NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Ancaman

Sensasi dingin sisa angin malam digantikan oleh udara fajar yang lembap, rasa pening dan ketegangan langsung menyambut indra begitu Sumarni membuka mata.

Dadanya terasa sesak melihat deretan koper dan tumpukan kain miliknya tergeletak begitu saja di atas tanah pelataran paviliun belakang yang berlumut basah.

Aroma tanah liat berbau apak dari bangunan tua yang terbengkalai langsung menusuk hidung, berbaur dengan sisa wangi minyak mawar yang menyengat. Di depan pintu kayu yang keropos dimakan rayap, Sulastri berdiri kokoh memegang kipas cendana.

"Mulai hari ini, tempatmu di sini, Marni," ucap Sulastri, suaranya melengking tajam memecah kesunyian subuh.

Sumarni membenarkan posisi gendongan Dimas yang masih setengah mengantuk di pundaknya. Kulit lengan bocah itu terasa dingin terkena embun pagi yang tebal.

Harjono baru saja berangkat ke Surabaya dua jam lalu bersama Handoyo menggunakan kereta api logistik fajar. Keberangkatan darurat kedua bersaudara itu dimanfaatkan Sulastri dengan sangat cepat untuk membalas dendam atas kekalahannya semalam.

"Mas Harjono memerintahkan saya untuk pindah ke paviliun timur rumah utama, Mbakyu," kata Sumarni, suaranya tenang tanpa ada riak kepanikan.

Sulastri tertawa sinis, menepuk kipas cendananya ke telapak tangan dengan bunyi kepakan yang keras.

"Paviliun timur sedang diperbaiki karena atapnya rapuh. Sebagai istri pertama yang mengurus rumah ini, aku tidak mau mengambil risiko kalian tertimpa kayu."

Alasan murahan itu terdengar sangat menggelikan bagi Sumarni, yang memiliki ketajaman insting seorang editor konten masa depan.

Sulastri jelas sedang menggunakan otoritas domestiknya selagi sang kepala keluarga tidak berada di tempat untuk membela mereka.

"Tapi tempat ini tidak layak untuk Dimas, Mbakyu," ucap Sumarni sambil menunjuk langit-langit beranda paviliun belakang yang menghitam karena jamur.

"Anak-anak tidak usah banyak menuntut!" Sulastri maju selangkah, menatap Sumarni dengan mata melotot penuh kebencian. "Kalian berdua beruntung masih kuberi atap untuk berteduh, tidak kutendang keluar dari gerbang rumah ini."

Dimas tersentak mendengar bentakan itu, cengkeraman tangan kecilnya di leher Sumarni semakin mengencang hingga kuku-kukunya memutih. Sumarni mengusap punggung Dimas perlahan, menyalurkan kehangatan ibu yang tulus untuk menenangkan sang anak.

[Peringatan Sistem: Target mencoba merendahkan harga diri Anda.]

[Misi Sampingan Aktif: Terima paviliun belakang dan balikkan keadaan. Hadiah: 150 Poin Reputasi dan Voucher Upgrade Ruangan.]

Sumarni menatap layar biru transparan yang berkedip di sudut matanya, sebuah senyuman tipis yang mematikan terukir di sudut ikal bibirnya.

"Baik jika itu maumu, Mbakyu," ucap Sumarni datar. "Saya akan menerima tempat ini."

Sulastri tampak terkejut melihat reaksi Sumarni yang sama sekali tidak menangis atau memohon belas kasihan seperti biasanya.

Rasa puas yang sempat melambung di dada istri pertama itu mendadak mengempis, digantikan oleh rasa heran yang menjengkelkan.

"Bagus kalau kamu tahu diri," ketus Sulastri, berusaha menyembunyikan kekesalannya. "Jangan coba-coba mengadu pada Mas Harjono jika tidak mau keadaanmu semakin memburuk."

Sulastri berbalik dengan mengibaskan kain jarik batiknya yang bermotif parang besar, melangkah angkuh kembali menuju rumah utama dengan dagu terangkat tinggi.

Sumarni menurunkan Dimas dari gendongannya, lalu mendorong pintu kayu paviliun belakang yang berderit nyaring karena engselnya berkarat.

Bunyi itu terdengar menyedihkan di tengah kesunyian kebun belakang yang rimbun oleh pohon mangga tua.

Begitu pintu terbuka, bau busuk air hujan yang mengendap langsung menyergap penciuman mereka. Lantai tegel abu-abu di dalam ruangan itu tertutup oleh lapisan debu tebal dan genangan air keruh dari atap yang bocor di beberapa titik.

