NovelToon NovelToon
I Hired A Billionaire

I Hired A Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Patahhati
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.

Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.

Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.

Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.

Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.

Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.

~~~~~~

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Tawa Shireen yang menggelegar laksana petir di siang bolong tidak berhenti begitu saja di koridor set syuting.

Bahkan ketika mereka telah melangkah masuk ke dalam ruang makeup pribadi Alceena yang ber-AC dingin, asisten berambut bob itu masih memegangi perutnya yang kram, menyandarkan tubuhnya ke dinding komposit dengan wajah yang memerah akibat terlalu banyak tertawa.

"Geli-geli doang, huh?! Wah, wah... aku benar-benar tidak bisa memikirkannya lagi, Alceena!" cerocos Shireen di sela-sela sisa tawa puasnya.

Dia melemparkan papan berkas kerja ke atas sofa kulit dengan asal, lalu menunjuk wajah Alceena yang masih sewarna dengan buah bit matang.

"Seorang Alceena Brox Riccardo, diva paling mahal di agensi kita, ternyata bisa menggigit bibir simpanannya sampai robek dan perih keesokan harinya! Dan kau... kau menuduhnya tebar pesona karena dia menjilat lukanya sendiri?! Demi Tuhan, ini komedi terbaik yang pernah kusaksikan secara langsung!"

"Diam, Shireen! Atau aku akan memastikan kontrak kerjamu diputus malam ini juga!" sentak Alceena, suaranya naik satu oktav karena rasa malu yang teramat sangat pekat menekan dadanya.

Dia mengempaskan tubuhnya ke atas kursi rias, meraih sebotol air mineral dingin, dan meminumnya dengan rakus untuk mendinginkan tenggorokannya yang mendadak terasa kering.

Melalui pantulan cermin, dia bisa melihat lipstik merah menyalanya sedikit berantakan di sudut bibir—sebuah pengingat visual tentang kecupan singkat yang diberikan Xander di ruang rias tadi siang.

Sialan.

Pria Chicago itu benar-benar tahu bagaimana cara menjungkirbalikkan dunianya hanya dengan satu kalimat polos yang mematikan.

"Oh, ayolah, Ceena. Akui saja kalau simpanan barumu itu punya daya pikat yang setara dengan candu tulen," goda Shireen lagi, dia melangkah mendekati meja rias, bertopang dagu sambil menatap Alceena dengan senyuman usil.

"Lihat bagaimana kau mendadak menjadi begitu posesif. Kau mengancingkan kemejanya sampai ke leher, mengacak-acak rambutnya agar terlihat jelek—yang sayangnya gagal total karena dia malah terlihat seratus kali lebih seksi dengan gaya berantakan seperti itu. Kau benar-benar sudah terjatuh ke dalam pesonanya, Nona Riccardo."

"Aku tidak terjatuh pada siapa pun!" kilah Alceena tajam, meskipun matanya sedikit berkedip gelisah.

"Dia adalah simpananku. Aku memilikinya secara hukum kontrak ego kami. Jadi wajar jika aku tidak suka barang milikku dipandangi oleh mata-mata kelaparan di luar sana. Itu masalah prinsip, bukan perasaan."

Shireen hanya mendengus geli, memutar bola matanya malas. "Terserah apa katamu, Diva. Aku akan pergi ke bagian logistik untuk mengurus draf jadwal syutingmu minggu depan yang katanya mau kau kosongkan untuk liburan ke Chicago itu. Nikmati waktu malumu sendirian di sini."

Setelah Shireen melangkah keluar dan menutup pintu, Alceena menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

Matanya terpejam, mencoba mengusir bayangan desahan seksi Xander yang terus berputar di kepalanya. Dia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, di luar area tenda utama, simpanan yang sedang dia pikirkan sedang menghadapi situasi yang jauh berbeda.

Xander baru saja menyelesaikan panggilan telepon singkat dengan Braxton mengenai beberapa urusan bisnis yang ditinggalkannya di Chicago, ketika sebuah aroma parfum melati yang teramat menyengat dan manis mendadak menusuk indra penciumannya.

Pria itu menurunkan ponselnya, sepasang mata heterochromia-nya yang dingin langsung menyipit saat melihat sosok seorang wanita yang tiba-tiba menghadang jalannya di koridor sempit antara tenda properti dan dinding pembatas studio yang sepi.

Wanita itu adalah Tiffany, salah satu aktris lawan main Alceena dalam film ini—seorang wanita yang memegang peran sebagai antagonis sekunder, yang sejak siang tadi memang tidak berhenti melemparkan tatapan lapar ke arah Xander dari balik kamera.

Tiffany mengenakan gaun mini ketat berwarna merah, menonjolkan lekuk dadanya dengan sengaja saat dia melangkah mendekati Xander dengan gaya yang dibuat-buat seksi.

