⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Mata
Pandangan Siska langsung tertuju pada Banyu. Melihat pemuda itu duduk tanpa luka sedikit pun, ia diam-diam mengembuskan napas lega. Namun, matanya yang tajam segera menangkap tongkat karet di tangan Pak Yudo. Alisnya yang indah langsung menukik tajam, dan ia membentak dengan suara lantang, "Interogasi paksa dengan kekerasan?! Apa kau sudah bosan jadi polisi?!"
Pak Yudo awalnya terkejut dengan kemunculan wanita yang mendadak menerobos masuk itu. Namun, ia segera menguasai dirinya dan memelototi Siska. "Siapa kau?! Ini kantor polisi, bukan tempat umum yang bisa kau masuki sembarangan! Keluar sekarang juga!"
Tepat pada saat itu, Pak Nandito bergegas masuk ke ruang interogasi. Pengalamannya yang jauh lebih matang membuatnya segera menyadari satu hal: meski wanita cantik ini masih muda, aura dan ketegasannya memancarkan wibawa seseorang yang terbiasa memberi perintah. Berani melabrak polisi di markasnya sendiri pada tengah malam buta... wanita ini jelas bukan orang sembarangan dan pasti memiliki koneksi kuat di belakangnya.
Menyadari potensi bahaya ini, Pak Nandito merutuk dalam hati. "Sialan, niatnya cuma mau interogasi rutin, kenapa malah memancing kedatangan nyonya besar ini?!" Karena tak ada pilihan lain, Pak Nandito melangkah maju dengan sangat hati-hati dan berkata sopan, "Nona, kami sedang menangani sebuah kasus. Tolong jangan mengganggu pekerjaan kami."
"Pekerjaan?" Siska melirik sinis ke arah Pak Nandito dari sudut matanya, lalu menunjuk tajam ke arah Pak Yudo. "Begini cara kalian bekerja?! Kejahatan apa yang dia lakukan sampai kalian harus memborgol tangannya ke belakang punggung?! Dan orang ini... untuk apa dia memegang tongkat karet itu?! Jangan pikir aku tidak tahu trik-trik kotor kalian!"
Rentetan pertanyaan Siska benar-benar menyudutkan Pak Nandito. Faktanya, Banyu dibawa kemari hanya dengan status "membantu penyelidikan", jadi secara prosedural ia sama sekali tidak boleh diborgol. Keberadaan tongkat karet di tangan Pak Yudo bahkan lebih fatal lagi; jangankan pada saksi, menggunakannya pada tersangka kriminal pun adalah pelanggaran berat. Meskipun sedikit "kekerasan fisik" kadang terjadi di ruang interogasi, hal itu sangat tabu jika sampai terekspos. Jika masalah ini diusut serius oleh pihak internal, Pak Yudo bisa saja dipecat dengan tidak hormat. Tentu saja Pak Nandito tidak akan mengakui pelanggaran SOP tersebut di depan umum. Ia mencoba berkilah dengan senyum kaku, "Ini... sepertinya Nona salah paham."
Melihat Banyu diperlakukan seperti penjahat kelas kakap, Siska mengamuk bagaikan macan betina yang melindungi anaknya. Ia sama sekali tidak termakan alasan murahan Pak Nandito. Dengan tawa dingin yang menusuk, ia menukas, "Aku tidak peduli ini salah paham atau bukan. Pokoknya, siapa pun polisi yang bertanggung jawab atas penahanan ilegal ini... bersiaplah menerima surat skorsing!"
Aura Siska saat melontarkan ancaman itu begitu mendominasi dan mengintimidasi. Melihat pemandangan ini, Banyu yang sedari tadi duduk tegang perlahan tersenyum simpul. Ia teringat momen pertama kali bertemu Siska di rumah sakit dulu; wanita itu juga memancarkan aura 'Wanita Besi' yang sama, sukses membuat para direktur rumah sakit berkeringat dingin dan tak berani bernapas. Ini adalah kali kedua Siska menunjukkan sisi garangnya secara langsung di hadapan Banyu demi membelanya. Hal ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa wanita ini sangat memedulikannya. Segala kekecewaan dan rasa ganjalan di hati Banyu akibat perselisihan kecil mereka di rumah sakit tempo hari langsung menguap tak berbekas.
