Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Elgard dan Meriana
"Aku minta maaf soal Meriana. Kau tenang saja, aku pasti akan menegurnya!" Elgard merasa bersalah pada Bianca. Biar bagaimanapun, Meriana adalah tanggung jawabnya dan tidak menjadikan Bianca sebagai pelampiasan kemarahannya.
"Apa yang akan kau lakukan padanya? Kalau kau menegurnya, dia pasti akan berbuat lebih gila lagi padaku!"
"Itu tidak akan terjadi!" Elgard meyakinkan Bianca.
"Kau tidak akan bisa menjamin El. Dari awal aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menggangguku, tidak terlalu dekat denganku. Bahkan aku sudah menjaga jarak darimu karena aku tau kalau hal seperti ini akan terjadi. Sekarang kekasihmu, kedepannya siapa lagi? Ibumu atau Ayahmu yang akan datang kepadaku?!" Kesal Bianca. Dia tak sadar kalau sudah mengeluarkan rentetan kalimat yang cukup panjang.
"Mereka tidak akan menemuimu!"
Bianca mendengus memalingkan wajahnya. Setelah kejadian delapan tahun yang lalu, Bianca cukup tau bagaimana sifat Joshep Rodriguez. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan apa pun yang dianggap penghalang, termasuk Bianca yang hanya anak seorang koruptor.
"Sudahlah jangan bahas hal itu lagi. Aku berterima kasih karena kau sudah mengenalkanku pada Roy. Aku juga berterima kasih karena kau sudah memikirkan apa yang terbaik untukku di masa depan!"
"Aku senang bisa membantumu!"
"Tapi aku rasa cukup sampai di sini saja. Kedepannya biar aku yang mempelajarinya dari Roy. Aku tidak mau terlibat masalah dengan kekasihmu!"
"Aku sudah berjanji untuk menemanimu sampai kau berhasil, baru kita pikirkan bagaimana selanjutnya!"
Bianca malas berdebat, dia tidak menanggapi lagi karena Elgard sudah oada keputusannya. Pasti dia akan susah untuk membujuknya.
Elgard baru mematikan mesin mobilnya, niatnya dia ingin ikut turun ke apartemen Bianca, namun Bianca lebih cepat bergerak. Dia langsung turun begitu saja dan berjalan cepat menjauhi mobil Elgard.
"Huhh!!" Elgard membuang napasnya kasar.
Mungkin untuk saat ini dia tidak akan mengganggu Bianca dulu. Ada hal lebih penting yang harus ia selesaikan.
"Di mana?" Tanya Elgard pada seseorang yang dihubunginya.
"Di apartemen!"
Tut...
Panggilan yang sangat singkat itu membawa Elgard melesat dari depan apartemen Bianca.
"Sayang, kau datang?" Meriana menyambut Elgard dengan begitu bahagia.
Setelah pertengkarannya pagi tadi akhirnya Elgard datang menemuinya meski sekarang sudah hampir larut malam. Meriana tau kalau Elgard tidak mungkin membiarkan dia marah terlalu lama.
Elgard berjalan melewati Meriana sembari melepas kancing jasnya. Langkahnya yang lebar membawanya masuk ke dalam apartemen mewah itu. Jelas terdapat perbedaan yang sangat kontras antara apartemen itu dengan milik Bianca yang kecil dan sederhana.
"Apa yang kau lakukan tadi?!"
"A-apa maksudmu sayang?" Gugup Meriana, dia tau kalau Elgard pasti menyinggung soal Bianca.
"Kenapa kau menemui Bianca?!"
"Dia mengadu padamu?" Meriana bergerak ke depan Elgard yang berdiri memunggunginya dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Dia terlihat tidak terima karena Bianca mengadukan perbuatannya tadi pada Elgard. Berarti tadi Bianca langsung mengadu pada Elgard entah bertemu di mana atau melalui telepon.
"Wajar dia mengadu karena kau sudah keterlaluan! Untuk apa kau datang kepadanya? Kalau kau marah cukup marah padaku, jangan pada orang lain!"
