NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: tamat
Genre:Spiritual / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:65.4k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

EDISI SPESIAL RAMADHAN

Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.

Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.

Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.

Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Besar Telah Dimulai

Kyai Hamid memanggil Azlan dan Zunaira untuk mendekat ke kursi rodanya, wajah beliau nampak sangat serius.

"Anak-anakku." suara beliau rendah namun bertenaga.

"Ingatlah pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist.

"Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai."

(HR. Al-Bukhari).

"Hadiah paling besar yang kalian berikan hari ini adalah kesabaran, sabar untuk tidak pamer, sabar untuk tidak menuntut pengakuan manusia. Azlan jaga istrimu di asrama sana dengan cara yang paling halus dan Zunaira tetaplah menjadi ustadzah yang berdedikasi, jangan sampai perubahan statusmu membuat orang curiga karena kamu berubah sikap." tutur Kyai Hamid menasehati pasangan pengantin baru ini.

Kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar, jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi.

Cahaya fajar shadiq akan segera muncul dan pesantren akan mulai bergeliat, rahasia ini harus tetap terkunci rapat di dalam mushala ini.

"Azlan, Zunaira." Kyai Hamid memanggil mereka, wajah beliau nampak berat.

"Kalian sudah sah, tapi tugas kalian lebih berat sekarang karena kalian harus tetap menjadi asing di depan umum. Zunaira, kamu harus segera kembali ke asrama ustadzah sebelum ada yang menyadari kamarmu kosong." sahut kyai Hamid.

Hati Azlan mencelos, rasanya baru beberapa menit ia memiliki hak atas wanita ini, namun realitas menuntutnya untuk melepaskannya kembali ke pengasingan.

"Zunaira." Azlan memegang pundak istrinya sebentar dan menatapnya dengan pandangan yang seolah ingin merekam wajah itu dalam ingatannya.

"Bersabarlah sebentar lagi, aku akan sering mengirimkan kabar lewat santri kecil. Jangan merasa sendirian karena setiap doa yang kupanjatkan sekarang, namamu ada di urutan pertama." ucap Gus Azlan.

Zunaira mengangguk kecil dan mencoba tersenyum di balik sisa air matanya.

"Nggih Mas Zunaira akan menjaga diri, Zunaira bangga menjadi istri Mas Azlan meski dunia belum tahu." jawab Zunaira.

Ummi Salamah mendekat dan memberikan bungkusan kecil berisi nasi kebuli hangat yang baru matang.

"Bawa ini nduk, makan di kamar nanti untuk sahur atau sarapan. Kamu butuh tenaga." ucap Ummi Salamah.

Ning Arifa maju dan memeluk Zunaira erat.

"Ustadzah Zu... eh, Mbak Ipar. Hati-hati ya. Nanti kalau aku rindu, aku akan pura-pura setor hafalan ke kamarmu." seru gadis remaja itu.

"Haidar, siapkan kendaraan dan antar Zunaira sampai gerbang belakang asrama lewat jalur kebun seperti tadi, jangan sampai ada santri yang berangkat shalat Tahajud di masjid melihat kalian."

Ketegangan kembali memuncak, Zunaira merasakan jantungnya berdegup kencang lagi. Takut, bagaimana jika saat ia kembali Ustadzah Sarah sudah bangun? Bagaimana jika ada santriwati yang sedang mengigau di lorong?

Azlan berdiri, ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan ada kerinduan yang baru saja lahir namun harus langsung dipasung.

"Zunaira hati-hati, aku akan mengawasimu dari jauh. Jika ada apa-apa kirimkan pesan kode yang kita sepakati." seru Gus Azlan.

Zunaira mencium tangan Azlan untuk pertama kalinya, sebuah kecupan khidmat yang menandakan penyerahan diri sepenuhnya.

"Nggih, Gus....maksud saya, Mas. Mohon doanya." sahut Zunaira.

Dengan pengawalan ketat dari Gus Haidar, Zunaira kembali diselundupkan keluar melalui jalur belakang kediaman kiai.

Perjalanan melintasi kebun jeruk di bawah sisa-sisa kegelapan malam terasa jauh lebih ringan daripada saat ia berangkat tadi, ketakutannya kini telah berganti dengan keyakinan.

Gus Haidar berjalan di depan dengan langkah cepat namun sangat hati-hati, Zunaira mengikuti di belakang sambil memeluk kitab maharnya erat-erat di balik abaya hitam yang kembali ia kenakan.

Sesampainya di gerbang belakang asrama, Haidar berhenti.

"Masuklah lewat pintu dapur Zu, Mbak Sarah biasanya jam segini baru mulai ambil wudhu. Cepatlah." ujar Gus Haidar.

Zunaira menyelinap masuk, ia berjalan berjinjit di lorong asrama yang remang-remang.

Bau sabun dan minyak kayu putih khas asrama mulai menyergap dan tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka di ujung lorong.

Deg!

Zunaira segera merapatkan tubuhnya ke balik lemari besar tempat menyimpan mukena jamaah.

Napasnya tertahan, ia melihat Ustadzah Sarah keluar dari kamarnya dengan mata mengantuk sambil membawa handuk kecil menuju kamar mandi.