"Well, well... jadi ini pria misterius yang membuat seorang Alceena Riccardo mendadak bertingkah seperti singa betina yang ketakutan kehilangan mangsanya?" goda Tiffany, suaranya dibuat berbisik mendesah, terdengar begitu murahan di telinga Xander.

Dia melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu jengkal. "Aku tidak menyangka kalau diva kelas atas seperti dia menyukai tipe pria berwajah keras dan bertubuh raksasa sepertimu. Kau... Bodyguard pribadinya? Atau hanya mainan malamnya, hm?"

Xander tidak bergerak satu inci pun. Wajah tampannya mengeras seketika, berubah menjadi sedingin es musim dingin di Chicago.

Aura dominan dan kejam dari dinasti Stone yang selama tiga hari ini diredamnya di depan Alceena, mendadak menguar dengan sangat pekat, menciptakan atmosfer yang mencekam di lorong sepi itu.

Sebuah senyum sinis yang teramat dingin terbit di bibir tegas Xander, berpadu dengan sepasang manik mata biru dan abu-abunya yang berkilat berbahaya.

"Kau sedang mencoba berbicara denganku?" tanya Xander, suaranya terdengar seperti geraman bariton yang teramat rendah dan sarat akan ancaman maut.

Tiffany terkekeh, sebuah kekehan genit yang meremehkan.

Dia mengulurkan tangannya yang dihiasi kuku panjang, berniat untuk menyentuh kerah kemeja hitam Xander yang dikancingkan rapat oleh Alceena tadi.

"Oh, ayolah. Jangan terlalu kaku. Alceena mungkin kaya dan terkenal, tapi dia wanita yang dingin dan terlalu banyak mengatur. Aku bisa memberikanmu kesenangan yang jauh lebih liar jika kau mau berkunjung ke trailer pribadiku setelah ini, Tampan. Berapa yang dia bayar untuk tubuhmu? Aku bisa memberikan dua kali lipat—"

Sret!

Kata-kata Tiffany terputus di tenggorokan dalam hitungan milidetik.

Gerakan Xander begitu cepat laksana kilat, tidak memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk menghindar.

Sebelum jemari Tiffany sempat menyentuh kain kemejanya, tangan kanan Xander yang besar dan kekar sudah maju ke depan, langsung mencengkeram kuat leher ramping Tiffany dan mendorong tubuh wanita itu dengan kasar hingga punggungnya menghantam dinding pembatas studio dengan dentuman keras.

"Argh!" Tiffany membelalak horor, napasnya seketika tercekat saat jemari kokoh Xander menjepit urat lehernya dengan kekuatan yang tidak main-main.

Kedua tangan Tiffany langsung bergerak panik, mencengkeram pergelangan tangan Xander, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman maut itu, namun tangan Xander terasa laksana borgol besi yang tidak bisa digoyahkan.

Xander memajukan wajah tampannya yang kini tampak laksana iblis tanpa belas kasihan.

Senyum sinisnya semakin melebar, menampilkan kekehan rendah yang teramat kejam di depan wajah Tiffany yang mulai memucat karena kehabisan oksigen.

"Ingat ini baik-baik di dalam otak murahanmu, bitch," bisik Xander tepat di depan wajah Tiffany, suaranya begitu rendah namun bergaung laksana vonis kematian.

"Kau tidak lebih dari sekadar sampah menjijikkan yang tidak pantas bahkan untuk menghirup udara yang sama dengan Alceena. Berani sekali mulut kotormu itu menyebut namanya dengan nada merendahkan seperti itu, hah?!"

Cengkeraman tangan Xander semakin mengerat, membuat Tiffany mulai mengeluarkan suara tercekik yang menyedihkan, air mata ketakutan mulai mengalir dari sudut matanya yang dilapisi mascara tebal.

Sisi gelap seorang Stone yang terbiasa menghadapi kekejaman dunia bawah Chicago kini keluar sepenuhnya.

Di mata Xander, Alceena adalah sosok suci yang telah menyelamatkannya dari kegilaan, dan dia tidak akan membiarkan jalang mana pun menodai nama wanita itu.

"Jika aku melihat mata kotormu itu menatap Alceena dengan pandangan licik lagi, atau jika kau berani mendekatiku dalam jarak satu meter lagi..." Xander terkekeh kejam, matanya berkilat gila.

"...aku bersumpah akan memastikan karier murahanmu di Hollywood ini berakhir di dalam tangki pembuangan sampah. Paham?!"

Sementara ketegangan maut itu sedang berlangsung di lorong sepi tersebut, dari arah sudut tenda properti yang berjarak sekitar sepuluh meter di belakang mereka, seorang asisten produksi magang sedang berdiri dengan memegang ponselnya.

Orang itu berniat merekam pemandangan estetik lokasi syuting untuk keperluan dokumentasi pribadi. Namun, kameranya justru menangkap siluet Xander dan Tiffany di ujung lorong yang temaram.

Dari sudut pandang kamera ponsel yang berada di posisi belakang Xander, posisi tubuh mereka terlihat sangat ambigu.

