NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Aku Tidak Mau Kehilanganmu

Malam itu setelah percakapan singkat tentang Elena, suasana di antara Rubi dan Alexander berubah menjadi aneh.

Bukan canggung.

Bukan juga tidak nyaman.

Justru terlalu nyaman.

Sampai membuat keduanya tidak tahu harus mengatakan apa.

Rubi berdiri di balkon sambil memandangi taman yang diterangi cahaya lampu malam. Sedangkan Alexander berdiri di sampingnya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.

Angin malam bertiup lembut.

Membawa aroma bunga dari taman belakang.

Namun perhatian Rubi tidak berada di sana.

Perhatiannya justru tertuju pada pria yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.

"Jadi kau benar-benar cemburu."

ucap Alexander tiba-tiba.

Rubi langsung menoleh.

"Aku sudah bilang tidak."

"Bohong."

"Aku tidak bohong."

Alexander menatapnya datar.

Tatapan yang biasanya membuat banyak orang takut.

Namun sekarang justru membuat Rubi semakin kesal.

"Kalau tidak cemburu, kenapa kau menghindariku sepanjang sore?"

tanya pria itu.

Rubi membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Karena ia memang tidak punya jawaban.

Atau lebih tepatnya tidak punya jawaban yang bisa diucapkan.

Apa dia harus mengatakan bahwa dirinya tidak suka melihat wanita lain berdiri terlalu dekat dengan Alexander?

Tentu tidak.

Itu memalukan.

Sangat memalukan.

Melihat Rubi yang terdiam, sudut bibir Alexander kembali terangkat.

Dan itu membuat Rubi semakin ingin melempar bantal ke wajah pria tersebut.

---

Akhirnya Rubi memilih masuk ke dalam kamar.

Ia tidak mau melanjutkan pembicaraan itu.

Karena semakin lama dibahas, semakin besar kemungkinan dirinya mempermalukan diri sendiri.

Alexander mengikuti dari belakang.

Begitu Rubi duduk di atas kasur, pria itu justru duduk di sofa yang ada di dekat jendela.

Tidak pergi.

Tidak juga bekerja.

Hanya duduk di sana.

"Kenapa masih di sini?"

tanya Rubi.

Alexander mengangkat alis.

"Aku tidak boleh di sini?"

"Bukan begitu."

"Lalu?"

Rubi menghela napas.

Kadang pria ini benar-benar menyebalkan.

Namun anehnya, semakin hari ia justru semakin menyukai sisi tersebut.

"Kau tidak ada pekerjaan?"

tanya Rubi.

"Ada."

"Kalau begitu kerjakan."

"Aku sedang istirahat."

jawab Alexander santai.

Rubi memalingkan wajah.

Percuma.

Kalau Alexander sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya.

---

Beberapa menit kemudian.

Suasana kamar kembali tenang.

Rubi sedang membaca buku.

Sementara Alexander memeriksa beberapa dokumen dari tablet.

Sesekali keduanya saling mencuri pandang.

Lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Sampai tiba-tiba bayi dalam kandungan Rubi bergerak cukup kuat.

"Aduh."

Rubi refleks memegang perutnya.

Alexander langsung berdiri.

Seolah tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

"Ada apa?"

"Biasa."

jawab Rubi.

"Dia sedang aktif."

Meski begitu Alexander tetap menghampiri.

Pria itu berlutut di depan Rubi.

Lalu meletakkan tangan di atas perutnya.

Gerakan yang sekarang terasa sangat alami.

Tap.

Bayi itu kembali bergerak.

Membuat Alexander terdiam.

Masih sama seperti sebelumnya.

Setiap kali merasakan gerakan kecil itu, selalu ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya.

Perasaan yang sulit dijelaskan.

Rubi memperhatikan wajah pria itu.

Dan tanpa sadar tersenyum.

"Kau senang sekali kalau dia bergerak."

ucapnya.

Alexander tidak membantah.

"Karena dia anakku."

jawabnya pelan.

Kalimat sederhana itu membuat hati Rubi menghangat.

Sangat hangat.

---

Saat itu juga ponsel Alexander berdering.

Pria itu langsung melihat layar.

Ekspresinya berubah dalam sekejap.

Dari tenang menjadi dingin.

Rubi langsung menyadarinya.

"Ada masalah?"

Alexander tidak langsung menjawab.

Ia berdiri lalu berjalan menjauh beberapa langkah sebelum mengangkat telepon.

Percakapannya singkat.

Sangat singkat.

Namun wajahnya semakin serius.

Begitu panggilan berakhir, Rubi langsung tahu sesuatu tidak beres.

