NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / Pembantu
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: IbuAnna30

" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.

ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Keluarga Huang

Mobil sedan putih membawa Ana pada perjalanan panjang untuk kedua kalinya. Daerah yang kembali asing, sepanjang jalan bukit-bukit terhampar luas pun gunung-gunung yang menjulang bak pengganti gedung pencakar langit jadi pemandangannya saat ini. Suasana khas pedesaan tergambar bersama sungai kecil yang baru saja terlewati.

Aroma segar daun padi yang masih menghijau tanpa riuh kendaran menyapa Ana saat mobil yang membawanya masuk ke jalanan yang lebih kecil. matahari hampir tergelincir di barat membentuk temaram jingga di antara hijaunya perbukitan. Kepenatan seketika menguap berganti kesegaran, entah apa rahasia di depan, tempat ini terlalu asing untuk Ana yang baru saja kembali memulai kehidupan barunya.

Sebuah rumah yang cukup megah, berdiri kokoh di antara hamparan sawah dan pemukiman penduduk. Tempat nya bekerja kali ini jauh dari apa itu kota, sebuah desa kecil di pingiran kota. Hemei, Changhua.

"Kamu sudah siap mbak?" Sapa penerjemah yang sedari tadi membawanya membelah jalanan panjang tanpa suara.

Nyaris 1 jam mereka berdiam-diaman bagai orang musuhan. Hanya penjelasan panjang kali lebar saat Ana baru sampai di kantor agensi cabang di kota ini. Tanpa alasan pasti Ana di pindahkan di agensi lain, masih satu agensi hanya saja agensi ini merupakan cabang yang ada di kota Changhua.

"Sudah, Ce." Jawab Ana penuh keyakinan.

Seorang wanita paruh baya menyambut mereka, jika di perkirakan usianya sekitar 50 tahunan, pun seorang gadis manis yang melambaikan tangan di kejauhan. Ana tersenyum tipis sembari penundukkan badan tanda penghormatan sebelum wanita 50 tahunan itu mempersilahkan mereka duduk di teras sebuah paviliun yang ada di samping bangunan utama.

"Siapa namanya?" Tanya wanita 50 tahun itu pada Agensi Ana.

"Namanya Ana," jawab sang Agensi yang juga di sertai senyum ramah Ana.

Si wanita 50 tahun turut tersenyum ramah, "kamu bisa panggil saya Āyí *Ling, saya kepala pembantu di sini." Ucap Āyí Ling memperkenalkan diri. "Kamu nanti ada teman kerja, itu dia ada di lantai 3 sedang menyetrika, kamu jangan ada ribut ya, kalau ada apa-apa bicara baik-baik jangan ribut-ribut." Jelas wanita itu yang memperkenalkan diri sebagai Āyí Ling.

Ana hanya menunduk penuh hormat. Sebelum agensinya meminta nya menandatangani beberapa berkas kembali kemudian berniat beranjak pamit pergi, sebelum gadis manis yang disebut teman kerja Ana menghentikannya.

"Hai Ce ... "sapa gadis itu riang. "Aku nggak di bawain jajan nih, Ce!" Goda gadis itu pada penerjemah agensi yang juga agensinya.

"Cece bawakan teman. Kamu jangan ajak ribut kaya kemarin lo ya, Cece ini baik nggak pernah aneh-aneh selama kerja." Sahut penerjemah.

Gadis manis itu tersenyum kuda sembari mengacungkan 2 jempol tangannya, "siap, Ce."

"Ya sudah Cece pergi dulu, kalian baik-baik ya kerjanya, kalau ada apa-apa telfon Cece!" Pamit Agensi itu.

Baik Ana maupun gadis manis itu hanya tersenyum sembari melambaikan tangan melepas penerjemah pergi.

"Kalau ada apa-apa telfon Cece!" Gayanya, giliran pekerjanya laporan nggak ada respon." Omel gadis manis itu. "Eh. Sampe lupa namanya siapa kak?" Lanjut gadis itu kembali saat menyadari kehadiran Ana di dekatnya.

"Ana." singkat Ana menjawab.

"Aku Citra, ayo kak aku bantu bawa barang-barang ke kamar." Tawar Citra saat Āyí Ling sudah keluar dari paviliun.

''Ini kamu bisa pilih mau tidur berdua atau sendiri," ucap Āyí Ling.

"Sendiri saja." Sahut Ana.

Masih ada kecanggungan yang terlihat jelas saja ini menit pertama dia berada di rumah itu secara resmi, tapi entah mengapa ada perasaan yang berveda yang Ana rasakan. Perasaan kehangatan dan kenyamanan. Mungkin kerena Āyí Ling yang begitu ramah juga teman kerjanya yang ceria, entahlah ini baru menit pertama, semua bisa berubah kalau sudah waktunya !

Setelah meletakkan koper di kamar yang tidak begitu luas tapi cukup nyaman Āyí Ling membawa Ana masuk ke rumah utama, tujuannya lantai 2 tempat kerja Ana.

