Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengobati
"Kakak bisa melakukan apapun yang kakak mau padaku. Kakak bisa menyakitiku dengan kata-kata kakak sepuasnya jika kakak menganggap itu hal yang benar. Aku juga mengerti bahwa sejatinya aku memang ada tanpa diharapkan, berbeda dengan Kak Loria."
Kata-kata Hita sebelumnya membuat Dirga tak bisa menjernihkan pikirannya.
Bahkan saat kini air membasahi sekujur tubuhnya, Dirga masih saja tak bisa menenangkan diri. Karena pada intinya, yang panas adalah kepalanya, bukan tubuhnya.
Dirga yakin sekali bahwa ia adalah orang yang pintar, sosok yang jenius karena sejak kecil mendapatkan validasi atas nilai-nilainya yang luar biasa.
Namun kini ia merasa bodoh untuk pertama kalinya saat menyadari bahwa yang ia lihat selama ini hanya dari satu sudut pandang.
Dirga memandang Hita remeh berdasarkan sudut pandangnya, tak mengetahui apa saya yang mungkin perempuan itu telah lalui selama ini.
Di bawah cucuran air shower, Dirga memejamkan matanya dan berusaha untuk mengusir rasa iba yang menggerogoti. Ia bukan orang yang bisa dipengaruhi seperti ini, ia tak pernah kasihan pada orang lain hanya karena kata-kata.
Bisa saja Hita tengah memanipulasinya, kan?
Tangan kekar itu meraba-raba tembok, memencet tombol off untuk mematikan shower yang menghujani tubuhnya yang kekar dan padat.
Ringisan pelan lolos dari bibir Dirga begitu merasakan perih di punggungnya. Entah mengapa, sejak kemarin rasanya kulitnya cenat-cenut seperti terluka.
Dirga pada akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang, bagian atas tubuhnya telanjang dan mengkilap karena tetesan air. Rambutnya basah, menempel pada dahi.
Kit...
Begitu pintu kamar mandi terbuka, mata Dirga langsung bertemu dengan mata cantik Hita. Perempuan itu tengah menggeledah lemari, secara otomatis menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.
Namun secepatnya pula Hita mengalihkan pandangan dari Dirga.
"Apa yang sedang kau cari?" tanya Dirga, dengan nada netral yang tak menyinggung seperti biasanya.
Laki-laki itu mendekat, sedikit penasaran dengan apa yang mungkin istri penggantinya itu tengah cari.
"Bukan apa-apa," balas Hita, menutup pintu lemari dan menghela napas. "Hanya mencari kemeja Kak Bram, aku lupa mengembalikannya."
Hita berbalik, kini berhadapan dengan Dirga yang setengah tanpa pakaian. Buru-buru lagi dia mengalihkan pandangan dari tubuh laki-laki yang memang seharusnya tak ia pandangi.
"Aku sudah mengembalikannya." Dirga membalas, menyisir rambut basahnya dengan jari. "Aku tidak ingin pakaiannya tercampur dengan pakaianku."
Dirga melangkah ke meja rias, memandangi tubuhnya di cermin.
Seakan-akan mengerti bahwa Hita tak nyaman dengan penampilannya yang tidak sepenuhnya ditutupi, Dirga buru-buru berklasifikasi.
"Jangan salah paham dengan apa yang aku lakukan sekarang," pesan Dirga, buru-buru memperingatkan. "Aku hanya merasa tidak nyaman dengan pakaianku akhir-akhir ini."
Perlahan-lahan Hita menaikkan pandangan, sedikit rasa penasaran menghinggapinya. "Kenapa?"
"Tidak tau." Dirga menggeleng, menoleh ke arah Hita sembari memijat pundaknya. "Aku rasa karena efek alkohol waktu itu, jadi tubuhku masih kurang nyaman hingga sekarang."
Penyebutan 'Alkohol' pada kalimat Dirga membuat Hita menelan ludah. Kenapa ia harus diingatkan lagi akan kejadian di ruang tamu itu?
Hita diam-diam memperhatikan bagaimana Dirga melemaskan ototnya sendiri, memijat bahu hingga lengan dengan tangannya sendiri.
Awalnya semuanya Hita pikir baik-baik saja, tapi saat ia pura-pura melangkah ke arah tempat tidur dan menatap bagian belakang laki-laki itu, mata Hita membola sempurna.
Bagaimana tidak? Yang ia lihat saat ini benar-benar menyeramkan, nyaris ngeri dan membuatnya merinding.
Punggung Dirga tampak dipenuhi oleh luka-luka panjang yang tampak seperti cakaran.
Dan sialnya itu milik Hita.
Ia tanpa sadar membuatnya malam itu, saat di ruang tamu. Tapi kenapa separah itu?
"Kak Dirga," panggil Hita ragu-ragu, membuat yang dipanggil menoleh dengan sebelah alis terangkat.
Hita menelan ludah, tak tau bagaimana caranya memberitahukan pada Dirga tentang luka-luka itu. Bagaimana kira-kira reaksi laki-laki itu saat melihat goresan-goresan yang mengotori kulitnya.
"Ada... ada sesuatu di punggungmu," ujar Hita, memberikan isyarat dengan menunjuk ke arah punggung Dirga. Sedikit mengernyit ngeri ia melihatnya.
Hita yakin sekali itulah alasan mengapa Dirga merasa tak nyaman.
"Sesuatu?" Dirga perlahan-lahan membalik tubuhnya, kepalanya menoleh ke belakang saat berusaha melihat pantulan punggungnya di cermin.