Sementara suasana hati Banyu berubah secerah matahari pagi, Pak Yudo justru merasa harga dirinya diinjak-injak hingga hancur lebur. Hari ini benar-benar hari sial baginya! Pertama, ia dipermalukan dan diremehkan oleh Banyu yang menolak membuka mulut. Sekarang, datang lagi seorang wanita entah dari mana yang menceramahinya dan terang-terangan mengancam akan mencopot seragamnya!
Emosi Pak Yudo meledak. Ia mengacungkan tongkat karetnya ke arah Siska dan membentak kasar, "Kau tahu apa, Hah?! Pria ini adalah tersangka utama dalam kasus penganiayaan berat yang terjadi pada dini hari tanggal 8 Juli! Korban sendiri yang menunjuknya secara langsung sebagai pelaku!"
Mendengar hal itu, Siska terbelalak kaget dan membeku di tempatnya.
Sore harinya, Siska akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menelepon Banyu, berniat meminta maaf atas sikap dinginnya beberapa hari yang lalu. Namun, ponsel Banyu sama sekali tidak bisa dihubungi. Karena panik, ia menelepon ke pesanggrahan Lahan Mustika. Siska yang pernah membawa Melati bermain ke sana cukup akrab dengan Mang Ujang. Dari Mang Ujang yang sedang kebingungan itulah ia mengetahui bahwa Banyu baru saja diciduk polisi.
Siska sama sekali tidak tahu kasus apa yang menjerat Banyu. Ia hanya bergegas meluncur ke kantor polisi berbekal insting protektifnya. Namun, begitu mendengar Banyu dituduh terlibat dalam kasus "penganiayaan berat", ia sempat kehilangan pijakan sesaat.
Meski begitu, insting tajamnya sebagai wanita karier elit segera mengambil alih. Ia menatap Pak Nandito dan menuntut dengan nada dingin, "Siapa nama korban yang menuduh Banyu?!"
Secara prosedur, Pak Nandito tidak boleh membocorkan identitas pelapor. Namun, karena tak berani menyinggung wanita berwibawa ini lebih jauh, ia langsung menjawab refleks, "Rendi!"
Begitu nama itu meluncur, sebuah pencerahan menyambar benak Siska! Semua kepingan puzzle langsung tersusun rapi di kepalanya. Ia menoleh dan menatap Banyu dalam-dalam. Tatapannya dipenuhi oleh campuran rasa cinta, haru, dan rasa syukur yang luar biasa besar. Dalam hitungan detik, Siska mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya. Ia menarik napas panjang dan menyatakan dengan suara lantang, "Aku bersedia menjadi saksi untuk Banyu! Dia mustahil menjadi pelakunya!"
"Kenapa tidak?!" Pak Yudo mendelik tak terima.
Siska menoleh ke arah Banyu dengan senyum manis yang penuh arti. "Karena... pada saat kejadian itu, kami berdua sedang bersama!"
"APA?!"
"Mustahil!"
Pak Yudo dan Pak Nandito serempak berseru kaget, wajah mereka berdua memancarkan ketidakpercayaan yang luar biasa.
Bahkan Banyu sendiri terbelalak kaget, tak kuasa menatap Siska dengan pandangan penuh tanya. Siska hanya membalas tatapannya dengan senyuman lembut. Meski tak ada satu kata pun yang terucap, Banyu langsung paham. Siska sedang membuat alibi palsu untuk membebaskanku!
Raut wajah Pak Nandito berubah menjadi sangat serius. Ia menatap Siska dengan tajam. "Nona, tolong ulangi perkataan Anda!"
