NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana di bandara berubah menjadi kacau balau.

Petugas keamanan yang tadinya hendak meringkus Abi karena menerobos area terlarang, kini justru membantu memberikan jalan saat melihat pria itu menggendong tubuh Liana yang tak berdaya menuju klinik darurat bandara.

Di dalam ruangan klinik yang sempit, Abi duduk di samping tempat tidur dengan wajah yang disembunyikan di telapak tangan.

Bahunya berguncang hebat dan tak lama kemudian, seorang dokter keluar dengan ekspresi serius setelah memeriksa kondisi Liana.

"Tuan, apakah Anda suaminya?" tanya dokter itu pelan.

Abi mendongak dengan mata merah. "Iya, Dok. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"

Dokter itu menarik napas panjang. "Istri Anda mengalami kelelahan yang luar biasa dan stres akut. Tekanan darahnya sangat rendah. Tapi, ada hal lain yang perlu Anda ketahui..." dokter itu menjeda sejenak, membuat jantung Abi seolah berhenti berdetak.

"Istri Anda sedang hamil muda, usianya sekitar lima minggu. Kondisi janinnya sangat rentan karena ibunya kekurangan nutrisi dan mengalami tekanan batin yang hebat. Pingsannya tadi adalah alarm dari tubuhnya agar ia segera berhenti beraktivitas berat."

Abi terpaku. Kata "hamil" menggema di telinganya seperti petir di siang bolong.

Anak yang selama ini menjadi alasan pernikahan penuh derita ini, anak yang ia pikir hanya akan menjadi "tugas" bagi Liana, ternyata sudah ada di sana.

Di rahim wanita yang hampir saja ia biarkan pergi dengan hati hancur.

"Hamil...?" bisik Abi lirih.

Penyesalan itu kini berubah menjadi rasa takut yang luar biasa.

Ia takut telah menyakiti bukan hanya Liana, tapi juga darah dagingnya sendiri.

Tak lama kemudian, suara sirine ambulans terdengar mendekat.

Petugas medis masuk dengan tandu, segera memindahkan Liana untuk dibawa ke rumah sakit besar agar mendapatkan perawatan intensif dan penanganan spesialis kandungan.

Abi ikut naik ke dalam ambulans, menggenggam tangan Liana yang sangat dingin.

Di tengah deru sirine yang membelah kemacetan menuju rumah sakit, Abi menciumi punggung tangan Liana sambil terisak.

"Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas. Ada anak kita di sini, tolong bertahanlah," bisik Abi di telinga Liana yang masih memejamkan mata.

Di dalam hatinya, Abi bersumpah. Jika Liana dan bayinya selamat, ia tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk Genata—menyakiti mereka lagi.

Bahkan jika ia harus kehilangan segalanya, ia akan mempertahankan nyawa yang kini tengah berjuang hidup di dalam tubuh istrinya itu.

Langkah kaki para perawat terdengar terburu-buru saat mendorong brankar Liana menuju ruang perawatan intensif.

Di sana, dokter dengan sigap memasang selang infus ke pergelangan tangan Liana yang tampak sangat pucat, memberikan cairan penguat untuk tubuhnya yang sangat lemah.

Abi tidak beranjak barang satu inci pun. Ia berdiri di sudut ruangan dengan wajah kuyu, menatap istrinya yang masih terlelap dalam pengaruh sisa pingsannya.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Abi; kabar kehamilan ini seharusnya menjadi berita paling bahagia dalam hidupnya, namun ia tahu, bagi Liana, janin itu mungkin terasa seperti rantai yang akan mengikatnya selamanya dalam penderitaan.

Beberapa saat kemudian, kelopak mata Liana bergerak pelan.

Ia mengerang kecil, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu rumah sakit yang putih benderang.

"Li, syukurlah kamu sudah sadar," bisik Abi, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. Ia segera mendekat, mencoba menyentuh jemari Liana.

Liana mengerjap, menatap langit-langit kamar dengan bingung.

Suara mesin pendeteksi jantung yang berbunyi teratur membuatnya sadar ia tidak jadi pergi.

"A-aku di mana? Kenapa aku tidak di pesawat?" suaranya sangat parau.

Abi menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Kamu di rumah sakit, Li. Kamu tadi pingsan di bandara..." Abi menjeda, ia menggenggam tangan Liana meski istrinya itu mencoba menariknya.

"Kamu hamil, Li. Ada anak kita di sini."

Deg!

Mata Liana yang sayu seketika membelalak lebar. Kabar itu bukan membawa kebahagiaan, melainkan ketakutan yang luar biasa.

Bayangan tentang janji "mesin pembuat anak", bayangan tentang ancaman Genata, dan semua luka yang ia terima dari Abi berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

"Hamil?" bisik Liana tak percaya. Detik berikutnya, ia menggelengkan kepalanya dengan histeris.

"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mau!"