Namun jauh dari perkiraan, Dirga tak bereaksi sama sekali, malah terlihat heran sembari menggapai-gapai luka di punggungnya.
"Bagaimana bisa seperti ini?" gumamnya, meringis tatkala menyentuh goresan-goresan itu.
"Aku rasa itu perlu segera diobati," saran Hita, nadanya menyiratkan kekhawatiran.
Bagaimanapun ia yang membuat Dirga terluka seperti itu.
Hita menarik laci nakas, mengeluarkan kotak P3K dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kalo kakak tidak keberatan, aku bisa membantu," tawar Hita, meskipun tau bahwa jelas Dirga akan menolaknya.
"Aku bisa melakukannya sendiri."
Dirga melangkah mendekat ke tepi ranjang, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Hita.
Hita sudah tau bahwa Dirga akan menolak.
Hita mengulurkan salep, sengaja berpura-pura sibuk agar tak menatap Dirga. Bagaimanapun ia masih ingat perintah Dirga untuk tak menatap matanya, dan ia juga tak ingin melakukannya karena merasa terhina.
Tanpa berucap terimakasih Dirga mengambil salep dari tangan Hita, mengolesnya pada jari sebelum perlahan-lahan membawanya ke arah punggung.
"Shhh..." Dirga memejamkan matanya, merasa perih yang begitu menyengat saat salep dingin itu mengenai luka.
Hita memperhatikan setiap reaksi Dirga, ikut-ikutan meringis ngeri melihat ekspresi kesakitan suaminya itu. Ada kekhawatiran dalam tatapan Hita, walaupun sebagian besarnya adalah rasa bersalah.
"Kakak benar-benar tidak butuh bantuan?" tanya Hita, mengamati bagaimana Dirga sedikit kesusahan mengoleskan salep pada punggungnya.
Dirga menoleh, tetap dengan tampang datar penuh perhitungan.
Laki-laki itu tampak berpikir sejenak.
"Jika kau bersikeras mungkin kali ini aku akan menerima bantuanmu," katanya tanpa di duga-duga menerima tawaran bantuan Hita.
Dirga mengulurkan kembali salep itu ke arah istrinya, dan Hita ragu-ragu pula mengambilnya.
Hita sedikit bergeser begitu Dirga duduk di sampingnya, memunggunginya agar lebih mudah mengobati.
Terkadang Dirga memang susah untuk ditebak. Kadangkala begitu manis, kadangkala juga sangat kasar.
Hita perlahan-lahan mengoleskan salep pada luka-luka goresan di tubuh Dirga. Pikirannya berkelana kemana-mana, berpikir apakah kukunya bisa membuat luka-luka seperti itu? Luka-luka separah itu?
"Apa saja yang kau bicarakan bersama orang tua Jojo tadi?"
Begitu tiba-tiba pertanyaan Dirga terlontar, membuat Hita tersadar. Sejak kapan pula Dirga mencari topik seperti ini?
"Hanya sedikit," balas Hita. "Mereka ingin mengucapkan terimakasih secara langsung dan memastikan juga apakah aku baik-baik saja setelah kejadian di mall itu."
"Lalu?"
"Lalu..." Hita berusaha mengingat-ingat, tangannya mengoleskan salep di kulit Dirga. "Itu saja, setelah itu aku dan Kak Bram bermain-main sedikit dengan Jojo di taman, lalu pulang."
"Bermain seperti apa?" Dirga sedikit menoleh kebelakang, ke arah istrinya yang tengah mengolesi salep.
Kenapa Dirga jadi banyak bertanya seperti ini?
"Yah... membeli eskrim dan jalan-jalan sebentar di taman," jawab Hita, merasa bahwa ada sedikit perbedaan dalam interaksi mereka ini. Agak damai, mungkin?
Dirga mengangguk pelan, tangannya meraih pergelangan tangan Hita secara tiba-tiba hingga membuat Hita sendiri tersentak.
"Oleskan lebih banyak di sini," katanya. "Bagian ini yang paling sakit."
Dirga perlahan-lahan menuntun tangan Hita ke area yang dia maksud sebelum melepaskan tangannya dari perempuan itu.
Jangan tanyakan Hita bagaimana perasaannya sekarang. Apakah ucapannya di toilet tadi yang membuat Dirga agak lunak seperti ini? Tapi apa sekiranya yang spesial dari kata-kata itu hingga membuat sosok dingin ini sedikit mencair?
Hita mengoleskan lebih banyak salep pada area yang Dirga maksud, sangat berhati-hati agar tidak terlalu menyakiti.
Di sisi lain, Dirga sendiri mungkin tak menyadari perlakuannya yang berbeda. Meskipun sudah melarang rasa pedulinya pada Hita setelah perempuan itu melontarkan kata-kata acuh pada dirinya sendiri, Dirga jadi memiliki sudut pandang lain.
Namun ada satu hal yang membuat Dirga bertanya-tanya. Pembangkangan Hita pagi tadi.
Apakah ucapannya malam itu—saat memergoki Hita dan Bram di dapur membuat Hita begitu marahnya padanya? Apakah perempuan itu merasa bahwa kata-kata Dirga sudah melampaui batas? Atau mungkin ada hal lain?
Dirga benar-benar menahan diri untuk tak bertanya lagi, tak ingin membuat dirinya terlihat mulai peduli ataupun penasaran.
Tapi mengakuinya atau tidak, Dirga memang mulai peduli.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga