Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Derap langkah menggema dari undakan tangga, sang pemilik kaki nampaknya terburu-buru turun, bahkan tidak peduli peringatan pelayan yang ngeri melihatnya. Kabar tentang pengawal yang tengah menghadap Tuan Vick menjadi penyebabnya, gadis itu khawatir keadaan pria blasteran itu. Sampai napasnya ngos-ngosan, serta kaki nya hampir terpeleset, tidak membuatnya berhenti membawa langkah menuju ruang kerja tuan Vick.
Ketika tiba Yasmin mengerem langkah sembari membuka pintu dihadapan nya, "Papi...." matanya seketika tertuju pada pria baya dan Rain bergantian, namun ucapannya hanya sampai ditenggorokan.
Sebab pemandangan yang tersaji jauh dari bayangan nya, kedua pria berbeda generasi itu tampak santai berbincang dengan ditemani cangkir kopi. Antara Tuan, dan pengawal yang menghadap eksekusi tidak dalam posisi yang tepat seperti semestinya, dimana dalam pikiran Yasmin, pria itu seharusnya sudah dicambuk atau dipukul.
Tapi...Papi nya malah mengusap tengkuk sambil berdeham, "Yasmin, bagus kalau kamu ikut kesini. Tadi papi juga mau manggil kamu, kita bahas masalah kamu dirundung itu" ucap Vick sembari menghampiri Yasmin.
Pria baya itu sebenarnya menyembunyikan malu,tertangkap basah menjamu pengawal yang notabene nya bersalah karena tidak dapat menjaga putrinya. Kedatangan Rain, atas perintahnya sendiri yang siap menghardik pekerjaan tidak becus pria itu. Akan tetapi kala Rain masuk, nyali Vick mendadak menciut, ia justru bersikap ramah dan penuh basa basi mengintogasi mengenai kejadian yang menimpa putrinya.
Terbesit seketika satu pertanyaan, bagaimana caranya membuat pria itu mengundurkan diri. Sementara Yasmin meski bingung, tapi juga merasa lega bahwa pria itu baik-baik saja, "Ngga usah, biarin aja masalah ini berlalu"jawab Yasmin.
"Berlalu bagaimana? Wajah kamu dicakar, kamu bonyok nak! Gimana bisa mereka dibiarkan lolos? Papi hubungi pihak sekolah untuk menindak lanjuti kasus ini, tapi kamu yang ceritakan kronologi nya sama Petaka "pria baya itu mengambil ponsel dari saku celana nya, menjelaskan betapa serius nya Vick masalah itu.
"Aku ngga mau Pi, udah aku bilang biarin aja."Yasmin menatap Papi nya penuh permohonan.
Pria baya itu terdiam, kening nya berkerut dalam menatap Yasmin. "Tidak bisa dibiarkan, papi ngga setuju. Mereka bisa semena- mena kalau tidak mendapatkan konsekuensi nya, papi telepon sekarang...."
Gadis itu menghela napas, nampak keberatan dengan cara Papi nya menyelesaikan masalah. karena menganggap kejadian itu sebagai penebusan rasa bersalah nya, pada orang yang dirundung setahun yang lalu. Yasmin melirik Rain yang tengah menyesap kopi nya, tampak santai. "Ngga usah diperpanjang Pi, ini cuma masalah biasa, barentem, salah paham" Yasmin menahan tangan Papi nya.
"Ini bukan masalah biasa Yas, ngapain kamu masih ngelindungin teman-teman bandel kamu itu? Gara-gara mereka, kamu hampir celaka kalau Petaka ngga datang tepat waktu, dan kamu masih minta ngga diperpanjang, menganggap ini cuma perkara sepele. Ngga bisa Yas, kamu tahu sendiri Papi tegas, kamu yang pernah rudung orang juga papi suruh pihak sekolah menghukum, apalagi mereka yang udah nyakitin kamu" pria baya itu menarik tangannya dari gengaman Yasmin, lalu mulai mencari nomor sekolah.
"Keterlaluan sekolah kamu, sampai masalah begini ngga tahu. Sudah berapa banyak anak-anak yang jadi korban perudungan? Pihak sekolah sepertinya memang kasih tempat buat kegiatan nakal itu"
Yasmin panik, berusaha mengambil ponsel papi nya, tapi terlambat panggilan sudah terhubung. "Hallo...saya mau bahas-" tut...tut...tut...panggilan terputus, Yasmin dengan keras kepalanya merebut ponsel dari tangan Papi nya.
