengerutkan dahi. Ia tertarik menanggapi jawaban yang diberikan oleh Almira.

"Berarti, Dzaki kenal Rama, Te? Dia juga bekerja paruh waktu di sana," selanya menginterupsi.

Almira dan Arya saling melempar tatap, lalu mengulum senyum--menahan tawa yang nyaris lolos ketika mendengar pertanyaan Hawa yang terasa menggelitik telinga.

"Pastinya kenal. Insyaallah, nanti Tante tanyakan, Sayang," pungkas Almira.

"Iya, Te." Hawa mengangguk sembari mengulas senyum.

Hening sejenak turun, mengambil alih atmosfer hangat yang sempat menaungi.

Almira memanfaatkan momen itu untuk menelisik wajah Hawa yang tampak menyendu, terlebih saat pandangan mata gadis itu tertuju pada keluarganya yang tengah duduk melingkar di satu meja.

Ia tidak bertanya; kenapa Hawa malah menepi--tidak turut berbaur dengan mereka?

"Oya, Hawa. Kapan-kapan main ke rumah kami, ya. Tante akan buatkan kue kesukaanmu," tutur Almira, menyadarkan Hawa dari lamun.

Hawa mengerjapkan mata, lalu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis. "Insyaallah, Tante. Hawa usahakan minggu-minggu ini," sahutnya lembut. "Ngomong-ngomong, Dzaki kuliah di mana dan fakultas apa?"

"Dia kuliah di Universitas Lentera Bangsa, Fakultas Humaniora," kali ini Arya yang menimpali.

Dahi Hawa kembali mengerut. Ia semakin dibuat heran sekaligus tak percaya. Ternyata, Dzaki dan Rama bukan hanya sama-sama menjadi bagian dari Warung Merapi, mereka juga satu fakultas--Humaniora.

Entah sekadar kebetulan yang ajaib atau memang mereka memiliki hubungan khusus.

Satu hal yang belum Hawa sadari: Rama dan Dzaki sesungguhnya adalah orang yang sama.

Setelah acara berakhir, satu per satu tamu undangan berpamitan--meninggalkan kediaman Abimanyu, menyisakan kerabat dekat dan sahabat.

"Arya..." Janu merengkuh tubuh sahabatnya sembari mengulas senyum lebar. Kedua pria paruh baya itu saling berpeluk, menumpahkan kerinduan yang lama terpendam. Di sisi mereka, Gistara dan Almira melakukan hal serupa, menunjukkan kehangatan hubungan yang tak lekang oleh waktu.

"Maaf, tadi kami tidak menyadari kedatangan kalian. Kami sampai tidak menyapa, apalagi mengajak kalian berbaur dengan keluarga besar," ucap Janu, mengutarakan rasa sungkan pada dua tamu spesialnya itu.

"Tidak masalah. Tadi Hawa--putrimu, sudah mewakili. Cukup lama kami berbincang berempat," balas Arya santai.

"Kenapa Dzaki tidak ikut, Al?" sela Gistara, tak tahan untuk tidak bertanya mengenai Dzaki, putra sahabatnya yang ingin dijodohkan dengan Hawa--putri bungsunya.

"Dia sedang ada keperluan, Gis. Kapan-kapan, biarlah dia datang sendiri ke rumah kalian," sahut Almira.

Jawaban itu seketika melukis senyum di wajah Gistara. Terbersit harapan besar agar Dzaki benar-benar datang dan kembali menjalin kedekatan dengan Hawa seperti saat mereka kecil dulu.

Tujuannya hanya satu: menyingkirkan Rama, pemuda 'biasa' yang kini sedang mendekati putri bungsunya.

Tak terbayang, bagaimana jadinya jika Gistara mengetahui kenyataan yang sesungguhnya; bahwa Rama yang sering direndahkannya adalah putra sahabatnya sendiri. Pemuda itu bukan sekadar 'pelayan', melainkan owner Kafe Renjana, keponakan pemilik Warung Merapi, sekaligus putra seorang mantan Duta Besar RI untuk PBB.

.

.

Malam turun begitu cepat, seolah tak sabar menjadi saksi bisu puncak acara yang digelar mewah--resepsi pernikahan Damar dan Hanum.

Sepasang pengantin baru itu duduk di singgasana. Mereka diapit oleh Rasyid, Maharani, Janu, dan Gistara. Sementara Hawa, seperti biasa, memilih menempatkan diri di sudut yang tak mencolok. Ia ditemani Ijah, asisten rumah tangga yang selalu setia mendampinginya di saat-saat seperti ini.