Liana tiba-tiba berteriak histeris. Dengan tenaga yang entah datang dari mana, ia mencoba duduk dan mulai memukul-mukul perutnya sendiri dengan kalap.

"Aku tidak mau hamil! Aku tidak mau punya anak dari pria jahat sepertimu! Biarkan dia pergi! Aku mau pergi!" jerit Liana sambil terus memukuli perutnya yang masih rata.

"Liana! Berhenti! Jangan, Li! Kamu bisa menyakiti dirimu sendiri!" teriak Abi panik.

Ia mencoba menangkap kedua tangan Liana yang bergerak liar, namun Liana seperti orang kesurupan.

Isak tangis dan teriakan histerisnya memenuhi ruangan itu, membuat grafik di monitor jantung bergerak naik turun dengan sangat tidak beraturan.

Abi yang tidak sanggup mengendalikan istrinya yang sedang dilanda trauma hebat itu segera menekan tombol darurat di samping tempat tidur dengan tangan gemetar.

"Suster! Dokter! Tolong! Istri saya histeris!" teriak Abi kalap.

Tak lama kemudian, beberapa perawat dan dokter jaga masuk ke dalam ruangan.

Mereka segera memegangi tubuh Liana yang meronta-ronta, sementara Abi dipaksa mundur ke pojok ruangan.

Ia hanya bisa melihat dengan air mata mengalir deras saat dokter menyuntikkan obat penenang ke dalam selang infus Liana.

Liana perlahan melemas, jeritannya berubah menjadi isakan lirih sebelum akhirnya matanya kembali terpejam. Namun, tangan Liana masih tetap mengepal di atas perutnya, seolah-olah ia sedang mencoba melindungi dirinya sendiri dari kenyataan yang paling ia benci.

Suasana hening di lorong rumah sakit seketika pecah oleh langkah kaki yang terburu-buru.

Mama Prameswari datang dengan wajah yang memerah, matanya menyiratkan kemarahan sekaligus luka yang mendalam.

Di sampingnya, Angela tampak menopang tubuh Mama yang gemetar karena emosi yang meluap.

Begitu melihat sosok Abi yang berdiri mematung di depan pintu ruang perawatan dengan wajah kuyu dan pakaian yang masih berantakan, Mama Prameswari tidak lagi bisa menahan diri.

PLAAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Abi, menciptakan bunyi yang bergema di sepanjang koridor.

Kepala Abi terlempar ke samping, namun ia tidak menghindar.

Ia tetap berdiri diam, menerima rasa panas yang menjalar di wajahnya sebagai bagian kecil dari hukuman yang memang pantas ia terima.

"Berani-beraninya kamu menampakkan wajah di sini, Abi!" suara Mama Prameswari bergetar, penuh dengan kemarahan yang tertahan.

"Mama sudah memberikan kepercayaan penuh padamu untuk menjaga Liana, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu perlakukan anakku seperti binatang!"

"Ma, Abi mohon. Abi bisa jelaskan," lirih Abi sambil mencoba meraih tangan mertuanya.

"Jangan panggil aku Mama!" bentak Mama Prameswari sambil menepis tangan Abi dengan jijik.

"Kamu tahu betapa hancurnya hatiku saat Angela menceritakan semuanya? Kamu biarkan istrimu sendiri disiksa secara mental, kamu cambuk dia, dan sekarang kamu buat dia hamil dalam kondisi jiwanya yang hancur?"

Angela yang berdiri di belakang Mama hanya bisa menatap Abi dengan tatapan penuh kebencian.

"Puas sekarang, Om? Liana hampir gila di dalam sana. Dia bahkan tidak mau mengakui bayi itu karena dia begitu membencimu!"

"Pergi kamu dari sini, Abi! Pergi!" usir Mama Prameswari sambil menunjuk ke arah lift.

"Jangan pernah dekati Liana lagi. Sejak detik ini, Liana adalah urusanku. Aku tidak butuh pria pengecut dan kejam sepertimu untuk menjaga anakku!"

"Ma, Liana sedang hamil anakku. Aku harus menjaganya," Abi memohon dengan air mata yang mulai mengalir.

"Anakmu?" Mama Prameswari tertawa sinis di tengah tangisnya.

"Kamu menganggapnya anak sekarang? Dulu kamu menganggapnya apa? Mesin pencetak anak untuk istrimu yang satu lagi itu? Pergi, Abi! Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar!"

Abi tertunduk lesu. Ia melihat pintu ruang rawat Liana yang tertutup rapat, menyadari bahwa dinding yang kini memisahkan mereka bukan lagi sekadar pintu kayu, melainkan tembok kebencian yang dibangun dari kesalahannya sendiri.

Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Abi terpaksa melangkah pergi, meninggalkan Liana di bawah penjagaan Mama Prameswari yang tidak akan memberinya celah sedikit pun untuk kembali.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!