Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman
"Di dalam sini ada rekaman asli malam saat data Proyek Meridian dicuri." Fajar mengangkat flashdisk itu sedikit lebih tinggi.
"Jangan main-main." Armand menatapnya tajam.
"Aku tidak datang sejauh ini untuk bercanda." Fajar menggeleng.
Rendra berdiri membeku sambil menatap benda kecil di tangan pria itu, reaksi yang muncul di wajahnya jauh lebih jelas daripada kata-kata apa pun. Kirana memperhatikannya tanpa berkedip, sementara berbagai pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya mulai bergerak ke arah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jika flashdisk itu benar-benar berisi bukti, berarti semua yang terjadi beberapa hari terakhir mungkin hanya bagian kecil dari masalah yang jauh lebih besar.
"Berikan padaku." Aiden mengulurkan tangan.
"Belum." Fajar menarik tangannya.
"Kamu ingin apa?" Aiden mengernyit.
"Aku ingin semua orang mendengarnya bersama-sama." Fajar mengangkat dagunya.
"Aneh sekali." Gavin menggeleng.
"Tidak lebih aneh dari hidupmu." Fajar meliriknya.
"Saya tersinggung." Gavin menunjuk dirinya sendiri.
Tidak ada yang memedulikannya.
"Kamu tidak berhak melakukan ini." Rendra mengepalkan tangan.
"Aku tidak berhak?" Fajar tertawa pendek.
"Kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku tahu jauh lebih banyak daripada yang kamu kira."
Tatapan mereka bertemu di tengah area parkir yang sunyi, tidak ada lagi nada santai dalam percakapan itu bahkan orang yang tidak mengetahui masalahnya pun bisa merasakan permusuhan yang sudah berlangsung lama di antara mereka.
"Katakan saja." Aiden melangkah maju.
"Baik." Fajar mengangguk pelan.
Fajar memasukkan flashdisk itu ke saku jasnya lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celana. Beberapa kali jarinya bergerak di layar sebelum akhirnya ia menunjukkan sesuatu kepada Aiden.
"Ini salinannya." Fajar mengangkat ponsel itu.
"Kamu menyimpannya di sana?" Armand mengernyit.
"Aku tidak sebodoh itu." Fajar tersenyum tipis.
Aiden menerima ponsel tersebut lalu membaca beberapa informasi yang muncul di layar, semakin lama ia memperhatikan, semakin dingin ekspresinya. Di sana terdapat daftar file yang tersimpan dengan tanggal yang sama seperti malam terjadinya kebocoran data proyek lima tahun lalu.
"Ini asli?" Aiden mengangkat pandangan.
"Kamu bisa memeriksanya sendiri." Fajar mengangguk.
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena sebelumnya tidak ada gunanya."
Suasana kembali sunyi, jawaban itu terdengar sederhana tetapi tidak ada yang percaya persoalannya sesederhana itu.
"Kamu menyimpan bukti selama lima tahun?" Kirana mengernyit.
"Iya." Fajar menoleh kepadanya.
"Kenapa?"
"Karena tidak ada yang mau mendengar."
Kirana terdiam, cara pria itu menjawab tidak terdengar seperti seseorang yang sedang berbohong dan justru itulah yang membuatnya semakin tidak nyaman.
"Kamu bohong." Rendra melangkah maju.
"Aku menunggu kalimat itu." Fajar tersenyum sinis.
"Kamu selalu menyalahkanku."
"Karena kamu selalu ada di tengah masalah."
"Itu tidak membuktikan apa pun."
"Benar." Fajar mengangguk. "Karena yang membuktikannya bukan aku."
Fajar menunjuk flashdisk yang berada di sakunya, semua orang langsung memahami maksudnya. Jika rekaman itu benar-benar ada, maka tidak ada lagi ruang untuk berdebat.
"Kita dengarkan sekarang." Armand menatap Aiden.
"Aku setuju." Aiden mengangguk.
"Tidak." Rendra menggeleng cepat.
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
"Kenapa?" Gavin mengangkat alis.
Rendra tidak segera menjawab, ia terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha mencari alasan tetapi tidak menemukan satu pun yang cukup kuat.
"Karena..." Rendra menghela napas.
"Karena apa?" Fajar menyilangkan tangan.
"Tidak semua hal harus dibuka di sini."
Kalimat itu justru membuat suasana semakin tegang.
"Menarik." Fajar mengangguk pelan.
"Apa yang menarik?" Rendra menatapnya tajam.
"Biasanya orang yang tidak bersalah ingin kebenaran keluar secepat mungkin."
"Itu bukan aturan."
"Tidak." Fajar tersenyum tipis. "Tapi itu kebiasaan."