"Kalau begitu, aku juga wajar kalau datang kepadanya dan marah padanya! Kau dekat dengannya lagi di belakangku. Kau kemarin menariknya keluar sedangkan aku kekasihmu sendiri ada di sana!"
"Aku membawanya keluar karena apa yang kau lakukan bersama teman-temanmu itu sungguh keterlaluan. Kalian menghinanya, menghancurkan mentalnya karena kasus Ayahnya, padahal dia tidak salah apa-apa!"
"Memangnya kenapa? Dia memang pantas mendapatkan itu semua karena ulah Ayahnya!"
Elgard menggeleng tak percaya. Dulu sifat Meriana tidak seperti itu. Salah satu hal yang membuat Elgard tertarik pada Meriana adalah sifatnya yang tidak pernah menganggap buruk seseorang. Tapi sekarang Meriana berbeda jauh. Selain suka marah-marah dan mengumpat, Meriana juga sering kali meremehkan orang lain.
"Aku heran padamu Mer, apa yang membuatmu berbeda sejauh ini!"
"Aku yang berbeda? Justru harusnya aku yang merasa heran dengan perubahanmu. Kau akhir-akhir ini sering menghindarimu. Kau sering tidak bisa dihubungi dan kau, ternyata berhubungan dengan mantanmu di belakangku. Sekarang aku juga tau kalau parfum yang kau pakai waktu itu dari wanita itu!!"
Elgard sempat terkejut. Namun akhirnya dia sadar kalau Meriana pasti menyadari tentang parfum itu setelah memecahkan botol parfum milik Bianca.
"Parfum itu memang milik Bianca. Tapi dia tidak memberikannya padaku, tapi aku yang mengambilnya sendiri. Jadi jangan salahkan dia!" Perdebatan mereka belum selesai juga ternyata.
Padahal biasanya Elgard lebih memilih untuk mengalah, namun kali ini tidak. Dia memaklumi kalau Meriana memarahinya dan mendiamkannya. Tapi Elgard tidak suka kalau Meriana justru mencari orang lain untuk sasaran kemarahannya.
"Aku penasaran sebenarnya sejauh apa hubungannya kalian karena kau sampai takut kalau aku akan menyakitinya!" Meriana tersenyum masam.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya!" Tegas Elgard karena sampai detik ini pun, Bianca tidak mau menerimanya sebagai teman.
"Tapi kau terlalu dekat dengannya!"
"Kau juga dekat dengan banyak pria kan? Jangan kau pikir aku tidak tau kalau kau selalu bertemu dengan banyak pria saat di luar negeri!"
"Apa? A-aku.." Wajah Meriana tanpak pias.
"Apa? Kau mau bilang kalian hanya teman? Kalau begitu sama aku juga hanya ingin berteman dengannya!"
"Tapi sayangnya Bianca yang tidak mau!" Lanjut Elgard dalam hatinya. Bagaimana mau berteman, kalau saat ini saja dia sudah ditodong janji untuk menjauh darinya setelah Bianca bisa sukses dengan parfumnya sendiri.
"Jangan bertindak memalukan lagi, ingat kalau kau susah payah membagun image dan membesarkan namamu. Jangan sampai semua itu hancur karena ada yang meliatmu menyakiti Bianca. Aku pergi!"
Meriana hanya menatap tajam ke arah pintu dengan tangan yang mengepal kuat.
"Aku harus segera betindak. Kalau tidak, aku akan kehilangan Elgard karena wanita itu!"
dan lo bianca pokonya tetep gituh sifat lo ya tegas jual mahal jangan sampe ada dulu rasa buat si elgard. sampai si elgard nya beres beres dengan masalalu dia yang rumit itu biar gak ada gangguan ke depannya
oke author itu saja yang ada di unek unek saya. jangan ada konflik yang buat si bianca tambah menderita ya. biar si elgard nya aja yang berjuang
bagus sifat bianca masih culas ke si elgard jangan dulu sampe ada rasa lagi. biar si elgard yang berjuang
Jangan2 tuduhan korupsi ayah Bianca, salah satu rencana dari ayah Elgard