Siska membalas tatapannya tanpa gentar sedikit pun. "Mau kuulangi seratus kali pun jawabanku tetap sama! Malam itu Banyu bersamaku. Mulai dari jam 9 malam hingga jam 8 pagi keesokan harinya, dia tidak pernah beranjak sedetik pun dari sisiku!"
"Omong kosong!" Pak Yudo membentak kalap. "Berdasarkan data kami, Banyu ini berstatus lajang! Bagaimana mungkin dia menghabiskan sepanjang malam bersamamu?!"
Pertanyaan Pak Yudo itu membuktikan betapa kacaunya logika pria itu akibat panik. Pak Nandito sampai mengerutkan kening kesal mendengar kebodohan rekannya. Memangnya kenapa kalau dua orang dewasa menghabiskan malam bersama?! Jangankan Banyu masih lajang, sekalipun Banyu sudah beristri dan menghabiskan malam dengan wanita lain, selama tidak ada unsur prostitusi, polisi sama sekali tidak punya wewenang untuk ikut campur urusan ranjang orang!
Berusaha menetralisir kebodohan rekannya, Pak Nandito bertanya dengan nada menekan, "Kalau memang kalian berdua bersama, kenapa tadi Banyu bersikeras mengatakan bahwa dia tidur sendirian di rumahnya?"
Karena tekadnya untuk menyelamatkan Banyu sudah bulat, Siska telah menyiapkan naskah kebohongannya dengan sempurna. Ia menjawab dengan sangat lancar dan percaya diri, "Menurutku... dia hanya berusaha melindungiku agar reputasiku tidak hancur jika masalah ini terekspos publik. Biar kuperjelas sekali lagi: sejak jam 9 malam hingga jam 8 pagi keesokan harinya, kami berdua berada di rumahku di Perumahan Taman Danau Nomor 16! Dia tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumahku sedetik pun!"
Jika pernyataan pertama Siska tadi terdengar seperti ucapan spontan, detail lokasi dan waktu yang ia sebutkan barusan ini sudah masuk dalam kategori 'menyelaraskan alibi' secara terang-terangan di depan penyidik! Pak Nandito dan Pak Yudo sama sekali tak menyangka wanita ini memiliki nyali sebesar itu. Saat mereka berniat menghentikannya, semuanya sudah terlambat.
Tindakan nekat Siska ini juga benar-benar di luar ekspektasi Banyu. Dengan status sosial dan latar belakang keluarganya yang sangat sensitif, entah ada berapa banyak mata publik yang mengawasi gerak-gerik Siska. Jika kesaksian bahwa ia 'menghabiskan malam bersama seorang pria' ini bocor ke media, reputasinya sebagai wanita karier elit pasti akan hancur lebur! Namun, demi membebaskan Banyu, Siska rela mempertaruhkan segalanya tanpa ragu.
Rasa haru yang luar biasa hangat menyelimuti hati Banyu. Ia membalas senyuman Siska dan berkata dengan tenang, "Apa yang dia katakan seratus persen benar. Malam itu kami memang bersama. Sebelumnya aku berbohong karena aku tak ingin nama baiknya terseret dalam kasus kotor ini."
Pak Nandito melakukan upaya intimidasi terakhirnya. Ia menatap Siska dengan tajam dan memperingatkan, "Nona, saya ingatkan Anda! Memberikan kesaksian palsu di bawah sumpah adalah tindak pidana serius!"
"Aku ini lulusan Magister Hukum! Aku tidak butuh pencerahan hukum darimu!" Siska mencibir dengan tatapan merendahkan. "Karena sekarang alibi Banyu sudah terbukti dan ia bukan lagi tersangka, apakah kami sudah boleh pergi?!"
Pernyataan Siska sukses membuat Pak Nandito mati kutu. Ia terjebak dalam posisi dilematis, tak tahu apakah ia punya dasar hukum untuk terus menahan Banyu. Situasi ini benar-benar membuat kepalanya pening.
