NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota yang Tak Terlihat

Seminggu telah berlalu sejak malam berdarah di mansion pegunungan. Bekas peluru di dinding kamar utama telah ditambal dan dicat ulang, namun atmosfer di dalamnya telah berubah selamanya. Mansion itu bukan lagi sekadar benteng bagi Maximilian; tempat itu kini menjadi saksi bisu transformasi Rebecca dari seorang pengabdi menjadi seorang pelindung.

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lembah saat Maximilian pertama kali berhasil duduk di tepi tempat tidur tanpa bantuan Vargo. Wajahnya masih sedikit pucat, dan setiap gerakannya masih menimbulkan ringisan kecil akibat jahitan di perutnya yang belum sepenuhnya kering. Namun, matanya—mata yang biasanya hanya memancarkan kegelapan—kini terpaku pada sosok Rebecca yang tertidur lelap di sofa panjang di samping ranjangnya.

Gadis itu tidak pernah meninggalkan kamarnya selama tujuh hari terakhir. Ia tertidur dengan gaun rumahan yang sederhana, rambutnya sedikit berantakan, dan sebuah buku catatan kecil tentang logistik pelabuhan masih berada di pangkuannya. Rebecca telah belajar. Saat Max tidak berdaya, ia tidak hanya menangis; ia duduk bersama Vargo, mempelajari rute kapal, daftar nama musuh, dan cara membaca laporan keuangan Moretti.

"Rebecca ..." suara Maximilian serak, namun hangat.

Rebecca tersentak bangun. Mata indahnya segera mencari sosok Maximilian. Saat ia melihat pria itu sudah duduk tegak, ia hampir melompat dari sofa.

"Om! Jangan banyak bergerak dulu! Dokter bilang jahitannya—"

"Kemari," potong Maximilian lembut. Ia menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.

Rebecca mendekat dengan ragu, namun ia segera duduk di sisi Max, tangannya secara naluriah memeriksa suhu dahi pria itu. Maximilian menangkap tangan kecil Rebecca, menggenggamnya erat, dan membawanya ke bibirnya untuk sebuah kecupan lama yang penuh arti.

"Aku sudah jauh lebih baik karena perawatku sangat luar biasa," goda Maximilian dengan senyum tipis yang jarang terlihat.

"Om membuatku takut setengah mati," bisik Rebecca, matanya mulai berkaca-kaca. "Malam itu ... aku pikir aku akan kehilangan segalanya."

Maximilian menarik napas panjang, menahan rasa perih di perutnya saat ia merangkul bahu Rebecca dan membawanya ke dalam pelukan. "Malam itu, kau membuktikan bahwa aku tidak akan pernah kehilangan segalanya selama kau ada di sampingku. Vargo menceritakan semuanya. Bagaimana kau memegang senjata itu, bagaimana kau memerintah mereka ... kau menyelamatkan mansion ini, Rebecca. Kau menyelamatkanku."

Maximilian kemudian melepaskan pelukannya sebentar. Ia meraih sebuah kotak kayu hitam kecil dengan ukiran mawar perak dari laci meja di samping tempat tidurnya. Kotak itu tampak sangat tua, namun sangat terawat.

"Pin perak yang kuberikan kemarin adalah otoritas di mata anak buahku," Maximilian membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin batu safir biru gelap yang dikelilingi oleh berlian kecil yang berkilau indah. "Tapi ini ... ini adalah sesuatu yang berbeda."

Rebecca menahan napas. "Indah sekali, Om ...."

"Ini milik ibuku," suara Maximilian merendah, menyimpan nada emosional yang jarang ia tunjukkan. "Satu-satunya benda yang tidak pernah kusentuh atau kuberikan pada siapa pun, bahkan di saat-saat tersulitku. Ayahku memberikannya pada ibu saat beliau setuju untuk memegang tangan ayahku melewati dunia gelap ini. Di keluarga Moretti, ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah janji."

Maximilian meminta Rebecca berbalik. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena sisa luka, ia melingkarkan kalung itu di leher jenjang Rebecca. Dinginnya logam dan beratnya batu safir itu terasa pas di kulit Rebecca, seolah memang diciptakan untuknya.

"Kalung ini berarti kau adalah bagian dari jiwaku. Jika pin kemarin membuat mereka patuh padamu, kalung ini membuat mereka tahu bahwa jika sehelai rambutmu saja terluka, aku akan membakar seluruh dunia ini tanpa ragu,"

Maximilian membalikkan tubuh Rebecca agar kembali menghadapnya.Ia menangkup wajah Rebecca, ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis itu. "Jangan pernah lagi menyebut dirimu pelayanku. Seorang pelayan tidak akan memiliki jantung Maximilian Moretti. Hanya kau, Rebecca. Hanya kau yang punya kunci untuk masuk ke dalam kegelapanku dan tetap membawa cahaya."