Ustadzah Sarah sempat berhenti sejenak dan menoleh ke arah lemari, namun untungnya ia hanya menguap lebar dan melanjutkan langkahnya.

Begitu ustadzah Sarah masuk ke kamar mandi Zunaira berlari kecil menuju kamarnya, ia menutup pintu dengan sangat perlahan dan menguncinya.

Ia melempar tasnya ke atas kasur lalu segera melepas abaya hitamnya, ia kembali mengenakan daster panjang yang biasa ia pakai tidur agar jika ustadzah Sarah masuk ia nampak seperti baru bangun tidur.

Zunaira duduk di tepi ranjang, mengatur napasnya yang tidak karuan, ia menyentuh bibirnya, lalu menatap kitab mahar yang kini ia sembunyikan di bawah bantal.

"Aku sudah menjadi istri." bisiknya pada kegelapan kamar.

Di mushala ndalem Gus Azlan masih terduduk, ia menatap tempat di mana Zunaira tadi duduk.

Ruangan itu masih menyisakan aroma parfum istrinya, ia kemudian bangkit sambil merapikan sarungnya dan bersiap menuju masjid besar untuk mengimami shalat Subuh berjamaah.

Di luar, suara adzan Subuh pertama mulai berkumandang dari menara masjid Al-Anwar.

Di masjid Gus Azlan pasti sedang bersiap memimpin jamaah dan Zunaira segera bangkit untuk mengambil wudhu.

Ia harus tampil biasa saja di hadapan para santriwati nanti pagi, tidak boleh ada binar mata yang terlalu terang, tidak boleh ada senyum yang terlalu lebar.

Rahasia besar ini telah dimulai, sebuah pernikahan yang tidak dirayakan dengan pesta melainkan dengan air mata syukur di sepertiga malam dan ketegangan di ambang fajar.

Zunaira tahu ujian sesungguhnya bukan malam ini melainkan besok pagi, saat ia harus bertemu Gus Azlan di kantor kurikulum dan berpura-pura bahwa di antara mereka tidak pernah terjadi apa-apa.

Ia teringat ayat yang dibaca Azlan tadi. “Fabiayyi aalaaa’i Rabbikumaa tukadzdzibaan.”

"Sungguh, nikmat-Mu mana yang sanggup aku dustakan, Ya Allah?" air matanya kembali luruh, kali ini dalam sujud shalat Subuh yang paling khusyuk dalam hidupnya.

Saat berdiri di mihrab masjid beberapa menit kemudian, Gus Azlan melihat barisan ustadzah di belakang tirai pembatas.

Ia tahu di salah satu titik di sana ada istrinya, istri sahnya yang harus ia perlakukan seperti orang asing di depan ribuan pasang mata.

Adzan berkumandang, suara Gus Azlan saat memimpin shalat Subuh pagi itu terdengar jauh lebih bergetar dan penuh penghayatan, ia membaca Surat Al-Insyirah.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Zunaira yang berdiri di barisan makmum menangis dalam sujudnya, ia tahu ayat itu adalah janji Allah dan suaminya baru saja membacakannya untuknya.

Pernikahan ini memang dimulai dalam hening, namun mereka percaya ia akan berakhir dalam kemenangan yang terang benderang.

Malam itu berakhir, rahasia besar itu kini tersimpan di balik jilbab Zunaira dan di balik kewibawaan Gus Azlan.

Mereka kembali ke kamar masing-masing dan memikul status baru yang hanya diketahui oleh lima orang dan semesta.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
Lala_Syalala: yukkk mampir baca kak🙏😊😊
total 1 replies
Rahma Inayah
Alhamdulillah dr awal bc tnp ada tabung bab Thor .
tiara
Alhamdulillah sudah baca dari awal sampai akhir ceritanya
Supryatin 123
Alhamdulillah saya sudah baca sampai akhir cerita semoga ada bonchapnya thorr lnjut thor 💪💪
Kasih Bonda
Alhamdulillah sudah baca awal sampai akhir
Nengsih Irawati
Alhamdulillah sudah baca dari awal hingga akhir,,, ceritanya saya suka meskipun tidak tau keadaan pondok dalam kehidupan nyata karena saya belum pernah mondok di pesantren,,,, makasih atas ceritanya 🥰 semangat
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
semoga menjadi umroh yg mabrur aamiin
Rahma Inayah
hanya Allah tempat kita memintah dan mohon pertolongan Krn tujan Zu utk ibadah maka Allah mengangkat segala sakit yg km raskan sehingga km bisa khusyuk beribadah .Zu ibarat perisai Al Anwar istilah kata klu Zu GK GK ada SM dgn kaki hilang sebelah mka akan ssh berjaln
Nurgusnawati Nunung
bagus.
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor. ceritanya bagus. semangat
Nengsih Irawati
lanjut 🥰
Rahma Inayah
lanjut Thor
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah... akhirnya bebas.. lepas.. hehehe
Supryatin 123
semoga ibadah umrohnya berjalan lancar.semoga mereka selalu dalam lindunganNYA amiinn🤲🤲 lnjut thor 💪💪
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪❤️❤️❤️
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Nengsih Irawati
lanjut 🥰
Rahma Inayah
dokter pribadi yg posesif dan jg penaybr dan penyayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!