Aiden memperhatikan keduanya tanpa menyela, semakin lama percakapan berlangsung, semakin jelas bahwa salah satu dari mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tuan." Seorang petugas keamanan datang terburu-buru.
"Ada apa?" Aiden menoleh.
"Kami menemukan seseorang."
"Siapa?" Armand mengernyit.
"Orang yang tadi masuk menggunakan kartu tamu palsu."
Semua orang langsung terdiam.
"Apa hubungannya dengan ini?" Gavin mengangkat tangan.
"Itu yang sedang kami cari tahu." Petugas itu menggeleng.
Aiden langsung menatap Fajar yang sedang tersenyum dan itu cukup untuk membuat firasat buruk kembali muncul.
"Itu orangmu?" Aiden mengernyit.
"Bukan." Fajar mengangkat kedua tangan.
"Kamu yakin?"
"Aku datang sendirian."
"Terlalu kebetulan."
Fajar tidak membantah, memang terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam satu hari.
"Aku mau melihat rekamannya." Kirana menatap Fajar.
"Kamu yakin?" Fajar mengangkat alis.
"Iya."
"Kamu mungkin tidak menyukainya."
"Itu bukan urusanmu."
Fajar mengangguk pelan, untuk pertama kalinya sejak tiba di parkiran sorot matanya melunak sedikit saat melihat Kirana. Wanita itu mungkin satu-satunya orang di sana yang sama sekali tidak memiliki kepentingan dalam konflik lama mereka.
"Kita pindah ke ruang rapat." Aiden mengambil keputusan.
"Aku setuju." Armand mengangguk.
"Tidak perlu." Fajar menggeleng.
"Apa lagi sekarang?" Gavin mengeluh.
"Aku membawa laptop."
Semua orang menoleh, Fajar segera membuka tas yang sejak tadi tergantung di bahunya lalu mengeluarkan sebuah laptop tipis berwarna hitam. Ia meletakkannya di atas kap mobil terdekat dan menyalakannya tanpa terburu-buru.
"Kamu sudah merencanakan ini." Rendra menatapnya.
"Tentu saja." Fajar tersenyum.
"Kamu gila."
"Aku sering mendengar itu."
Layar laptop akhirnya menyala, Fajar mengetik beberapa kata sandi lalu membuka folder yang berisi beberapa file lama. Jantung Kirana mulai berdegup lebih cepat ketika melihat tanggal pada layar tersebut.
Lima tahun lalu, tepat seperti yang dikatakan Fajar.
"Itu dia." Fajar menunjuk salah satu file.
"Putar." Armand mengangguk.
Rendra langsung menegangkan rahangnya, tidak ada lagi yang berbicara bahkan Gavin memilih diam karena bisa merasakan betapa pentingnya momen tersebut. Semua perhatian tertuju pada layar laptop saat Fajar menggerakkan kursor ke arah file rekaman.
"Tunggu." Rendra melangkah maju.
"Kenapa?" Fajar menghentikan gerakannya.
"Kamu tidak tahu apa akibatnya."
"Kamu takut?"
"Aku realistis."
"Bedanya tipis."
Aiden memperhatikan Rendra selama beberapa detik, reaksi pria itu sejak tadi semakin sulit dijelaskan dengan alasan yang masuk akal.
"Putar." Aiden mengulang perintahnya.
Fajar mengangguk lalu kursor digerakan, file terbuka dan beberapa detik kemudian suara berisik memenuhi area parkir.
Semua orang langsung memusatkan perhatian pada rekaman itu, suara langkah kaki terdengar samar disusul percakapan dua orang pria yang kualitasnya tidak terlalu jelas. Meski demikian, suara tersebut cukup untuk membuat wajah Rendra berubah sedikit demi sedikit.
"Itu..." Gavin mengernyit.
"Tunggu." Armand mengangkat tangan.
Rekaman terus berjalan, suara dalam file itu semakin jelas seiring berjalannya waktu. Salah satu orang terdengar sedang marah, sementara yang lain mencoba menenangkannya.
Kirana menahan napas, Aiden menyipitkan mata dan Fajar menatap layar tanpa berkedip. Lalu tiba-tiba suara ketiga terdengar masuk ke dalam rekaman, suara yang membuat seluruh ekspresi Fajar langsung berubah.
"Apa?" Fajar membeku.
"Itu tidak mungkin." Armand mengernyit.
Rendra mengangkat kepala dengan wajah terkejut bahkan Aiden terlihat kehilangan ketenangannya untuk pertama kali hari itu karena suara yang muncul di rekaman tersebut bukan suara Rendra, bukan suara Fajar dan bukan suara siapa pun yang mereka duga selama lima tahun terakhir. Suara itu milik seseorang yang saat ini bekerja di Pradana Group.