"Ibu, tempat ini gelap dan kotor," bisik Dimas dengan bibir bergetar, matanya menatap takut ke sudut langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba.

"Jangan takut, Le," Sumarni berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan Dimas lalu mengusap pipi tirus bocah itu dengan lembut. "Ibu ada di sini. Kita akan mengubah tempat kotor ini menjadi istana kita sendiri."

Sumarni berdiri, lalu membuka koper pakaian miliknya untuk mengambil kain pel yang ia bawa dari paviliun lama. Tenaga fisiknya mungkin terbatas, namun tekad dalam dadanya terasa membara bagaikan api yang tak bisa padam.

Ia mulai membersihkan genangan air, menggosok lantai tegel yang kusam dengan bertenaga hingga keringat mengucur membasahi pelipis dan leher bungkuk kebayanya. Setiap sapuan kain pel dirasakan sebagai langkah nyata untuk meruntuhkan kesombongan Sulastri.

[Misi Sampingan Selesai: Menerima tantangan paviliun belakang tanpa mengeluh.]

[Hadiah: 150 Poin Reputasi ditambahkan. Voucher Upgrade Ruangan siap digunakan.]

Sumarni tersenyum puas melihat notifikasi sistem yang muncul di hadapannya, ia segera menekan tombol fungsional pada layar transparan tersebut.

"Gunakan Voucher Upgrade Ruangan," perintah Sumarni dalam hati.

Detik berikutnya, kilatan cahaya abu-abu tipis yang tidak terlihat oleh mata manusia menyapu seluruh ruangan paviliun belakang.

Bunyi berderak halus terdengar dari arah atap, posisi genting yang bergeser secara otomatis memperbaiki titik-titik bocor dengan presisi yang sempurna.

Lantai tegel yang semula kusam dan berlumut mendadak bersih mengilat, memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai menerobos masuk dari sela-sela jendela kayu. Debu dan bau apak lenyap seketika, digantikan oleh kesegaran udara yang bersih dan nyaman.

Dimas mengucek matanya dengan heran, tidak mempercayai perubahan drastis yang terjadi di sekelilingnya dalam sekejap mata. "Ibu, kok mendadak bersih?"

"Gusti Allah membantu orang yang mau bekerja keras, Nak," jawab Sumarni sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Dimas tertawa kecil menampakkan lesung pipitnya.

Sumarni melangkah menuju sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap langsung ke kebun belakang yang asri. Sinar matahari pagi yang masuk ke area itu sangat melimpah, menciptakan pencahayaan alami yang sangat sempurna untuk satu hal.

Insting bisnisnya sebagai wanita modern dari tahun 2026 langsung menangkap sebuah peluang besar dari tata letak ruangan ini. Paviliun belakang ini memiliki ruang tengah yang cukup luas, terpisah dari kamar tidur, dan jauh dari gangguan bising penghuni rumah utama.

"Tempat ini bukan sekadar kamar tidur," gumam Sumarni dengan mata berkilat penuh ambisi. "Ini adalah studio bisnis pertama saya."

Ia berniat mengubah paviliun belakang yang bocor dan kotor ini menjadi sebuah ruang jahit estetik yang akan menghasilkan karya-karya batik modern pertamanya di era 1984 ini. Dengan poin reputasi yang terus terkumpul, ia bisa menukarnya dengan mesin jahit kayuh kualitas terbaik dari sistem.

Sumarni mendekati koper tuanya dan mulai menata beberapa lembar kain mori putih di atas meja yang kini telah bersih dari debu. Jari-jarinya bergerak lihai, merasakan tekstur kain yang siap diubah menjadi pundi-pundi uang dan kekuasaan baru.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika bayangan seseorang mendadak menutupi datangnya sinar matahari dari ambang pintu paviliun.

Seorang pelayan senior kepercayaan Sulastri, Mbok Nah, berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di dada dan melemparkan sebuah bungkusan kain belacu kasar ke atas lantai. Wajahnya judes, mencerminkan watak asli nyonya besarnya yang penuh dendam.

"Nyonya Besar memerintahkanmu untuk menyelesaikan jahitan sepuluh kemeja batik ini sebelum besok malam," ucap Mbok Nah dengan nada memerintah yang kurang ajar. "Jika tidak selesai, jatah makan untuk anak haram itu akan dihentikan."

Mendengar ancaman luar biasa itu, jantung Sumarni mendadak berdesir kencang, disusul rasa pening yang tajam yang kembali menghantam pelipisnya dengan seketika.

[Peringatan Sistem: Sabotase Fisik Dideteksi. Kain dalam bungkusan telah sengaja dirusak.]

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!