Namun, orang yang paling meledak-ledak karena frustrasi malam itu tentu saja adalah Pak Yudo. Kasus yang ia yakini sudah di depan mata dan tinggal ketok palu ini tiba-tiba hancur berantakan hanya karena kemunculan seorang saksi mata wanita entah dari mana. Banyu dengan mudah lolos dari cengkeramannya! Terlebih lagi, wanita ini sejak awal sudah mengancam akan melucuti seragam polisinya. Menyadari bahwa ia tak lagi memegang kendali, Pak Yudo memutuskan untuk menggunakan taktik murahan terakhirnya.
Ia memelototi Siska dan membentak, "Kesaksianmu tidak ada harganya! Kami bahkan tidak tahu siapa identitasmu! Bagaimana kami bisa memverifikasi bahwa ucapanmu bisa dipercaya?! Pria ini tetap harus ditahan di sini genap 1x24 jam!"
Mata Siska menyipit, memancarkan kilatan kemarahan yang dingin. Ia membuka tas tangannya dengan tenang, mengeluarkan KTP-nya, dan membantingnya ke atas meja interogasi. "Ini KTP-ku! Apalagi alasanmu?!"
Karena sudah kepalang tanggung, Pak Yudo memungut KTP itu dan membacanya dengan teliti. Detik berikutnya, senyum licik muncul di wajahnya. "Oh! Ternyata KTP-mu bukan domisili provinsi ini! Kalau begitu, nilai kredibilitas kesaksianmu sangat rendah! Kecuali... ada warga lokal ber-KTP provinsi ini yang bersedia menjadi penjaminmu!"
Faktanya, Pak Wijaya dulunya memang bukan pejabat asli dari provinsi ini. Ia pindah kemari karena ditugaskan oleh pemerintah pusat. Demi menghindari rumor nepotisme yang menuduhnya memanfaatkan jabatan untuk kepentingan keluarga, KTP Siska sengaja dibiarkan tetap terdaftar di kota asal mereka. Siapa sangka, hal sepele ini justru dijadikan celah oleh polisi picik ini untuk menyulitkan Banyu!
Namun, Siska bukanlah wanita sembarangan yang mudah ditindas. Melihat Pak Yudo menggunakan taktik selicik itu, Siska memutuskan untuk mengeluarkan kartu as-nya yang paling mematikan. Dengan ekspresi sedatar es ia berkata, "Aku punya satu rumah lagi di kota ini. Pria yang tinggal serumah denganku di sana pasti bersedia menjadi penjaminku, dan dia adalah warga resmi provinsi ini. Akan kuberikan nomor teleponnya, silakan kau hubungi dan tanyakan sendiri padanya!"
Tanpa menunggu balasan dari Pak Yudo, Siska menuliskan deretan angka di secarik kertas, lalu menyodorkannya pada polisi arogan itu dengan senyum penuh arti yang sangat sulit ditebak.
Pak Yudo, yang egonya sudah terlanjur buta, langsung meraih kertas itu. Tanpa peduli bahwa saat ini sudah tengah malam buta, ia meraih telepon meja dan memutar nomor tersebut.
Panggilan itu diangkat oleh seorang pria paruh baya yang suaranya terdengar berat dan sedikit kesal karena dibangunkan dari tidurnya. "Halo? Siapa ini?"
"Selamat malam, saya petugas dari Polres Metro Timur!" jawab Pak Yudo dengan nada sok berkuasa dan kaku. "Apakah benar ada seorang wanita bernama Siska yang tinggal di kediaman Anda?"
Pria di seberang telepon terdiam sesaat, seolah sedang mencerna informasi itu. Detik berikutnya, suaranya berubah menjadi sangat cemas dan panik. "Pak Polisi, tolong katakan padaku, apa yang terjadi pada putriku Siska?!"
"Oh, putri Anda kemungkinan besar adalah seorang Kriminal!" sahut Pak Yudo dengan nada meremehkan tanpa basa-basi. "Kami mencurigai dia telah melakukan tindak pidana pemberian kesaksian palsu dalam sebuah kasus penganiayaan berat! Pertanyaan saya: Apakah Anda bersedia bertindak sebagai penjamin hukumnya?!"