"Apa yang terjadi?"

tanyanya.

Alexander menatapnya cukup lama.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Kemudian akhirnya berkata,

"Beberapa anak buah Viktor terlihat di dekat area kota."

Rubi langsung terdiam.

Nama itu sudah cukup membuatnya mengerti.

Viktor Romanov.

Musuh yang selama ini mengincar keluarga Dimitri.

"Apakah dia akan menyerang?"

suara Rubi terdengar lebih pelan dari biasanya.

Alexander berjalan mendekat.

Kemudian duduk di sampingnya.

"Aku tidak tahu."

jawabnya jujur.

"Namun aku sudah mempersiapkan semuanya."

Meski begitu, Rubi tetap tidak merasa tenang.

Karena selama ini ancaman itu terasa jauh.

Sekarang terasa semakin dekat.

Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar takut.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Melainkan untuk bayi yang sedang dikandungnya.

---

Malam semakin larut.

Namun kali ini Rubi tidak mengantuk.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Bagaimana jika sesuatu terjadi?

Bagaimana jika musuh Alexander benar-benar menyerang?

Bagaimana jika bayinya dalam bahaya?

Semakin dipikirkan, semakin sulit baginya bernapas dengan tenang.

Tanpa sadar matanya mulai memerah.

Alexander yang memperhatikannya langsung menyadari perubahan itu.

"Rubi."

Wanita itu menoleh.

"Hm?"

"Kau sedang berpikir yang tidak-tidak."

Bukan pertanyaan.

Melainkan pernyataan.

Karena Alexander mengenalnya cukup baik sekarang.

Rubi mencoba tersenyum.

Namun gagal.

"Aku hanya khawatir."

akuinya akhirnya.

Untuk beberapa saat Alexander tidak berbicara.

Lalu pria itu mengulurkan tangannya.

Menggenggam tangan Rubi dengan erat.

Membuat wanita itu terkejut.

Karena Alexander jarang melakukan kontak fisik secara langsung seperti ini.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rubi melihat sesuatu yang sangat jarang muncul di mata Alexander.

Kelembutan.

"Kau percaya padaku?"

tanya pria itu.

Rubi mengangguk pelan.

"Tentu."

"Kalau begitu jangan takut."

Suara Alexander rendah.

Tenang.

Namun penuh keyakinan.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."

Jantung Rubi langsung berdebar.

Bukan karena ancaman yang mereka bicarakan.

Melainkan karena cara Alexander mengatakannya.

Seolah melindungi dirinya adalah hal paling penting di dunia.

---

Hening menyelimuti kamar.

Namun kali ini tidak terasa canggung.

Alexander masih menggenggam tangan Rubi.

Sedangkan Rubi tidak berniat melepaskannya.

Entah sejak kapan.

Keberadaan pria ini menjadi tempat ternyamannya.

Tempat yang selalu membuatnya merasa aman.

Dan itu menakutkan.

Karena semakin besar rasa aman itu, semakin besar pula ketergantungannya.

"Alexander."

panggil Rubi pelan.

"Hm?"

"Kenapa kau begitu baik padaku?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Alexander tampak terkejut.

Mungkin karena tidak menyangka akan mendengarnya.

Beberapa detik berlalu.

Lalu pria itu tersenyum tipis.

Senyum yang hanya diperlihatkannya kepada Rubi.

"Aku juga tidak tahu."

jawabnya.

Dan itu adalah kebohongan pertama yang disadari Alexander.

Karena sebenarnya ia tahu.

Sangat tahu.

Alasannya sederhana.

Karena ia mencintai wanita yang sedang duduk di hadapannya.

Karena setiap senyum Rubi menjadi sesuatu yang ingin ia lindungi.

Karena setiap kali Rubi terluka, dirinya ikut merasakan sakit.

Dan karena...

Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa wanita itu lagi.

Namun Alexander belum siap mengatakannya.

Belum sekarang.

Karena ada ancaman yang masih mengintai.

Ada bahaya yang belum selesai.

Dan sebelum semuanya aman, ia tidak ingin membawa Rubi ke dalam perasaannya yang semakin dalam.

Sementara Rubi yang tidak mengetahui isi pikiran pria itu hanya tersenyum kecil.

Tidak menyadari bahwa hati Alexander sudah jatuh sepenuhnya kepadanya.

Dan di luar mansion yang tenang itu, seseorang sedang menyusun langkah berikutnya.

Langkah yang akan menguji seberapa jauh Alexander Dimitri bersedia berjuang demi wanita yang dicintainya.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!