Ana di beri tugas di lantai 2 membersihkan setiap sudut ruangan dengan segala printilannya, di tambah lantai 1 hanya area ruang tamu dan ruang keluarga.

sedang si gadis manis yang memperkenalkan diri sebagai Citra tadi bertanggungjawab atas semua pakaian para pemilik rumah dan lantai dapur, hanya membantu bersih-bersih karena sudah ada tukang masak sendiri namanya Āyí Jung.

Wanita paruh baya yang sepertinya usianya sedikit lebih muda dari Āyí Ling. Berbeda dengan Āyí Ling, tukang masak itu sepertinya sedikit judes orangnya, terkihat bagaimana ketusnya dia saat Ana memperkenalkan diri pertamakali, atau hanya perasaan Ana saja.

Selesai memberitahu daftar pekerjaan Āyí Ling kembali membawa Ana ke paviliun. Dia meminta Ana untuk merapikan barang-barangnya dan beristirahat sejenak sebelum mulai bekerja nanti pukul tujuh malam, mempersiapkan makan malam.

Ana masih sibuk merapikan kopernya saat Citra teman barunya mengetuk pintu kamar.

"Kak tukeran lokasi yuk," tawar nya begitu masuk ke kamar Ana.

"Maksutnya?" Sahut Ana yang kembali melanjutkan kegitannya. Dia ingin segera mandi selesai merapikan pakaian dari koper.

"Kak Ana yang di dapur sama lantai 2, ruang tamu sama ruang tengah di lantai 1 aku. Aku putek banget kak kalo kerja sama nenek sihir itu," seru Citra. "Nggak ribet kok

kerja nya cuma nyuci-nyuci bekas wadah kotor yang habis di pake dia sama nyuci sayur kalau di suruh, kalau nggak ya diem aja yang penting peralatan yang kotor-kotor aja." Jelas Citra.

"Memangnya kenapa? Galak ya orang nya." Selidik Ana.

"Nggak sih, kak cuma mulut nya pedes kaya mulut tetangga, nanti kak Ana lihat sendirilah. Ya kak tolonglah, kak. Aku udah hampir 3 tahun memendam ini kak ," rayu Citra.

Ana tersenyum kecil melihat bagaimana wajah CItra memohon penuh harap, " iya, tapi nanti Āyí Ling nggak marahkan kita tukeran tempat?" Tanya Ana.

Citra tersenyum puas, "Áyí Ling mah ibu peri kak, nggak perlu khawatir nanti aku yang ngomong sama dia." Jawab Citra penuh semangat karena tawarannya di setujui oleh Ana.

"Kita mulai kerja jam berapa?" Tanya Ana kemudian.

"Nanti jam setengah tujuh kita siap-siap nyusun piring sama makanan di meja makan, terus nunggu mereka selesai makan malam habis itu selesai istrirahat kita." Jawab Citra.

"Banyak ya anggota keluarganya?" Tanya Ana kembali.

"Nggak, kak kalau keluarga inti cuma Nyonya Huang sama Tuan Lhi yang selalu di rumah. Ada 2 lagi anaknya tapi di Amerika tinggalnya." Jelas Citra. "Enak kak kerja di sini baik semua tapi ya cuma satu itu si nenek sihir," oceh Citra kembali.

Ana terkekeh mendengar bagaimana Citra menyebut nama Āyí Jung dengan sebutan nenek sihir, tercium sekali aroma dendam di dalamnya. "Kamu kayanya dendam banget, Cit sama Āyí Jung." Goda Ana.

Citra tersenyum sinis, "bukan dendam lagi, kak tapi udah males ngeliat sebenarnya. Andai di sini nggak ada Āyí Ling terus bonusan nya nggak besar udah mundur dari hari pertama aku!"

Ana kembali terkekeh, sepertinya memang benar-benar kemusuhan. "Ya sudah, Cit aku mau mandi dulu, itu ada cemilan makan aja ," tawar Ana sembari menunjuk beberapa bungkus jajanan.

Wajah Citra seketika berbinar, satu bungkus basreng pedas jadi incarannya sedari tadi tapi malu untuk meraih karena belum di tawari sedang si pemilik sudah melenggang masuk kamar mandi. Secepat kilat Ana menyelesaikan mandinya, karena jam makan malam akan segera tiba, Citra masih di tempatnya, masih dengan basreng di tangan saat Ana kembali masuk ke kamar.

"Di sini bebas pake wewangian kan, Cit?"tanya Ana pada citra yang masih fokus dengan jajan di genggamannya.

"Bebas. kak habis, '' seru nya sembari mengacungkan bungkusan basreng yang sudah tandas tak bersisa.

Ana terkekeh melihat polah Citra, " habis ya buka lagi itu kan masih ada," sahut Ana.

"Malu." Ucap Citra yang kemudian di susul gelak tawa mereka berdua.

Selesai merapihkan penampilan Citra membawa Ana ke rumah inti, sedikit benar ucapan Citra Āyí Jung mulutnya sangat pedas. Sentuhan pertama Ana sudah kena semprot hanya karena salah meletakkan barang.

" Baskom basah jangan di letakkan di situ!" Hardikan judes dari bibi Jung membuat mata Ana yang sedikit ngantuk melek seketika.

___Bersambung.

* Āyí \= Bibi

IbuAnna

1
Kim shin
gemesh
Kim shin
apakah bab ini di beri bawang 10 kilo 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!