Hawa sengaja menepi demi menghindari tatapan kebencian yang kerap dilayangkan oleh ibunda Damar, juga keluarga besar Gistara--terutama tante-tantenya yang selalu memandang sinis. 

Ia tidak ingin telinganya panas mendengar kata-kata sarkas yang mengalir tanpa beban dari bibir mereka. Meski begitu, benaknya masih saja dipenuhi tanya; apa sebenarnya alasan di balik kebencian mereka yang seolah tak pernah berujung itu?

"Non, Bibi tinggal sebentar ya? Mau mengambil minum untuk Bibi dan Non Hawa," pamit Ijah.

"Boleh, Bi. aku tunggu di sini, ya," balas Hawa singkat sembari mengulas senyum tipis, melepas kepergian asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri.

Kini, Hawa benar-benar sendiri di sudut itu.

Ditemani riuh musik resepsi yang terdengar sumbang di telinganya, ia kembali menatap singgasana dari kejauhan--mencoba mencari tahu di mana letak kesalahannya hingga tatapan sinis dari keluarga besar sang bunda tak pernah padam.

Kepergian Ijah seolah menjadi celah yang langsung dimanfaatkan oleh Jihan--tante Hawa.

Wanita itu berjalan menghampiri dengan langkah yang tampak anggun, namun sorot matanya tajam menghujam. Kedua tangannya terlipat di dada, menunjukkan keangkuhan yang nyata.

Jihan hanya punya satu tujuan: membeberkan kebenaran yang mungkin akan membuat keponakannya itu sadar, betapa besarnya kesalahan yang selama ini menjadi alasan kuat mengapa ia patut dibenci.

"Hawa," sapa Jihan lembut, namun sarat akan kepalsuan.

Hawa hanya membalas dengan senyum tipis, mencoba tidak menghiraukan nada bicara tantenya yang terasa janggal.

"Kamu ingin tahu kenapa selama ini kami membencimu?"

Meski dalam hati ia sangat haus akan jawaban, Hawa enggan menanggapi. Ia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat; ia tak ingin merusak kesakralan acara dengan kegaduhan yang mungkin saja tersulut.

Jihan menarik satu sudut bibirnya, membentuk seringai tipis. Ia menatap lekat pahatan wajah keponakannya yang nyaris sempurna, namun di balik kecantikan itu, tersimpan sebuah tanda yang menurutnya membuat Hawa tak pantas terlahir ke dunia.

Bagi Jihan dan semua orang yang menaruh kebencian, tanda lahir yang dimiliki gadis itu adalah sebuah kutukan. Segel kesialan yang diyakini hanya akan mendatangkan bencana, bahkan kematian bagi orang-orang di sekitarnya.

"Kesalahanmu adalah... kamu hadir ke dunia dengan membawa tanda lahir terkutuk," ucap Jihan pelan, namun setiap katanya terasa tajam, menghunjam telak di ulu hati. "Sejak lahir, kamu sudah menyumbang kesialan. Bundamu koma dan nyaris meninggal setelah melahirkanmu. Bukan itu saja, ayahmu juga hampir mati karena kecelakaan saat akan menjemput kalian dari rumah sakit."

Jihan menjeda kalimatnya sejenak.

Hawa berusaha berpijak kuat, meski jiwanya bagai dihantam palu godam. Ia membiarkan Jihan memuntahkan segala racun yang sedari tadi ingin disemburkan.

"Bukan hanya ayah dan bundamu yang hampir celaka karena tanda terkutukmu, tapi Damar pun nyaris kehilangan nyawa--" Jihan menggantung ucapannya, menatap puas wajah Hawa yang mulai memucat. "Waktu SMA, dia hampir mati tertabrak mobil gara-gara menolongmu. Ia juga nyaris menjadi tumbal ombak Pantai Selatan saat menyelamatkanmu yang hampir tenggelam. Kamu pasti ingat kejadian itu, kan, Hawa?"

Hawa bergeming. Tubuhnya bergetar hebat saat memori pahit beberapa tahun silam berputar kembali. Kedua tangannya mencengkeram kuat ujung pasmina yang dikenakan, seakan mencari tumpuan agar raganya tak limbung.

Jihan menyeringai melihat keponakannya yang terlihat begitu rapuh. Namun, ia belum berniat berhenti sebelum benar-benar membuat Hawa sadar diri dan menyingkir dari kehidupan keluarga mereka, membawa serta kutukan di bahu kirinya.

Tepat saat Jihan ingin kembali memuntahkan kata-kata keji, seseorang melangkah menghampiri. Tangannya terkepal kuat, menahan amarah yang mendidih di dada.

Ia tidak terima Hawa dihakimi sebagai pembawa sial, apalagi hanya karena sebuah tanda lahir.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!