Karena tubuh besar Xander yang tegap sepenuhnya mengunci tubuh Tiffany di dinding, dan wajah Xander yang menunduk sangat dekat dengan wajah Tiffany untuk membisikkan ancamannya, di dalam rekaman video itu mereka justru terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang memadu kasih dengan teramat intim.

Posisi cengkeraman tangan di leher dari belakang tampak samar laksana Xander sedang menangkup rahang Tiffany untuk memperdalam sebuah ciuman panas yang liar di balik dinding.

Orang yang merekam itu terengah sejenak, mengira dia baru saja mendapatkan skandal terbesar antara aktor baru dan lawan main Alceena, lalu dengan cepat mematikan rekamannya dan menyimpannya dengan jemari gemetar.

Di lorong itu, Xander akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan kasar, membuat tubuh Tiffany langsung merosot jatuh ke atas lantai tanah.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Tiffany terbatuk-batuk histeris, memegangi lehernya yang kini dipenuhi oleh bekas kemerahan akibat cengkeraman lima jari Xander.

Dadanya naik turun, napasnya ngos-ngosan laksana orang yang baru saja lolos dari maut. Seluruh keangkuhan dan kegilaan seksinya menguap total, digantikan oleh rasa trauma yang mendalam.

Xander berdiri tegak, mengeluarkan saputangan sutra dari saku celananya, lalu mengusap telapak tangannya dengan gerakan perlahan seolah-olah dia baru saja menyentuh barang yang paling kotor di dunia, lalu membuang saputangan itu tepat di atas kepala Tiffany.

Xander kembali tersenyum dingin, sebuah senyuman puas melihat bagaimana wanita jalang itu kini bergetar ketakutan di bawah kakinya.

"M-maaf... maafkan aku... aku memohon maaf padamu, Tuan..." ucap Tiffany berkali-kali dengan suara yang serak, terbata-bata di sela-sela tangis ketakutannya.

Dia tidak berani mendongak untuk menatap mata heterochromia pria gila itu lagi.

"Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi... mohon jangan bunuh aku... maaf..."

"Pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan lehermu sungguhan, bitch," perintah Xander dingin.

Tiffany dengan susah payah bangkit berdiri, membenarkan gaun merahnya yang berantakan, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan lorong sepi itu dengan air mata yang merusak seluruh riasan wajahnya.

Xander hanya menatap kepergian wanita itu dengan pandangan muak, lalu merapikan kembali kerah kemeja hitamnya yang masih terkancing rapat—menjaga agar tanda kepemilikan yang diberikan Alceena tetap berada di tempatnya dengan aman, tanpa tahu bahwa sebuah video kesalahpahaman fatal baru saja tersimpan di dalam ponsel seseorang.

1
ida wati
ombak pun menggulung mendengar suara cempreng Alceena 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati: 😄🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ida wati
langsung kicep 😄🤣
Ros 🌷🦋: wkkwwk🥰
total 1 replies
ida wati
auman singa betina 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ida wati
udah diperingatin sm asisten nyaaa, huhhh jd rempeyek kan luu 😏
Ros 🌷🦋: Digeprek 🤭🤣
total 1 replies
ida wati
ayolooo......kabur sono masuk ke laut 🤣
Ros 🌷🦋: Sampe lupa author bikin dia kecebur dilaut 🤣
total 1 replies
winpar
cerita ini seru bgt kk 🥰
Ros 🌷🦋: Huhuhu Ma'aciww banget ka🫶🥰
total 1 replies
ida wati
Xander said : hei hei hei kutil dino......akulah yg sudah unboxing Alceena jd singkirkan gossip murahanmu itu 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkkw🤣🤭
total 3 replies
ida wati
dah lah cari aman aja daripada daripada yekaannn 😄😄😄😄😄
Ros 🌷🦋: iya dong🤭
total 1 replies
ida wati
HA HA HA HA HA #ketawajahat
ida wati
mana ada adegan pemersatu bangsa cuma 10 menit 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: hahaha lawak 🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
si modus 🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan author 🤣
total 1 replies
ida wati
Xander ini manusia atau semacam tembok berlin? 😄🤣
Ros 🌷🦋: Haha Ngakak saya🤣
total 1 replies
ida wati
kalo pilem ultramen pasti ada sinar laser dari mata nya 🤣🤣🤣
♔, Seleneᥫ᭡𐂅◇☆, ꧁
Luar biasa
ida wati
wkwkwkwk akoh kira udh 20an 🤣 ternyatahh mabelastaon 🤣
Ros 🌷🦋: Haha berondong 🤣
total 1 replies
ida wati
kurang 2 kata mutlak nya thor 🤣
Ros 🌷🦋: typo kak🤭🤣
total 1 replies
ida wati
waduh basah kuyup 🤣 lanjutkan 🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita xander sama alceena seruu😍
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh cerita xander😍
Ros 🌷🦋: Happy reading kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!