Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu dan Fajar
Langit Naples di atas dermaga sektor Delta perlahan berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu kebiruan. Fajar menyingsing, namun bukan membawa kedamaian, melainkan menyingkapkan puing-puing kehancuran dari kekaisaran D’Angelo yang baru saja diruntuhkan. Asap hitam dari yacht yang terbakar masih membubung, menari-nari di atas air laut yang tenang, kontras dengan hiruk-pikuk tim taktis Moretti yang bergerak efisien seperti mesin yang diminyaki dengan baik.
Rebecca Moretti berdiri di tepi dermaga, membiarkan angin laut yang dingin menyapu wajahnya yang berjelaga. Di tangannya, Glock 17 miliknya sudah kembali ke sarung pinggang, namun jemarinya masih merasakan getaran dari setiap peluru yang ia lepaskan dari helikopter tadi. Di sampingnya, Maximilian berdiri tegak, memandang ke arah gudang-gudang logistik yang kini telah dikuasai sepenuhnya oleh orang-orangnya.
"Sektor C-4 terkunci sepenuhnya, Tuan," suara Vargo terdengar melalui interkom yang masih terpasang di telinga mereka. "Tim pembersihan sedang menyisir fasilitas rahasia di bawah gudang utama. Kami menemukan bunker penyimpanan data dan... beberapa 'aset' manusia yang mereka sembunyikan."
Maximilian menoleh ke arah Rebecca, memberikan isyarat dengan kepalanya. "Ayo. Mari kita selesaikan ini sampai ke akarnya."
Fasilitas rahasia d'Angelo yang terletak di bawah gudang logistik adalah labirin beton yang dingin dan steril. Bau bahan kimia dan kertas tua memenuhi udara. Saat Rebecca dan Maximilian melangkah masuk, mereka disambut oleh pemandangan unit elit Moretti yang sedang membongkar server dan mengamankan tumpukan dokumen.
Di ujung lorong, di sebuah ruangan dengan pintu baja yang diperkuat, dua sosok pria terduduk di lantai dengan tangan terikat ke belakang. Lorenzo d'Angelo, sang singa Naples yang kini tampak seperti tikus basah, dan Arthur Sinclair, pria yang pernah Rebecca panggil 'Ayah', yang kini hanya bisa gemetar melihat bayangan putrinya sendiri.
Rebecca berjalan mendekat, langkah sepatunya berdentum di lantai beton, menciptakan irama yang menekan mental kedua pria itu. Ia berhenti tepat di depan mereka, menatap mereka dengan tatapan yang kosong—sebuah jenis kebencian yang sudah melampaui amarah; kebencian yang sudah mendingin menjadi es.
"Bawa mereka," perintah Maximilian pendek. "Fasilitas isolasi di pegunungan sudah siap untuk tamu baru kita."
Lorenzo d'Angelo mendongak, mencoba meludah ke arah kaki Maximilian, namun hanya darah yang keluar dari bibirnya yang pecah. "Kau pikir kau menang, Moretti? Kau hanya memelihara serigala di tempat tidurmu. Sinclair akan mengkhianatimu seperti dia mengkhianatiku!"
Rebecca berlutut di depan Lorenzo, mencengkeram rahang pria itu dengan tangan kirinya yang mengenakan sarung tangan taktis. "Jangan proyeksikan kelemahanmu pada orang lain, Lorenzo. Ayahku mengkhianati Max karena dia adalah pengecut yang mencintai uang lebih dari darah. Aku berdiri di sini karena aku mencintai kekuasaan lebih dari sekadar nama keluarga."
Ia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan yang membuat kepala Lorenzo terbentur dinding. Kemudian, matanya beralih ke Arthur Sinclair.
"Rebecca... kumohon," rintih Arthur, suaranya pecah. "Aku ayahmu. Aku melakukan ini untuk mengembalikan masa depanmu—"
"Masa depanku bukan di London dengan sisa-sisa hartamu yang kotor, Arthur," potong Rebecca dingin. "Masa depanku ada di sini, di atas puing-puing pengkhianatanmu. Kau tidak akan mati hari ini. Itu terlalu mudah bagi pria sepertimu."
Dua jam kemudian, sebuah konvoi kendaraan lapis baja meluncur meninggalkan Naples menuju fasilitas rahasia Moretti yang paling aman di pedalaman pegunungan Italia. Fasilitas ini bukan sekadar penjara; ini adalah lubang hitam tempat orang-orang yang paling berbahaya "dihilangkan" dari peta dunia, namun tetap dibiarkan hidup dalam siksaan isolasi total.
Arthur Sinclair dan Lorenzo d'Angelo dilemparkan ke dalam sel isolasi yang berseberangan. Dindingnya terbuat dari kaca antipeluru yang diperkuat, memungkinkan mereka untuk saling melihat namun tak pernah bisa bersentuhan atau berbicara tanpa dipantau.
Maximilian dan Rebecca berdiri di koridor pengamatan, menatap melalui monitor saat para penjaga mengunci pintu baja ganda tersebut.
"Mereka akan berada di sana selamanya," gumam Maximilian, melingkarkan lengannya di bahu Rebecca. "Dunia luar akan menganggap mereka tewas dalam ledakan di dermaga."
"Biarkan mereka hidup," sahut Rebecca. "Biarkan mereka melihat setiap berita tentang kesuksesan kita melalui layar kecil di sel mereka. Itu adalah hukuman yang lebih berat daripada peluru di kepala."
Namun, di dalam sel yang remang-remang, saat para penjaga telah pergi, Lorenzo d'Angelo merayap mendekati kaca pembatas. Ia menempelkan wajahnya yang hancur ke permukaan dingin tersebut, matanya yang merah menatap Arthur Sinclair di seberang sana.
Lorenzo tidak lagi menangis. Ia mulai tertawa kecil—suara serak yang bergema di ruang hampa. Arthur menatapnya dengan bingung dan takut.
"Jangan menangis, Sinclair," bisik Lorenzo, suaranya nyaris tak terdengar namun penuh dengan racun yang mematikan. "Mereka pikir mereka telah memutus semua jaring laba-laba kita. Mereka lupa... bahwa laba-laba selalu menyimpan telur di tempat yang paling tidak terduga."
Arthur Sinclair perlahan berhenti gemetar. Ia mendekati kaca, matanya mulai berkilat dengan secercah harapan yang gelap. "Apa maksudmu?"
"Bianca tidak ada di dermaga semalam," desis Lorenzo. "Dan anak buahku di Naples masih memegang beberapa 'kunci' yang tidak diketahui Maximilian. Kita hanya perlu menunggu. Rebecca mungkin sudah menjadi Moretti, tapi dia masih memiliki kelemahan Sinclair dalam darahnya. Kita akan menggunakan kelemahan itu untuk membakar rumah mereka dari dalam."
Arthur menyeringai, sebuah ekspresi mengerikan yang menunjukkan bahwa meskipun tubuhnya hancur, jiwanya yang korup masih haus akan pembalasan. Di balik jeruji besi yang paling dalam dan paling gelap milik Moretti, sebuah rencana balas dendam baru mulai ditenun. Mereka akan menjadi hantu yang menghantui setiap langkah kesuksesan Rebecca dan Maximilian.
Di luar fasilitas, fajar telah sepenuhnya pecah. Cahaya matahari emas menyinari puncak-puncak pegunungan, menghapus sisa-sisa bayangan malam. Rebecca Moretti menghirup udara pegunungan yang segar, merasa seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.
Ia melihat ke arah Maximilian, yang sedang memberikan instruksi terakhir kepada Vargo untuk pengamanan pernikahan mereka yang akan segera dilangsungkan. Rebecca menyentuh safir biru di lehernya, lalu beralih ke cincin berlian hitam di jarinya.
"Max," panggil Rebecca.
"Ya?"
"Setelah semua ini... apakah menurutmu kita benar-benar bisa memiliki kedamaian?"
Maximilian berhenti sejenak, menatap ke arah cakrawala yang luas. Ia tahu bahwa di dunianya, kedamaian adalah istilah yang relatif. Musuh akan selalu ada, dan pengkhianatan adalah mata uang harian. Namun, saat ia menatap Rebecca—wanita yang kini setara dengannya dalam keganasan dan kecerdasan—ia merasa bahwa perang apa pun yang akan datang, mereka akan memenangkannya.
"Kedamaian adalah saat kau memiliki senjata yang paling besar dan orang yang paling kau percayai di sampingmu," jawab Maximilian dengan senyum tipis. "Dan aku memiliki keduanya dalam dirimu."
Rebecca tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Maximilian. Di bawah cahaya fajar, mereka berdiri sebagai penguasa baru yang lahir dari debu pengkhianatan. Mereka tidak tahu tentang bisikan di sel isolasi bawah tanah, atau tentang rencana Bianca d'Angelo yang masih bersembunyi di kegelapan. Namun satu hal yang pasti: Rebecca Moretti bukan lagi gadis yang bisa dihancurkan. Ia adalah badai itu sendiri.
Operasi pembersihan telah selesai. Debu telah mengendap. Dan saat fajar menyingsing, sejarah baru keluarga Moretti baru saja dimulai.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