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Rebecca bisa merasakan napas hangat Maximilian yang berbau mint. Rasa takut, rasa syukur, dan cinta yang tumbuh di tengah desingan peluru menyatu dalam satu momen yang sakral.

"Aku mencintai Om ..." bisik Rebecca, pengakuan yang pertama kali ia ucapkan dengan suara yang jelas dan mantap. "Bukan karena Om menyelamatkanku dari gang itu, tapi karena Om mengajariku bagaimana caranya menyelamatkan diriku sendiri."

"Sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Max dengan nada menggoda.

Wajah Rebecca bersemu merah karena malu. "Sejak aku merasa tidak akan bisa kehilangan Om." Ia terdiam sejenak. "Apakah Om juga mencintaiku?"

Maximilian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, lembut, namun posesif. Ciuman itu tidak seperti ciuman sebelumnya yang penuh dengan dominasi; kali ini ada rasa hormat, ada rasa syukur, dan ada janji masa depan yang panjang di dalamnya.

Di tengah ciuman itu, Maximilian mengerang kecil karena luka di perutnya sedikit tertarik, namun ia tidak melepaskan Rebecca. Ia justru menarik gadis itu lebih dekat ke dalam pelukannya, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka.

"Mulai hari ini," gumam Maximilian di sela ciuman mereka, "tidak ada lagi rahasia. Kau akan duduk bersamaku di ruang kerja. Kau akan tahu setiap langkah bisnisku. Kita akan membalas dendam pada Valenti dan siapa pun yang berani menyerang pelabuhan, bukan sebagai tuan dan pelayan, tapi sebagai dua penguasa yang saling memiliki."

Rebecca mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Maximilian, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdenyut kuat dan stabil. Ia merasa aman. Bukan karena dinding mansion yang tebal atau pengawal yang bersenjata, tapi karena ia tahu ia berada di tempat yang paling tepat di dunia ini: di dalam pelukan pria yang ia cintai.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah rencana besar sedang disusun. Maximilian tahu bahwa memberikan kalung ibunya berarti mengibarkan bendera perang yang lebih besar. Musuh-musuh Moretti di luar sana akan melihat Rebecca sebagai sasaran yang lebih menggiurkan. Tapi kali ini, Maximilian tidak khawatir.

Ia melirik ke arah SIG Sauer yang masih tergeletak di meja sudut, lalu menatap wanita di pelukannya.

"Kau siap untuk langkah selanjutnya, Tesoro?" tanya Maximilian dengan kilat berbahaya di matanya.

Rebecca menatap batu safir di lehernya, lalu menatap mata Maximilian dengan keberanian yang baru. "Kapan pun Om siap, aku akan berada di sana. Memastikan tidak ada yang bisa menyentuh apa yang menjadi milik kita."

Hari itu, fajar di pegunungan terasa lebih terang. Sebuah aliansi baru telah lahir—bukan berdasarkan kontrak atau hutang nyawa, melainkan berdasarkan darah yang tumpah dan cinta yang ditempa dalam api peperangan.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐦𝐡😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐦𝐮, 𝐭𝐝𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐲 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐚𝐱𝐱𝐱😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐫𝐮𝐭?
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐰𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐠𝐰𝐞𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐤𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐨𝐧𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐞𝐜𝐡.....


𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
EsKobok: ngelonin gak tuh🤭🤣
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙢𝙣 𝙢𝙣 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐮𝐚𝐬𝐚 𝐢𝐭𝐮 😭😭🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙨𝙥𝙚𝙘𝙝𝙡𝙚𝙨𝙨 🥺🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙝𝙖𝙩𝙞2 𝙍𝙚𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖𝙢𝙪 𝙠𝙚𝙧𝙚𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙧
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨

𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪

𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙠𝙖𝙠 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙖𝙮𝙤 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙚𝙬 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝2𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙗𝙖𝙗 76 𝙠𝙤𝙠 𝙙𝙞 𝙝𝙖𝙥𝙪𝙨 𝙠𝙣𝙥 𝙩𝙝𝙤𝙧 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝙝𝙚𝙝𝙝𝙚𝙝𝙚𝙚 𝙗𝙠𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙣𝙢 𝙦𝙪 𝙙𝙚𝙬𝙞 𝙠𝙤𝙠
total 6 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
😭😭😭 𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙝𝙤𝙧
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙍𝙚𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙤 𝙗𝙣𝙜𝙩 𝙨𝙞𝙝 𝙠𝙣𝙥 𝙜𝙠 𝙘𝙥𝙩2 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙖𝙭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙞𝙗𝙪 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!