Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Apa dia melahirkan anaknya Reza?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Yudha. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun nada tidak percaya yang mengiringi kalimatnya membuat ruangan seolah semakin sunyi.
Bayu menghela napas panjang, seolah ingin menyusun kata-kata yang tepat. Namun, jawabannya keluar tegas, tanpa keraguan. “Tidak. Mereka sama sekali belum pernah menikah atau hidup bersama. Lima tahun lalu, setelah perjodohan antara Sonya dan Reza, aku menyelidiki semuanya. Hasilnya jelas, tidak ada ikatan apa pun di antara mereka.”
Yudha menatap Bayu tajam. “Kamu yakin? Aku melihat mereka begitu dekat… seolah ada sesuatu.”
“Sumberku terpercaya,” jawab Bayu tegas. “Anak buahku menyelidiki semuanya secara mendalam. Tidak ada ruang untuk kesalahan.”
Yudha terdiam, pikirannya mulai bergulat. Fakta yang baru saja didengarnya menamparnya keras. Tapi kemudian, satu pemikiran muncul, tajam seperti jarum yang menyusup ke dalam kesadarannya. Jika Sonya melahirkan seorang anak, mungkinkah itu anakku? Dan jika keluarga Prawira meninggalkannya, apakah itu karena anak itu lahir di luar pernikahan?
Apa aku salah paham selama ini? Apa aku telah melihatnya dengan cara yang salah?
Namun lamunannya terpotong oleh kalimat Bayu yang membuatnya terhenyak. “Tapi anak-anak itu hilang. Dan Sonya sudah tidak memedulikannya.”
“Hilang?” Mata Yudha membulat, nadanya semakin serius. “Apa maksudmu anak-anak itu hilang?”
Bayu mengangguk perlahan, suaranya melembut. “Sekarang Sonya tinggal bersama seorang anak pembantunya, Intan. Mereka merawat seorang anak kecil bernama Yasya.”
Nama itu menggema di kepala Yudha. Wajahnya mengeras, dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau. Sonya tidak memperdulikan anaknya yang hilang? Hatinya tersayat oleh pemikiran itu. Bagaimana mungkin seorang ibu tega bersikap seperti itu? Apa salah anak itu hingga harus menanggung beban yang begitu berat?
“Yasya…” gumam Yudha, lebih kepada dirinya sendiri.
Bayu mengamati Yudha, menyadari jika pria itu ingin tahu lebih banyak tentang anak tersebut. Namun, ia hanya bisa menjawab dengan jujur. “Identitas anak itu masih dalam penyelidikan. Maaf, sumberku bekerja lambat.”
Yudha tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, sesuatu mulai menyusun dirinya dalam pikirannya. Nama Yasya mengingatkannya pada seorang anak yang pernah ia temui di rumah sakit. Anak itu memanggil dua nama, Bunda dan Mama. Jika benar… apakah itu Intan dan Sonya?
“Sangat menarik,” gumam Yudha, nada suaranya datar namun penuh arti.
Bayu mengerutkan kening. “Apa yang kamu pikirkan, Yud?”
“Tidak apa-apa.” Yudha melirik jam dinding. “Kamu istirahat saja. Sudah malam.”
Bayu mengangguk, meski masih ada tanya di matanya, lalu meninggalkan ruangan.
Yudha duduk di tempatnya, tubuhnya diam, tapi pikirannya terus berlari, berputar-putar tanpa arah. Matanya menatap kosong ke depan, tapi di dalam kepalanya, nama-nama itu bergema tanpa henti. Sonya… Yasya… anak-anak yang hilang…
Seperti kepingan puzzle yang tidak cocok, semua itu memenuhi pikirannya, menciptakan beban yang kian menghimpit dadanya. Hatinya terasa berat, tercekik oleh campuran rasa marah, bingung, dan kekecewaan.
Tapi pemikiran itu tidak berhenti di situ. Ia bergeser ke pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Apa tujuan Sonya kembali padaku?
Ia mendengus pelan, nada sinis muncul dalam pikirannya. Cinta? Tidak mungkin!
Ia menggeleng pelan, mengepalkan tangan. Ada Reza. Selalu ada Reza di sisinya. Jadi, untuk apa?
Tatapannya berubah dingin, rahangnya mengeras. Pasti untuk menghancurkan aku lagi. Itu satu-satunya alasan. Dia tidak pernah benar-benar peduli. Dia hanya ingin melihatku hancur, seperti dulu.
Pikiran itu menghantamnya, membuat emosi yang sejak tadi ia coba kendalikan mulai menguasai dirinya. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lain, sebuah keraguan kecil yang tak bisa ia abaikan. Sebuah bisikan samar di dalam hatinya yang mengatakan bahwa mungkin… hanya mungkin… ada hal lain yang belum ia pahami.
Namun, ia dengan cepat menepis perasaan itu, kembali menegaskan keyakinannya. Sonya hanya membawa kehancuran. Tidak lebih.
"Baiklah aku akan menemanimu bermain Sonya. Dan aku akan mendapatkan anak-anakku jika benar kamu melahirkannya dan aku tidak akan mengampunimu."