Pria baya itu menghardik tingkahnya, jelas naik pitam, Yasmin berjalan mundur dengan tangan kebelakang, menyembunyikan ponsel dari pemiliknya.
"Apa-apaan kelakuan kamu ini Yas tidak punya sopan santun, ini akibat bergaul dengan anak-anak bandel itu. Perlawanan kamu jadi naik tingkat, setelah pernah melakukan perudungan pada orang lain, ikut dogem, suka pulang tengah malam, dan sekarang merebut ponsel Papi. Kamu kira, kamu tengah menghadapi anak-anak sepantaran kamu, hingga Bisa-bisa nya kamu bersikap begini sama Papi "
"Iya ini karena aku bergaul sama mereka, tapi Papi tahu ngga kenapa aku bisa bergaul sama orang-orang yang papi sebut bandel itu"ujar gadis itu dengan mata berkaca-kaca, suaranya naik lebih tinggi daripada Vick.
"Kembalikan ponsel papi, bergaul sama mereka itu pilihan kamu, karena kamu yang bandel. Makin kesini, malah ngga bisa dewasa. Papi pindahkan saja kamu, kalau begini terus tingkah nya!"
Yasmin menatap Papi nya terluka, ancaman itu selalu dilayangkan tiap kali Yasmin membantah. Pria baya yang mengaku sebagai papi nya, tidak pernah sekalipun bertanya apa yang diinginkan, terus-menerus mengutarakan keinginannya untuk dituruti. Dulu Yasmin tidak peduli pada keinginannya, asalkan menjadi anak yang baik bagi orangtua nya, sampai satu keputusan pahit yang diambil membuatnya berteriak tidak setuju.
Namun apa yang didapatkan, papi nya malah mengancam seperti sekarang hingga ia tidak berkutik, meninggalkan tempat ini berarti meninggalkan kenangan bahagia yang tidak mungkin terulang.
"Papi ngga nanya kenapa aku bergaul sama mereka? Papi, pernah mau tahu tentang aku ngga sih? Makanya ngga nanya balik apa yang Yasmin perlukan, apa yang Yasmin pendam, apa yang Yasmin ngga suka!"
"Ngga penting Yasmin, Papi lebih tahu apa yang terbaik buat kamu" Bentak Vick, pria baya itu berhasil merebut kembali ponselnya dari genggaman Yasmin.
Gadis itu menatap nanar Vick yang menyebutkan tidak penting, hatinya luka mendengar kata-kata itu, Yasmin rasa, ia tidak lebih dari sekedar tokoh yang tidak berhak menentukan alur ceritanya sendiri.
Jadi karena itu, ketika ia cerita bagaimana hari-hari nya, impian nya, orang yang ia suka lalu yang juga menyakiti nya, Papi tampak tak acuh. Berarti alasannya masuk geng Centil itu salah, ketika Yasmin kira dengan begitu Papi nya jadi bertanya kenapa ia begini-begitu, apa penyebabnya, lalu mendengar kan Jeritan nya hingga tidak hanya sibuk mengurus pekerjaan dan menikmati pernikahan keduanya.
"Termasuk kasih ibu tiri, apa itu yang terbaik buat perasaan Mami, perasaan aku."
"Kenapa malah bawa-bawa urusan itu, tidak ada hubungannya Yasmin. "
"ADA, ADA HUBUNGAN NYA. GARA-GARA KEPUTUSAN NAFSU PAPI ITU AKU JADI BANDEL SAMPAI MEMBULLY ANAK ORANG. DENGAN BEGITU AKU PIKIR PAPI BAKAL PUNYA KESIBUKAN SAMPAI NGGA PUNYA WAKTU BUAT KAWIN SAMA NENEK SIHIR ITU " Teriak nya. bertepatan kalimat terakhir itu, suara tamparan keras melayang dipipi nya. Kepala nya sampai menoleh ke kiri, tatapan nya dengan Rain pun bertemu.
Gadis itu menggigit bibir menahan isak, tamparan itu memang melayang dipipi nya tapi membekas di dua tempat, hati, juga ingatan nya. "Jaga ucapan kamu bicara sama orang tua, kamu boleh bandel tapi jangan sekali-kali tidak menaruh hormat sama orangtua "
"Kalau boleh sekalian saja semuanya, jangan nanggung" katanya. Ia menatap sekilas pria baya itu sebelum Berlalu keluar dari ruang kerja yang penuh ketegangan.